spot_imgspot_img
Rabu 7 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 184

Dua Dekade Rusak Parah, Warga Cipatujah Tasikmalaya Swadaya Perbaiki Jalan Sepanjang 6 Kilometer

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
Warga Bumiayu Tasik Selatan berharap jalan di wilayahnya segera diperbaiki oleh pemerintah.

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Impian merasakan jalanan mulus bak menjadi fatamorgana bagi warga Dusun Buniayu, Desa Cikawungading, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Selama dua dekade terakhir, sebanyak 300 kepala keluarga (KK) di Kampung Neglasari harus terus berjibaku melintasi jalur ekstrem demi menyambung roda kehidupan harian.

Akses jalan sepanjang 6 kilometer yang menghubungkan Neglasari menuju Sukasari hingga tembus ke jalur nasional pesisir Pantai Tasikmalaya Selatan ini belum pernah tersentuh pengaspalan layak. Keterbatasan anggaran pemerintah daerah selalu menjadi alasan klasik yang membendung harapan warga.

Baca Juga: KONI Kota Tasikmalaya Sabet Runner Up Kejuaraan Padel Jabar 2026

Padahal, bentangan jalur ini merupakan urat nadi vital yang menopang sektor ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan masyarakat setempat.

Warga Buniayu Pilih Swadaya dan Gotong Royong

Kecewa karena aspirasi melalui Pemerintahan Desa Cikawungading, Pemkab Tasikmalaya, hingga anggota DPRD Dapil 6 tak kunjung membuahkan hasil, warga akhirnya mengambil tindakan mandiri.

Tokoh masyarakat Buniayu, Ajengan Somantri, mengungkapkan bahwa warga rutin menggelar aksi gotong royong setiap hari Sabtu selama tiga bulan terakhir. Mereka mengumpulkan batu dan meratakan jalan secara manual agar kendaraan roda empat dapat melintas.

“Akses jalan Neglasari-Sukasari menuju jalan nasional sekitar 6 kilometer. Jika dibangun dan diaspal, ini akan langsung membuka isolasi warga Neglasari dan memangkas jarak tempuh secara drastis,” ujar Somantri di lokasi kegiatan, Sabtu (22/8/2026).

Kondisi jalan di atas bukit ini kian membahayakan saat musim hujan tiba karena berubah menjadi kubangan licin. Namun, warga tidak memiliki banyak pilihan lantaran jalur tersebut menjadi rute utama menuju fasilitas pendidikan seperti SD Neglasari, SMP Satap Desa Cikawungading, SMAN Cikawungading, dan SMAN 1 Cipatujah, serta jalur angkut komoditas gula aren.

Terhalang Jembatan Gantung dan Asa Status Jalan Kabupaten

Kepala Dusun Buniayu, Ahrudin, beserta mantan Kepala Desa Cikawungading, Muhtarom, menjelaskan kendala utama yang menghambat kendaraan roda empat masuk ke Neglasari. Keberadaan Jembatan Gantung Cibuniayu yang melintasi sungai belum memungkinkan mobil melintas.

“Kendala utama agar kendaraan roda empat bisa tembus sampai ke Neglasari adalah jembatan gantung itu sendiri. Rencana pembangunan jembatan permanen sebenarnya sudah masuk dalam APB-Des jangka panjang. Namun karena alokasi Dana Desa tahun 2026 mengalami penurunan, terpaksa harus ditangguhkan,” ungkap Muhtarom, Minggu (23/8/2026).

Pihak desa kini berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya bersedia meningkatkan status jalan Sukasari-Buniayu menjadi Jalan Kabupaten.

Kritik Pedas Warga terhadap Anggota Dewan

Kesabaran warga yang membendung selama 20 tahun akhirnya meluapkan kritik tajam. Arji, seorang mantan guru SD setempat, menyuarakan amarah warga terhadap jajaran pembuat kebijakan dan wakil rakyat.

“Para wakil rakyat hanya datang lima tahun sekali saat membutuhkan suara. Giliran rakyat terisolir selama 20 tahun meminta akses jalan, suara kami tidak pernah didengar. Padahal di sini lumbung suara terbesar warga Buniayu,” tegas Arji geram.

Warga Buniayu kini menantikan langkah nyata pemerintah daerah untuk menghadirkan keadilan pembangunan infrastruktur di pelosok Tasikmalaya Selatan.

