spot_imgspot_img
Jumat 9 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 255

Kemenag Ciamis Dorong Masjid Ramah Anak, Lansia hingga Penyandang Disabilitas

0
Ciamis@fokusjabar.id
Masjid Ramah di Ciamis Didorong Jadi Ruang Inklusif, Anak hingga Penyandang Disabilitas Harus Terlayani.(fokusjabar.id/Mia)

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Konsep Masjid Ramah di Kabupaten Ciamis tidak hanya berbicara mengenai kebersihan dan kelengkapan fasilitas. Lebih jauh, masjid didorong menjadi ruang ibadah yang terbuka dan nyaman bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak, perempuan, lansia hingga penyandang disabilitas.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ciamis, H. Moh. Aip Maptuh, mengatakan konsep Masjid Ramah harus mampu menjadikan masjid sebagai ruang yang inklusif sehingga dapat dimanfaatkan oleh berbagai kelompok masyarakat.

“Nomenklatur Masjid Ramah ini adalah sebuah sajian di mana masjid itu harus bersifat inklusif dan bisa diisi, dimanfaatkan, serta mampu menyentuh kepentingan orang-orang yang bukan saja orang yang normal, tetapi juga orang yang kurang beruntung, yang memiliki disabilitas termasuk anak-anak, lansia dan seterusnya,” ujar Aip.

Baca Juga: DMI Ciamis Siapkan Anugerah Masjid Ramah Jilid II

Menurutnya, masjid perlu memiliki daya tarik yang membuat masyarakat semakin nyaman datang dan mengikuti berbagai aktivitas di dalamnya. Dengan begitu, kehidupan masjid diharapkan menjadi lebih semarak.

“Kita ingin masjid ini memiliki magnet yang lebih kuat supaya jamaahnya lebih banyak dan kehidupan kemasjidannya lebih semarak. Sehingga orang menjadi semakin cinta masjid,” katanya.

Ketua DMI Kabupaten Ciamis, Syarief Nurhidayat, mengatakan terdapat sejumlah indikator dalam konsep Masjid Ramah, di antaranya Masjid Ramah Lansia, Masjid Ramah Anak, Masjid Ramah Wanita, Masjid Ramah Keragaman, serta ramah bagi penyandang disabilitas.

Masjid Sediakan Fasilitas Disabilitas

Ia mencontohkan, masjid perlu menyediakan fasilitas yang membantu lansia maupun penyandang disabilitas dalam beribadah, seperti kursi untuk salat dan kursi roda.

“Ramah lansia, ramah anak, ramah disabilitas. Bagaimana orang-orang yang disabilitas, contohlah yang lansia, ketika dia salat kadang-kadang dia tidak cukup untuk sujud, ada kursi. Jadi disediakan alat bantu, termasuk juga kursi roda,” kata Syarief.

Konsep ramah anak juga menjadi perhatian. Menurut Syarief, sudah saatnya masjid tidak memberikan kesan bahwa anak-anak tidak boleh berada atau bermain di lingkungan masjid.

“Jangan lagi ada tulisan dilarang tidur di masjid. Balik mindset sekarang, silakan tidur di masjid, asal kita tempatkan begitu,” ujarnya.

Ia juga berharap anak-anak dapat bermain di lingkungan masjid dengan tetap mendapatkan pendampingan orang tua serta tersedianya ruang yang sesuai.

Sementara konsep ramah keragaman, kata Syarief, diarahkan agar masjid mampu menjadi ruang yang menyatukan masyarakat meskipun terdapat perbedaan pandangan.

“Masjid jangan alergi dengan hal-hal yang berbeda pendapat. Justru kalau ada yang berbeda pendapat, malah kita satukan di masjid,” katanya.

Dukungan Pemkab Ciamis

Aip menambahkan, program Masjid Ramah di Ciamis merupakan bagian dari penerjemahan program Masjid Ramah yang didorong Kementerian Agama RI. Di tingkat daerah, program tersebut didukung Pemerintah Kabupaten Ciamis dan Kementerian Agama dengan DMI sebagai eksekutor.

Baca Juga: Ziarah ke Makam Sesepuh, Kemenag Ciamis Napak Tilas Sejarah Perjuangan

Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS), jumlah masjid dan musala di Kabupaten Ciamis hampir mencapai 5.000. Namun, belum seluruhnya memenuhi indikator Masjid Ramah.

