spot_imgspot_img
Minggu 12 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 242

Viral di TikTok, Bau Limbah Hotel Cemari Pantai Barat Pangandaran

0
walhi pencemaran dugaan limbah hotel Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: Genangan limbah yang mengalir ke Pantai Barat Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Dugaan pembuangan air limbah hotel ke laut kembali mencoreng wajah wisata Pantai Barat Pangandaran. Sorotan tajam kali ini datang dari pegiat media sosial, Ai Giwang Sari, yang mengunggah kondisi tersebut melalui akun TikTok pribadinya @GiwangsariAdvokat.

Dalam unggahannya, Giwang memperlihatkan aliran air limbah berbau menyengat yang diduga mengalir langsung ke laut. Aroma tidak sedap itu disebut mengganggu kenyamanan pengunjung, baik wisatawan lokal maupun luar daerah.

Baca Juga: Sumur Tua di Paledah Pangandaran Sudah Ada Sejak 1926

Kritik tersebut direkam Giwang saat ia berjalan santai di kawasan Pantai Pangandaran, Minggu (25/1/2026). Ia mengaku terkejut mendapati limbah hotel dengan bau busuk mengalir bebas di kawasan wisata unggulan Jawa Barat itu.

“Kumaha ieu Dinas Lingkungan Hidup? Pak Kadis yeuh limbah gera dibereskeun. Teu nyaman ieu, komo wisatawan luar, warga lokal ge teu nyaman,” ujar Giwang dalam video unggahannya.

Dalam rekaman tersebut, Giwang juga mengarahkan kamera ponselnya ke titik sumber aliran limbah. Ia menegaskan, lokasi yang direkam hanyalah satu contoh dan meyakini masih ada titik-titik lain di kawasan Pangandaran yang mengalami persoalan serupa.

“Bauna keneh karasa, komo ningali cai na nepi ka hejo,” katanya, sambil menunjukkan warna air yang tampak kehijauan.

Menurut Giwang, persoalan limbah di Pangandaran bukanlah masalah baru. Ia menyebut persoalan tersebut sudah terjadi sejak lama, bahkan sebelum Pangandaran resmi menjadi kabupaten mandiri.

“Se iya nya sekarang sudah teratasi, Pangandaran kan sudah jadi kabupaten. Tapi di sini mah harus Viral dulu, baru bergerak,” ungkapnya.

Pejabat Terkesan Lambat Bergerak

Ia juga menyayangkan sikap para pejabat yang memiliki kewenangan namun terkesan lamban dan tidak memiliki solusi konkret dalam penanganan limbah.

Caricing wae? Kumaha atuh ieu, gancang beberes,” pungkasnya.

Pantauan Senin (26/1/2026), unggahan tersebut viral di media sosial. Video Giwang telah mendapat penonton lebih dari 10,7 ribu kali dan banjir berbagai komentar warganet.

Salah satu akun, @bulin4410, menuliskan kekhawatirannya terhadap dampak limbah bagi wisatawan.
“ih gareuteul mun ngojay,” tulisnya.

Sementara akun @Baraya.Atep bahkan menandai langsung akun Gubernur Jawa Barat @dedimulyadiofficial, sebagai bentuk dorongan agar persoalan tersebut mendapat perhatian pemerintah provinsi.

Hingga berita ini terbit, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan pembuangan limbah hotel tersebut.


(Sajidin)

Anggaran Kota Tasikmalaya 2026 “Berdarah”, Tapi Belanja Makan dan Internet Malah Meroket

0
Anggaran Kota Tasikmalaya FOKUSJabar.id
Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Tasikmalaya, Asep Endang Nur Syam

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Di tengah tekanan ekonomi yang memaksa warga berhemat, pengelolaan keuangan Pemerintah Kota Tasikmalaya justru menuai tanda tanya.

Awal 2026 di buka dengan kondisi fiskal yang berat, APBD Kota Tasikmalaya mengalami defisit besar. Sementara sejumlah pos belanja rutin di organisasi perangkat daerah (OPD) justru tercatat melonjak signifikan.

Pemangkasan Dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat sebesar Rp219 miliar atau sekitar 18,5 persen membuat Pemkot Tasikmalaya harus melakukan efisiensi ketat. Terutama pada sektor infrastruktur dan pelayanan publik.

Namun di sisi lain, data belanja menunjukkan adanya pos anggaran yang di nilai tidak sejalan dengan semangat penghematan.

