spot_imgspot_img
Kamis 13 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 72

bank bjb Bukukan Kinerja Positif, Aset Tembus Rp228,2 Triliun  dan Laba Tumbuh 58,8%

0
bank bjb Bukukan Kinerja Positif, Aset Tembus Rp228,2 Triliun  dan Laba Tumbuh 58,8%
bank bjb Bukukan Kinerja Positif, Aset Tembus Rp228,2 Triliun  dan Laba Tumbuh 58,8%

BANDUNG,FOKUSJabar.id: bank bjb kembali membukukan kinerja positif pada Semester I Tahun 2026 dengan tetap menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi serta tantangan industri perbankan. Melalui strategi growth with quality, Perseroan terus memperkuat fundamental bisnis, menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi, serta memperluas sumber pertumbuhan melalui transformasi digital dan pengembangan bisnis berbasis ekosistem pemerintah daerah.

Kinerja tersebut disampaikan dalam Earnings Call Triwulan II Tahun Buku 2026 dan Public Expose bank bjb 2026 yang dihadiri investor, analis pasar modal, dan publik di Menara bank bjb, Bandung, Rabu (29/7/2026).

Sebagai entitas pengendali Grup bjb yang membawahi tiga perusahaan anak perbankan dan dua lembaga keuangan non-bank, hingga Semester I 2026 bank bjb secara konsolidasi membukukan total aset sebesar Rp228,2 triliun. Perusahaan anak memberikan kontribusi aset sebesar Rp44,2 triliun atau sekitar 19,4 persen terhadap total aset konsolidasi Grup bjb.

Di sisi intermediasi, penyaluran kredit termasuk pembiayaan secara konsolidasi mencapai Rp140,4 triliun, terdiri atas kontribusi perusahaan anak sebesar Rp29,3 triliun dan bank only sebesar Rp111,1 triliun.

Segmen konsumer tetap menjadi penopang utama portofolio kredit bank bjb dengan outstanding mencapai Rp74,2 triliun atau sekitar 66,8 persen dari total kredit. Kualitas kredit pada segmen ini juga tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang rendah, yakni 0,56 persen, mencerminkan penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan.

Selain mempertahankan kekuatan pada segmen konsumer, bank bjb juga terus melakukan diversifikasi sumber pertumbuhan kredit melalui pengembangan pembiayaan non-konsumer. Salah satu fokus utama Perseroan adalah memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah daerah melalui penyediaan pembiayaan yang dilakukan secara selektif, terukur, dan sesuai prinsip kehati-hatian.

Perseroan menilai kebutuhan pembiayaan pemerintah daerah masih memiliki prospek yang positif seiring berlanjutnya berbagai program pembangunan dan peningkatan pelayanan publik di daerah. Dengan pengalaman yang panjang dalam melayani pemerintah daerah serta pemahaman terhadap karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah, bank bjb optimistis segmen ini akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan bisnis yang berkualitas sekaligus memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi daerah.

Sejalan dengan upaya tersebut, bank bjb juga terus melakukan penyempurnaan proses bisnis melalui implementasi Commercial Business Centre (CBC) guna meningkatkan efektivitas proses kredit, memperkuat tata kelola, serta mendukung pertumbuhan pembiayaan yang lebih berkualitas.

Di sisi pendanaan, bank bjb mampu menjaga pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara sehat di tengah persaingan penghimpunan dana yang semakin kompetitif. Hingga Juni 2026, DPK secara konsolidasi tercatat sebesar Rp160,9 triliun, memberikan dukungan likuiditas yang kuat bagi pertumbuhan bisnis Perseroan.

Untuk semakin memperkuat struktur pendanaan, bank bjb terus mendorong peningkatan dana murah (Current Account Saving Account/CASA) melalui perluasan kerja sama payroll, peningkatan aktivitas transaksi nasabah, serta optimalisasi layanan digital yang semakin mudah diakses masyarakat.