(Abdul Latif)

Ada Naga Hingga Perahu Terbang di Langit Rancah! Festival Layang-Layang Hias Ciamis Bikin Warga Takjub

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketpot : Layangan Naga dan Kuda peserta festival layang layang hias di Desa Cileungsir Rancah Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Angin kencang dan cuaca cerah di atas Lapangan Desa Cilengsir, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menyambut antusiasme ratusan pecinta layang-layang, Minggu (23/8/2026) sore.

Pemerintah Desa Cilengsir menggelar festival layang-layang hias yang mewarnai langit dengan berbagai bentuk unik, seperti perahu terbang dan kuda terbang yang meliuk-liuk tertiup angin.

Baca Juga: Spanduk “Selain Monyet Dilarang Buang Sampah Disini” Pasang Peringatan Unik di Jalan Cijeungjing Ciamis

Suasana lokasi acara semakin heboh saat warga menyaksikan layangan berbentuk naga raksasa mengudara. Penonton yang memadati area lapangan bola berdecak kagum melihat atraksi kreasi tersebut.

Camat Rancah, Nia Kurnia Kurniawan, menjelaskan bahwa komunitas pencinta layang-layang hias bekerja sama dengan Pemerintah Desa Cilengsir telah rutin menggelar agenda ini dalam tiga tahun terakhir.

“Festival layang-layang hias tahun ini sudah ke tiga kalinya terselenggara,” kata Nia, Minggu (23/8/2026).

Wadahi Kreativitas Pembuat Layangan dan Geliatkan UMKM

Nia menegaskan bahwa pihak kecamatan mendukung penuh perhelatan budaya lokal ini karena terbukti mampu mengasah kreativitas para pembuat layang-layang hias.

“Dampak dari festival layang-layang hias itu bisa meningkatkan kreativitas para pembuat, juga bagi pelaku UMKM bisa meningkatkan perekonomian mereka,” ucapnya.

Melihat besarnya potensi acara ini, Nia mendorong agar panitia terus menyelenggarakan festival tersebut secara berkala setiap tahun. Ia juga merencanakan kolaborasi dengan instansi terkait. Seperti Disbudpora dan Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, untuk meningkatkan skala acara pada masa mendatang.

“Saya harap kegiatan festival layang-layang hias ini terus berjalan setiap tahunnya. Karena dampaknya sangat bagus untuk warga masyarakat khususnya pelaku UMKM,” ungkap Nia.

(Husen Maharaja)

Hendak Memancing ke Pantai, Lansia Asal Parigi Ditemukan Meninggal Telungkup di Batukaras Pangandaran

0
Pangandaran, FOKUSJabar.id
Poto: proses evakuasi

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Warga menemukan seorang pria lansia dalam keadaan meninggal dunia di kawasan Legokpari, jalan setapak menuju Pantai Batununggul, Dusun Batukaras, Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Minggu (23/8/2026) siang.

Korban bernama Undang (61), warga Desa Cibenda, Kecamatan Parigi. Warga menemukan jenazah korban sekitar pukul 12.30 WIB dalam posisi telungkup menghadap ke semak-semak dengan kondisi tubuh yang sudah kaku.

Baca Juga: Bupati Pangandaran Naik Panggung Jadi Dewi Siti Samboja di Festival KKN Internasional

Kepala Desa Batukaras, Hadi Somantri, membenarkan kejadian penemuan mayat tersebut. Informasi awal dari lokasi mengonfirmasi bahwa korban merupakan warga Desa Cibenda.

“Waktu ditemukan warga, kondisi jenazah sudah kaku. Badan bagian depannya menghadap ke semak-semak,” ujar Hadi saat dihubungi, Minggu siang.

Pencari Kepiting Pertama Kali Temukan Korban

Babinsa Desa Batukaras, Serka Agus Supriadi, menjelaskan bahwa seorang warga yang sedang mencari kepiting di sekitar lokasi menjadi orang pertama yang menemukan tubuh korban.

“Waktu saya kira tidur. Badannya saya pegang-pegang, tapi tidak bergerak,” kata Agus.

Sebelum ditemukan meninggal, dugaan kuat mengarah bahwa korban hendak berjalan menuju kawasan pantai untuk memancing. Lokasi tersebut memang menjadi tempat favorit yang biasa korban kunjungi.

“Di situ kemungkinan sudah biasa mancing. Kendaraannya juga biasa korban simpan di sekitar rumah Pak RT,” kata Hadi.