Baca Juga: Ribuan Guru Honorer Demo Balekota Tasikmalaya, Tuntut Keadilan Status PPPK

Belanja Konsumsi BPKAD Jadi Sorotan

Perhatian publik tertuju pada Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), lembaga yang seharusnya menjadi contoh dalam pengendalian anggaran. Dalam Rencana Umum Pengadaan (RUP) 2026, BPKAD tercatat mengalokasikan sekitar Rp884,9 juta hanya untuk belanja makan dan minum.

Anggaran tersebut terbagi ke dalam 52 paket pengadaan langsung, dengan nilai per paket bervariasi. Beberapa kegiatan rapat bahkan tercatat menelan anggaran hingga Rp78 juta sampai Rp89 juta.

Aktivis lokal, Fadli Khoerullah, mempertanyakan rasionalitas belanja tersebut di tengah kondisi keuangan daerah yang sedang tertekan.

“Bagaimana mungkin masyarakat di minta memahami keterbatasan anggaran saat jalan rusak belum tertangani. Sementara belanja konsumsi di kantor pengelola keuangan hampir menyentuh satu miliar rupiah,” kritiknya.

Anggaran Internet Diskominfo Dinilai Tak Efisien

Sorotan juga datang dari DPRD Kota Tasikmalaya. Ketua Fraksi PKB, Asep Endang Nur Syam, mengungkap adanya indikasi pemborosan pada belanja jaringan internet dan intranet di Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo).

Ia membeberkan setidaknya tiga persoalan utama yang perlu di evaluasi secara serius. Pertama, pemisahan anggaran antara internet dan intranet yang di nilai tidak efisien. Karena keduanya berjalan di atas infrastruktur jaringan yang sama.

Kedua, belanja kabel fiber optik yang terus muncul hampir setiap tahun. Asep mempertanyakan kejelasan status aset tersebut.

“Apakah kabel itu di sewa, di beli atau setiap tahun selalu di anggarkan ulang? Ini perlu kejelasan,” ujarnya.

Ketiga, lemahnya skala prioritas anggaran. Menurut Asep, Diskominfo seharusnya lebih fokus pada program strategis seperti digitalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), termasuk pajak parkir dan hotel, dibandingkan terus membiayai belanja rutin yang membengkak.

Ketimpangan Efisiensi dan Krisis Kepercayaan

Situasi ini memunculkan kesan adanya ketimpangan dalam penerapan kebijakan efisiensi. Di satu sisi, Pemkot Tasikmalaya telah memangkas belanja infrastruktur, mengurangi dana Pokok Pikiran (Pokir) DPRD, serta menyesuaikan berbagai pos operasional. Namun di sisi lain, belanja rutin di OPD strategis justru masih terlihat longgar.

“Upaya peningkatan PAD tidak akan berdampak signifikan jika kebocoran belanja rutin tidak segera disumbat,” tegas Asep Endang, Senin (26/1/2026).

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memperlebar jarak kepercayaan antara pemerintah daerah dan masyarakat, terutama di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran.

Publik Menunggu Sikap Tegas Wali Kota

Kini, sorotan publik mengarah pada Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan. Masyarakat dan DPRD menantikan keberanian kepala daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap RUP 2026, termasuk audit belanja non-prioritas yang dinilai tidak selaras dengan kondisi fiskal daerah.

Tanpa transparansi dan langkah korektif yang tegas, defisit ratusan miliar rupiah bukan sekadar angka dalam dokumen anggaran, melainkan ancaman nyata terhadap kualitas layanan publik dan kesejahteraan warga Tasikmalaya ke depan.

(Abdul)

Ribuan Guru Honorer Demo Balekota Tasikmalaya, Tuntut Keadilan Status PPPK

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
Ket foto : Ribuan guru-guru honorer Madrasah dan Sekolah swasta, melakukan aksi demo di depan Balekota Tasikmalaya, menuntut mereka untuk diperhatikan secara serius oleh Pemerintah (fokusjabar/Seda)

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Ribuan guru honorer madrasah dan sekolah swasta menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Balekota Tasikmalaya, Jalan Letnan Harun, Bungursari, Senin (26/1/2026) sore. Aksi ini menjadi luapan kekecewaan atas kebijakan pemerintah pusat yang dinilai tidak berpihak pada tenaga pendidik honorer.