Transformasi digital juga terus menunjukkan perkembangan positif. Melalui aplikasi DIGI bank bjb, pembukaan rekening tabungan secara digital mencapai hingga 12.000 rekening baru setiap bulan. Capaian tersebut diharapkan semakin memperluas basis nasabah sekaligus mendukung peningkatan penghimpunan dana murah secara berkelanjutan.

Dari sisi profitabilitas, Semester I 2026 mencerminkan hasil positif dari strategi rekomposisi aset dan liabilitas, optimalisasi biaya dana, peningkatan fee based income, penguatan sinergi Grup bjb, serta berbagai inisiatif efisiensi operasional yang dijalankan secara konsisten.

Pendapatan bunga bersih tumbuh lebih dari 9,1 persen secara year-on-year, sementara fee based income memberikan kontribusi sebesar Rp1,1 triliun sehingga semakin memperkuat struktur pendapatan Perseroan. Berbagai langkah efisiensi juga berhasil menurunkan beban operasional sekitar 5,4 persen dan mendorong pertumbuhan laba operasional sebelum Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) lebih dari 34,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Seluruh upaya tersebut mendorong laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp783 miliar, atau tumbuh 58,8 persen secara year-on-year, sekaligus mencerminkan efektivitas strategi Perseroan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan kualitas aset.

Memasuki Semester II 2026, bank bjb akan terus berfokus pada strategi growth with quality melalui penguatan penghimpunan dana murah, optimalisasi kerja sama payroll, pengembangan pembiayaan berbasis ekosistem pemerintah daerah, percepatan transformasi digital, serta pengelolaan risiko yang disiplin. Perseroan optimistis strategi tersebut mampu menjaga kinerja tetap positif sekaligus memperkuat daya saing di tengah dinamika industri perbankan.

Dengan fundamental bisnis yang semakin kokoh, inovasi layanan yang terus berkembang, serta komitmen terhadap tata kelola perusahaan yang baik dan prinsip kehati-hatian, bank bjb optimistis dapat terus menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, nasabah, dan seluruh pemangku kepentingan.

(Rilis BJB)

Bupati Garut-PT Asri Indah Lestari Bahas Pengembangan TWA Papandayan

0
Bupati Garut Asri Indah fokusjabar.id
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin

GARUT, FOKUSJabar.id: Bupati Garut Jawa Barat (Jabar), Abdusy Syakur Amin menerima kunjungan silaturahmi dari manajemen PT Asri Indah Lestari di Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Rabu (29/7/2026).

Pertemuan tersebut membahas rencana strategis pengembangan serta pengelolaan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan agar mampu memberikan dampak ekonomi yang positif bagi daerah dan masyarakat sekitar.

BACA JUGA:

BUMD Penggerak Kemandirian Ekonomi DOB Garut Utara

Bupati Garut menegaskan pentingnya komunikasi yang intensif dengan pengelola TWA Papandayan.

Menurutnya, wisata pegunungan merupakan salah satu destinasi unggulan Garut yang memiliki daya tarik besar bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Syakur mengungkapkan, Pemkab Garut berkomitmen untuk terus menghidupkan kawasan pariwisata melalui berbagai agenda kegiatan.

Pihaknya siap mendorong kolaborasi penyelenggaraan event-event menarik di kawasan TWA Papandayan guna memikat lebih banyak pengunjung.

“Kita akan komunikasi agar ke depan ada event-event yang di laksanakan di Papandayan,” ucapnya.

Direktur Utama PT Asri Indah Lestari, Graha Kartika Kaban menyambut baik arahan dan dukungan penuh Bupati Garut.

Pihaknya mengapresiasi atas keterbukaan Pemkab Garut dalam membangun sinergi demi kemajuan industri pelancongan daerah.

“Terima kasih  Pak Bupati atas waktu dan arahannya. Sebenarnya tujuannya satu, memajukan pariwisata di Kabupaten Garut supaya ke depannya masyarakat lebih mengenal wisata. Khususnya bisa berkunjung keliling pariwisata di Kabupaten Garut,” katanya.