Hasil Pemeriksaan Awal: Tidak Ada Tanda Kekerasan

Agus menambahkan, petugas melihat kondisi tubuh korban tampak kebiruan, meski pihak medis belum memastikan penyebab utama kematiannya.

“Badannya biru-biru, kemungkinan punya penyakit jantung. Tapi penyebab kematiannya belum kita ketahui,” ucap Agus.

Hasil pemeriksaan awal dari petugas di lapangan menunjukkan tidak adanya indikasi bekas tindak kekerasan pada tubuh korban.

“Kalau bekas kekerasan kayaknya tidak ada,” ujar Hadi.

“Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Sewaktu otopsi juga tidak ada bekas kekerasan,” tegas Agus.

Petugas beserta warga telah memindahkan jenazah ke Puskesmas Cijulang. Saat ini pihak berwenang masih menunggu kedatangan keluarga korban untuk proses penanganan lebih lanjut.

(Sajidin)

Spanduk “Selain Monyet Dilarang Buang Sampah Disini” Pasang Peringatan Unik di Jalan Cijeungjing Ciamis

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketpot : Spanduk anti pembuang sampah sembarangan terpasang di pinggir jalan Desa Utama Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Pemasangan sebuah spanduk kecil di pinggir jalan penghubung Desa Utama menuju Desa Kertaharja, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mendadak mencuri perhatian pengguna jalan. Spanduk tersebut menampilkan foto seekor monyet beserta tulisan menggelitik: “Selain Monyet Dilarang Buang Sampah Disini”.

Warga sengaja memasang spanduk sindiran tersebut untuk memperingatkan oknum tak bertanggung jawab yang kerap membuang sampah sembarangan di lokasi yang bukan peruntukannya.

Baca Juga: Bangkitkan Ekonomi Desa, Gebyar Kemerdekaan di Kertaharja Ciamis Wadahi Belasan Stand UMKM

Banyak pengendara yang melintas memilih berhenti sejenak karena penasaran ingin membaca pesan unik pada spanduk tersebut.

“Tulisan serta ada gambar monyet dalam spanduk itu cukup menggelitik bagi yang melewati jalan tempat spanduk itu berada,” kata salah seorang pengguna jalan, Jaja, Minggu (23/8/2026).

Sindir Oknum Pembuang Sampah Sembarangan

Jaja menceritakan bahwa lokasi tersebut sebelumnya kerap penuh tumpukan sampah berserakan, mulai dari limbah plastik hingga bekas kemasan minuman.

“Yang memasang spanduk itu entah siapa, apakah pemilik kebun atau dari pemerintah, saya tidak mengetahuinya,” jelas Jaja.

Meski demikian, ia mengapresiasi keberadaan spanduk peringatan bernada satire tersebut. Jaja berharap pesan kocak namun menohok ini mampu membuat jera para pembuang sampah liar di wilayah Cijeungjing.

“Memang sih spanduk itu bagus juga terpasang di sana biar tidak ada lagi yang membuang sampah sembarangan,” ungkapnya.

(Husen Maharaja)

Bupati Pangandaran Naik Panggung Jadi Dewi Siti Samboja di Festival KKN Internasional

0
Pangandran, FOKUSJabar.id
Poto: Suasana konferensi pers

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Panitia menutup rangkaian KKN Internasional BKS-PTN Wilayah Barat dan KKN Reguler ISBI Bandung 2026 lewat Festival & Expo meriah di Alun-Alun Parigi, Kabupaten Pangandaran, pada 22–23 Agustus 2026.

Acara mengusung tema “Inclusive Smart Tourism and Creative Economy through Art and Cultural Empowerment for Sustainable Development Goals”. Pesta budaya ini menjadi panggung presentasi hasil pengabdian mahasiswa selama sebulan penuh di 30 desa yang tersebar di Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Tasikmalaya.

Baca Juga: Heri Purwanto Juara 1 Lomba Cipta Puisi PGRI Pangandaran, Bawa Karya “Tapak Tanpa Alas”

Program KKN Internasional 2026 menerjunkan 236 peserta. Sebanyak 15 peserta di antaranya merupakan mahasiswa asing asal Thailand, Malaysia, Bangladesh, India, Pakistan, Tanzania, hingga Yaman.

