spot_imgspot_img
Kamis 13 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 79

Viman Alfarizi Perkuat Kolaborasi dengan Kementerian Ekraf untuk Kembangkan Ekonomi Kreatif Tasikmalaya

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
Ket foto : Wali Kota Viman Alfarizi Ramadhan, saat melakukan pertemuan strategis dengan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif RI di Jakarta (ist Prokopim)

JAKARTA,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya terus memantapkan langkah dalam memacu pengembangan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi daerah.

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, menguatkan komitmen tersebut lewat pertemuan strategis bersama Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, di Jakarta, Selasa (28/7/2026). Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital Tiar Nabilla Karbala serta Kadis Kominfo Kota Tasikmalaya Amran Saefullah turut mendampingi kunjungan tersebut.

Baca Juga: 30 Tahun Kudatuli, Momentum Mengingat Luka Demokrasi dan Menjaga Semangat Reformasi

Pertemuan tersebut membahas sejumlah langkah strategis untuk mengaitkan potensi daerah dengan jaringan nasional. Pembahasan berfokus pada pemetaan potensi subsektor unggulan, pengembangan kapasitas SDM, penguatan ruang kreatif, hingga perluasan promosi dan akses pasar.

Kota Tasikmalaya menyimpan potensi ekonomi kreatif yang kuat berbasis keterampilan lokal dan identitas budaya hingga menyandang julukan “Mutiara dari Priangan Timur”. Sektor kriya, fesyen, bordir, batik, kuliner, seni pertunjukan, hingga konten kreatif karya anak muda menjadi kekuatan utama yang terus memerlukan dorongan nilai tambah.

Viman Alfarizi menegaskan bahwa pemerintah daerah harus mengarahkan pembangunan ekonomi kreatif menjadi sebuah ekosistem utuh. Ekosistem ini menghubungkan kreativitas warga dengan akses pelatihan, teknologi, pembiayaan, promosi, perlindungan HAKI, serta pasar yang lebih luas.

Ia menilai pengembangan ekonomi kreatif tidak cukup hanya mengandalkan gelaran pameran atau event sesaat. Pemerintah perlu memastikan setiap potensi kreatif menjelma menjadi usaha produktif yang mencetak lapangan kerja baru.

“Pertemuan dengan Kementerian Ekraf, menjadi bagian dari upaya kita bersama untuk membangun kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas kreatif, serta lembaga pembiayaan, dan unsur media,” ungkap Viman Alfarizi Ramadhan dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).

5 Sektor Pendukung untuk Pelaku Ekonomi Kreatif

Viman menuturkan, pelaku ekonomi kreatif membutuhkan dukungan lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan usaha yang makin kompleks.

“Pelaku ekonomi kreatif, tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk, tetapi juga menyangkut desain, standardisasi, pengemasan dan pemasaran digital. Kemudian juga yang terpenting legalitas usaha, hak kekayaan intelektual, serta kesinambungan produksi dan akses pasar yang merata,” jelasnya.

Pemkot Tasikmalaya akan segera menjalankan pemetaan yang lebih tertata mengenai potensi, kebutuhan, dan kendala para pelaku ekonomi kreatif di lapangan.

“Hasil pemetaan yang komprehensif itu, akan menjadi acuan dan pedoman untuk menyusun program pengembangan usaha. Terlebih peluang kolaborasi teknis bersama Kementerian Ekonomi Kreatif, yang saat ini sedang kita jajaki,” paparnya.

Pengembangan sektor ini berjalan seirama dengan Program Tasik Pelak (Pengembang Ekonomi Lokal Kewilayahan) dalam RPJMD Kota Tasikmalaya Tahun 2025–2029. Program tersebut mengarahkan pertumbuhan UMKM, pariwisata, industri, dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Melalui sinergi erat bersama Pemerintah Pusat, Viman berharap kreativitas warga tidak sekadar menjadi identitas budaya. Tetapi menjelma menjadi kekuatan ekonomi nyata.

“Industri ekonomi kreatif sebuah ruang tempat gagasan bertemu dengan peluang. Ketika talenta lokal memperoleh pendampingan, teknologi dan jejaring, serta pasar yang tepat, insyaallah karya kreatif masyarakat Tasikmalaya akan mampu tumbuh lebih kuat, dikenal lebih luas, serta memiliki daya saing tinggi dengan demikian memberikan nilai tambah yang lebih bagi kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.