Terkait pengembangan kawasan dan aksesibilitas penunjang, Graha menyerahkan sepenuhnya kebijakan infrastruktur kepada Pemkab Garut selaku pemangku wilayah.

Pihaknya meyakini Pemkab Garut memiliki pemetaan dan prioritas pembangunan terbaik untuk kenyamanan para wisatawan.

BACA JUGA:

BMKG dan Pemkab Garut Perkuat Mitigasi Gempa

Graha mengakui, masih banyak potensi spot wisata di kawasan TWA Papandayan yang perlu di kembangkan secara optimal. Kendati demikian, seluruh rencana tata kelola kawasan akan tetap di konsultasikan secara berkelanjutan dengan Pemerintah Pusat.

“Kalau khususnya di Papandayan masih banyak yang perlu kita kembangkan. Banyak spot-spot yang harus kita pikirkan. Akan tetapi kami akan diskusikan lagi kepada Kementerian Kehutanan. Kami tidak bisa bergerak tanpa arahan dan petunjuk dari Kementerian Kehutanan,” ungkap Graha.

(Bambang Fouristian)

Dewan Pembina KWS: Budaya tidak Patut Direndahkan

0
KWS Budaya Sukapura fokusjabar.id
Dewan Pembina KWS, Rd. H. Holil Aksan Umarzen

TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Dewan Pembina Kumpulan Wargi Sukapura (KWS), Holil Aksan Umarzen angkat bicara soal pernyataan oknum kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Tasikmalaya Jawa Barat (Jabar) yang di duga merendahkan budaya Sukapura.

Atas dasar dugaan adanya komentar dari seorang kader PSI Kota Tasikmalaya yang di nilai sebagian masyarakat telah merendahkan pembahasan mengenai Budaya Sukapura, pihaknya menyampaikan pernyataan sikap.

BACA JUGA:

Ratusan Dapur MBG Ditutup Permanen, BGN Pastikan Seluruh SPPG di Kota Tasikmalaya Aman

KWS menyatakan keprihatinan atas polemik yang berkembang dan berharap seluruh pihak dapat menyikapinya dengan kepala dingin, menjunjung tinggi adab serta menghormati nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Apabila benar terdapat pernyataan yang merendahkan atau menjadikan Budaya Sukapura sebagai bahan olok-olok, KWS menyatakan keberatan karena hal tersebut dapat melukai perasaan masyarakat serta mencederai kehormatan warisan budaya yang telah di jaga oleh para leluhur selama berabad-abad.

Pihaknya meminta DPP PSI memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut, melakukan penelusuran sesuai mekanisme internal partai serta mengambil langkah yang di pandang tepat apabila di temukan adanya pelanggaran etika oleh kadernya.

BACA JUGA:

30 Tahun Kudatuli, Momentum Mengingat Luka Demokrasi dan Menjaga Semangat Reformasi

KWS berharap ada klarifikasi dari pihak yang bersangkutan agar polemik ini tidak berkembang menjadi kesalahpahaman yang semakin luas dan mengganggu keharmonisan masyarakat.

KWS menegaskan, persoalan ini bukanlah konflik antara budaya dengan Partai Politik (Parpol). Melainkan pengingat bagi seluruh tokoh publik agar senantiasa menjaga etika dalam menyampaikan pendapat mengenai sejarah, adat dan budaya daerah.

Pihaknya mengimbau seluruh masyarakat dan Keluarga Besar Sukapura agar tetap menjaga ketertiban, tidak terprovokasi serta mempercayakan penyelesaian persoalan ini melalui cara-cara yang beradab, konstitusional dan sesuai hukum yang berlaku.

