spot_img
Sabtu 2 Desember 2023
spot_img
More

    Ramadan saat Corona, Ini Yang Harus Dimaknai

    BANDUNG, FOKUSJabar.id: Ada yang berbeda bulan Ramadan 1441 H sekarang, pasalnya puasa tahun ini umat muslim di penjuru dunia menjalankan ibadah puasa di tengah pandemik virus corona atau COVID-19.

    Bahkan tak terkecuali bulan Ramadan terasa muram di tanah suci bagi umat muslim Arab Saudi. Ini karena masjid palign agung dan paling suci bagi umat islam yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pun sempat ditutup untuk umum guna mencegah persebaran virus Corona.

    Hal serupa juga dilakukan di Indonesia sejumlah masjid di daerah yang berstatus redzone di tutup, masyarakat yang seharusnya pada bulan yang suci ini beribadah dengan maksimal malah terbatasi karena hanya bisa beribadah di rumah.

    Dikutip dari laman Nuonline, Ramadan kali ini harus menjadi bahan renungan dan untuk kita maknai dengan menahan menahan diri.

    Karena sesungguhnya puasa merupakan untuk menahan diri. Selama bulan Ramadan berpuasa dilatih unuk menahan diri dari keinginan mengonsumsi makanan lezat dan hal-hal lain yang dilarang. Harapannya, juga mampu menahan diri dari melakukan hal-hal yang tidak penting dalam hidup ini yang mengganggu upaya mencapai keridhaan Allah. Bahkan, keberhasilan di dunia pun ditentukan oleh kemampuan menunda konsumsi hari ini untuk diganti di masa depan dengan hasil yang lebih besar.

    Banyak anjuran dalam pencegahan virus corona tercermin dalam ibadah puasa. Kita diminta untuk menahan diri dari keluar rumah kecuali untuk urusan yang tidak diperlukan. Kita perlu menahan diri untuk mengurangi konsumsi di luar hal-hal yang diperlukan karena kita tidak tahu sampai kapan pandemik virus corona akan berakhir. Kita diminta untuk bersikap hidup bersih dan sehat karena puasa juga mengajarkan pola hidup sehat.

    BACA JUGA : “Cinta Masjid” Tegakkan Peradaban Islam Melalui Masjid

    virus corona
    Penampakan salat Tarawih di Masjidil Haram saat pendemik virus corona. (Foto: REUTERS/Yasser Bakhsh)

    Situasi ini tentu berkebalikan dengan substansi puasa untuk menahan diri dan berempati terhadap orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Puasa telah dirayakan dengan meningkatkan konsumsi dan dengan berleha-leha. Untuk memuaskan berbagai keinginan yang tak terbatas tersebut, kita mengeksploitasi alam tanpa perhitungan. Hutan ditebang, bumi dikeduk, laut dicemari. Semua hal ini menyebabkan keseimbangan alamiah alam menjadi terganggu.

    Dengan demikian Puasa kali ini mengajarkan kita sebagai umat muslim kembali bahwa ada kekuasaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita kembali menyadari ketidakberdayaan sebagai manusia dengan adanya ancaman penyakit dan kematian yang bisa datang kapan saja. Mengingatkan kembali bahwa ternyata kita telah mengeksploitasi alam tanpa batas demi keinginan-keinginan yang tidak penting sementara lingkungan menjadi rusak.

    Maka seharusnya refleksi ini digunakan untuk menata visi hidup baru yang lebih substansial bagi semua individu serta juga untuk pemerintah yang sudah seharusnya bersikap adil dari sisi kebijakan dalam pengeolaan kekayaan negara dan harus lebih bijak lagi dalam memanfaatkan kekayaan sumber daya alam dengan pendekatan kelestarian lingkungan.

    Di tengah pandemik ini sesungguhnya menentukan takdir yang dijalani, ada banyak hal yang manusia harus kendalikan menuju takdir yang diinginkan. Manusia harus menjalankan seusuai dengan kapasitas peran kemanusian, maka tidak dengan menyerahkan semuanya kepada tuhan dengan alasan beribdah kepadaNya. Perlu diketahui ketika menjaga jarak (soscial distancing), maka telah mengurangi resiko tertular dan menularkan virus corona kepada orang lain, maka hal ini yang merupakan dari kita untuk menetukan takdir yang kita jalin.

    Selain itu virus corona yang perlu dimaknai adalah virus ini mengingatkan kembali kerja sama karena sesunggunya manusia sosial, pasalnya selam ini kita hanya mengagungkan individualisme sebagai sumber kemajuan perada manusia. Maka Dalam situasi seperti ini, para muzakki berkewajiban segera membayarkan zakat, dan menambahkannya dengan infak serta sedekah.

    Ramadhan ini, saatnya melakukan refleksi secara lebih mendalam, lebih komprehensif, dan lebih substantif terhadap perjalanan kita sebagai pribadi atau terhadap perkembangan peradaban manusia yang selama ini dimotivasi oleh hedonisme dan konsumerisme.

    Tinggal di rumah sebenarnya merupakan kesempatan langka yang sebelumnya selalu kita dambakan. Inilah saat untuk merefleksikan hubungan kita dengan Allah. Inilah saat kita untuk mengevaluasi perjalanan hidup kita. Dan Ramadhan merupakan bulan terbaik untuk menjalaninya. Jangan sampai kesempatan emas ini berlalu sia-sia. ***

     

    Berita Terbaru

    spot_img