(Seda)

Harga Ayam Broiler di Ciamis Tembus Rp40 Ribu per Kg, Pedagang Keluhkan Omzet Turun

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketpot: Harga Daging Ayam Broiler di Pasar Manis Ciamis yang mengalami kenaikan

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Para pedagang di Pasar Subuh Blok F Pasar Manis Kabupaten Ciamis mengeluhkan lonjakan harga daging ayam broiler yang terus merangkak naik dalam tiga hari terakhir.

Adun, salah seorang pedagang daging ayam di pasar tersebut, membeberkan kenaikan harga ini, Selasa (28/7/2026). Ia terpaksa menyesuaikan harga jual ke konsumen karena harga patokan dari tingkat bandar besar sudah melonjak lebih dulu.

Baca Juga: FKIP Universitas Galuh Terjunkan 277 Mahasiswa PLP, Perkuat Kerja Sama dengan BKPSDM Ciamis

“Saya beli dari Bandar nya juga sudah naik sehingga karena harga pembelian naik maka untuk konsumen dinaikan juga,” katanya.

Sebelum lonjakan ini terjadi, Adun menjual daging ayam broiler di kisaran Rp36.000 per kilogram. Namun, kenaikan bertahap setiap hari kini mengerek harganya hingga menyentuh angka Rp40.000 per kilogram.

“Kenaikan nya memang tidak drastis tapi tiap hari naik dan sekarang sudah diharga Rp 40.000/kilogram,” ucapnya.

Adun menduga serapan besar-besaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pemicu utama kelangkaan pasokan di pasar. Pengelola dapur MBG menampung langsung persediaan ayam dari tingkat peternak sehingga menguras stok pasar umum.

“Ini mah hanya perkiraan Saya saja soal benar dan tidak nya kan tidak tahu hanya memang di bandar harga cukup mahal,” jelasnya.

Melonjaknya harga pasaran ini berdampak langsung pada penurunan omzet penjualannya. Para pelanggan terpaksa memangkas porsi pembelian demi menghemat pengeluaran.

“Karena harga nya mahal biasanya pelanggan beli satu kilo saat ini hanya setengah nya saja,” ungkapnya.

(Husen Maharaja)

FKIP Universitas Galuh Terjunkan 277 Mahasiswa PLP, Perkuat Kerja Sama dengan BKPSDM Ciamis

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketfot: Pembekalan Peserta PLP di Ruang Kuliah 1, 2, dan 3 Universitas Galuh Ciamis, Selasa (28/7/2026)

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Galuh terus mempererat kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM).

Pihak kampus mewujudkan kolaborasi tersebut melalui program Praktik Lapangan Persekolahan (PLP) Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Dalam program ini, mahasiswa akan mengajar di sejumlah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Baca Juga: Gantungkan Nasib di Ciamis, Pedagang Bendera Asal Garut Berharap Berkah Kemerdekaan 2026

Pengelola kampus menyampaikan poin penting kerja sama tersebut saat menggelar Pembekalan Peserta PLP di Ruang Kuliah 1, 2, dan 3 Universitas Galuh Ciamis, Selasa (28/7/2026).

Ketua BPT PLP FKIP Universitas Galuh, Sri Maryati, membeberkan dua skema penempatan mahasiswa dalam pelaksanaan PLP tahun ini.

“Sebanyak 224 mahasiswa mengikuti Program PLP FKIP yang ditempatkan di tujuh sekolah tingkat SMA, MAN, dan SMK. Sedangkan 53 mahasiswa mengikuti program kerja sama dengan BKPSDM Kabupaten Ciamis. Kemudian mereka juga akan melaksanakan praktik di 18 sekolah tingkat SD dan SMP,” ujarnya.

Sri Maryati menilai kolaborasi ini membuka ruang gerak yang lebih luas bagi mahasiswa untuk menimba pengalaman mengajar di berbagai jenjang sekolah sesuai kebutuhan dan kompetensi.

Kolaborasi Mencakup 6 Program Studi

Peserta program kolaborasi BKPSDM ini mencakup mahasiswa dari enam program studi. Rinciannya terdiri dari 9 mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, 10 mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, 3 mahasiswa Pendidikan Matematika, 2 mahasiswa Pendidikan Biologi, 4 mahasiswa Pendidikan Sejarah, serta 25 mahasiswa Pendidikan Jasmani.

“Kolaborasi ini harapannya mampu memberikan pengalaman yang lebih beragam kepada mahasiswa. Sekaligus mendukung kebutuhan sekolah-sekolah di Kabupaten Ciamis dalam pelaksanaan pembelajaran,” katanya.

