spot_imgspot_img
Jumat 14 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 94

40 Ribu Orang Serbu Pacuan Kuda Pangandaran, UMKM Kebanjiran Rezeki

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: Susi Pudjiastuti

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sekitar 40 ribu pengunjung memadati Lapangan Pacuan Kuda Dusun Legok Jawa, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (26/7/2026). Massa membanjiri lokasi untuk menyaksikan secara langsung adu kencang kuda pacu dalam ajang Indonesia Horse Racing Kejuaraan Seri 1 Indonesia Derby 2026.

Pantauan di lokasi menunjukkan lautan manusia yang memenuhi sepanjang pinggir arena balap. Sebagian warga bahkan nekat memanjat tebing tinggi demi menyaksikan pacuan kuda di lintasan tepi pantai satu-satunya di Indonesia tersebut.

Baca Juga: Pacuan Kuda di Tepi Pantai? Indonesia Derby 2026 Hadirkan Sensasi Unik di Pangandaran

Animo Membludak dan Kemacetan Parah

Lonjakan pengunjung yang luar biasa memicu kemacetan parah di sepanjang jalur menuju arena. Pedagang asongan dan pedagang musiman memenuhi bahu jalan, sementara arus kendaraan dari dua arah berjalan merayap.

Keterbatasan lahan parkir memaksa para pengunjung memarkirkan kendaraan mereka sekitar 100 meter dari lokasi acara.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti, turut merasakan langsung dampak kepadatan arus lalu lintas tersebut.

“Saya pikir teman-teman media juga merasakan kalau tadi datang lebih awal tidak terlalu macet. Tapi coba datang setelah jam 11.00. Sangat macet kan, sangat penuh sekali,” ujar Susi.

Dua Kali Lipat Pengunjung dan Geliat Ekonomi UMKM

Susi menilai antusiasme masyarakat tahun ini melonjak tajam dibanding pergelaran tahun sebelumnya.

“Saya menghitung dari tahun kemarin mungkin tahun ini dua kali lipat pengunjung. Mobilnya mungkin tiga kali lipat karena kebanyakan bawa mobil yang datang. Motor juga luar biasa banyak. Kan pasti ada geliat ekonomi,” ungkap Susi.

Susi menegaskan bahwa keramaian ini membawa berkah langsung bagi perekonomian masyarakat kelas bawah di wilayah Pangandaran.

“Dan dari yang kita lihat walaupun mereka semua pada piknik, masyarakat Pangandaran tapi mereka kan juga jajan makan. UMKM jalan,” tambahnya.

Susi mendorong perbaikan tata kelola arena pada masa mendatang. Ia menyarankan pengelola menggandeng BUMN dan sponsor guna menata area kuliner agar tampil lebih rapi dan nyaman bagi wisatawan.

“Saya yakin akan luar biasa Pangandaran ini kalau dikembangkan terus-menerus. Dan sebaiknya jangan cuma sekali,” kata Susi menutup pembicaraan.

Kemeriahan Indonesia Derby 2026 di Legok Jawa membuktikan bahwa olahraga pacuan kuda sanggup menyedot perhatian massa sekaligus memutar roda ekonomi masyarakat pesisir Pangandaran.

(Sajidin)

Herdiat Wacanakan Pertunjukan 20 Ribu Angklung, Pengrajin Ciamis Siap Produksi

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketfot: Nunu, Pengrajin Angklung Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Para pengrajin di Kampung Angklung, Desa Panyingkiran, Kecamatan Ciamis, menyambut hangat wacana Bupati Ciamis Herdiat Sunarya untuk menggelar pertunjukan 20 ribu angklung pada tahun mendatang. Gagasan ini memperkuat identitas budaya Kabupaten Ciamis sekaligus mendongkrak kesejahteraan para pembuat alat musik bambu lokal.

Herdiat menyampaikan gagasan besar tersebut saat menghadiri acara Gebyar Angklung Jilid II dalam rangka Hari Ulang Tahun Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Ciamis. Bupati ingin membawa Ciamis menggelar pergelaran seni kolosal yang mengumpulkan puluhan ribu instrumen bambu tersebut.