Massa aksi datang dari berbagai daerah, mulai Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, hingga Garut. Mereka menuntut keadilan atas kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang mengangkat pekerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sementara nasib guru honorer hingga kini masih belum memiliki kejelasan status.

Baca Juga: Terjepit Tambang Pasir, Situs Lingga Yoni Tasikmalaya Menunggu Uluran Tangan Pemerintah

Dengan mengenakan pakaian hitam putih, para guru membawa spanduk dan poster berisi tuntutan keadilan dan kepantasan kebijakan. Aksi dipimpin langsung Ketua Umum Persatuan Guru Madrasah (PGM) Asep Rizal bersama Sekretaris Jenderal PGM Arip Ripandi, dengan pengawalan ketat aparat kepolisian dan Satpol PP.

Setibanya di Balekota, perwakilan massa diterima Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dicky Candra Negara, Sekretaris Daerah Asep Goparulloh, anggota DPRD Kota Tasikmalaya Habib Kosim Nurwahab, Kepala Kesbangpol Ade Hendar, serta Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Andi Purwanto.

Koordinator aksi, Arip Ripandi, menyampaikan demonstrasi ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam para guru honorer terhadap kebijakan yang mencederai rasa keadilan.

“Kebijakan pengangkatan pekerja SPPG menjadi PPPK sangat melukai hati kami. Guru-guru honorer dan sekolah swasta sudah puluhan tahun mengabdi, namun sampai hari ini belum ada kejelasan status,” ujar Arip.

Pengangkatan SPPG jadi PPPK Terlalu Mudah

Ia menilai pemerintah terlalu mudah mengangkat pekerja SPPG yang baru bekerja sekitar enam bulan. Sementara guru honorer madrasah yang telah puluhan tahun mengabdikan diri justru terabaikan.

“Coba berpikir secara rasional, pekerja SPPG baru enam bulan sudah bisa jadi PPPK. Sementara guru honorer yang puluhan tahun mencerdaskan bangsa justru tidak mendapat perhatian,” tegasnya.

Arip menegaskan, aksi ini bukan bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan seruan moral agar pemerintah bersikap jujur, adil, dan rasional dalam menetapkan kebijakan.

“Ini bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan, tapi demi keberlanjutan dunia pendidikan dan masa depan generasi penerus bangsa,” katanya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Dicky Candra Negara, mengaku tersentuh dengan perjuangan para guru honorer. Ia bahkan tak kuasa menahan haru saat massa aksi menyanyikan lagu Hymne Guru.

“Terus terang saya menangis. Ayah saya juga seorang guru. Jadi saya bisa merasakan bagaimana perasaan para guru honorer yang hingga kini belum mendapatkan perhatian serius,” ungkapnya.

Ia menyampaikan bahwa perjuangan para guru honorer merupakan perjuangan mulia dan patut mendapatkan dukungan. Ia menegaskan bahwa Pemkot Tasikmalaya akan meneruskan aspirasi tersebut ke pemerintah pusat.

“Apa yang kami sampaikan hari ini adalah hal yang wajar. Insyaallah seluruh aspirasi ini akan kami teruskan ke pemerintah pusat,” tegasnya.

Ia juga berharap kebijakan pemerintah tidak justru menimbulkan ketimpangan dan konflik sosial di tengah masyarakat.

Menutup aksi, massa menyatakan akan kembali turun ke jalan dengan jumlah lebih besar jika tuntutan mereka tidak mendapatkan respon. Bahkan, mereka mengancam akan menggelar aksi lanjutan hingga ke Istana Negara agar jeritan para guru honorer terdengar langsung oleh Presiden.


(Seda)

Terjepit Tambang Pasir, Situs Lingga Yoni Tasikmalaya Menunggu Uluran Tangan Pemerintah

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
Situs Lingga Yoni Tasikmalaya

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Di sudut Indihiang, Kota Tasikmalaya, sebuah peninggalan peradaban Sunda kuno bertahan dalam kesunyian. Situs Lingga Yoni, yang terletak di Kampung Nagkerok, Kelurahan Sukamajukidul, kini seolah terjepit di antara kepentingan sejarah dan derap aktivitas penambangan pasir yang kian masif.

