GARUT, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut secara resmi meluncurkan program Digitally Enabled District (DED) tahap kedua sebagai upaya transformasi digital dalam pelayanan kesehatan primer di Ballroom Hotel Harmoni, Jalan Cipanas Baru, Kecamatan Tarogong Kaler, Selasa (14/4/2026).
Peluncuran program DED merupakan hasil kolaborasi antara Pemkab Garut dengan Summit Institute for Development (SID). Tujuannya, mengintegrasikan sistem data kesehatan demi meningkatkan derajat hidup masyarakat.
BACA JUGA:
Kecamatan Sukaresmi Gelar Kencana, SSC Garut Sosialisasi Mitigasi Bencana
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin mengatakan, inovasi digital adalah kunci bagi wilayah seluas dan sepadat Kota Intan.
Menurutnya, peningkatan indikator kesehatan seperti Angka Harapan Hidup serta penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional.
“Saya apresiasi launching Digitally Enabled District yang di inisiasi oleh SID bersama Pemkab Garut untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang terintegrasi, sistematis dan komprehensif,” kata Syakur.
Bupati Garut secara khusus menyoroti pentingnya pemantauan kesehatan sejak dini melalui Antenatal Care (ANC).
Pihaknya meminta para tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas hingga Rumah Sakit untuk serius membangun budaya digital dengan mengisi data secara akurat dan tepat waktu.
“Saya mengajak pihak-pihak terkait. Terutama para nakes untuk bersama-sama meningkatkan budaya digital. Jadi kita itu harus memasukkan data dengan segera, akurat, benar dan serius,” ucapnya.
BACA JUGA:
Bupati Garut dan Apjatel Jabar Benahi Jaringan Telekomunikasi
Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kemenkes RI, Niken Wastu Palupi memuji langkah progresif Kabupaten Garut yang kerap menjadi percontohan nasional dalam implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP).
Niken juga menyoroti beban kerja tenaga kesehatan di lapangan terkait banyaknya aplikasi yang harus di isi. Dia berharap, program DED mampu membawa solusi nyata bagi para nakes.
“Kita harapkan dengan adanya DED memuahkan teman-teman untuk bisa menginput,” katanya.
CEO SID, Yuni Dwi Setiyawati mengungkapkan, Garut terpilih sebagai salah satu dari empat kabupaten di Indonesia yang menjadi lokus pendampingan sejak 2023.
Hal ini di karenakan komitmen pimpinan daerah yang sangat kuat terhadap satu data terintegrasi.
“Jadi 2023 sampai hari ini, luar biasa perjalanan bersama bapak ibu di Kabupaten Garut sudah sampai ke tahap fase dua. Jadi fase pertama tugas kami adalah membantu mengenali daerah-daerah di Indonesia yang sudah mendapatkan mandat harus ILP di level nasional,” ungkapnya.
Yuni juga memuji respons baik dari Pemkab Garut yang di tindaklanjuti dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk meningkatkan kualitas pelayanan di bidang kesehatan. Khususnya dalam pendataan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani mengucapkan terima kasih atas pendampingan SID.
Berdasarkan riset kecil yang di lakukannya, kehadiran mitra seperti NGO menjadi faktor pendorong utama keberhasilan implementasi ILP di daerah.
“Mudah-mudahan kerja sama ini terus berjalan. Tidak hanya selesai sampai tahun 2027,” katanya.
BACA JUGA:
Mukerda MUI, Bupati Garut Tekankan Sinergitas Antarumat
DED sendiri merupakan program kolaboratif Summit Institute for Development dengan Pemkab Garut dengan dukungan Gates Foundation untuk menjadikan sebagai kabupaten percontohan digital health berbasis standar interoperabilitas Fast Healthcare Interoperability Resources (FHIR) di layanan primer.
Transformasi layanan primer memerlukan ekosistem data yang interoperabel dan dapat di gunakan untuk monitoring serta tindak lanjut.
DED membangun sistem end-to-end berbasis FHIR untuk mendukung integrasi dengan SatuSehat, memperkuat kapasitas SDM dan menyiapkan tata kelola kabupaten untuk perluasan.
(Bambang Fouristian)