Baca Juga: Kampung Angklung Ciamis Rutin Pasok Angklung ke Saung Udjo dan Berbagai Destinasi Wisata di Indonesia

Memperkuat Identitas Ciamis Lewat Musik Bambu

Herdiat menilai angklung sebagai warisan leluhur yang membutuhkan pelestarian serta pengembangan secara konsisten. Pertunjukan kolosal ini bakal mengangkat citra Ciamis sebagai daerah yang kaya akan nilai seni dan budaya di tingkat nasional.

“Kita ingin angklung tidak hanya dimainkan, tetapi benar-benar menjadi identitas Kabupaten Ciamis. Kalau dipersiapkan dengan baik, saya optimistis kita bisa mewujudkan pertunjukan 20 ribu angklung,” ujar Herdiat saat menghadiri HUT PWRI di Alun-Alun Ciamis, Rabu (22/07/2026) lalu.

Menanggapi tantangan tersebut, pengrajin senior Nunu Angklung menegaskan kesiapan komunitasnya untuk mengawal rencana Bupati. Pengrajin meminta pemerintah daerah memulai persiapan produksi sejak jauh hari.

“Kami sangat mendukung wacana Pak Bupati. Kalau persiapannya mulai dari sekarang dan tidak mepet dengan waktu pelaksanaan, kami optimistis mampu memenuhi kebutuhan produksinya,” kata Nunu, Minggu (26/07/2026).

Kapasitas Produksi dan Bahan Baku Melimpah

Nunu menjelaskan bahwa Kampung Angklung memegang modal sosial dan produksi yang sangat memadai. Wilayahnya menampung lebih dari 10 kelompok usaha dengan 70 pengrajin aktif yang rutin memproduksi angklung untuk pasar pariwisata, edukasi, dan pertunjukan seni.

Pengrajin sanggup memacu kapasitas produksi secara bertahap jika pemerintah mendata kebutuhan pesanan sejak awal. Selain kesiapan sumber daya manusia, pasokan bambu di wilayah Ciamis masih sangat berlimpah untuk mengimbangi produksi skala besar.

“Untuk bahan baku kami tidak khawatir karena bambu di wilayah Ciamis masih melimpah. Yang terpenting adalah perencanaannya lebih awal sehingga hasil produksinya bisa maksimal,” ungkap Nunu.

Nunu meyakini bahwa pergelaran 20 ribu angklung ini akan membawa dampak ganda (multiplier effect). Event ini bakal menggairahkan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, hingga pelestarian budaya daerah.

“Semakin sering angklung tampil dalam kegiatan besar, masyarakat akan semakin mengenal Kampung Angklung sebagai pusat produksi angklung. Dampaknya tentu akan kembali kepada para pengrajin dan masyarakat,” tuturnya.

Ia berharap Pemkab Ciamis terus menggandeng para pengrajin lokal dalam setiap agenda seni budaya agar angklung menjadi motor penggerak ekonomi warga.

“Kami siap menjadi bagian dari upaya itu. Harapan kami, Kampung Angklung semakin terkenal dan Ciamis semakin identik dengan angklung di tingkat nasional bahkan internasional,” pungkas Nunu.

(Mia)

Pulang dari Amerika Serikat, Pria Ini Bangun Rumah Belajar Gratis untuk Anak-anak di Pangandaran

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: Suasana belajar di Rumah Belajar Masyarakat Bumi Neng Mom

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sebanyak 170 anak telah merasakan manfaat program pembelajaran di Rumah Belajar Masyarakat Bumi Neng Mom (RBM BNM). Sanggar belajar ini bertempat di Dusun Patinggen 2, Desa Karangpawitan, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.

Lembaga yang berdiri sejak 10 November 2023 tersebut mengambil peran sebagai penyempurna pendidikan formal. Pengelola menghadirkan kelas gratis berbasis praktik dan pengalaman langsung bagi anak-anak pedesaan.

Baca Juga: Pacuan Kuda di Tepi Pantai? Indonesia Derby 2026 Hadirkan Sensasi Unik di Pangandaran

Tiga Kurikulum Utama Tanpa Beban Biaya

Kepala Jaringan RBM BNM, Amalia Nur Falah, menekankan bahwa kehadiran RBM BNM tidak bertujuan untuk menggeser atau menyaingi peran sekolah formal.

