spot_imgspot_img
Senin 6 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 192

Gerakan Pramuka Kwartir Pamarican Ciamis Gelar Orientasi Mabigus

0
kwaran ciamis@fokusjabar.id
Kwartir gerakan Pramuka Pamarican

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Gerakan Pramuka Kwartir Ranting (Kwarran) Pamarican menyelenggarakan kegiatan Orientasi Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus) se-Kwartir Ranting Pamarican.

Kegiatan tersebut berlangsung di Bumi Perkemahan (Buper) Pangangonan Desa Cibadak Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis,Jawa Barat.

Orientasi Mabigus kali ini mengusung tema “Meningkatkan Kapasitas Peran Mabigus dalam Kegiatan Pramuka di Kwartir Ranting Pamarican”.

Baca Juga: Pemkab Ciamis Apresiasi Tradisi Adat Warga Jelang Ramadan

Dengan tujuan yaiyu memperkuat pemahaman, dan peran strategis Mabigus, dalam Pembinaan Pendidikan Kepramukaan di Tingkat Gugus Depan.

Ketua Gerakan Pramuka Kwaran Pamarican Baehaqi mengatakan, orientasi Mabigus merupakan sarana penting. Untuk meningkatkan pemahaman tugas pokok dan fungsi Mabigus dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan Pramuka.

“Orientasi Mabigus ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara Mabigus, dan Pembina Gugus Depan. Sehingga Pendidikan Kepramukaan dapat berjalan lebih terarah, efektif dan berkelanjutan,” ungkapnya, Rabu (4/2/2026).

Baehaqi menuturkan, kegiatan orientasi diikuti oleh sekitar 59 Pangkalan Gugus Depan dari berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari SD, MI, SMP, MTs, SMA, SMK, hingga MA yang berada di wilayah Kecamatan Pamarican.

” Sejumlah narasumber kompeten dihadirkan dalam kegiatan itu di antaranya Kak Dr. H. Rahmat Hidayat, selaku Wakil Ketua Bidang Pembinaan Anggota Dewasa (Waka Binawasa) Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Ciamis,” ungkapnya.

Selain itu lanjut dia, hadir juga Kak Asep S Kodari selaku Ketua Mabiran Kecamatan Pamarican. Serta Kak Uju Suparman, unsur relawan kebencanaan wilayah Ciamis Selatan. 

Diskusi dan Materi

Baehaqi melanjutkan, Diskusi dan penyampaian materi dipandu oleh moderator Kak Ernawati yang juga merupakan pengurus Gerakan Pramuka Kwarran Pamarican.

Baca Juga: Jalan Rawan Kecelakaan Usai Banjir, Damkar Ciamis Turun Tangan

“Materi Orientasi mencakup penguatan peran Mabigus dalam pembinaan Pramuka, Strategi Pengelolaan Gugus Depan, hingga Peran Kepramukaan Dalam Kesiapsiagaan Bencana,”jelasnya

Baehaqi berharap, melalui kegiatan Orientasi tersebut peran Mabigus semakin optimal dalam mendukung pembinaan generasi muda. Melalui Gerakan Pramuka sekaligus memperkuat karakter, kepemimpinan dan kepedulian sosial peserta didik di lingkungan Sekolah.

” Kami harap kegiatan ini bisa memperkuat karakter generasi muda atau peserta didik sekolah,”pungkasnya.

(Husen Maharaja) 

Ancaman Krisis Sampah Mulai Menghantui Kota Bandung

0
krisis sampah bandung@fokusjabar.id
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Ancaman krisis sampah mulai menghantui Kota Bandung, setelah seluruh insinerator di hentikan operasinya dan muncul rencana pengurangan pengiriman sampah ke TPA Sarimukti hingga 20 persen.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, seluruh insinerator yang sebelumnya di gadang-gadang menjadi solusi pengolahan sampah kini tidak lagi dapat di gunakan sesuai instruksi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

“Insinerator sudah 100 persen di hentikan semuanya, dan beberapa sudah di segel. Selain itu, juga ada kemungkinan yang sangat besar pengiriman ke TPA Sarimukti akan di kurangi sampai 20 persen lagi,” kata Farhan di Balai Kota Bandung Rabu (4/2/2026).

Baca Juga: Kang Farhan! Pengelolaan Sampah di Bandung Kulon Lumpuh Total

Farhan mengaku, hingga saat ini pemerintah kota belum menerima kepastian kapan kebijakan pengurangan pengiriman sampah tersebut mulai di berlakukan. Meski demikian, Pemkot Bandung di minta untuk bersiap mengantisipasi dampak terburuk.