“Yang masuk kategori Masjid Ramah itu baru masjid-masjid besar dan sepertiga dari masjid jami. Jadi insyaallah sepertiganya sudah mulai masuk memenuhi indikator-indikator Masjid Ramah,” jelasnya.

Ia berharap pemenuhan indikator tersebut dapat terus diperluas secara bertahap sehingga semakin banyak masjid di Kabupaten Ciamis yang mampu menjadi tempat ibadah sekaligus ruang pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.

“Manakala masjid berdaya maka masyarakat menjadi sejahtera,” pungkas Aip.

(Mia)

Serangan Wereng dan Walang Sangit Bikin Petani Pangandaran Gagal Panen

0
Pangandaran@fokusjabar.id
Gagal Panen.(Dokumen)

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Ancaman terhadap petani padi di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, tak hanya datang dari musim kemarau. 

‎Serangan hama wereng cokelat dan walang sangit juga memangkas hasil panen hingga membuat sejumlah petani mengalami gagal panen.

‎Kondisi itu salah satunya dirasakan Sarmin (62), petani yang menggarap sawah di wilayah Kecamatan Padaherang. 

Baca Juga: Selama Musim Kemarau 2026, Kebakaran Lahan Terjadi di Pangandaran

‎Pada musim panen kali ini, hasil yang diperolehnya anjlok drastis dibandingkan musim sebelumnya.

‎Dari lahan seluas 200 bata, kini ia hanya mampu menghasilkan gabah padi sekitar 2,5 kuintal. Padahal musim panen sebelumnya, lahan yang sama sempat menghasilkan sekitar 1,3 ton lebih.

‎”Sekarang panen gak maksimal. Dari dua ratus bata paling dapat 2,5 kuintal. Dulu sempat dapat 1,3 ton. Jadi, ya kita gagal panen,” ujar Sarmin kepada di Padaherang, Senin (10/8/2026) siang.

‎Menurutnya, penurunan produksi tidak semata-mata akibat kekurangan air di musim kemarau. Serangan hama yang terjadi sepanjang masa tanam ikut membuat tanaman padi rusak dan bulir tidak terisi sempurna.

‎”Sekarang banyak hama walang sangit dan wereng coklat. Jadi, habis sama hama. Ada yang sudah berbuah tapi kosong, terus batangnya ada yang kuning dan akhirnya mati,” katanya.

‎Sebelumnya, kepala Desa Paledah, Yanto, menyebut bahwa persoalan hama menjadi keluhan yang banyak disampaikan petani di wilayahnya. 

Ancaman Tanaman Padi

‎Dari berbagai jenis hama yang muncul, wereng cokelat menjadi yang paling banyak diperbincangkan petani tahun ini.

‎”Kalau saat ini kami belum mendengar. Cuma yang dibahas sekarang ramai di masyarakat dari petani itu wereng, wereng cokelat. Yang lain-lain belum. Dulu pernah ada kupu-kupu putih, ada lagi semacam ulat. Tapi untuk tahun ini yang ramai baru wereng,” ucap Yanto.

‎Sementara itu, Kepala Desa Maruyungsari, Tusiman, mengatakan serangan hama walang sangit juga masih menjadi ancaman bagi tanaman padi, terutama ketika memasuki fase pengisian bulir.

Baca Juga: Menjelajah Goa Panggung Pangandaran, Lorong Karst yang Penuh Legenda Embah Jaga Lautan

‎”Hama walang sangit itu ada, dan biasanya diatasi dengan disemprot petani,” ujarnya.

‎Menurutnya, serangan walang sangit sejauh ini masih dapat ditangani petani. Namun keberadaan hama tersebut tetap menjadi kekhawatiran karena berpotensi menekan produktivitas tanaman padi.

‎”Jadi meskipun sekarang tidak kebanjiran, hama walang sangit menjadi bayangan bagi petani. Tapi insyaallah masih bisa ditangani,” kata Tusiman.