“Konsep kami tidak mengikuti sekolah formal dan tidak menyaingi sekolah formal yang sudah ada. Kami hadir untuk melengkapi pendidikan yang sudah ada,” ujar Amalia, Minggu (26/7/2026).

RBM BNM mengusung tiga program unggulan yang menyasar berbagai jenjang usia:

  • Performing Arts (Usia 4–7 tahun)
  • STEM / Science, Technology, Engineering, and Mathematics (Usia 7–12 tahun)
  • Creative Problem Solving (Usia 12–17 tahun)

Yayasan membebaskan seluruh biaya pendidikan peserta. Pengelola menyusun kurikulum secara mandiri dan kini sedang mengembangkan materi belajar melalui kolaborasi bersama HighScope Indonesia.

“Kami memang berniat memberikan hal-hal yang belum diperoleh anak-anak di sekolah. Karena itu semua program kami gratis dan terbuka untuk masyarakat,” tambah Amalia.

Di Padaherang, lima fasilitator mendampingi kegiatan belajar para siswa. Pendiri RBM BNM, Kornel H. Soemardi bersama Susi, juga terjun langsung memandu jalannya kelas.

Evaluasi Pentas Tanpa Sistem Ujian

Proses pembelajaran memakan waktu 10 bulan dalam satu siklus. Tim pengajar memberikan materi selama 8 bulan, lalu menggunakan 2 bulan sisanya untuk persiapan pentas seni. Uniknya, RBM BNM meninggalkan sistem ujian maupun kelulusan baku layaknya sekolah umum.

“Evaluasi kami dilakukan melalui pentas. Anak-anak menunjukkan hasil belajar mereka di hadapan publik, bukan melalui ulangan,” tegas Amalia.

Antusiasme warga terus melonjak saban periode. Awalnya RBM BNM hanya menampung 25 anak, kini kuota belajar menampung hingga 50 anak per periode. Kelas STEM menjadi incaran utama para orang tua yang ingin memperkuat kemampuan bahasa Inggris anak sejak dini.

Demi menjaga kualitas interaksi, pengelola membatasi rasio pendampingan. Satu fasilitator membimbing maksimal 10 anak saja.

Masyarakat merasakan dampak positif dari metode interaktif ini. Salah satu orang tua siswa, Sri Wulandari, rela mengantar anaknya yang berusia 5 tahun dari Desa Mangunjaya ke Padaherang.

“Dulu kalau di TK harus ditunggu, sekarang sudah berani sendiri dan tidak pemalu lagi. Banyak perubahannya,” cerita Sri gembira.

Kontribusi Alumnus Amerika Serikat untuk Kampung Halaman

Kornel H. Soemardi menggagas pendirian RBM BNM setelah menyelesaikan kariernya di industri minyak dan sempat tinggal lama di Amerika Serikat. Kemudian sekembalinya ke Indonesia, ia membangun rumah belajar di kampung halaman sang ibu di Padaherang sebagai wujud bakti bagi pendidikan anak-anak desa.

Yayasan Cakrawala Cerah Indonesia menyokong seluruh biaya operasional RBM BNM sehingga fasilitas ini dapat terus melayani masyarakat secara gratis.

(Sajidin)

Pacuan Kuda di Tepi Pantai? Indonesia Derby 2026 Hadirkan Sensasi Unik di Pangandaran

0
Pangandaran, FOKUSjabar.id
Poto: para peserta kudu berpacu di garis start

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sarga.co bersama PP Pordasi sukses memungkas Ajang Indonesia Horse Racing Kejuaraan Nasional Seri 1 Indonesia Derby 2026. Kompetisi ini mengambil tempat di Gelanggang Pacuan Kuda Legok Jawa, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (26/7/2026).

Ajang prestisius ini mencatatkan diri sebagai seri kelima dalam kalender resmi Indonesia Horse Racing (IHR) 2026.

Baca Juga: DLH Pangandaran Tuntaskan Penyedotan Limbah Cair di Pantai Barat Selama Dua Hari

Trek Tepi Pantai Unik dan Pengalaman Kelas Dunia

CEO Sarga.co, Ukuda Ahadi, menegaskan posisi Sarga.co sebagai ekosistem 360 derajat sports and entertainment sekaligus promotor pacuan kuda profesional tunggal di Indonesia.