Program PLP Semester Genap ini secara keseluruhan menerjunkan 277 mahasiswa dari tujuh program studi di lingkungan FKIP Universitas Galuh.

Selain menerima pengarahan teknis PLP dari Ketua BPT PLP, para peserta juga menyerap materi Penguatan Kurikulum Merdeka Terinternalisasi Panca Waluya dari Dr. Ida Nuraida. Sementara itu, Dr. Yeni Wijayanti membekali mahasiswa dengan materi Budaya Lingkungan Persekolahan.

Dekan FKIP Universitas Galuh, Dr. Asep Amam, mendorong para peserta agar memaksimalkan momen praktik ini sebagai wadah mengasah kompetensi profesional dan membentuk karakter pendidik sejati.

“Jadikan PLP sebagai tempat belajar yang sesungguhnya. Bangun komunikasi yang baik dengan warga sekolah dan jaga nama baik almamater. Terlebih tunjukkan mahasiswa FKIP Universitas Galuh siap menjadi guru yang profesional dan berintegritas,” pesannya.

Melalui kemitraan strategis bersama BKPSDM Kabupaten Ciamis, FKIP Universitas Galuh optimistis program PLP ini sanggup meningkatkan kualitas calon guru. Sekaligus menyumbang kontribusi nyata bagi dunia pendidikan di Kabupaten Ciamis.

(Mia)

Bandara Husein Bakal Aktif Lagi, Kopamas Kota Bandung Siapkan 32 Angkot Modern dengan AC, WiFi dan Cashless

0
BANDUNG, FOKUSJabar.id
Ketua Kopamas Kota Bandung, Budi Kurnia (FokusJabar.id/Yusuf Mugni)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Koperasi Pemilik Angkutan Masyarakat (Kopamas) Kota Bandung menyiapkan 32 armada untuk melayani kembali trayek menuju kawasan Bandara Husein Sastranegara. Langkah ini menyusul rencana pemerintah mengaktifkan kembali operasional bandara tersebut serta membuka akses jalan yang sebelumnya terisolasi.

Ketua Kopamas Kota Bandung, Budi Kurnia, mengonfirmasi pengoperasian kembali rute ini, Selasa (28/7/2026). Ia menjelaskan bahwa Kopamas akan mengembangkan trayek untuk menghubungkan kawasan pemukiman warga dengan titik-titik pusat transportasi publik.

Baca Juga: Ikuzo Gamehouse Resmi Hadir di Pusat Kota Bandung, Tawarkan Gaming Space Ramah Keluarga dengan Konsep Cozy dan Modern

“Potensinya ada di kawasan TOD juga. Saat ini salah satunya kawasan UPI, dan wilayah perumahan. Angkot memang harus melayani kawasan-kawasan permukiman, terutama yang belum terlayani angkutan umum,” kata Budi Kurnia.

Pihak Kopamas mengarahkan fokus operasional angkot ke area permukiman yang belum terjangkau moda transportasi massal. Kebijakan ini sejalan dengan rencana penataan transportasi Pemkot Bandung yang membatasi ruang gerak angkot di pusat kota sekaligus memfungsikannya sebagai angkutan pengumpan (feeder).

Armada Kopamas akan mengarungi rute pengembangan Cibogo Atas-Halte Andir yang melintasi kawasan bandara. Selain itu, pihak pengelola juga merencanakan rute terhubung dari Terminal Ledeng menuju Bandara Husein via kawasan Sukahaji.

“Kalau berdasarkan SK Wali Kota, jumlah armada sebanyak 32 unit. Namun nanti kami melihat potensi penumpang. Kalau load factor meningkat, tentu armada akan kami tambah,” katanya.

Rekam Jejak Jumlah Penumpang yang Tinggi

Budi mengungkapkan bahwa trayek ini memiliki rekam jejak jumlah penumpang yang sangat tinggi. Operasional angkot sempat terhenti total akibat penutupan portal akses oleh pihak Lanud setempat.

“Dulu ramai, bahkan sangat ramai. Kami berhenti beroperasi karena akses di portal ditutup. Setelah ada rencana reaktivasi Bandara Husein, kami menawarkan kembali layanan ini,” ungkapnya.

Selain menghidupkan trayek lama, Kopamas juga mengusung inovasi baru berupa penggunaan armada angkot berbasis kendaraan listrik. Penerapan teknologi listrik ini sanggup menekan biaya operasional harian sopir sekaligus mendongkrak kenyamanan para penumpang.