“Belum tahu mulai kapan. Tapi kita siap-siap antisipasi. Makanya rapim tadi, khusus bahas sampah kalau 20 persen itu tidak bisa kita kirim, kita mau di kemanakan,” ucapnya.

Farhan menjelaskan, sebelumnya Pemkot Bandung sempat merencanakan pemanfaatan insinerator sebagai solusi untuk mengolah sampah yang tidak tertampung di TPA. Namun rencana tersebut batal karena terbentur regulasi.

“Kan tadinya mau kita olah melalui insinerator. Tapi nggak boleh,”ungkapnya.

Dalam kondisi keterbatasan tersebut, pihaknya kini mencari berbagai alternatif yang harus di tentukan dalam waktu singkat. Ia menargetkan solusi itu sudah jelas dalam waktu sepekan.

Baca Juga: Insinerator Disegel, Sampah Kota Bandung Mulai Menumpuk

“Kita sedang mencari alternatif-alternatif lain yang mesti selesai dalam waktu seminggu ini, sudah ketahuan mesti di apain,”katanya.

Salah satu langkah utama yang akan di perkuat adalah pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah dari sumbernya. Program Gerakan Kurangi, Pilah, dan Olah Sampah atau Gaslah akan di dorong lebih masif.

“Salah satunya yang paling utama adalah melibatkan semua anggota masyarakat, terutama lewat program Gaslah,”pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

Hujan Deras Picu Longsor di Sukaresmi Garut, Akses Jalan Terputus

0
longsor garut@fokusjabar.id
Bencana tanah longsor di Kampung Cihaneut, Desa Sukalilah, Kecamatan Sukaresmi pada Selasa (03/02/2026) petang. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 18.25 WIB tersebut mengakibatkan tembok penahan tanah (TPT) ambruk dan menimbun akses jalan warga.

GARUT, FOKUSJabar.id: Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Garut. Menyebabkan bencana tanah longsor di Kampung Cihaneut, Desa Sukalilah, Kecamatan Sukaresmi pada Selasa (03/02/2026) petang.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 18.25 WIB tersebut mengakibatkan tembok penahan tanah (TPT) ambruk dan menimbun akses jalan warga.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Aah Anwar Saefulloh, mengonfirmasi. Bahwa pihaknya telah menerjunkan Unit Reaksi Cepat (URC) ke lokasi untuk melakukan penanganan darurat dan asesmen dampak kerusakan.

Baca Juga: SPPG Cisewu II Dapat “Surat Cinta” dari Penerima Program MBG

“Kami menerima laporan pada Rabu dini hari dan segera mengirimkan tim ke lapangan. Berdasarkan hasil kaji cepat, longsor di picu oleh hujan deras sejak siang hari yang menyebabkan tanah menjadi jenuh. Akibatnya, TPT sepanjang 20 meter dengan tinggi 4 meter ambruk,” ujar Aah Anwar Saefulloh dalam keterangan resminya, Rabu (04/02/2026).

Analisis Teknis dan Dampak

Aah menjelaskan, selain faktor cuaca, di temukan beberapa kelemahan teknis pada konstruksi TPT yang baru di bangun tersebut.

Di antaranya adalah ketiadaan struktur penguatan (pembesian/kolom), tidak adanya saluran drainase yang memadai. Serta kemiringan dinding yang terlalu curam (mencapai 85 derajat).

Dampak dari kejadian ini meliputi:


• Akses Transportasi: Jalan lingkungan tertutup material tanah dan bebatuan sepanjang 20 meter dengan ketebalan mencapai 2 meter.

• Kerusakan Properti: Dua unit rumah milik warga bernama Ipin dan Darmin terdampak material longsor pada bagian halaman.

• Ancaman Susulan: Sebanyak lima unit rumah (milik Amas, Darmin, Ipin, Ade Hidayat, dan Dedi). Yang di huni total 23 jiwa kini dalam posisi terancam jika terjadi longsor susulan.

Meski tidak ada korban jiwa, BPBD Garut terus mengimbau warga untuk tetap waspada. Terutama bagi keluarga yang memiliki balita dan anak sekolah di lokasi terdampak.

Baca Juga: SPPG Cisewu II Distribusikan MBG Perdana untuk 8 Sekolah

Saat ini, warga bersama unsur Forkopimcam, perangkat desa, dan tokoh masyarakat tengah bergotong royong membersihkan material longsor.