BACA JUGA:

Viman Alfarizi Perkuat Kolaborasi dengan Kementerian Ekraf untuk Kembangkan Ekonomi Kreatif Tasikmalaya

Sebagai penjaga nilai-nilai luhur Sukapura, KWS akan terus berkomitmen menjaga kehormatan budaya, sejarah dan identitas masyarakat Tasikmalaya sebagai warisan yang harus di hormati oleh siapa pun tanpa membedakan latar belakang politik maupun golongan.

“Budaya boleh di diskusikan, tetapi tidak patut di rendahkan. Demokrasi memberi ruang kebebasan berpendapat. Namun etika dan penghormatan terhadap budaya adalah tanggung jawab setiap warga negara,” tegas Holil.

Sebagai informasi, Budaya Sukapura di Tasikmalaya adalah akar sejarah dan identitas tradisi masyarakat Sunda yang berasal dari Kepatihan/Kabupaten Sukapura sebagai cikal bakal Kabupaten Tasikmalaya.

Budaya ini mencakup warisan Wastra Sukapura, adat istiadat hingga situs peninggalan leluhur yang sarat nilai luhur alam Pasundan.

(Bambang Fouristian)

Perluas Akses Keadilan, Pemkab Garut Siapkan Perda Bantuan Hukum

0
Pemkab garut hukum fokusjabar,ud
Pemkab Garut Perda Bantuan Hukum

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut berkomitmen menjamin perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi masyarakat kurang mampu melalui penyusunan Peraturan Daerah (Perda) tentang bantuan hukum.

Langkah tersebut di sampaikan Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin saat menjadi narasumber dalam forum Sinergitas Lintas Sektoral Kementerian HAM bersama Pemerintah Daerah, Masyarakat, Komunitas dan Pelaku Usaha Wilayah Jawa Barat bertajuk “Bersama Membangun Peradaban Hak Asasi Manusia” di Papandayan Hotel, Kota Bandung.

BACA JUGA:

BMKG dan Pemkab Garut Perkuat Mitigasi Gempa

Syakur menjelaskan, Kabupaten Garut dengan jumlah penduduk 2,8 juta jiwa dan luas wilayah sekitar 3.100 kilometer persegi masih menghadapi tantangan pembangunan manusia yang berdampak pada munculnya berbagai persoalan sosial dan potensi pelanggaran HAM.

“Kerentanan ekonomi dan relasi kuasa sering kali memicu berbagai masalah sosial. Seperti kasus penganiayaan hingga kekerasan seksual. Keterbatasan ekonomi membuat masyarakat miskin sering tidak memiliki kemampuan untuk menuntut hak atau mengusut keadilan,” kata Bupati Garut.

Sebagai langkah konkret, Pemkab Garut tengah menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) tentang bantuan hukum bagi masyarakat miskin.

Penyusunan regulasi tersebut juga di selaraskan dengan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2027 agar pelaksanaannya di dukung pembiayaan yang memadai.

Menteri HAM RI, Natalius Pigai menegaskan, forum ini merupakan bagian dari upaya Kementerian HAM menghadirkan pelayanan publik yang berorientasi pada pemenuhan HAM.

Menurutnya, nilai-nilai HAM harus di implementasikan dalam tata kelola pemerintahan, kehidupan masyarakat dan dunia usaha.

“Karena memahami HAM itu adalah Intangible Assets (aset termahal di dunia tapi tidak bisa di pandang dan tidak bisa di lihat). Oleh karena itu aspek HAM yang berada di awang-awang di atas ini kami harus turun tarik ke bawah menjadi aspek kehidupan nyata dalam tata kelola pemerintahan, masyarakat dan dunia usaha,” tegas Natalius Pigai.

Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM, Munaftizal Manan menjelaskan, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 156 Tahun 2024, Kementerian HAM memiliki tugas melakukan penilaian kepatuhan HAM terhadap pemerintah daerah, masyarakat, komunitas dan pelaku usaha.

Jawa Barat menjadi wilayah percontohan dalam pelaksanaan simulasi penilaian tersebut.

BACA JUGA:

Gali Potensi Sumber PAD Kunci Kemandirian DOB

Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan mengapresiasi penunjukan wilayahnya sebagai daerah pelopor pembumian nilai-nilai HAM.