(Sajidin)

DMI Ciamis Siapkan Anugerah Masjid Ramah Jilid II

0
Ciamis@fokusjabar.id
Ketua DMI Kabupaten Ciamis, Syarief Nurhidayat,(fokusjabar.id/Mia)

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Ciamis kembali menyiapkan pelaksanaan Anugerah Masjid Ramah. Memasuki putaran kedua, jumlah masjid yang akan mengikuti proses penilaian bertambah dari 100 menjadi 110 masjid.

Ketua DMI Kabupaten Ciamis, Syarief Nurhidayat, mengatakan pelaksanaan Anugerah Masjid Ramah tahap kedua. Merupakan tindak lanjut dari arahan Bupati Ciamis agar program tersebut tidak berhenti pada penilaian tahap pertama.

Hal itu disampaikan Syarief seusai kegiatan Gerakan Bersih Masjid (Geber Mas) di Masjid Al-Ikhlas Kemenag Ciamis, Senin (10/8/2026).

Baca Juga: Ziarah ke Makam Sesepuh, Kemenag Ciamis Napak Tilas Sejarah Perjuangan

“Alhamdulillah, sebagaimana instruksi Pak Bupati (Herdiat Sunarya-red), ketika Anugerah Masjid Ramah tahap satu. Beliau menginginkan kegiatan penilaian Anugerah Masjid Ramah jangan hanya satu kali, tapi juga harus berlanjut,” ujar Syarief.

Ia mengatakan, penilaian tahap kedua rencananya mulai dilakukan bulan depan. Jumlah peserta pun mengalami peningkatan menjadi 110 masjid.

“Kalau kemarin jumlah masjid yang kita nilai 100 masjid, untuk sekarang 110 masjid,” katanya.

Menurut Syarief, penilaian Anugerah Masjid Ramah mencakup tiga aspek utama, yakni idaroh, imaroh, dan riayah. Idaroh berkaitan dengan tata kelola dan administrasi masjid, imaroh menyangkut kemampuan masjid dalam memakmurkan jamaah. Sedangkan riayah berkaitan dengan kondisi serta pengelolaan sarana dan bangunan masjid.

Pada tahap pertama, sebanyak sembilan masjid berhasil menyandang predikat Masjid Ramah. Jumlah tersebut terbagi dalam tiga kategori, yakni masjid besar, masjid jami, dan masjid pelayanan.

Meningkatkan Pelayanan Jamaah

Syarief berharap pelaksanaan tahap kedua tidak sekadar melahirkan pemenang. Tetapi mampu mendorong pengurus masjid memperbaiki tata kelola dan meningkatkan pelayanan kepada jamaah.

“Ini bukan sekadar penilaian saja, tapi bagaimana masjid itu lebih makmur lagi,” ujarnya.

Ia mengatakan, keberlanjutan program tersebut juga diharapkan dapat membuat semakin banyak masjid di Ciamis. Memiliki fasilitas yang mampu memberikan kenyamanan bagi masyarakat.

Baca Juga: 840 Masjid dan Musala di Ciamis Serentak Ikuti Geber Mas

Program Anugerah Masjid Ramah sendiri dijalankan melalui kolaborasi DMI, Kementerian Agama, Pemerintah Kabupaten Ciamis, Majelis Ulama Indonesia (MUI). Serta unsur pengelola Masjid Agung Ciamis.

Syarief berharap sinergi tersebut terus diperkuat sehingga program Masjid Ramah dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Jargon DMI itu bagaimana memakmurkan dan dimakmurkan masjid. Jadi masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

(Mia)

Selama Musim Kemarau 2026, Kebakaran Lahan Terjadi di Pangandaran

0
Pangdandaran@fokusjabar.id
Kebakaran lahan kebun seluah 5,6 hektar di Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran. (Foto: Sajidin)

‎PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran mencatat sedikitnya empat kejadian kebakaran hutan dan kebun selama musim kemarau 2026.

‎Kebakaran tersebut terjadi di dua wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Parigi dan Kecamatan Padaherang. Meski seluruh kejadian berhasil dipadamkan, kondisi kemarau membuat kebakaran lahan tetap menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.

‎Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, Dodo Kusnadi, mengatakan dari empat kejadian tersebut, dua kebakaran terjadi di wilayah Desa Selasari, Kecamatan Parigi.