“Kami telah berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Sukaresmi dan Dinas Perkim untuk langkah tindak lanjut. Kebutuhan mendesak saat ini adalah terpal untuk menutup mahkota longsoran guna mencegah air masuk kembali ke celah tanah. Serta bantuan logistik untuk warga yang bekerja bakti,” tambah Aah.

Pihak BPBD juga merekomendasikan adanya kajian teknis lebih lanjut dari dinas terkait untuk pembangunan kembali struktur penahan tanah. Yang lebih permanen dan aman bagi pemukiman di bawahnya.

(Y.A. Supianto)

Waduh! Pengelolaan Sampah di Bandung Kulon Lumpuh Total

0
bandung@fokusjabar.id
Penyegelan mesin insinerator di TPS Baturengat, Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon membuat pengelolaan sampah di lokasi tersebut lumpuh total

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Krisis sampah kembali menghantui Kota Bandung. Penyegelan mesin insinerator di TPS Baturengat, Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon membuat pengelolaan sampah di lokasi tersebut lumpuh total.

Tanpa alat pemusnah sampah, tumpukan sampah terus menggunung dan memicu keluhan warga sekitar.

Pengelola mesin Motah TPS Baturengat, Risman Jabrig (44) mengaku kebingungan menghadapi situasi ini. Sejak insinerator tidak boleh lagi di operasikan, ia dan para petugas tidak memiliki pilihan selain menumpuk sampah sementara waktu.

Baca Juga: Insinerator Disegel, Sampah Kota Bandung Mulai Menumpuk

“Hancur, sekarang saya kena demo warga. Mau bergerak, takut kena hukum. Ya gimana lagi, jadi menumpuk,” kata Risman saat di temui di lokasi Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, sampah yang biasanya bisa di olah setiap hari kini tidak lagi tertangani dengan optimal. Pengangkutan terhambat, sementara volume sampah terus bertambah.

“Sampah tidak keangkut. Kita juga takut. Tapi ya ini juga kita pilih untuk mengurangi keluhan warga. Kita atasi sedikit-sedikit. Karena kami tidak bisa memusnahkan sampah, akhirnya di tumpuk dulu,”ucapnya.

Risman menyebut langkah penumpukan sementara itu di lakukan sesuai arahan pemerintah. Namun sebagai pekerja lapangan, ia mengaku tidak memahami persoalan hukum di balik penyegelan insinerator.

“Itu kan arahannya Pak Menteri, katanya lebih baik menumpuk dulu. Mungkin beliau punya solusi lain. Saya kurang paham, karena kami tidak mengerti masalah hukum atau undang-undang. Kami cuma pekerja sampah yang tahunya solusi lapangan,”ujarnya.

Ia menegaskan, pihaknya hanya ingin mematuhi aturan yang berlaku meski dampaknya cukup berat di lapangan.

“Ya ikut aturan saja. Kita mematuhi aturan. Karena kita warga Indonesia yang baik, mentaati aturan saja. Kalau kata pemerintah begitu, ya oke, siap, kita taat,” katanya.

Pemerintah Segera Beri Solusi

Meski demikian, Risman berharap pemerintah pusat maupun Pemerintah Kota Bandung segera memberikan solusi konkret agar pengelolaan sampah di TPS Baturengat bisa kembali berjalan.

“Saya mohon kepada Pak Menteri, dinas terkait di Kota Bandung, dan Pak Wali Kota, untuk secepatnya memberikan solusi di sini. Jangan sampai kami terbengkalai seperti ini. Tolong carikan solusi agar kami bisa kembali berjalan menangani sampah,” ucapnya.

Risman mengungkapkan, sebelum insinerator di segel pengolahan sampah di TPS Baturengat berjalan sangat efektif. Dalam satu bulan, mesin tersebut mampu mengolah hingga 150 ton residu sampah.

Baca Juga: Jadi Tersangka, Wawalkot Bandung Tetap Kerja Dalam Pengawasan Kemendagri

“Sangat efektif. Untuk sampah organik, kita olah lagi jadi pupuk dan kebutuhan maggot. Anorganiknya seperti rongsok, itu kita manfaatkan lagi untuk nambah-nambah penghasilan kami di sini,” jelasnya.

Kini, seluruh sistem yang sudah berjalan tersebut terhenti total. Petugas TPS hanya bisa menunggu kebijakan baru dari pemerintah agar masalah penumpukan sampah tidak semakin parah.

“Kami hanya ingin ada kepastian dan solusi cepat. Karena kalau di biarkan, warga yang paling terdampak,”pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

Padaherang Jumlah Penduduknya Tertinggi di Kabupaten Pangandaran  

0
pangandaran@fokusjabar.id
Ikon Kabupaten Pangandaran.