Menurutnya, penghormatan terhadap HAM merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang berkeadaban.

Melalui forum ini, terdapat tiga sasaran utama yang ingin di capai. Yakni, membangun sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, komunitas dan dunia usaha.

Menyamakan persepsi mengenai indikator dan mekanisme penilaian kepatuhan HAM serta meningkatkan kesadaran kolektif untuk memperkuat pemenuhan HAM di Jawa Barat.

“HAM bukan hanya urusan dokumen atau penilaian administratif semata, melainkan fondasi peradaban. Masyarakat yang menghormati HAM adalah masyarakat yang beradab, mampu menjaga martabat manusia dan menegakkan keadilan,” katanya.

“Forum ini memastikan pembangunan ekonomi, sosial dan kebijakan publik berjalan seiring dengan penghormatan terhadap martabat manusia,” Erwan Setiawan menambahkan.

BACA JUGA:

Seminar PKK Garut Perkuat Perempuan Bangun Keluarga Tangguh

Ia berharap, forum tersebut menghasilkan langkah nyata melalui simulasi penilaian kepatuhan HAM bagi masyarakat, komunitas dan pelaku usaha di Provinsi Jawa Barat.

(Bambang Fouristian)

Warung Makan di Banjarsari Ciamis Dibakar Orang Tak Dikenal?

0
warung makan banjarsari fousjabar.id
Personel Pos Damkar WMK Banjarsari saat memadamkan api di warung makan

CIAMIS, FOKUSJabar.id: Warung makan milik Imas Anwari (50) di Dusun Sukamulaya Desa Sukasari Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis Jawa Barat (Jabar) hangus di duga di bakar oleh orang tak di kenal.

Dalam peristiwa kebakaran tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka. Pemilik warung makan di taksir mengalami kerugian Rp2 juta.

BACA JUGA:

Kacang Panjang Hilang di Pasar Manis Ciamis

Menurut Kasatpol PP Kabupaten Ciamis, Ega Anggara Alqausar melalui Kasi Pengendalian dan Penanganan Kebakaran Trisyanto, pihak Damkar pos WMK Banjarsari menerima laporan dari warga terkait kebakaran sebuah warung makan.

“Petugas piket Damkar WMK Banjarsari langsung menuju lokasi kejadian,” katanya, Rabu (29/7/2026).

Trisyanto menuturkan, posisi warung makan itu kebetulan jaraknya tidak jauh dari Mako Damkar pos WMK Banjarsari. Sehingga api bisa secepatnya di padamkan.

“Hanya dalam waktu satu menit, kobaran api berhasil di padamkan,” ucapnya.

BACA JUGA:

SMKN 2 Ciamis Jadi Sekolah Pertama Tuan Rumah Gerakan Pangan Murah DKPP Jawa Barat

Trisyanto melanjutkan, setelah api berhasil di padamkan, selanjutnya di lakukan pendinginan supaya api tidak kembali menyala.

“Saat ini api sudah padam dengan sempurna,” ungkapnya.

(Husen Maharaja)

Kronologi Dugaan Penipuan Berkedok Petugas PLN di Cimerak Pangandaran

0
Penipuan petugas PLN fokusjabar.id
lokasi dugaan penipuan mengatasnamakan petugas PLN di Cimerak, Pangandaran

PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Penjual pakaian di Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar), Hasan menjadi korban penipuan yang di lakukan dua orang pria dengan modus mengaku sebagai petugas PLN.

Korban yang di alami penjual pakaian di Cimerak tersebut sebesar Rp100 ribu.

BACA JUGA:

Video Dugaan Penipuan Atas Nama Petugas PLN Beredar di Cimerak Pangandaran

‎Peristiwa bermula saat Hasan sedang berada di rumah. Sekitar pukul 11.00 WIB, dua orang pria yang mengaku petugas PLN menghubungi Hasan melalui sambungan telepon.