“Mobil listrik itu murah dari sisi operasional. Kendaraan biasa bisa membutuhkan biaya bahan bakar sampai Rp150 ribu-Rp180 ribu per hari, sementara kendaraan listrik dengan jarak tempuh sekitar 200 kilometer hanya sekitar Rp50 ribu,” jelasnya.

Budi menegaskan bahwa armada ini melayani penumpang umum secara reguler, bukan sebagai armada pemandu moda (shuttle) khusus bandara. Angkot tetap mengangkut masyarakat umum sesuai rute resmi yang berlaku.

“Memang untuk trayek itu, hanya saja jalurnya beririsan dengan bandara. Jadi bukan khusus shuttle bandara,” ujarnya.

Kopamas melengkapi seluruh armada dengan fasilitas modern demi meningkatkan mutu pelayanan. Mereka menerapkan sistem pembayaran non-tunai (cashless), pendingin udara (AC), jaringan Wi-Fi, serta memberlakukan sistem gaji bulanan bagi para pengemudi.

“Kami usahakan cashless. Sopir nantinya digaji, bukan sistem kejar setoran. Kendaraan juga lebih nyaman karena ada AC dan Wi-Fi, tidak berisik,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

Gantungkan Nasib di Ciamis, Pedagang Bendera Asal Garut Berharap Berkah Kemerdekaan 2026

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketpot: Lapak Penjual bendera merah putih di kawasan Islamic Centre Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Memasuki bulan Agustus 2026, para pedagang musiman mulai memadati kawasan Kabupaten Ciamis. Mereka menaruh harapan besar pada peningkatan semangat masyarakat dalam mengibarkan bendera Merah Putih serta mempercantik lingkungan tempat tinggal.

Fikri, seorang pedagang bendera di Jalan Mr. Iwa Kusuma Soemantri, menyuarakan optimisme tersebut, Selasa (28/7/2026). Ia memprediksi gelombang pembeli akan meramaikan lapaknya dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga: Pemkab Ciamis Apresiasi Program Rutilahu BKMM-DMI 

Harapan ini tidak hanya milik Fikri seorang. Puluhan pedagang musiman lainnya juga menggantungkan mata pencaharian mereka pada momen perayaan hari kemerdekaan tahun ini.

“Semoga Agustus tahun ini dagangan Saya ramai dan mudah-mudahan semua penjual bendera sukses dan suasana kemerdekaan semakin meriah,” ucap Fikri.

Setiap menjelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, Fikri memboyong rekan-rekannya dari Kabupaten Garut menuju Ciamis. Mereka sengaja merantau untuk mengadu nasib dengan menjual aneka atribut peringatan kemerdekaan.

“Saya sudah biasa berjualan diseputaran jalan depan Gedung Islamic Centre sejak beberapa tahun lalu,” ucapnya.

Fikri mengambil pasokan bendera Merah Putih, umbul-umbul, dan ornamen hiasan langsung dari produsen khusus. Ia tidak memproduksi sendiri barang-barang dagangan tersebut.

“Kami dan teman teman hanya ikut menjual saja sedangkan barang nya dari pihak lain,” jelasnya.

Pada musim perayaan tahun lalu, Fikri berhasil mengantongi keuntungan cukup lumayan karena pembeli memadati lapaknya. Ia optimistis tren positif tersebut akan terulang kembali pada Agustus ini.

“Tahun ini juga saya harap dagangan laku keras,” terangnya.

(Husen Maharaja)

BMKG dan Pemkab Garut Perkuat Mitigasi Gempa

0
Pemkab garut Mitigasi Gempa fokusjabar.id
Bupati Garut dan Anggota DPR RI

GARUT, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Komisi V DPR RI membuka kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi 2026 di Kelurahan Lebakjaya, Kecamatan Karangpawitan, Selasa (28/7/2026).

Kegiatan ini menjadi upaya bersama dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi melalui edukasi, simulasi dan penguatan sistem mitigasi bencana.

BACA JUGA:

Gali Potensi Sumber PAD Kunci Kemandirian DOB

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin mengapresiasi BMKG dan Komisi V DPR RI yang terus mendukung peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami potensi gempa bumi tanpa harus di liputi rasa panik karena pemerintah terus memperkuat sistem mitigasi dan peringatan dini.

“Masyarakat di beri pemahaman bahwa Garut adalah salah satu daerah yang berpotensi menghadapi bencana gempa bumi. Namun tidak usah panik berlebihan karena pemerintah sudah menyiapkan Earthquake Early Warning System (EEWS) atau Sistem Peringatan Dini Gempa Bumi,” kata Bupati Garut.