Kegiatan ini melibatkan jejaring 38 perguruan tinggi lintas negara dari Indonesia, Malaysia, dan Bangladesh. ISBI Bandung bertindak sebagai co-host mendampingi Universitas Siliwangi sebagai host, bersama BKS-PTN Wilayah Barat, Pemkab Pangandaran, serta berbagai komunitas lokal.

“Mahasiswa tidak ditempatkan sebagai pihak yang datang untuk sekadar menjalankan program, tetapi sebagai mediator dan problem solver yang bekerja bersama masyarakat,” ujar Rektor ISBI Bandung, Dr. Retno Dwimawarti, S.Sen., M.Hum.

Jangkau 30 Desa di Tasikmalaya dan Pangandaran

Pelaksanaan KKN Internasional berlangsung sejak 22 Juli hingga 24 Agustus 2026. Program ini mencakup 6 desa di Kabupaten Tasikmalaya serta 10 desa di Kabupaten Pangandaran. Sementara itu, sebanyak 214 mahasiswa KKN Reguler ISBI Bandung mengabdi di 14 desa di Pangandaran, sehingga total menjangkau 30 desa.

Puncak perayaan di Alun-Alun Parigi menyajikan pameran hasil KKN, Expo UMKM desa, wisata kuliner, serta pertunjukan seni dari 24 desa di Pangandaran.

Para peserta menampilkan beragam sajian seni seperti paduan suara, puisi, tari, musik tradisional, teater, drama musikal, hingga penayangan film dokumenter.

Sajian menarik datang dari Desa Kondangjajar dengan pertunjukan “Swara Kondangjajar”, Desa Cijulang menyuguhkan “Ngulinkeun Barudak Cijulang”, serta Desa Karang Benda menampilkan Rampak Sekar dan Tari Sulanjana. Desa Pananjung membawakan “Parahara Tatar Pananjung”, Desa Pejaten menampilkan Drama Musikal Longser “Tapak Pajaten”, Desa Babakan menyajikan Short Drama “Tapak”, dan Desa Karang Jaladri mengusung drama kolosal “Sora Ti Jaladri”.

Karya Desa Margacinta berjudul “Warisan Hirup” sukses mencuri perhatian pengunjung. Pertunjukan ini mengangkat harmoni hubungan manusia dan alam lewat kehidupan petani melalui kolaborasi Tarawangsa Jentreng, Seni Badud, Gamelan, Kaulinan Barudak, tari, serta teatrikal warga.

Dari Desa Parigi, mahasiswa memamerkan tradisi kerajinan tanah liat dan video dokumenter folklor Kebo Bule. Serta lagu Mars Desa Parigi yang telah terdaftar HKI. Sedangkan mahasiswa Antropologi Budaya di Desa Pananjung menayangkan film dokumenter “Kilas Balik Stasiun Pangandaran” guna menghidupkan kembali memori sejarah Pangandaran.

Bupati Pangandaran Tampil Jadi ‘Guest Star’

Malam puncak festival menampilkan karya utama ISBI Bandung berupa Drama Tari “Niskala Gudha Dewi Siti Samboja”. Pertunjukan kolosal ini mengintegrasikan teater, tari Sunda, karawitan, wayang golek, seni rupa, serta ornamen material lokal Pangandaran.

Istimewanya, Bupati Pangandaran Hj. Citra Pitriyami, S.H. turut naik panggung sebagai guest star memerankan sosok tokoh Dewi Siti Samboja.

Jajaran pimpinan BKS-PTN Wilayah Barat seperti Rektor Universitas Siliwangi Prof. Aripin, Ketua Forum BKS-PTN Prof. Salampak, Rektor Universitas Lampung, hingga Rektor Universitas Malikussaleh turut menghadiri malam apresiasi ini.

Panitia juga memanjakan pengunjung lewat Pagelaran Wayang Golek dan Wayang Kulit oleh Ki Yogaswara Sunandar (Giri Harja 3 Putra) dan Ki Bhatarasena Sunandar, serta kolaborasi teater tradisional Mak Yong UPSI Malaysia bersama ISBI Bandung.

“Melalui kegiatan ini, pelaku UMKM dan masyarakat desa memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk serta potensi daerah. Sementara masyarakat umum dapat mengenal ragam kreativitas lokal yang tumbuh di Pangandaran,” tulis siaran pers ISBI Bandung.

Luaran KKN ini menghasilkan pemetaan potensi budaya, karya kreatif, film dokumenter, buku pengetahuan lokal, hingga sertifikasi HKI. Bagi mahasiswa, program KKN menjadi wadah belajar nyata untuk mengasah empati, kepemimpinan, dan komunikasi lintas budaya di kancah internasional.