Baca Juga: Lumba-Lumba 1,65 Meter Ditemukan Mati di Pantai Timur Pangandaran

‎Sementara dua kejadian lain terjadi di wilayah Desa Sindangwangi dan Desa Karangmulya, Kecamatan Padaherang.

‎”Jadi di wilayah Desa Selasari Parigi dua kali dan kita juga sempat turun. Di wilayah Desa Sindangwangi dan Karangmulya Kecamatan Padaherang itu dua kali,” ujar Dodo Senin (10/8/2026).

‎Menurut Dodo, seluruh kebakaran berhasil ditangani sebelum api meluas dan menimbulkan kerugian material. Kebakaran yang terjadi umumnya berskala kecil, namun frekuensinya cukup sering selama musim kemarau.

‎”Karena material yang mengalami kebakaran merupakan semak belukar. Dan itu rawan menyebar kalau dibiarkan,” katanya.

‎Ia menyampaikan, sejumlah kebakaran di Padaherang bahkan dapat dipadamkan secara cepat oleh masyarakat dengan menggunakan peralatan seadanya. Respons cepat warga bersama pemerintah desa menjadi faktor penting agar api tidak berkembang menjadi lebih besar.

‎”Jadi, bisa mati dengan upaya dari masyarakat,” ucap Dodo.

Ancaman Serius

‎Meski sejauh ini tidak menimbulkan kerugian, BPBD tetap menganggap kebakaran semak dan lahan sebagai ancaman serius. Kondisi vegetasi yang kering saat musim kemarau dapat membuat api lebih mudah menjalar apabila tidak segera ditangani.

‎”Tapi untungnya masyarakat dan pemerintah desa setempat gerak cepat melakukan antisipasi,” ujarnya.

Baca Juga: Batukaras Surf Festival 2026, Ombak Internasional Berpadu dengan Budaya Sunda

‎Dodo mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran, termasuk membakar sampah dan rumput di sekitar kawasan hutan dan kebun selama musim kemarau.

‎Ia meminta warga menunda pembakaran hingga kondisi lebih aman dan musim hujan kembali tiba.

‎”Kalau tetap mau dibakar, ya tunggu sampai padam dulu. Kalau bisa mah jangan melakukan pembakaran dulu sampai musim hujan nanti,” katanya.

(Sajidin)

Penolakan Pembangunan SDN 026 Bojongloa, Begini Sikap Wali Kota Bandung

0
Bandung@fokusjabar.id
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Balai Kota Bandung Senin (10/8/2026) (FokusJabar.id/Yusuf Mugni)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan pembangunan gedung baru SDN 026 Bojongloa tetap menjadi prioritas meski mendapat penolakan dari warga sekitar lokasi.

Farhan bahkan menyatakan siap pasang badan untuk memastikan pembangunan sekolah di lahan milik Pemkot Bandung tersebut berjalan.  Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak.

Menurutnya, persoalan SDN 026 Bojongloa saat ini memiliki dua persoalan, yakni sengketa lahan sekolah lama dan penolakan warga terhadap pembangunan gedung sekolah baru.

Baca Juga: Persib Segera Launching Skuad 2026/2027, Jersey dan Sponsor Baru Ikut Diperkenalkan

“SD itu ada dua masalah. Satu, harus ada eksekusi dari PK mengenai sengketa tanah SD 026. Nah, itu mah tetap kita hormati, cuma kita minta waktu,” kata Farhan di Balai Kota Bandung Senin (10/8/2026).

Farhan menyebut, bahwa persoalan yang lebih besar saat ini justru penolakan warga terhadap pembangunan gedung sekolah baru.

“Tapi problem yang lebih besar sekarang adalah penolakan warga terhadap pembangunan gedung SD itu,” katanya.

Melanjutkan Pembangunan

Farhan mengakui, keputusan untuk tetap melanjutkan pembangunan sekolah merupakan pilihan yang berat. Kendati demikian, ia menegaskan kepentingan pendidikan anak tetap harus menjadi prioritas.

“Saya harus membuat pilihan yang sangat berat, tetapi berdasarkan pemikiran yang cukup dalam, kami tetap memprioritaskan pembangunan sekolah sebagai pemenuhan hak pendidikan kepada anak,” ucapnya.