Syakur menyebut, setiap bencana memiliki indikasi dan proses. Oleh karena itu, melalui Sekolah Lapang Gempa Bumi masyarakat di bekali keterampilan menghadapi situasi darurat. Mulai dari teknik berlindung saat gempa, proses evakuasi hingga menuju assembly point atau titik kumpul yang telah di tentukan.

BACA JUGA:

Pemkab Garut-Kemenkes Percepat Pengembangan Klinik Rotinsulu jadi Rumah Sakit

Bupati menegaskan, kesiapsiagaan merupakan bentuk ikhtiar nyata dalam menghadapi potensi bencana di samping tetap berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Anggota Komisi V DPR RI, Ade Ginanjar mengatakan, Sekolah Lapang Gempa Bumi merupakan langkah konkret dalam memperluas edukasi kebencanaan kepada masyarakat.

Pihaknya juga terus mendukung penyediaan peralatan pemantauan gempa bumi dan instalasi EEWS di wilayah-wilayah prioritas.

“Bencana itu tidak ada yang tahu kapan datangnya. Namun, dengan alat yang di upayakan oleh BMKG, potensi dampak risiko bencana bisa di tanggulangi sedikit presentasenya. Melalui kegiatan ini, ketika ada pemberitahuan dari sistem, masyarakat sudah tahu bagaimana dia harus menyikapinya,” kata Ade Ginanjar.

BACA JUGA:

Seminar PKK Garut Perkuat Perempuan Bangun Keluarga Tangguh

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi menjelaskan, keberhasilan mitigasi bencana membutuhkan kolaborasi antara BMKG dan pemerintah daerah.

BMKG berperan dalam mendeteksi dan menyampaikan informasi peringatan dini. Sedangkan pemerintah daerah bersama BPBD bertugas menindaklanjuti informasi tersebut untuk melindungi masyarakat.

Selain memperoleh materi mengenai potensi sumber gempa di wilayah masing-masing, peserta juga mendapatkan edukasi penggunaan aplikasi InfoBMKG yang menyediakan informasi cuaca, gempa bumi hingga potensi tsunami secara real-time.

“Kita bukan memberikan ketakutan atau kepanikan. Namun membangun kesiapsiagaan bersama teman-teman BPBD. Melalui Sekolah Lapang Gempa bumi ini, kami berharap masyarakat akan lebih paham dalam menyikapi bencana demi mewujudkan Keluarga Cerdas Bencana,” pungkas Suaidi Ahadi.

(Bambang Fouristian)

Gali Potensi Sumber PAD Kunci Kemandirian DOB

0
Potensi Sumber PAD Kemandirian DOB fokusjabar.id
Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan Advokasi Paguyuban Masyrakat Garut Utara (PM Gatra), Uus Sumirat

GARUT, FOKUSJabar.id: Wakil Ketua Umum Bidang Hukum dan Advokasi Paguyuban Masyrakat Garut Utara (PM Gatra), Uus Sumirat menyebut, pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) merupakan salah satu instrumen kebijakan desentralisasi untuk mendekatkan pelayanan publik, mempercepat pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Harapan yang menyertai lahirnya DOB sangat besar. Masyarakat berharap, pemerintahan menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan lokal, investasi semakin berkembang dan peluang ekonomi terbuka lebih luas.

BACA JUGA:

5 Pilar Rancangan Fondasi Pemerintahan DOB Garut Utara

Namun berdasarkan pengalaman, pelaksanaan otonomi daerah menunjukkan bahwa tidak semua daerah hasil pemekaran mampu mencapai tujuan.

Salah satu tantangan terbesar yang di hadapi adalah rendahnya kemampuan fiskal daerah dalam membiayai pembangunan secara mandiri.

Banyak daerah baru masih sangat bergantung pada dana transfer pemerintah pusat, sementara kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap APBD relatif kecil.

Akibatnya, ruang fiskal daerah menjadi terbatas dan pembangunan sering kali berjalan lebih lambat dari yang di harapkan.

Persoalan tersebut mengisyaratkan bahwa keberhasilan DOB tidak hanya di tentukan oleh terbentuknya struktur pemerintahan baru. Namun juga oleh kemampuan daerah dalam menggali, mengembangkan dan mengelola potensi ekonomi yang di milikinya.

Artinya, keberlanjutan otonomi daerah sangat bergantung pada kekuatan PAD sebagai sumber pembiayaan pembangunan.