‎”Mereka meminta uang sebesar Rp400 ribu dengan alasan untuk biaya penggantian nomor ID meteran listrik,” kata Hasan, Rabu (29/7/2026).

‎Hasan menolak memberikan uang. Dia meminta agar pembayaran di lakukan besok hari saat dirinya sudah berada di toko.

‎”Setelah menutup telepon, kedua pria tersebut langsung mendatangi toko. Saat itu yang berjaga adalah karyawan toko,” jelasnya.

‎Dengan alasan yang sama, pelaku kembali meminta uang kepada karyawan.

“Karena hasil penjualan hari itu baru Rp100 ribu, uang itu akhirnya di serahkan kepada pelaku,” ungkapnya.

‎Setelah menerima uang, pelaku sempat menunjukkan selembar kuitansi berwarna kuning kepada karyawan.

“Mereka beralasan kuitansi itu baru akan di berikan jika pembayaran lunas Rp400 ribu,” katanya.

‎Karena yang di berikan hanya Rp100 ribu, kuitansi tersebut kembali di bawa oleh pelaku.

‎Menurut Hasan, aksi tersebut di lakukan sekitar pukul 11.06 WIB. Dalam rekaman CCTV toko, terlihat dua pria memakai jaket gelap dan helm datang menggunakan sepeda motor Yamaha NMAX warna merah.

‎Salah satu pelaku sempat berpura-pura memeriksa meteran listrik di depan toko sebelum akhirnya pergi meninggalkan lokasi.

‎Hasan mengaku tidak dapat mengenali wajah pelaku karena keduanya memakai helm. Perkiraan usia pelaku 37-40 tahun.

BACA JUGA:

Pemkab Pangandaran Anggarkan Rp250 Juta agar IPAL Komunal Pantai Barat Segera Beroperasi

‎Kini rekaman CCTV tersebut telah beredar di media sosial dan grup WhatsApp warga.

‎Manager ULP Pangandaran, Diki Gunawan menegaskan, kedua orang tersebut bukan petugas resmi PLN.

Pihaknya mengimbau warga agar tidak memberikan uang atau data pribadi kepada siapapun yang mengaku dari PLN tanpa surat tugas dan identitas resmi.

(Sajidin)

Kisah Waduk Cipancuh Indramayu: Proyek Penyelamat Krisis Zaman Belanda yang Dibayar Pakai Beras

0
Indramayu, FOKUSJabar,id
Waduk Cipancuh, Indramayu. FOTO/Urutan Waktu

INDRAMAYU,FOKUSJabar.id: Pagi hari pada 6 Mei 1936, sebuah kereta uap berhenti di Stasiun Haurgeulis, Indramayu. Seorang wanita bangsawan bernama Mevrouw B.C. de Jonge turun dari gerbong. Istri Gubernur Jenderal Hindia Belanda itu, bersama Residen Cirebon van der Plas, langsung bergegas menuju lokasi pembangunan Waduk Cipancuh.

Surat kabar Het Algemeen Handelsblad zaman itu mencatat bahwa proyek raksasa ini merupakan werkverschaffing—sebuah program padat karya demi menyelamatkan masyarakat yang terhantam badai malaise (depresi ekonomi global). Di tengah kebangkrutan ekonomi dunia, pemerintah kolonial sengaja membangun Waduk Cipancuh untuk menyerap ribuan tenaga kerja sekaligus memperluas jaringan irigasi di tanah Jawa.

Baca Juga: Kepala BGN Larang SPPG Gunakan Bahan Pangan dan Energi Subsidi

Kedatangan Mevrouw de Jonge membawa misi besar. Pemerintah kolonial merancang waduk ini untuk mengairi sawah, membuka lapangan kerja baru, mendukung pembukaan lahan pertanian, dan menjaga pasokan pangan di tengah krisis yang mencekik.

