spot_imgspot_img
Sabtu 6 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Hari Lahir Bung Karno: Kemerdekaan Belum Selesai, Keadilan Belum Tuntas

Oleh: Rd H Holil Aksan Umarzen

GARUT, FOKUSJabar.id: Tanggal 6 Juni bukan sekadar penanda kelahiran seorang tokoh besar. Tanggal itu menandai lahirnya seorang anak bangsa yang kelak mengubah jalan sejarah Indonesia. Dia adalah Soekarno (Bung Karno), Proklamator Kemerdekaan, Penggali Pancasila dan pendiri bangsa yang mengabdikan hidupnya untuk cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Namun mengenang Bung Karno tidak cukup dengan menabur bunga di makamnya, mengutip pidatonya atau menggelar seremoni tahunan.

BACA JUGA:

Haul Bung Karno ke-54, Abdy Yuhana: Momentum Mengingat Keteladanan Pemimpin Tanpa Pamrih

Penghormatan yang sesungguhnya adalah bertanya dengan jujur. Sudah sejauh mana cita-cita yang di perjuangkannya terwujud dalam kehidupan bangsa hari ini?

Kemerdekaan Politik Telah Tercapai

Bangsa Indonesia patut bersyukur. 80 tahun lebih setelah Proklamasi, Indonesia tetap berdiri tegak sebagai negara merdeka dan berdaulat.

Bendera Merah Putih berkibar dari Sabang sampai Merauke. Pemerintahan di jalankan oleh anak bangsa sendiri. Demokrasi tumbuh, pembangunan berlangsung dan Indonesia semakin di perhitungkan di dunia.

CDOB Garut Utara fokusjabar.id
Ketum PM Gatra, Rd. H Holil Aksan Umarzen

Tetapi Bung Karno tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan hanya untuk mengganti warna penguasa. Baginya, kemerdekaan adalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Yakni, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Karena itu, pertanyaan yang relevan hari ini bukan lagi apakah Indonesia sudah merdeka. Melainkan apakah kemerdekaan itu sudah menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia?

Ketika Keadilan Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Di tengah berbagai kemajuan yang patut di apresiasi, bangsa ini masih menghadapi persoalan yang tidak ringan.

Korupsi masih terjadi. Kesenjangan ekonomi masih terasa. Kerusakan lingkungan semakin mengkhawatirkan. Ketimpangan pembangunan antarwilayah masih menjadi kenyataan yang sulit di bantah.

Sebagian daerah tumbuh sangat cepat. Sementara sebagian lainnya masih berjuang mengejar ketertinggalan.

Di banyak tempat, rakyat masih berharap mendapatkan pelayanan pendidikan yang lebih baik, akses kesehatan yang lebih mudah, lapangan pekerjaan yang lebih luas serta pembangunan yang lebih merata.

Padahal Indonesia adalah negeri yang kaya. Tanahnya subur, lautnya luas, hutannya melimpah dan sumber daya alamnya termasuk yang terbesar di dunia.

Mengapa negeri yang kaya masih menyisakan begitu banyak ketimpangan?

Pancasila Jangan Berhenti Menjadi Slogan

Pada 1 Juni 1945, Bung Karno memperkenalkan Pancasila sebagai dasar negara. Namun Pancasila tidak lahir untuk di pajang di dinding kantor atau sekadar di ucapkan dalam upacara.

Pancasila adalah kompas moral bangsa. Terutama sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”

Kalimat itu bukan sekadar penutup Pancasila. Justru itulah tujuan akhir dari seluruh perjalanan bangsa.

BACA JUGA:

Hari Lahir Bung Karno, Ini Rencana Pemkot Bandung

Ketika masih ada rakyat yang tertinggal dari pembangunan, ketika masih ada kesenjangan yang mencolok antara pusat dan daerah, ketika masih ada kekayaan alam yang belum sepenuhnya menghadirkan kemakmuran rakyat. Maka amanat sila kelima belum sepenuhnya terwujud.

Bung Karno dan Daerah yang Menunggu Keadilan

Bung Karno selalu berbicara tentang Indonesia sebagai satu kesatuan. Namun beliau juga memahami bahwa keadilan harus dapat di rasakan hingga ke daerah-daerah.

Pemerataan pembangunan bukanlah ancaman bagi persatuan bangsa. Justru pemerataan adalah cara memperkuat persatuan.

Karena itu, setiap ikhtiar yang bertujuan mendekatkan pelayanan publik kepada rakyat, mempercepat pembangunan wilayah, mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat harus di pandang sebagai bagian dari upaya mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Sebab pada hakikatnya, rakyat di daerah memiliki hak yang sama untuk menikmati hasil pembangunan nasional.

Bung Karno Belum Selesai

Seandainya Bung Karno hadir hari ini dan melihat keadaan bangsa, mungkin beliau tidak akan bertanya berapa banyak gedung yang telah di bangun, berapa panjang jalan tol yang telah selesai.

Mungkin beliau akan bertanya, apakah rakyat sudah merasakan keadilan, apakah kekayaan negeri ini sudah menjadi kemakmuran rakyat, apakah negara benar-benar hadir untuk mereka yang paling membutuhkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih bergema hingga hari ini. Karena sesungguhnya Bung Karno belum selesai.

Perjuangannya masih hidup dalam upaya melawan korupsi, menjaga persatuan bangsa, membela rakyat kecil, memperjuangkan pemerataan pembangunan, menjaga lingkungan hidup dan menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada hari kelahirannya ini, marilah kita tidak hanya mengenang Bung Karno sebagai tokoh sejarah.

Mari kita lanjutkan cita-citanya. Sebab bangsa yang besar bukan hanya menghormati para pahlawannya. Tetapi juga memiliki keberanian untuk menyelesaikan pekerjaan yang mereka tinggalkan.

(Penulis adalah Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra)

spot_img

Berita Terbaru