PAD Bukan Sekadar Pajak dan Retribusi

Menurut Uus, saat ini masih terdapat pandangan bahwa PAD identik dengan pajak dan retribusi. Padahal dalam perspektif pembangunan daerah modern, PAD harus di pahami sebagai hasil dari kemampuan Pemda dalam mengelola seluruh potensi ekonomi wilayah secara produktif dan berkelanjutan.

Daerah yang memiliki sektor pertanian unggulan harus mampu membangun industri pengolahan. Sehingga nilai tambah tidak di nikmati daerah lain.

Daerah pesisir perlu mengembangkan ekonomi kelautan, perikanan dan logistik. Wilayah yang kaya akan potensi wisata harus mengubah kekayaan alam dan budaya menjadi destinasi yang mampu menarik investasi dan kunjungan wisatawan.

Demikian pula daerah yang memiliki sumber daya mineral, energi atau hasil hutan harus memastikan bahwa pemanfaatannya memberikan manfaat ekonomi yang adil bagi masyarakat setempat.

Dengan begitu, PAD tidak tumbuh dari kebijakan memungut lebih banyak pajak. Tetapi dari keberhasilan menciptakan aktivitas ekonomi yang produktif, kompetitif dan bernilai tambah.

Membangun Ekosistem Ekonomi Daerah

“Salah satu kelemahan dalam pembentukan DOB selama ini adalah perhatian yang lebih besar pada pembangunan birokrasi di bandingkan pembangunan ekonomi.”

“Setelah daerah baru terbentuk, fokus pemerintah sering kali tertuju pada pembangunan kantor pemerintahan, pengisian struktur organisasi dan penyelenggaraan administrasi. Sementara itu, pengembangan sektor-sektor ekonomi produktif berjalan lebih lambat,” ungkapnya.

BACA JUGA:

TPU Eureunsono Dipagar Pemdes Sukaluyu, Ini Harapan Warga

Paradigma tersebut perlu di ubah. DOB harus di bangun di atas fondasi ekonomi yang kuat. Pemda perlu mengidentifikasi sektor unggulan melalui pemetaan potensi wilayah. Selanjutnya menyusun strategi hilirisasi agar sumber daya lokal menghasilkan nilai tambah di daerah sendiri.

Pertanian misalnya, tidak cukup berhenti pada produksi bahan mentah. Hasil perkebunan perlu di olah menjadi produk industri. Potensi perikanan juga harus di dukung dengan fasilitas rantai dingin (cold chain) dan industri pengolahan.

Peternakan bisa di padukan antara produksi pakan, pupuk, pembenihan (breeding) dan pengolahan daging atau susu.

Kawasan wisata harus di lengkapi infrastruktur, promosi serta pemberdayaan masyarakat lokal agar manfaat ekonominya di rasakan secara luas.

Kapasda bagi Pembentukan DOB

Uus mengatakan, Kapasitas Daerah (Kapasda) merupakan salah satu aspek penting yang menjadi dasar dalam pembentukan DOB.

Kapasitas tersebut mencerminkan kemampuan suatu wilayah untuk menyelenggarakan pemerintahan secara mandiri, memberikan pelayanan publik yang berkualitas serta mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

“Penilaian Kapasda tidak hanya di dasarkan pada luas wilayah atau jumlah penduduk. Tetapi juga mempertimbangkan kemampuan SDM, kondisi keuangan daerah, potensi ekonomi serta kesiapan kelembagaan pemerintahan,” katanya.

Dari aspek keuangan, daerah yang akan menjadi DOB harus memiliki potensi pendapatan yang memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan tanpa bergantung secara berlebihan pada bantuan pemerintah pusat.

Sumber tersebut berasal dari PAD, potensi investasi, sektor unggulan maupun Sumber Daya Alam (SDA) yang dapat di kelola secara berkelanjutan.

Menurutnya, kapasitas SDM juga menjadi faktor yang sangat menentukan. Daerah perlu memiliki aparatur pemerintahan yang kompeten, profesional dan mampu menjalankan fungsi administrasi, pelayanan publik secara baik serta pengelolaan pembangunan.

Selain itu, kesiapan infrastruktur dasar. Seperti jaringan transportasi, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan dan teknologi informasi menjadi indikator penting dalam mendukung efektivitas penyelenggaraan pemerintahan.

Di sisi lain, aspek sosial dan politik turut memengaruhi keberhasilan pembentukan DOB. Dukungan masyarakat, stabilitas keamanan serta hubungan yang harmonis antarkelompok sosial menjadi modal utama dalam menciptakan pemerintahan yang kondusif.