Farhan mengaku memahami adanya kekhawatiran warga terkait dampak pembangunan, mulai dari ketidak nyamanan selama proyek berlangsung hingga potensi kemacetan di sekitar lokasi. Karena itu, persoalan tersebut akan diatur bersama agar tidak merugikan warga.

“Mengenai masalah pengelolaan lingkungan, mari kita bicarakan bersama. Bahwa selama masa pembangunan akan menimbulkan ketidaknyamanan? Ya. Bahwa nanti akan menimbulkan kemacetan? Kita atur sama-sama, sedemikian rupa sehingga kita tidak kemudian lepas tangan terhadap permasalahan lingkungan yang ada,” jelasnya.

Terkait penolakan warga, Farhan mengatakan persoalan tersebut lebih berkaitan dengan kenyamanan masyarakat. Farhan menyebut, adanya pengalaman sebelumnya terdapat kontraktor yang dinilai tidak memenuhi komitmen hasil kesepakatan dengan warga.

Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang akan menjadi perhatian Pemkot Bandung dalam pembangunan SDN 026 Bojongloa.

Untuk memastikan persoalan tersebut tidak kembali terjadi, Farhan bahkan menyatakan siap bertanggung jawab langsung terhadap proses pembangunan SDN 026 Bojongloa.

“Untuk yang satu ini, saya kan saya sudah bilang, untuk SD 026 Bojongloa, saya akan pasang badan. Kedua, saya akan jaga komitmen kontraktor dan pemerintah terhadap warga yang merasa terganggu,” katanya.

Mengenai akses menuju lokasi pembangunan yang dikhawatirkan menimbulkan persoalan, Farhan menyebut Pemkot Bandung akan mencari jalur alternatif.

“Saya kan belum meninjau lapangan langsung. Tapi menurut masukan yang saya terima, akan ada beberapa jalan masuk alternatif,” ujarnya.

Objek Sengketa Ahli Waris

Farhan juga menjelaskan, alasan Pemkot Bandung tidak membeli kembali lahan SDN 026 yang saat ini menjadi objek sengketa dengan pihak ahli waris.

Ia menyebut persoalannya bukan sekadar besaran anggaran. Pemkot Bandung tidak dapat begitu saja mengalokasikan anggaran untuk membayar ganti rugi tanah dalam perkara yang telah diputus.

“Jadi gini, bukan masalah berapanya, tetapi kita tidak bisa kemudian menganggarkan sebuah ganti rugi tanah karena kalah berperkara. Itu lebih sulit lagi. Itu bisa bertahun-tahun lagi,” ungkapnya.

Sebagai solusi, Pemkot Bandung memilih membangun sekolah baru di atas lahan milik pemerintah yang telah tersedia.

Baca Juga: Bursa Ketua Demokrat Jabar Dibuka, Pendaftaran Bacalon Mulai 10 Agustus

“Kebetulan kita punya tanah 4.000 meter, dan ini tanahnya sudah ada sejak tahun 2023. Prosesnya memang alot,” kata Farhan.

Ia memastikan komunikasi dengan pihak ahli waris telah dilakukan. Menurutnya, pihak ahli waris bersedia memberikan waktu kepada Pemkot Bandung untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

“Dengan ahli waris sudah. Mereka akan memberikan waktu. Kita tinggal nanti ngobrolnya sama warga yang ada di lokasi sekolah yang baru,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

Pemkab Tasikmalaya: Investasi Harus Berdampak Terciptanya Lapangan Kerja

0
Tasikmalaya@fokusjabar.id
Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Dr H Kurniawan Ak CA .(fokusjabar.id/Farhan Kamil)

TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menegaskan investasi yang masuk ke daerah tidak boleh berhenti pada peningkatan nilai investasi semata.

Aktivitas penanaman modal harus memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal, penguatan UMKM, hingga peningkatan kesejahteraan.

Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya, Dr H Kurniawan mengatakan, prinsip tersebut menjadi bagian penting dari strategi pemerintah daerah. Dalam membangun ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Baca Juga: Musancab PPP Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum Dorong Enjang Bilawini Maju di Pilkada 2029

“Investasi yang tumbuh harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Bukan hanya peningkatan nilai investasi, tetapi juga terciptanya lapangan kerja, meningkatnya kompetensi tenaga kerja lokal. Berkembangnya usaha mikro kecil serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat,” kata Kurniawan, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, pemerintah daerah berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif sekaligus memastikan masyarakat lokal memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi tersebut.

