Oleh: dr. Iwan Suwarsa, MKes
GARUT, FOKUSJabar.id: Ketika harga-harga mulai naik, yang pertama kali di korbankan bukan kebutuhan pokok. Melainkan mimpi-mimpi kecil yang selama ini membuat hidup terasa lebih nyaman. Kenaikan nilai tukar dolar sering di anggap sebagai urusan para ekonom dan pelaku pasar.
Namun dampak sesungguhnya terasa hingga ke meja makan keluarga biasa.
BACA JUGA:
BGN Buka Suara soal Isu Penghentian Penyaluran Dana SPPG, Tegaskan Itu Hoaks
Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, harga berbagai barang ikut terdorong naik.
Masyarakat mungkin tidak memahami grafik ekonomi. Tetapi mereka segera merasakan perubahan ketika belanja bulanan semakin mahal.
Dalam situasi seperti ini, daya beli masyarakat perlahan menurun. Mereka mulai mengurangi pengeluaran yang di anggap tidak mendesak.
Rencana membeli telpon genggam baru di tunda. Keinginan mengganti kendaraan di batalkan. Liburan keluarga menjadi prioritas kesekian.
Perhatian Mereka kini tertuju pada kebutuhan yang paling mendasar. Yakni, makan.
Ketika pendapatan tidak bertambah sementara harga-harga terus merangkak naik, masyarakat melakukan penyesuaian.
Mereka lebih berhati-hati membelanjakan isi dompetnya. Kebutuhan sekunder dan tersier mulai di tinggalkan. Yang penting dapur tetap mengepul dan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Tekanan ekonomi juga memaksa banyak orang mencari sumber penghasilan baru.
Sebagian terkena PHK. Sebagian kehilangan pelanggan. Sebagian lagi melihat usaha yang selama bertahun-tahun di jalankan tidak lagi berkembang seperti sebelumnya.

Di tengah kondisi itu, sektor kuliner menjadi pilihan yang paling banyak di lirik. Alasannya sederhana, dalam keadaan apa pun manusia tetap harus makan.
Muncullah berbagai usaha rumahan. Ada yang menjual nasi kuning, gorengan, makanan beku, kopi literan, kue basah hingga aneka jajanan kekinian.
BACA JUGA:
BI Tingkatkan Intervensi Saat Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Dapur rumah berubah menjadi tempat produksi. Teras rumah di sulap menjadi warung kecil. Media sosial menjadi etalase baru untuk menawarkan dagangan.
Fenomena ini menunjukkan satu hal yang patut di apresiasi. Yakni, masyarakat kita memiliki daya juang yang luar biasa.
Mereka tidak mudah menyerah ketika satu pintu tertutup. Mereka berusaha membuka pintu yang lain.
Namun di balik semangat tersebut, muncul pertanyaan yang layak di renungkan. “Kalau semua orang berjualan, siapa yang membeli?”
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan yang cukup serius.
Ketika semakin banyak orang masuk ke bisnis yang sama, jumlah penjual bertambah jauh lebih cepat daripada jumlah pembeli. Sementara itu, daya beli masyarakat justru sedang melemah.
Akibatnya, persaingan menjadi semakin ketat. Warung baru bermunculan di hampir setiap sudut jalan.
Penjual makanan semakin banyak. Tetapi jumlah uang yang beredar di masyarakat tidak bertambah secara signifikan.
Kue ekonominya tetap, sementara orang yang ingin mendapatkan bagian dari kue tersebut semakin banyak.
Tidak sedikit usaha yang akhirnya bertahan hanya beberapa bulan. Ada yang terpaksa tutup karena omzet tidak sesuai harapan. Ada pula yang terus berjalan, tetapi dengan keuntungan yang sangat tipis.
Kondisi ini mengajarkan bahwa bertahan hidup tidak cukup hanya dengan mengikuti arus.
Keberanian memulai usaha memang penting. Tetapi kecerdasan membaca kebutuhan pasar jauh lebih penting.
Masyarakat perlu mulai melihat peluang yang lebih luas. Tidak semua orang harus menjual produk yang sama. Ada yang bisa bergerak di bidang jasa. Ada yang memanfaatkan keterampilan yang di miliki.
BACA JUGA:
KSP Ungkap Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG
Ada yang mengembangkan usaha berbasis teknologi sederhana. Ada pula yang membangun kolaborasi daripada bersaing secara langsung.
Dalam dunia yang terus berubah, kreativitas menjadi modal yang tidak kalah penting di bandingkan modal uang.
Meskipun demikian, kita tidak boleh kehilangan optimisme. Setiap masa sulit selalu melahirkan pelajaran berharga. Tekanan ekonomi memang menghadirkan tantangan, tetapi juga memunculkan kreativitas, ketangguhan dan semangat untuk bangkit.
Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa.
Mereka mungkin terjatuh, tetapi jarang memilih untuk menyerah. Karena itu, ketika dolar naik dan daya beli melemah, jangan hanya melihat sisi gelapnya. Lihat pula semangat jutaan orang yang terus berusaha mencari jalan keluar.
Mereka yang belajar, berinovasi dan berani mencoba akan selalu menemukan peluang, meskipun jalannya tidak mudah.
Last but Not least, masa depan tidak di tentukan oleh seberapa berat tantangan yang datang. Melainkan oleh seberapa bijak kita meresponsnya.
Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, “Kalau semua berjualan, siapa yang membeli?” Tetapi, “Nilai apa yang bisa di berikan. Sehingga orang tetap memilih membeli dari saya?”
(Penulis adalah Pengamat Sosial Ekonomi dan Kesehatan Kabupaten Garut)



