spot_img
Senin 22 April 2024
spot_img
More

    Satelit Satria Akan Meluncur Tahun 2023

    JAKARTA,FOKUSJabar.id: Indonesia akan menambah jumlah satelit di luar angkasa seiring rencana peluncuran Satelit Republik Indonesia (Satria). Satria direncanakan akan meluncur pada 2023 dengan menggandeng perusahaan transportasi luar angkasa milik Elon Musk, SpaceX, sebagai pabrikan untuk satelit peluncur.

    Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengatakan, peluncuran satelit berkaitan dengan upaya pemerintah meningkatkan pembangunan infrastruktur di jaringan tahap tengah, middle mile.

    “Di tahun 2023 nanti, kita harapkan Indonesia akan meluncurkan satelit multifungsi, High Throuput Satellite, Satria, untuk melengkapi lima satelit nasional dan empat satelit asing yang saat ini digunakan,” ujar Johnny dalam seminar daring ‘Mendorong Akselerasi Transformasi Digital’ yang digelar Kominfo, Senin (20/7/2020).

    Johnny mengatakan, satelit ini diharapkan dapat menjangkau setidaknya sekitar 150 ribu titik layanan publik yang saat ini belum memiliki atau belum mendapatkan akses internet yang memadai.

    BACA JUGA: Samsung Galaxy Fold 2 “Unpacked” hadir bulan depan

    Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Anang Latif mengatakan, Satria akan menggunakan roket peluncur dari SpaceX saat peluncurannya 2023 nanti.

    “Satelit ini memilih juga pabrikan untuk satelit peluncurnya, menggunakan satelit SpaceX, perusahaan satelit milik Elon Musk,” ujar Anang.

    Selain itu, Anang mengaku telah menggandeng mitra lain untuk pabrikan satelit Satria. Yakni perusahaan yang bergerak di bidang industri kendaraan antariksa asal Prancis, Thales Alenia Space.

    Satelit Satria, lanjut Anang, menggunakan konsep Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dimana Kominfo menunjuk mitra untuk mencarikan pendanaan. Skema ini berbeda dari proyek lainnya, dimana negara langsung menyiapkan pembiayaannya.

    Pendanaan satelit Satria berasal dari Prancis dan China, masing-masing 50 persen. Pembahasan soal pendanaan dengan kedua negara tersebut, menurut Anang, sempat tertunda karena pandemi virus corona.

    “Kini mulai berjalan lagi, jadi butuh beberapa round lagi untuk kemudian, khususnya Prancis. Di-endorse oleh pemerintah Prancis, sehingga kemudian nanti administrasinya selesai,” kata Anang.

    “Harapannya di kuartal ketiga ini bisa selesai proses pembiayaannya,” ujar Anang menambahkan.

     

    (Ageng/ANT)

    Berita Terbaru

    spot_img