Karena itu, Pemkab Tasikmalaya mendorong adanya sinergi antara pelayanan investasi, pemberdayaan UMKM dan peningkatan kualitas tenaga kerja.

Kurniawan menilai, pertumbuhan investasi semestinya menciptakan efek berantai atau multiplier effect bagi perekonomian daerah.

“Saya mengajak seluruh perangkat daerah untuk semangat dan memiliki komitmen yang sama. Agar investasi di daerah ini harus memberikan multiplier effect bagi perekonomian daerah,” ujarnya.

Komitmen itu diwujudkan melalui sejumlah program yang diserahkan secara simbolis dalam apel Senin pagi.

Di antaranya Nomor Induk Berusaha (NIB) bagi pelaku UMKM dan pekerja informal, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja rentan. Serta BPJS Ketenagakerjaan dan Surat Izin Praktik (SIP) bagi tenaga kesehatan dan tenaga medis peserta magang nasional.

Pemkab juga menyerahkan kartu peserta pelatihan magang kerja ke Jepang. Serta persetujuan Kredit Usaha Rakyat Daerah (KURDA) kepada perwakilan pelaku UMKM.

Legalitas Jadi Pintu Masuk Pengembangan UMKM

Kurniawan mengatakan, pemberian NIB bagi pelaku UMKM dan pekerja informal menjadi salah satu bagian penting dari strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Legalitas usaha tersebut diharapkan membuka akses yang lebih luas terhadap pembiayaan, pelatihan maupun program bantuan pemerintah.

“Tujuannya memberikan legalitas usaha sehingga masyarakat mendapatkan kemudahan dalam mengakses pembiayaan, pelatihan dan bantuan pemerintah,” jelasnya.

Melalui DPM-PTSP-TK Kabupaten Tasikmalaya, pemerintah daerah berupaya memperkuat keterhubungan antara investasi, pelaku usaha kecil dan sumber daya manusia.

Menurut Kurniawan, program tersebut merupakan bagian dari strategi besar pemerintah daerah untuk meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem usaha.

Magang Jadi Jembatan Lulusan Baru ke Dunia Kerja

Selain UMKM, peningkatan kompetensi tenaga kerja menjadi perhatian pemerintah daerah.

Kepala DPM-PTSP-TK Kabupaten Tasikmalaya, dr H Faisal Soeparianto , mengatakan terdapat dua program magang yang difasilitasi pemerintah daerah. Yakni magang kerja ke Jepang dan magang nasional bagi lulusan baru.

Program tersebut diarahkan untuk mengurangi pengangguran sekaligus memberikan pengalaman kerja kepada peserta.

“Melalui program magang nasional dan magang kerja ke Jepang. Dengan tujuan menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan pengalaman juga skill peserta magang,” kata Faisal.

Pada gelombang pertama, terdapat 38 peserta magang nasional. Lima peserta di antaranya ditempatkan sebagai tenaga kesehatan di lima Puskesmas, yakni di Kecamatan Ciawi, Rajapolah, Sukahening, Cigalontong dan Bojongasih.

Keberadaan peserta magang di Puskesmas diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman bagi peserta, tetapi juga membantu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Selama mengikuti program, peserta magang juga mendapatkan honor sesuai UMK Kabupaten Tasikmalaya.

Faisal menyebut pemerintah daerah akan kembali membuka gelombang kedua program magang nasional pada akhir Agustus 2026.

Baca Juga: Atasi Fenomena LGBT di Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Tekankan Peran Orang Tua

BLUD, BUMD dan perusahaan di Kabupaten Tasikmalaya juga didorong ikut ambil bagian. Sehingga semakin banyak lulusan baru mendapatkan pengalaman kerja, pendapatan dan keterampilan.

Bagi Pemkab Tasikmalaya, pembangunan ekonomi akhirnya tidak sekadar diukur dari berapa besar investasi yang masuk.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh investasi tersebut mampu menciptakan pekerjaan. Mengembangkan usaha masyarakat dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Dengan kata lain, investasi di Tasikmalaya diharapkan tidak hanya tumbuh di atas kertas, tetapi ikut menggerakkan ekonomi masyarakat dari bawah.