Badai Malaise Memaksa Negara Turun Tangan

Krisis ekonomi global (Great Depression) yang bermula dari runtuhnya pasar saham Amerika Serikat pada 1929 menjalar cepat ke seluruh dunia. Hindia Belanda menjadi salah satu korban terparah karena ekonominya sangat bergantung pada ekspor komoditas seperti gula, kopi, teh, karet, dan tembakau.

Saat harga komoditas global anjlok, perusahaan perkebunan gulung tikar. Pendapatan pemerintah kolonial merosot tajam, dan lapangan kerja di pedesaan lenyap. Meski kondisi mulai membaik menjelang tahun 1936, pemulihan berjalan sangat lambat dan tekanan ekonomi di pedesaan masih sangat terasa.

Kondisi Indramayu bahkan jauh lebih mengenaskan. Selain hantaman malaise, wilayah selatan kabupaten ini masih mengandalkan sistem pertanian tadah hujan. Kekeringan yang datang bertubi-tubi membuat petani sering gagal panen. Sementara itu, peluang kerja di luar sektor pertanian terus menyusut akibat melemahnya bisnis perkebunan.

Krisis parah ini memaksa pemerintah kolonial mengubah strategi dan mengambil peran yang lebih aktif. Sejarawan Ilham Nur Utomo mencatat bahwa pemerintah akhirnya memperluas proyek pekerjaan umum demi menekan dampak krisis dan menyediakan lapangan penghidupan bagi rakyat.

Strategi Membendung Sungai Cipancuh

Pemerintah kolonial tidak asal-asalan dalam memilih proyek ini. Sebelumnya, kawasan utara jalur kereta api Cikampek–Cirebon sudah menikmati pasokan air melimpah dari Sungai Cipunegara melalui Bendung Salamdarma. Sebaliknya, wilayah selatan Haurgeulis masih gersang dan sepenuhnya bergantung pada air hujan. Kebutuhan air menjadi semakin darurat saat pemerintah mulai membuka permukiman baru di wilayah tersebut.

Kebutuhan air yang mendesak ini menjadi alasan utama pembangunan. Selain itu, pemerintah kolonial memanfaatkan momen ini untuk menampung ribuan penganggur, mencetak areal persawahan baru, dan menyukseskan program kolonisasi (transmigrasi) pertanian.

Residen Cirebon van der Plas menjadi otak di balik pembangunan Waduk Cipancuh dengan membendung aliran Sungai Cipancuh. Bendungan ini memiliki target untuk mengairi sekitar 6.500 bouw sawah. Pemerintah mengambil sebagian lahan dari tanah sitaan, lalu menyiapkannya bagi para kolonis yang siap membuka kawasan pertanian baru.

Proyek irigasi, pembukaan lahan, dan pemindahan penduduk ini berjalan beriringan dalam satu paket kebijakan tunggal untuk menjinakkan krisis ekonomi.

Unik! Buruh Menerima Upah Beras, Bukan Uang

Setiap hari, sekitar 5.000 orang memadati lokasi pembangunan Waduk Cipancuh untuk bekerja. Menariknya, mereka tidak menerima sekeping uang pun sebagai upah. Pemerintah kolonial membayar keringat mereka dengan beras melalui lembaga Rijstfonds (Dana Beras).

Hingga Mei 1936, proyek ini telah menggelontorkan sekitar 330 ton beras, atau setara dengan 143.000 hari kerja. Setiap kuli rata-rata membawa pulang tiga kati beras per hari, sementara pekerja dengan keahlian khusus mendapatkan jatah yang lebih besar.

Di tengah jatuhnya harga barang dan anjloknya daya beli, beras menjadi alat tukar yang jauh lebih berharga daripada uang. Bagi para buruh, sistem ini menjamin ketersediaan pangan keluarga mereka secara langsung di tengah masa sulit.