Di tengah suara mesin ekskavator dan debu yang beterbangan, situs sakral ini berdiri dalam kondisi memprihatinkan. Akses yang sulit, minimnya fasilitas, serta tekanan aktivitas industri memunculkan pertanyaan besar, sejauh mana komitmen menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

Baca Juga: Joging Track dan Pesona Indah Situ Gede Kota Tasikmalaya

Simbol Kecerdasan Leluhur Sunda

Secara arkeologis, Lingga Yoni bukan sekadar batu purba. Situs ini menyimpan filosofi mendalam tentang keseimbangan alam dan kehidupan, yang tercermin dalam tiga struktur utama:

  • Brahmabhaga, bagian dasar berbentuk segi empat
  • Wisnubhaga, bagian tengah berbentuk segi delapan
  • Siwabhaga, bagian puncak berbentuk bulat memanjang

Susunan ini menjadi bukti bahwa masyarakat Sunda di masa lampau telah memiliki pemahaman intelektual dan spiritual yang tinggi. Ironisnya, untuk mencapai situs tersebut saat ini, pengunjung harus menembus jalur terjal dan melintasi kawasan tambang milik swasta.

Kisah Sunyi Sang Penjaga Situs

Henli Yeni (52), juru kunci Situs Lingga Yoni, mengungkapkan betapa berat perjuangan menjaga warisan sejarah di tengah keterbatasan.

“Sekitar tahun 2017, akses sempat ditutup. Pengunjung bahkan harus menitipkan KTP hanya untuk masuk. Kami sering waswas kalau pulang menjelang sore karena penjaga tambang sudah tidak ada,” tutur Henli.

Meski kini akses sedikit terbuka, kondisi di lapangan masih jauh dari ideal. Penerangan jalan, jalur aman, hingga tempat istirahat bagi wisatawan belum tersedia.

DPRD Soroti, Tantangan Terbuka untuk Wali Kota

Keprihatinan juga datang dari Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Tasikmalaya, Asep Endang M. Syams. Ia menilai pembiaran terhadap Situs Lingga Yoni sama dengan mengabaikan identitas budaya masyarakat Sunda.

“Pemerintah daerah harus hadir. Ini bukan sekadar batu, ini jati diri urang Sunda,” tegas Asep saat meninjau lokasi.

Tak berhenti di situ, Asep melontarkan tantangan terbuka kepada Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, untuk merasakan langsung kondisi di lapangan. Ia mengajak Wali Kota melakukan jogging menuju Situs Lingga Yoni, sebagai simbol ajakan agar pemimpin daerah melihat dan merasakan sendiri sulitnya akses serta minimnya perhatian pemerintah.

Harapan dari Jejak Gunung Padang

Asep berharap Pemkot Tasikmalaya memiliki keberanian politik untuk memugar dan melindungi Situs Lingga Yoni, mencontoh keseriusan pelestarian Situs Gunung Padang di Jawa Barat.

“Situs Lingga Yoni adalah identitas. Jangan sampai sejarah kita terkubur debu tambang demi kepentingan ekonomi sesaat. Warisan apa yang akan kita tinggalkan jika hari ini kita abai?” ujarnya.

Kini, masa depan Lingga Yoni berada di persimpangan. Akankah situs ini bangkit sebagai pusat edukasi dan wisata sejarah, atau justru lenyap perlahan dalam kepungan aktivitas tambang.


(Abdul)

Pemkot Bandung Tahan Operasional Insinerator, Masih Tunggu Hasil Uji Emisi

0
Bandung, FOKUSJabar.id
Sebanyak 15 insinerator di Kota Bandung belum bisa dioperasikan, Tunggu Hasil Penelitian Uji Emisi

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota Bandung menegaskan bahwa seluruh insinerator yang dimiliki saat ini belum dapat dioperasikan, lantaran masih berstatus sebagai objek penelitian dan menunggu hasil uji emisi. Langkah ini sebagai bentuk kehati-hatian agar pengelolaan sampah tidak menimbulkan dampak lingkungan baru.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan bahwa hingga kini belum ada hasil uji emisi yang dapat menjadi dasar pengoperasian insinerator. Proses pengujian masih berlangsung dan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Baca Juga: Pemkot Bandung Turunkan Bantuan Tanggap Bencana ke Bandung Barat

“Belum ada pembaruan hasil uji emisi karena penelitiannya masih berjalan. Uji emisi itu sendiri memerlukan waktu minimal sekitar 18 hari kerja,” ujar Farhan di Alun-Alun Ujungberung, Senin (26/1/2026).