“Misi kami membangkitkan kembali tradisi dan olahraga pacuan kuda di Indonesia. Bukan hanya melestarikan, tetapi juga mengembangkan potensinya menjadi kebanggaan nasional,” ujar Ukuda.

Ukuda memadukan kompetisi olahraga, nilai budaya lokal, dan panggung hiburan modern. Sarga.co memilih Pangandaran lantaran Legok Jawa memiliki lintasan unik di tepi pantai—satu-satunya di Indonesia dan kedua di dunia.

“Tahun ini kami menyelenggarakan Indonesia Derby di Legok Jawa, Pangandaran. Selain komitmen menghadirkan kompetisi prestisius, kami juga ingin memberikan pengalaman baru bagi penonton pacuan kuda di Indonesia,” katanya.

Sarga.co turut memproduksi siaran world feed bagi penonton global demi mewujudkan visi “Race to The World Stage”. Perusahaan promotor ini sebelumnya memimpin rangkaian Jateng Derby, Triple Crown Seri 1 dan 2, Piala Raja Mangkunegara, serta Piala Pakualam.

Ukuda mengapresiasi kehadiran tokoh nasional Susi Pudjiastuti yang memberikan dukungan penuh bagi kebangkitan olahraga ini.

Gelar Konsep Summer Race Berhadiah Rp1 Miliar

VP Marketing dan Operation Sarga.co, Kevin Jonatan, membeberkan bahwa ajang ini mengumpulkan 158 ekor kuda pacu yang mewakili 13 daerah di Indonesia.

“Pesertanya dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Bali, NTT, dan Papua Selatan,” ujar Kevin.

“Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp1 miliar,” tambah Kevin.

Edisi kali ini tampil beda dengan mengusung konsep Summer Race. Panitia memanjakan para pengunjung melalui pesta es kelapa gratis (Coconut Party), arena Cool Kizzone, serta acara nonton bareng Podcast Mas.

“Kali ini kita Summer Race, pengunjung bisa menikmati Coconut Party, Cool Kizzone, dan Podcast Mas,” katanya.

Perebutan Piala Bergilir Presiden RI

Ketua Komisi Pacu Kuda PP Pordasi sekaligus Ketua Panitia, Munawir, membagi kejuaraan nasional ini dalam dua seri utama.

“Seri pertama kelompok umur, total poin hari ini. Kemudian seri ke dua nanti di Manado, Tompaso, kelompok ketinggian. Seri satu dan seri dua dijumlah, kontingen juara umum mendapat Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia,” jelas Munawir.

Gelaran Indonesia Derby 2026 di Pangandaran ini memancang tonggak baru bagi kebangkitan pacuan kuda nasional menuju panggung internasional.

(Sajidin)

Kampung Angklung Ciamis Rutin Pasok Angklung ke Saung Udjo dan Berbagai Destinasi Wisata di Indonesia

0
CIAMIS, FOKUSjabar.id
Ketfot: Dari Ciamis untuk Indonesia, Kampung Angklung Suplai Angklung ke Berbagai Destinasi Wisata

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Nama Kampung Angklung di Desa Panyingkiran, Kabupaten Ciamis, mungkin belum setenar destinasi wisata budaya papan atas lainnya. Namun, gema musik bambu karya para pengrajin setempat telah lama menghiasi berbagai pusat edukasi, sanggar seni, dan tempat wisata di seluruh Indonesia.

Pengrajin angklung, Nunu Angklung, membeberkan bahwa dirinya rutin mengirimkan pasokan alat musik bambu ke Saung Angklung Udjo di Bandung sejak tahun 2010. Berbagai lembaga pendidikan dan destinasi wisata nasional juga menggunakan angklung buatan warga Panyingkiran.

Baca Juga: Satu Kampung di Ciamis Hidup dari Angklung, Produksinya Capai 1.000 Oktaf Setiap Bulan

Menembus Saung Udjo hingga Proyek Besar ke Medan

Nunu menceritakan perjalanan usahanya yang kini makin masyarakat kenal secara luas. Dulu, pemesan hanya memanfaatkan produknya tanpa mengetahui daerah asal pembuatannya.