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) mencatat jumlah penduduk Kabupaten Pangandaran pada Semester I Tahun 2025 mencapai 448.980 jiwa. 

Jumlah tersebut meliputi 225.352 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 223.628 jiwa perempuan. 

‎Komposisi ini menunjukkan perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang relatif seimbang, sehingga menggambarkan kondisi demografis Kabupaten Pangandaran yang cukup stabil.

Baca Juga: Dukung Program MBG, Petani Ciganjeng Pangandaran Tanam Selada Air

‎Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pangandaran, Wawan Kustaman, menjelaskan bahwa data kependudukan semesteran ini memiliki peran strategis dalam mendukung perencanaan pembangunan daerah.

‎Menurutnya, jumlah jiwa terbanyak di 10 kecamatan di Kabupaten Pangandaran di duduki oleh kecamatan Padaherang.

‎”Kecamatan Padaherang tercatat sebagai kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak, yakni 71.949 jiwa,” kata Wawan Rabu, (4/2/2026). 

‎Wawan menambahkan, posisi berikutnya di tempati Kecamatan Pangandaran dengan jumlah sekitar 63.297 jiwa. Kemudian di susul oleh Kecamatan Langkaplancar, yakni sebanyak 54.102 jiwa. 

‎Wawan menjelaskan, tingginya jumlah penduduk di beberapa kecamatan tersebut menunjukkan pusat aktivitas ekonomi dan permukiman yang terus berkembang.

‎”Kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit adalah Kecamatan Cigugur, totalnya sekitar 24.178 jiwa,” jelasnya. 

Seluruh Kecamatan Dapat Perhatian

‎Meski demikian, Wawan menegaskan bahwa seluruh kecamatan tetap mendapatkan perhatian yang sama dalam perencanaan pembangunan, dengan menyesuaikan karakteristik wilayah dan jumlah penduduknya.

‎Adapun kecamatan lainnya mencatat jumlah penduduk yang bervariasi. 

‎• Kecamatan Cimerak memiliki 51.488 jiwa, 

• Parigi sebanyak 49.102 jiwa, 

‎• Kecamatan Kalipucang 40.425 orang, 

‎• Kec. Mangunjaya 34.359 jiwa, 

‎• Kecamatan Sidamulih 31.625 orang.

‎• Cijulang 28.455 jiwa.

Menentukan Kualitas Kebijakan

‎Menurutnya, akurasi data administrasi kependudukan sangat menentukan kualitas kebijakan pemerintah daerah ke depan.

Baca Juga: Polda Jabar Lakukan Risk Assessment Keamanan di Kawasan Wisata Pangandaran

‎“Data kependudukan ini tidak hanya di gunakan untuk kebutuhan administrasi, tetapi juga menjadi dasar dalam perencanaan pembangunan, penentuan alokasi anggaran, hingga penyusunan program pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial, ” ungkapnya.

‎Ia menambahkan, Disdukcapil Pangandaran terus mendorong masyarakat untuk tertib administrasi kependudukan, seperti melakukan perekaman KTP elektronik.

Pembaruan Kartu Keluarga, serta pencatatan peristiwa penting seperti kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk. Langkah ini di lakukan agar data yang tersaji selalu mutakhir dan dapat di pertanggungjawabkan.

(sajidin)

Strategi Diky Chandra Jadikan Tasikmalaya Kiblat Ekonomi Kreatif Nasional

0
musrenbang tasikmalaya@fokusjabar.id
Musrenbang

​TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Kecamatan Kawalu bukan sekadar titik di peta Kota Tasikmalaya; ia adalah denyut nadi industri kreatif yang sudah lama mendunia lewat benang dan jarum. 

Dalam gelaran Musrenbang tingkat Kecamatan Kawalu pada Rabu, (4/2/202), Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Chandra Negara, menegaskan komitmennya untuk membawa bordir Kawalu “naik kelas” dari sekadar produk lokal menjadi ikon ekonomi kreatif global.

​Bagi Diky, penguatan sektor ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat secara nyata.

Baca Juga: Musrenbang RKPD Cibeureum Kota Tasikmalaya 2027, Dicky Candra Soroti Potensi Kawasan Santri

Raksasa Bordir yang Sedang Bersiap Melompat

​Sudah bukan rahasia lagi bahwa Kawalu adalah sentra UMKM bordir terbesar di Tasikmalaya. Namun, di tengah persaingan pasar digital yang ketat, potensi besar ini memerlukan sentuhan inovasi agar tidak sekadar bertahan, tapi mendominasi.