Farhan menekankan, seluruh insinerator yang ada saat ini belum diperbolehkan digunakan dan difokuskan sebagai bahan kajian ilmiah. Penelitian melibatkan sejumlah pihak independen, termasuk perguruan tinggi seperti ITB dan Unisba, serta lembaga penguji terkait.

“Statusnya masih objek penelitian. Kalau nanti menemukan teknologi yang benar-benar ramah lingkungan, insinerator bisa berkembang sebagai bagian dari teknologi thermal,” jelasnya.

Menurut Farhan, proses pengujian tidak bisa secara bersamaan oleh seluruh pihak karena keterbatasan jadwal, baik dari institusi akademik maupun lembaga penguji seperti Sucofindo yang saat ini juga memiliki tingkat aktivitas tinggi.

15 Unit insinerator Belum Beroperasi

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, mengungkapkan bahwa Pemkot Bandung memiliki 15 unit insinerator. Seluruhnya belum beroperasi karena tengah persiapan pemasangan modul Air Pollution Control (APC) sebagai sistem pengendali emisi.

“Modul APC ini bersifat plug and play. Tinggal pemasangannya di alat yang sudah ada, kemudian kita ukur bersama, termasuk dengan Kementerian Lingkungan Hidup,” ujar Darto.

Ia menjelaskan, apabila hasil uji emisi nantinya memenuhi standar baku mutu lingkungan, maka 15 insinerator tersebut akan beroperasi tanpa penambahan unit baru. Namun, jika hasilnya tidak sesuai ketentuan, operasional insinerator akan berhenti beroprasi.

“Kalau hasilnya tidak baik, ya berhenti. Jangan memaksakan,” tegasnya.

Saat ini, satu unit insinerator tengah dalam kajian proyek percontohan pemasangan modul APC. Uji coba tersebut kepada insinerator yang berada di sekitar Jalan Sukabumi. Jika penerapannya berjalan lancar, teknologi serupa akan direplikasi ke 14 unit lainnya.

“Satu alat sedang dalam pengembangan. Kalau proses plug and play-nya berjalan mulus, akan kita replikasi ke 14 insinerator lainnya,” pungkas Darto.


(Yusuf Mugni)

Ormas GAS Tuding Ada Mafia Tanah Berkedok “Koperasi Siluman”

0
Wakil Bupati garut Pungli fokusjabar.id
Sekjen Ormas GAS, Mulyono Khaddafi

GARUT, FOKUSJabar.id: Organisasi Kemasyarakatan Gerakan Anak Sunda (Ormas GAS) memenuhi undangan Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut Jawa Barat (Jabar) terkait laporan dugaan “mafia tanah” di wilayah Desa Gandamekar Kecamatan Kadungora, Senin (26/1/2026).

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ormas GAS, Mulyono Khaddafi, sebelumnya Dia telah melaporkan dugaan penyalahgunaan wewenang dan praktik tidak etis dalam urusan pertanahan per tanggal 26 Desember 2025 lalu.

BACA JUGA:

Ormas GAS ‘Ngamuk’ Dinas Koperasi dan UKM Garut Menyerah?

“Alhamdulillah pihak Kejari Garut sangat merespons laporan masyarakat. Khususnya terkait dugaan mafia tanah di wilayah Desa Gandamekar Kecamatan Kadungora,” kata Mulyono.

Dia menyebut, laporan tersebut terkait tanah milik orang lain yang di klaim oleh seseorang dengan surat-surat yang di anggap palsu.

Di mana pada 12 November 2021 telah terbit Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) No00077 atas nama pemegang hak Koperasi Kiaradodot dengan akta pendirian no48 tertanggal 15 Februari 2016 dengan dasar pendaftaran Surat Keputusan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Garut tanggal 30 September 2021 No 00098/SKHGB/BPN-10,17/IX/2021 Surat Ukur tanggal 05 November 2021 No01182/Gandamekar/2021 Luas 801m2 di duga kental dengan praktik mafia tanah.

“Kepala Sub Seksi Penyidikan dan Pengendalian Operasi Seksi Tindak Pidana Khusus Kejari Garut, Cik Muhamad Syahrul mengundang untuk kroscek tentang dugaan mafia tanah,” ungkapnya.

Pihaknya mengutarakan adanya sebuah kejanggalan yang di mohonkan oleh seseorang bernisial AD untuk di keluarkan SHGB.