“Pembentukan DOB yang tidak di dukung oleh kondisi sosial politik yang stabil berpotensi menimbulkan konflik. Sehingga menghambat proses pembangunan,” jelas Uus.

Oleh karena itu, Kapasda harus di nilai secara komprehensif bahkan terukur melalui indikator yang objektif dan terukur.

Daerah yang memiliki kapasitas memadai akan lebih siap menjalankan fungsi otonomi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, mempercepat pembangunan daerah serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Karenanya, kajian mengenai kapasitas daerah menjadi salah satu prasyarat utama dalam proses pembentukan DOB. Dengan begitu, tujuan desentralisasi dan pemerataan pembangunan dapat tercapai secara optimal.

BUMD sebagai Motor Penggerak Ekonomi

Pengelolaan potensi dan aset daerah merupakan salah satu aspek strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pasalnya, aset tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendukung pelayanan publik, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat memberikan nilai tambah bagi daerah.

Dalam praktiknya, pengelolaan potensi dan aset daerah sering kali masih melekat pada mekanisme administrasi pemerintahan yang berorientasi pada kepatuhan terhadap prosedur birokrasi.

Kondisi tersebut menyebabkan pemanfaatan potensi dan aset daerah belum optimal. Terutama dalam menghasilkan manfaat ekonomi maupun peningkatan PAD.

BACA JUGA:

Sungai Bukan Tempat Sampah, SSC Garut Ajak Warga Jaga Lingkungan

Seiring dengan berkembangnya tuntutan terhadap tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, efisien dan profesional, muncul kebutuhan untuk memisahkan fungsi administrasi pemerintahan dari fungsi pengelolaan aset yang bersifat komersial.

Pemisahan tersebut bertujuan agar aset daerah dapat di kelola berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat tanpa mengabaikan akuntabilitas, transparansi dan kepentingan publik.

Menurutnya, salah satu bentuk kelembagaan yang dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut adalah pendirian Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Melalui BUMD, Pemda dapat mengelola dan mengembangkan aset yang memiliki nilai ekonomis secara lebih profesional, fleksibel dan berorientasi pada penciptaan nilai (value creation).

Dengan tata kelola korporasi yang baik (good corporate governance), BUMD di harapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan potensi dan aset daerah, meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan daerah, sekaligus tetap menjalankan fungsi pelayanan publik sesuai dengan tujuan pendiriannya.

Di banyak daerah, BUMD tidak atau kurang di kembangkan. Sehingga kegiatannya sangat minim bahkan banyak yang merugi.

Selain itu, BUMD masih di pandang sebagai pelengkap administrasi. Padahal seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi lokal.

BACA JUGA:

Pemkab Garut-Kemenkes Percepat Pengembangan Klinik Rotinsulu jadi Rumah Sakit

“BUMD yang di kelola secara profesional dapat berperan dalam penyediaan air minum, energi, pengelolaan kawasan industri, perdagangan hasil pertanian, pengelolaan pelabuhan hingga pengembangan pariwisata.”

“Keuntungan yang di peroleh BUMD akan kembali menjadi sumber PAD yang dapat di gunakan untuk membiayai pelayanan publik dan pembangunan,” imbuhnya.

Karena itu, pembentukan dan pengelolaan BUMD harus di dasarkan pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance), profesionalisme serta orientasi bisnis yang sehat (bukan sekadar pertimbangan politik).

Digitalisasi Sumber PAD Masa Depan

Kata Uus, transformasi digital menghadirkan peluang baru bagi peningkatan PAD.

Digitalisasi pelayanan perizinan, sistem perpajakan daerah, transaksi non-tunai dan pemanfaatan data ekonomi mampu meningkatkan efisiensi pemungutan pendapatan sekaligus mengurangi potensi kebocoran penerimaan daerah.

Selain itu, Pemda dapat mengembangkan ekonomi digital melalui pemberdayaan UMKM, promosi produk lokal di platform digital serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis teknologi.

“Daerah yang mampu beradaptasi dengan perkembangan digital akan memiliki sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Meningkatkan PAD tidak identik dengan menaikkan tarif pajak atau menciptakan jenis retribusi baru. Pendekatan seperti itu justru berpotensi menurunkan daya saing daerah apabila tidak di sertai perbaikan iklim investasi.

Strategi yang lebih efektif adalah menciptakan lingkungan usaha yang kondusif melalui penyederhanaan perizinan, kepastian hukum, pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik yang profesional.