​“Kawalu sudah punya nama besar sebagai sentra bordir. Sekarang tugas kita adalah memastikan potensi ini menjadi motor penggerak ekonomi yang inklusif dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya,” ujar Diky Chandra di hadapan para tokoh masyarakat dan pelaku usaha.

​Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui arahan Diky Chandra akan memfokuskan dukungan pada tiga aspek krusial:

​Upskilling SDM: Mengasah kreativitas pengrajin agar desain bordir tetap relevan dengan tren mode terkini.

​Akses Pasar Global: Memanfaatkan platform digital dan pameran internasional untuk memperluas jangkauan produk.

​Penguatan Modal: Mempermudah akses pembiayaan bagi pelaku UMKM agar skala produksi bisa terus bertumbuh.

Bukan Sekadar Infrastruktur, Tapi Ekosistem Kreatif

​Dalam Musrenbang di Kecamatan  Kawalu ini, narasi pembangunan tidak lagi melulu soal perbaikan jalan atau drainase. Diky Chandra menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan harus menyentuh sisi ketahanan ekonomi daerah.

Baca Juga: Spanduk Kritik Kepung Balekota Tasikmalaya, Warga Soroti Sikap Wali Kota

​“Jika kita kelola dengan profesional, Kawalu tidak hanya akan dikenal sebagai penghasil bordir, tapi sebagai pusat ekonomi kreatif yang menjadi kebanggaan sekaligus identitas Kota Tasikmalaya di mata dunia,” tambahnya optimis.

​Untuk itu Diky Chandra mengajak seluruh stakeholder mulai dari desainer, pemilik UMKM, hingga perbankan untuk berkolaborasi. 

Harapannya, sinergi ini mampu menciptakan ekosistem bisnis yang sehat, di mana produk lokal mampu bersaing secara kualitas maupun harga di pasar nasional hingga internasional.

(Abdul Latif)

Dukung Program MBG, Petani Ciganjeng Pangandaran Tanam Selada Air

0
pangandaran@fokusjabar.id
Kondisi sayuran selada air di Ciganjeng Pangandaran.

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sejumlah petani di Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran menyambut antusias Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Mereka menanam sayuran berjenis selada air dengan sistem hidroponik di area pekarangan rumah. Menariknya, untuk biaya penanaman, para petani bermodalkan urunan.

Sementara ini, penanaman sudah di mulai sejak awal Januari 2026.

Harapannya, hasil panen nanti bisa memasok kebutuhan dapur MBG di sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada di Kabupaten Pangandaran.

Baca Juga: Polda Jabar Lakukan Risk Assessment Keamanan di Kawasan Wisata Pangandaran

Salah seorang petani, Tahmo (50), mengatakan proses penanaman selada di awali dari penyemaian bibit selama 14 hari. Setelah itu tanaman di pindahkan ke lahan yang sudah di siapkan.

Dalam proses ini, membutuhkan waktu sekitar 30 hari hingga Selada air siap di panen.

Menurut Tahmo, modal awal yang berhasil mereka kumpulkan sekitar Rp 11 juta. Uang tersebut hasil urunan bersama rekan petani lainnya.

“Itu hasil urunan bersama, ada yang menyimpan Rp 2 juta, Rp 1 juta, bahkan ada juga yang Rp 200 ribu,” ujar Tahmo di tempat tanaman selada Rabu (4/2/2026) siang.

Dengan modal Rp11 juta, para petani mampu menanam sekitar 2.000 pohon selada. Tetapi jumlah tersebut masih belum mampu mengcover kebutuhan MBG di wilayahnya.

“Untuk tanaman selada sekarang baru 2.000 pohon. Itu juga masih belum mencukupi kebutuhan MBG,” katanya.

Sistem Hidroponik

Tahmo menyebut alasan penanaman menggunakan sistem hidroponik. Menurutnya, metode ini di pilih karena lebih efektif dan efisien. Terlebih hanya menggunakan media paralon berdiameter dua inci.

Baca Juga: Polemik Limbah, DLHK Pangandaran Akan Panggil Ratusan Pengelola Hotel

Tahmo menambahkan, sayuran selada yang di tanam, rencananya akan di suplai langsung ke SPPG untuk memenuhi kebutuhan sayuran segar dalam program MBG.

Melalui program MBG ini, Ia berharap, para petani lokal tidak hanya menjadi penonton, tapi dapat terlibat aktif dan merasakan manfaat langsung dari program pemerintah tersebut.

“Kami sebagai petani tidak ingin cuma nonton. Kami ingin ikut berkontribusi dan mendukung program Presiden,” ucap Tahmo.

(Sajidin)