Pemerintah mengatur distribusi ini menggunakan sistem kupon. Para pekerja akan menerima kupon khusus, lalu menukarkannya dengan jatah beras di pos pembagian. Sistem ini sempat memicu kemunculan para spekulan yang membeli kupon atau beras buruh dengan harga tengkulak. Demi melindungi daya beli buruh, pemerintah segera turun tangan membeli kembali kupon-kupon tersebut agar nilainya tidak merosot.

Melalui proyek ini, pemerintah kolonial mengendalikan dua hal sekaligus: membuka lapangan kerja dan mengatur distribusi pangan masyarakat.

Kritik di Balik Megahnya Proyek Bendungan

Jika hanya melihat dari kacamata proyek fisik, pemerintah kolonial terkesan sukses besar. Ribuan orang mendapat pekerjaan, sawah-sawah baru mulai terbentuk, dan jaringan irigasi meluas. Waduk Cipancuh seolah menjadi dewa penyelamat yang sangat logis di tengah depresi ekonomi. Namun, arsip sejarah juga menyimpan sudut pandang lain yang bernada sumbang.

Dalam laporan Het Algemeen Handelsblad edisi Mei 1936, seorang petugas dari Algemeene Inspectiedienst (A.I.D.) menilai bahwa proyek infrastruktur dan bantuan pangan ini hanya mampu meredakan penderitaan rakyat untuk sementara waktu.

Ia menegaskan bahwa akar masalah yang sebenarnya adalah maraknya petani yang kehilangan kepemilikan tanah dan rendahnya nilai sewa lahan. Menurutnya, pemerintah seharusnya memprioritaskan perlindungan tanah rakyat dari penyitaan dan membenahi sistem agraria, bukan sekadar sibuk membangun saluran air.

Silang pendapat ini membuktikan adanya friksi di internal pemerintah kolonial. Sebagian pejabat mengambinghitamkan kekeringan dan minimnya irigasi sebagai biang keladi kemiskinan, sehingga mereka mendewakan bendungan sebagai solusi. Sementara sebagian pejabat lain melihat ketimpangan agraria sebagai masalah yang jauh lebih mendasar, yang tidak akan pernah selesai hanya dengan membangun beton dan bendungan.

Belajar Membaca Arsip Sejarah Secara Kritis

Masyarakat hari ini mengetahui detail kisah Waduk Cipancuh sebagian besar dari dokumen peninggalan pemerintah Belanda. Peneliti Nathan Sowry mengingatkan bahwa arsip kolonial cenderung menonjolkan sudut pandang penguasa, sedangkan jeritan dan pengalaman riil masyarakat terjajah sering kali terkubur dan tidak terdengar.

Oleh karena itu, arsip Waduk Cipancuh sejatinya memotret dua sisi mata uang: taktik pemerintah kolonial menjinakkan depresi ekonomi lewat proyek padat karya, serta kritik tajam yang menilai proyek fisik tersebut gagal menyentuh akar kemiskinan sistemik terstruktur.

Warisan Abadi dari Masa Krisis Global

Saat Mevrouw B.C. de Jonge angkat kaki meninggalkan Waduk Cipancuh pada Mei 1936, proyek bendungan tersebut sebenarnya belum sepenuhnya rampung. Namun bagi pemerintah kolonial, bendungan itu telah menuntaskan misi daruratnya: memberi napas buatan bagi ribuan perut yang kelaparan di tengah depresi ekonomi.

Hampir satu abad berlalu, Waduk Cipancuh masih kokoh berdiri dan terus mengairi hamparan sawah di Indramayu. Warisan yang tersisa bukan hanya bangunan fisiknya, melainkan juga sebuah perdebatan klasik yang belum usai hingga hari ini.

Sejak zaman penjajahan, para pemikir sudah mempertanyakan apakah pembangunan infrastruktur megah dan proyek padat karya benar-benar mampu menghapus kemiskinan, atau hanya sekadar menunda dampak krisis untuk sementara waktu tanpa pernah menyelesaikan konflik penguasaan lahan dan hak hidup rakyat kecil.

Penulis: Rengga Ramayuda dan Budi Zaelani