spot_img
Jumat 23 Februari 2024
spot_img
More

    Bangun SRA, Netty Ingin SMA/K se-Jabar Prioritaskan Tiga Hal

    BANDUNG, FOKUSJabar.id : Menindaklanjuti Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No82 tahun 2015 tentang Sekolah Ramah Anak (SRA), Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan terus mendorong pembangunan SMA/SMK dari segi infrastruktur maupun tenaga kependidikan.

    Menurut peraturan tersebut, SRA harus memenuhi tiga unsur. Yakni, infrastruktur (hardware), bahan ajar atau kurikulum (software) dan SDM tenaga kependidikan (brainware).

    Mengingat ketiga unsur tersebut cenderung sulit dan butuh proses yang panjang untuk diimplementasikan, maka Bunda Literasi Jawa Barat, Netty Heryawan melakukan tiga hal dalam mewujudkan SRA.

    Penyambutan dan penerimaan guru terhadap muridnya. Bagi Bunda Netty, menjalin pendekatan dengan peserta didik akan membawa rasa nyaman dan suasana yang bersahabat. Dengan begitu, siswa akan senang dan bersemangat menjalani kegiatan di sekolah.

    ” Minimal tanya kabar siswa dan ungkit hal-hal yang disukainya. Sambutlah mereka sebagaimana kita menyambut anak-anak kandung kita,” kata Bunda Netty saat menjadi narasumber SRA sebagai Rumah Kedua dan Sekolah Tanpa Kekerasan, di SMAN 10 Bandung, Jalan Cikutra No77 Bandung, Selasa (27/02/2018).

    Selain itu, proses belajar yang menyenangkan bagi siswa menjadi poin penting kedua yang harus diprioritaskan dalam mewujudkan SRA. Saat Netty bertanya mata pelajaran yang paling disukai, jawaban mereka beragam. Alasannya, karena guru mata pelajaran tersebut ramah, asyik, supel dan bersahabat.

    Yang terakhir, penanganan masalah.

    Meski SMAN 10 Bandung sudah memiliki delapan guru bimbingan konseling yang kompeten di bidangnya, namun baik siswa maupun guru harus paham bagaimana dan kemana mereka harus melapor jika terjadi sesuatu yang tidak mampu ditangani oleh pihak konseling.

    “Jangan sampai ada penghapus papan tulis melayang di kelas, jangan sampai terjadi seperti di provinsi lain dimana seorang siswa tega menghabisi gurunya sendiri,” ujar Netty.

    Kepala SMAN 10 Bandung, Ade Suryaman menuturkan, sekolahnya telah dijadikan sekolah rujukan sejak tahun 2016. Karenanya, pihaknya berkomitmen untuk menjadi sekolah ramah anak.

    Memaksimalkan fungsi SRA, sejak awal 2017 SMAN 10 bermetamorfosa menjadi sekolah terbuka olahraga.

    ” Kami mengambil dan membimbing atlet, mereka diberi kesempatan untuk latihan sekaligus belajar, sehingga bisa berprestasi secara akademik juga,” singkat Ade.

    (Bam’s)

    Berita Terbaru

    spot_img