BACA JUGA:

Diduga Ada Mafia Tanah, Ormas GAS Lapor Kejari Garut

“Petunjuk di SHGB menyatakan, tanah negara bekas milik adat Kohir Nomor 583, Kelas D III tercatat atas nama Koperasi Rakyat. Kemudian pada tahun 2019 di lepaskan haknya kepada negara untuk kepentingan pemohon (Koperasi Kiaradodot),” imbuhnya.

Koperasi Kiaradodot yang didirikan pada tahun 2016 hingga kini tidak aktif. Bahkan, Pemda Garut melalui Dinas Koperasi dan UKM telah dua kali melayangkan surat yang menerangkan bahwa Koperasi tersebut tidak aktif.

“Karena tidak ada kantor, anggota dan aktivitas, Kiaradodot bisa dikatakan ‘koperasi siluman’,” tegas Mulyono.

Untuk itu, pihaknya berharap Alat Penegak Hukum (APH) segera mengusut tuntas kejadian tersebut dengan memanggil pihak-pihak terkait dan proses penegakan hukum berjalan. Sehingga praktik-praktik mafia tanah yang merugikan masyarakat tidak terulang kembali.

“Kami akan bongkar semua mafia tanah,” pungkas Mulyono.

(Bambang Fouristian)

Pemkot Bandung Turunkan Bantuan Tanggap Bencana ke Bandung Barat

0
Bandung, FOKUSJabar.id
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengerahkan bantuan tanggap bencana ke Kabupaten Bandung Barat (KBB) dengan fokus pada proses evakuasi korban serta operasional dapur umum bagi warga terdampak bencana -Ist-

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menunjukkan respons cepat dalam penanganan bencana di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sejumlah bantuan tanggap darurat dikerahkan, dengan fokus utama pada evakuasi korban serta penyelenggaraan dapur umum bagi warga terdampak.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa dukungan tersebut merupakan bentuk solidaritas antardaerah dalam menghadapi situasi darurat. Seluruh bantuan yang disalurkan bersifat darurat dan disesuaikan dengan sumber daya yang telah tersedia di Kota Bandung.

Baca Juga: Tanpa Insinerator, Bandung Andalkan Gaslah untuk Pangkas 40 Ton Sampah per Hari

“Bantuan ke Bandung Barat ini murni tanggap bencana. Fokusnya pengerahan personel dan pemanfaatan bantuan yang memang sudah siap,” ujar Farhan di Alun-Alun Ujungberung, Senin (26/1/2026).

Sebagai bagian dari upaya evakuasi, Pemkot Bandung mengerahkan personel Dinas Kebakaran dan Penyelamatan ke lokasi terdampak. Hingga kini, dua unit pemadam kebakaran masih siaga untuk membantu proses pencarian dan evakuasi korban, terutama di kawasan berlumpur yang sulit terjangkau alat berat.

Farhan menjelaskan, kondisi medan di lokasi bencana membuat penggunaan alat berat seperti ekskavator tidak selalu memungkinkan. Oleh sebab itu, melakukan penyemprotan air untuk melunakkan lumpur agar proses evakuasi secara manual bisa berlangsung dengan aman.

“Kami menurunkan dua satuan pemadam, khususnya untuk menyemprotkan air di area berlumpur karena pengangkatan korban tidak bisa menggunakan beko,” jelasnya.

Dapur Umum Untuk Warga Terdampak

Selain mendukung evakuasi, Pemkot Bandung juga terlibat dalam penyediaan dapur umum bagi warga terdampak. Operasional dapur umum ini melalui koordinasi lintas instansi, dengan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bertindak sebagai koordinator utama.

“Untuk dapur umum, kami bekerja bersama banyak pihak. Koordinator tetap Kabupaten Bandung Barat, sedangkan kami mendukung bersama TNI dan kepolisian,” ungkap Farhan.

Dari sisi anggaran, penyaluran bantuan dari Pemkot Bandung dalam perkiraan mencapai sekitar Rp3 miliar. Dana tersebut untuk pengerahan personel, operasional lapangan, serta distribusi bantuan logistik yang tersedia di gudang pemerintah.

Farhan menegaskan, bantuan kepada Kabupaten Bandung Barat merupakan wujud komitmen Pemkot Bandung dalam memperkuat kerja sama regional, khususnya dalam penanganan bencana.

“Bencana tidak mengenal batas administrasi. Karena itu, penanganannya harus bersama dan saling mendukung antarwilayah,” pungkasnya.


(Yusuf Mugni)