“Sejak tahun 2010 saya sudah rutin mengirim angklung ke Saung Udjo. Dulu belum banyak yang mengetahui asalnya. Sekarang mulai banyak yang tahu bahwa angklung di berbagai tempat wisata berasal dari Ciamis,” ujar Nunu di Kampung Angklung Panyingkiran Ciamis, Minggu (26/07/2026).

Nunu menjelaskan bahwa jajarannya membidik dua ceruk pasar utama, yaitu sektor pariwisata dan duni pendidikan. Pengrajin melayani pesanan dari skala satuan hingga satu set angklung utuh.

Patokan harga angklung tergolong bervariasi. Pengrajin membanderol satu nada mulai Rp25 ribu, sementara satu set angklung dengan spesifikasi khusus dapat menembus angka puluhan juta rupiah.

Nunu mengenang keberhasilannya merampungkan proyek raksasa saat mengirim hampir 30 set angklung ke Kota Medan. Setiap set memuat 150 nada, dan tim pengrajin menuntaskan seluruh pesanan tersebut dalam waktu 25 hari kerja saja.

“Alhamdulillah proyek itu selesai tepat waktu dan saya mengantarkan langsung ke Medan. Itu menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan,” kataya.

Membangun Kepercayaan Pasar Nasional

Nunu menilai kepercayaan dari berbagai daerah membuktikan bahwa angklung buatan Kampung Angklung Ciamis memiliki daya saing tinggi di pasar nasional.

Ia mengusung harapan agar masyarakat luas semakin mengenal Kampung Angklung Panyingkiran sebagai produsen utama alat musik tradisional Sunda ini.

“Harapan kami, ketika orang memainkan angklung di berbagai daerah, mereka juga tahu bahwa salah satu daerah yang memproduksinya adalah Kampung Angklung di Ciamis,” kata Nunu.

(Mia)

Satu Kampung di Ciamis Hidup dari Angklung, Produksinya Capai 1.000 Oktaf Setiap Bulan

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketfot: Rumah Pembuatan Angklung di Kampung Angklung Desa Panyingkiran, Kabupaten Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Kampung Angklung di Desa Panyingkiran, Kabupaten Ciamis, memperkuat posisinya sebagai sentra kerajinan musik tradisional yang menggerakkan puluhan warga. Sebanyak 70 pengrajin dalam 10 kelompok memproduksi angklung dengan kapasitas mencapai 1.000 oktaf atau sekitar 8.000 nada setiap bulan.

Pengrajin setempat, Nunu Angklung, mengisahkan bahwa kegiatan pembuatan alat musik bambu ini melibatkan partisipasi luas masyarakat. Hampir seluruh warga di RW 07, yang mencakup tiga RT, mengambil peran aktif dalam proses produksi.

Baca Juga: Kampung Angklung Ciamis Dilirik Wisatawan Mancanegara

Menggerakkan Ekonomi Satu Kampung

Nunu menjelaskan bahwa keberadaan sentra ini terbukti menjadi mesin penggerak ekonomi warga. Kelompok-kelompok pengrajin bekerja sama untuk memenuhi pesanan yang mengalir dari dalam hingga luar daerah.

“Di sini hampir satu kampung menjadi pengrajin. Ada tiga RT dan di setiap RT terdapat pengrajin. Totalnya lebih dari 70 orang yang aktif memproduksi angklung,” ujarnya saat ditemui di Kampung Angklung Panyingkiran Ciamis, Minggu (26/07/2026).

Para pengrajin mengolah setiap unit angklung secara manual. Mereka merangkai seluruh tahapan secara teliti, mulai dari memilih bambu berkualitas, membentuk tabung suara, menyetel keselarasan nada, hingga memasuki tahap penyelesaian akhir (finishing).

Menjaga Warisan Budaya dan Regenerasi

Nunu menilai keterlibatan penuh masyarakat menjadikan usaha kerajinan ini bukan sekadar alat pencari nafkah. Kerajinan angklung sekaligus berfungsi sebagai benteng pelestarian budaya warisan leluhur sejak puluhan tahun lalu.

