BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menaruh kewaspadaan tinggi terhadap potensi kerusakan fasilitas publik saat euforia pawai kemenangan Persib Bandung. Otoritas setempat memfokuskan pengawasan ketat untuk melindungi area taman di kawasan Alun-alun serta Pendopo Kota Bandung dari serbuan massa Bobotoh.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan barikade pengamanan dan skema pembatasan area demi menjaga fasilitas publik serta kawasan cagar budaya tersebut. Meski begitu, Farhan mengakui bahwa mengunci total kawasan tersebut bukan perkara mudah karena besarnya animo massa yang berpotensi masuk dari berbagai celah.
Baca Juga: Euforia Persib Juara Bikin Bandung Siaga, dari Sampah hingga Keselamatan JPO
“Yang paling penting taman di dalam pendopo, karena itu kan cagar budaya kita jaga. Jadi memang pembatasan, tapi kan bocor dari mana-mana. Ada bocor dari samping, ada bocor dari depan,” ujar Muhammad Farhan di Balai Kota Bandung, Kamis (21/5/2026).
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Farhan memastikan bahwa Pemkot Bandung menerjunkan kekuatan penuh. Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) akan bahu-membahu bersama jajaran TNI dan kepolisian guna menyisir serta mengamankan aset-aset penting kota sepanjang rangkaian konvoi berjalan.
Jaga Psikologis Warga: Pemkot Akui Lebih Banyak Atur Emosi ketimbang Teknis
Di balik persiapan pengamanan fisik, Farhan membeberkan sebuah fakta menarik mengenai kondisi psikologis warga Bandung saat ini. Ia mengungkapkan bahwa atmosfer Kota Kembang belakangan ini sedang dipenuhi berbagai dinamika besar yang menguras energi dan emosi masyarakat.
Dalam waktu yang berdekatan, warga Bandung harus menghadapi rentetan agenda besar, mulai dari Kirab Budaya, acara lari massal, partai final Persib, hingga insiden kedaruratan yang sempat terjadi di kawasan Cicadas.
“Warga Kota Bandung ini kan sekarang perasaannya lagi diacak, diaduk-aduk. Antara senang, antara tegang,” ucap Farhan menggambarkan suasana batin warganya.
Kondisi unik ini memaksa jajaran pemerintah untuk tidak hanya fokus menyusun regulasi teknis di lapangan. Farhan menilai, tantangan terbesar bagi Pemkot Bandung saat ini adalah bagaimana meredam dan menjaga tensi psikologis masyarakat agar tetap kondusif. Salah mengambil kebijakan teknis, dampaknya bisa fatal terhadap stabilitas kota.
“Kalau di Kota Bandung mah sekarang lebih banyak kita sedang mengatur emosi daripada mengatur teknis. Kenapa? Salah ngatur teknis, ya itu emosi meledak,” katanya menjelaskan.
Menutup keterangannya, Farhan mengetuk pintu hati seluruh elemen masyarakat agar saling menjaga dan mendukung kelancaran setiap perhelatan di Kota Bandung, sekalipun agenda-agenda tersebut kerap memicu pro dan kontra. Ia menggaransi bahwa setiap acara yang terselenggara murni bertujuan untuk kebaikan roda perekonomian dan daya tarik Kota Bandung.
(Yusuf Mugni)



