spot_imgspot_img
Senin 11 Mei 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pensiunan ASN Nilai Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya Rentan Tekanan Struktural

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Kabupaten Tasikmalaya saat ini masih menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat di tengah dinamika nasional. Ketergantungan yang tinggi pada konsumsi masyarakat, keterbatasan fiskal daerah, serta rendahnya nilai tambah pada sektor-sektor unggulan menjadi persoalan krusial yang menuntut perbaikan segera.

Rachmat Amir Sudyana, pensiunan ASN Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dengan latar belakang Magister Manajemen dari Universitas Gadjah Mada (UGM), memaparkan analisis strategisnya mengenai kondisi tersebut. Ia menilai arah ekonomi daerah ke depan berada di antara peluang pertumbuhan dan risiko tekanan struktural yang kompleks.

Baca Juga: Pemkab Tasikmalaya Seleksi Komisaris untuk Isi Kekosongan Direksi Jelang Merger Bank Daerah

“Sektor pertanian, UMKM, dan perdagangan tradisional masih mendominasi ekonomi Kabupaten Tasikmalaya. Akibatnya, masyarakat langsung merasakan dampak buruk saat terjadi inflasi atau pelemahan daya beli nasional,” ungkap Rachmat, Selasa (12/5/2026).

Menyoroti Keterbatasan Fiskal dan Investasi

Rachmat mengkritisi ketergantungan APBD Kabupaten Tasikmalaya terhadap dana transfer pemerintah pusat.

Kondisi ini menyebabkan ruang fiskal untuk pembangunan produktif menjadi sangat sempit, sehingga program pemerintah daerah lebih banyak bersifat rutin daripada melakukan transformasi yang nyata.

Ia juga menyoroti efisiensi investasi dengan merujuk pada konsep Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Menurutnya, investasi yang masuk selama ini belum menghasilkan output yang maksimal karena tidak sepenuhnya berbasis pada kebutuhan produktif warga.

“Fenomena ini berpotensi memunculkan pertumbuhan semu. Pembangunan secara fisik terlihat meningkat, namun tingkat kesejahteraan masyarakat tidak mengalami perubahan yang signifikan,” jelasnya.

Tantangan Nilai Tambah dan Kerentanan Sosial

Sektor-sektor potensial seperti industri bordir, anyaman, hingga perikanan dinilai belum memberikan nilai tambah ekonomi yang optimal.

Rachmat menyebut minimnya akses pasar, teknologi produksi yang rendah, serta lemahnya integrasi ke rantai pasok industri besar sebagai kendala utama yang menghambat percepatan pertumbuhan.

Lebih lanjut, ia memperingatkan adanya risiko kerentanan sosial akibat angka kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi. Jika tekanan ekonomi nasional semakin berat, kesenjangan antara desa dan kota di Kabupaten Tasikmalaya dapat memicu ketegangan sosial di masyarakat.

Rekomendasi Strategi Penguatan Lokal

Meski tantangan membentang, Rachmat yakin Kabupaten Tasikmalaya memiliki peluang besar untuk bangkit.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk menerapkan strategi hilirisasi produk pertanian dan UMKM guna meningkatkan nilai ekonomi lokal.

Selain itu, ia menyarankan penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal serta peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan vokasi dan digitalisasi.

Pemerintah daerah juga harus lebih selektif dalam mengundang investor agar setiap proyek yang masuk memberikan dampak langsung pada penciptaan lapangan kerja.

“Jika pemerintah mampu menjalankan efisiensi kebijakan dan fokus pada penguatan ekonomi lokal, Kabupaten Tasikmalaya dapat mencapai pertumbuhan yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” pungkasnya.

(Farhan K)

spot_img

Berita Terbaru