Ia menyoroti pentingnya regenerasi pengrajin muda demi menjamin keberlanjutan produksi sekaligus mempertahankan identitas Panyingkiran sebagai pusat kerajinan bambu di Kabupaten Ciamis.

“Kami berharap semakin banyak masyarakat yang ikut mempertahankan kerajinan ini. Selain melestarikan budaya, angklung juga menjadi sumber penghasilan bagi warga,” kata Nunu.

Kehadiran puluhan pengrajin terampil ini menjadi modal kuat bagi Kampung Angklung untuk kemudian terus mengepakkan sayap sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis budaya unggulan di Kabupaten Ciamis.

(Mia)

Kampung Angklung Ciamis Dilirik Wisatawan Mancanegara

0
Kampung Angklung Ciamis fokusjabar.id
Wisatawan mancanegara

CIAMIS, FOKUSJabar.id: Kampung Angklung di Desa Panyingkiran Kecamatan/Kabupaten Ciamis Jawa Barat (Jabar) mulai menarik perhatian wisatawan mancanegara.

Hal itu di tandai dengan kunjungan 26 dosen, profesor, peneliti dan mahasiswa dari Jepang, Filipina serta Indonesia yang menjadikan sentra kerajinan angklung sebagai salah satu lokasi pembelajaran budaya dalam program Islamic Southeast Asia Traveling Classroom, Minggu (26/7/2026).

BACA JUGA:

Rakerda PAN Ciamis Perkuat Konsolidasi, 10 Kursi DPRD jadi Target

Kunjungan yang di fasilitasi melalui program Gatrik (Galuh Tour Kota Klasik) itu merupakan bagian dari kegiatan yang di selenggarakan Seasrep Foundation (Southeast Asian Studies Regional Exchange Program) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Darussalam (UID).

Selama berada di Ciamis, para peserta mempelajari sejarah Islam, budaya lokal, dialog antaragama hingga kehidupan masyarakat multikultural.

Di Kampung Angklung, rombongan di ajak menyaksikan proses pembuatan angklung, mengenal sejarah perkembangannya hingga mencoba memainkan alat musik bambu yang menjadi salah satu identitas budaya Sunda.

Pengrajin angklung, Nunu Angklung mengaku bangga karena kini mulai di kenal oleh wisatawan dari berbagai negara.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Terutama saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui BP2D yang telah membawa wisatawan dari berbagai negara berkunjung ke sini. Kami sangat bangga Kampung Angklung sudah di kunjungi wisatawan mancanegara,” ujarnya.

Menurut Nunu, kunjungan wisatawan asing menjadi momentum penting untuk memperkenalkan Kampung Angklung ke dunia internasional.

Ia optimistis promosi dari para peserta melalui media sosial maupun jejaring akademik akan semakin meningkatkan jumlah kunjungan ke Ciamis.

BACA JUGA:

Kwarcab Pramuka Ciamis Siapkan Generasi Tangguh untuk Jambore Nasional XII

“Dampaknya sangat terasa, terutama terhadap penjualan. Setelah ada wisatawan asing yang datang, kami optimistis ke depan akan semakin banyak orang yang datang untuk belajar dan mengenal angklung,” katanya.

Salah seorang mahasiwa asal Filipina, Rafael Sandoy dari Mindanao State University–Iligan Institute of Technology mengaku terkesan melihat langsung proses pembuatan angklung.

“Saya sangat senang bisa melihat bagaimana cara membuat angklung. Saya juga sangat terkejut dengan proses pembuatannya,” kata Dia.

Rafael mengatakan, dirinya mengikuti program tersebut untuk mempelajari budaya Islam dan kehidupan masyarakat di Asia Tenggara.

Menurutnya, kunjungan ke Kampung Angklung memberikan pengalaman baru mengenai bagaimana budaya tradisional tetap hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat Desa Panyingkiran, kunjungan tersebut menjadi sinyal bahwa Kampung Angklung tidak hanya berkembang sebagai sentra kerajinan. Tetapi juga mulai di perhitungkan sebagai destinasi wisata budaya yang mampu menarik perhatian wisatawan dan akademisi mancanegara.

(Mia)