BACA JUGA:

HAN 2026, Ketum PM Gatra: Keselamatan Anak Harga Mati

“Ketika investasi tumbuh, kegiatan ekonomi meningkat, lapangan kerja bertambah dan penerimaan daerah akan meningkat secara alami melalui aktivitas ekonomi yang berkembang,” ucap Uus.

Membangun Kemandirian Fiskal Sejak Awal

Eksistensi DOB jangan sampai tergantung pada  transfer dana dari pusat. Akan tetapi hidup dari kemampuan daerah membangun kemandirian fiskal.

Daerah yang mandiri memiliki keleluasaan dalam menentukan prioritas pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat tanpa terlalu bergantung pada kebijakan fiskal pemerintah pusat.

Karena itu, setiap usulan pembentukan DOB seharusnya telah di lengkapi dengan peta potensi ekonomi daerah, strategi pengembangan sektor unggulan serta roadmap peningkatan PAD  jangka menengah dan panjang.

Dengan pendekatan tersebut, pemekaran wilayah tidak hanya menghasilkan pemerintahan baru. Tetapi juga melahirkan daerah yang memiliki fondasi ekonomi yang kuat.

Kepala daerah memiliki peran strategis dalam mengoptimalkan potensi daerah sebagai sumber PAD.

Di era otonomi daerah, kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai pembangunan sangat di pengaruhi oleh besarnya PAD yang di peroleh.

Oleh karena itu, kepala daerah di tuntut memiliki kreativitas, inovasi dan jiwa kewirausahaan dalam menggali serta mengembangkan potensi ekonomi daerah. Dengan begitu, mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan meningkatkan penerimaan daerah.

Kreativitas kepala daerah tercermin dalam kemampuannya mengidentifikasi potensi unggulan yang di miliki. Seperti sektor pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, pariwisata, ekonomi kreatif maupun UMKM.

Potensi tersebut tidak cukup hanya di manfaatkan sebagai sumber produksi, tetapi perlu di kembangkan melalui inovasi kebijakan, peningkatan kualitas produk, hilirisasi, promosi serta perluasan akses pasar. Sehingga menghasilkan aktivitas ekonomi yang lebih produktif dan berkontribusi terhadap peningkatan PAD.

Selain itu, kepala daerah perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui penyederhanaan perizinan, kepastian hukum, peningkatan kualitas infrastruktur dan pelayanan publik yang efisien.

Kemudahan berusaha akan menarik investasi yang mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan aktivitas ekonomi serta memperluas basis penerimaan daerah dari pajak dan retribusi.

Dalam konteks ini, peningkatan PAD tidak hanya bergantung pada kenaikan tarif pajak atau retribusi. Tetapi pada bertambahnya kegiatan ekonomi yang menjadi objek penerimaan daerah.

Pemanfaatan teknologi digital juga merupakan bentuk kreativitas yang dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan PAD.

Penerapan sistem pembayaran pajak dan retribusi secara elektronik, integrasi basis data wajib pajak serta pemanfaatan analisis data dapat meningkatkan akurasi pendataan, memperkuat transparansi, mengurangi kebocoran penerimaan dan meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

Kepala daerah juga perlu membangun kolaborasi dengan pemerintah pusat, sektor swasta, perguruan tinggi, lembaga keuangan dan masyarakat dalam mengembangkan potensi daerah.

Kemitraan tersebut dapat mendorong lahirnya inovasi, meningkatkan kapasitas SDM, memperluas akses pembiayaan serta mempercepat pengembangan sektor-sektor unggulan yang memiliki prospek meningkatkan PAD.

Namun demikian, upaya peningkatan PAD harus tetap berpedoman pada prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Yakni, transparansi, akuntabilitas, efisiensi, efektivitas dan keadilan.

Optimalisasi PAD hendaknya di lakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan secara berkelanjutan tanpa membebani masyarakat atau menghambat iklim usaha.

Dengan demikian, peningkatan PAD dapat menjadi instrumen untuk memperkuat kemandirian fiskal daerah sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.

BACA JUGA:

Bupati Garut Dorong Percepatan Tindak Lanjut Rekomendasi BPK RI

Kreativitas kepala daerah menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan daerah.

“Kepala daerah yang mampu mengelola potensi lokal secara inovatif, membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan menciptakan kebijakan yang adaptif akan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan PAD, mengurangi ketergantungan pada transfer pemerintah pusat serta mewujudkan daerah yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan,” tutup Uus Sumirat.

(Bambang Fouristian)