(Farhan Kamil)

Ziarah ke Makam Sesepuh, Kemenag Ciamis Napak Tilas Sejarah Perjuangan

0
Ciamis@fokusjabar.id
Ziarah ke Makam Sesepuh, Kemenag Ciamis Napak Tilas Sejarah Perjuangan Pendahulu.(fokusjabar.id/Mia)

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Ciamis menggelar ziarah maqbaroh sekaligus napak tilas sejarah perjuangan para sesepuh Kemenag Ciamis.

Kegiatan tersebut diikuti seluruh ASN Kemenag Ciamis, mulai dari Kasubbag, para kepala seksi, penyelenggara, pejabat fungsional dan pelaksana, pengawas madrasah. Hingga pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI).

Rombongan mengunjungi makam Drs. Hasan Ma’mun dan KH. Agus Abdul Kholik di kawasan Cijantung. Selain berziarah, rombongan juga bersilaturahmi dengan keluarga Moh. Sueb Wiantamihardja, Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Ciamis periode 1994–1998.

Baca Juga: 840 Masjid dan Musala di Ciamis Serentak Ikuti Geber Mas

Di setiap makam, para ASN memanjatkan doa dan melakukan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para sesepuh. Yang telah lebih dahulu mengabdikan diri bagi Kementerian Agama dan masyarakat Kabupaten Ciamis.

Kepala Kemenag Kabupaten Ciamis, Asep Lukman Hakim, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda ziarah. Tetapi menjadi momentum untuk mengenang jasa sekaligus meneladani perjuangan para pendahulu.

“Tanpa perjuangan dan jasa para pendahulu. Tentu saya dan rekan-rekan tidak akan dapat berada dan mengabdi di lingkungan Kementerian Agama seperti sekarang ini,” ujar Asep.

Menurutnya, kegiatan ziarah sengaja dilaksanakan menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI. Sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri dan sesepuh Kemenag Ciamis yang telah meletakkan dasar perjalanan kelembagaan Kemenag di daerah.

Asep menjelaskan, Drs. Hasan Ma’mun merupakan salah seorang pendiri Kantor Departemen Agama Kabupaten Ciamis sekaligus pimpinan pada periode kedua. Sosoknya menjadi bagian penting dari sejarah awal terbentuknya kelembagaan Kemenag di Kabupaten Ciamis.

KH. Agus Abdul Kholik

Sementara KH. Agus Abdul Kholik dikenang sebagai salah seorang mantan pimpinan Kemenag Ciamis yang juga memiliki kiprah dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Pengabdian dan kepemimpinannya menjadi bagian dari perjalanan Kemenag Ciamis yang dinilai penting untuk dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Selain ziarah, rombongan juga bersilaturahmi dengan keluarga Moh. Sueb Wiantamihardja. Ia merupakan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Ciamis periode 1994–1998.

“Bagi kami, sejarah Kementerian Agama tidak hanya tersimpan dalam dokumen, tetapi juga dalam kenangan dan keluarga para pendahulu,” kata Asep.

Ia menilai perjalanan para sesepuh memberikan pelajaran penting bagi ASN Kemenag saat ini. Terutama mengenai keteladanan dalam mengabdi, membangun kelembagaan, serta menjaga hubungan dengan masyarakat.

Baca Juga: Emak-emak di Ciamis Pertanyakan Harga MinyaKita

Asep berharap semangat pengabdian yang telah ditunjukkan para pendahulu dapat menjadi inspirasi bagi ASN Kemenag Ciamis. Dalam menjalankan tugas dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Kita ingin mengenang jasa-jasa para sesepuh kita. Semangat dan perjuangan para pendahulu diharapkan dapat terus dilanjutkan oleh generasi yang sekarang,” ujarnya.

Menurut Asep, kegiatan ziarah dan napak tilas tersebut juga diharapkan dapat menjadi agenda rutin Kemenag Ciamis. Rencananya, kegiatan serupa dapat dilaksanakan setidaknya dua kali dalam setahun. Yakni menjelang HUT Kemerdekaan RI dan menjelang Hari Amal Bhakti Kementerian Agama.

(Mia)