(Sajidin)

Bangkitkan Ekonomi Desa, Gebyar Kemerdekaan di Kertaharja Ciamis Wadahi Belasan Stand UMKM

0
CIAMIS, FOKUSJabar.id
Ketpot: Gebyar HUT Kemerdekaan RI di Desa Kertaharja Kecamatan Cijeungjing Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Ratusan warga Desa Kertaharja, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memadati lapangan desa setempat, Minggu (23/8/2026). Warga tumpah ruah mengikuti kegiatan jalan sehat dalam rangka Gebyar Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain jalan sehat, masyarakat juga antusias mengikuti berbagai agenda hiburan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Kertaharja.

Baca Juga: Dari Lomba Pakai Jilbab hingga Balap Karung, Pesta Rakyat Demokrat Ciamis Bikin Warga Antusias

Sejak pagi hingga sore hari, warga larut dalam kebahagiaan sambil menikmati panggung hiburan dangdut yang menampilkan artis-artis lokal. Pemerintah desa juga memanjakan pengunjung dengan menghadirkan deretan stand UMKM yang menjajakan produk unggulan lokal Kertaharja.

“Alhamdulillah antusiasme warga untuk mengikuti gebyar HUT Kemerdekaan sangat bagus sekali,” kata Sekdes Kertaharja, Otong Dadi, Minggu (23/8/2026).

Eratkan Silaturahmi Warga dan Angkat Potensi UMKM Lokal

Otong Dadi menjelaskan bahwa pihak desa sengaja menggelar jalan sehat tidak hanya untuk menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga di tengah kesibukan harian masing-masing.

“Saat berjalan kan di antara mereka bisa saling berinteraksi walaupun dalam keseharian jarang bertemu,” ucapnya.

Otong menuturkan, kehadiran stand UMKM dalam perayaan ini bertujuan agar produk-produk lokal buatan warga Kertaharja makin masyarakat kenal.

“Produk UMKM lokal sengaja hadir supaya lebih terkenal dan hasilnya bisa warga nikmati,” ungkap Otong.

(Husen Maharaja)

Pemkab Garut dan Kemenpora Canangkan Program Gemar

0
pemkab garut fokusjabar.id
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin

GARUT, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut Jawa Barat (Jabar) bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) resmi mencanangkan Gerakan Masyarakat Aktif Berolahraga (Gemar) yang di rangkaikan dengan pelaksanaan Car Free Day (CFD) di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, Minggu (23/8/2026).

Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin menegaskan pentingnya menjaga kebugaran fisik untuk menunjang produktivitas dan kebahagiaan masyarakat.

BACA JUGA:

Lomba Rakyat Demokrat, Jaga Persatuan dari Garut untuk Indonesia

Menurutnya, kesehatan fisik dan mental perlu di upayakan secara konsisten melalui aktivitas fisik yang teratur.

“Dengan sehat kita bisa melakukan berbagai macam kegiatan yang bermanfaat bagi kita sendiri, keluarga dan bagi masyarakat. Sehat ini tidak serta merta, tidak tiba-tiba sehat, harus ikhtiar melalui kegiatan fisik, aktif dan bugar,” kata Syakur.

Perwakilan Kemenpora RI, Isa Anshary mengapresiasi kepada Pemkab Garut dan masyarakat yang antusias mengikuti kegiatan di area CFD.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai organisasi. Mulai dari SOIna, KONI, KORMI hingga organisasi kepemudaan setempat.

“Sehingga kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Khususnya kepada lingkungan masyarakat Kabupaten Garut agar kegiatan ini akan terus berkembang, meningkatkan partisipasi masyarakat dan tingkat kebugaran di Kabupaten Garut akan meningkat,” ungkap Isa.

Kabupaten Garut menjadi salah satu daerah di Jawa Barat yang di tunjuk Kemenpora RI untuk menyelenggarakan program nasional Gemar.

BACA JUGA:

Pemkab Garut Raih Penghargaan IIGCE 2026

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Garut, Asep Mulyana menjelaskan, Gemar menjadi wadah edukasi sekaligus ajakan kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat secara berkelanjutan.

“Kegiatan ini terlaksana berkat kolaborasi Kemenpora Republik Indonesia, Pemkab Garut, perangkat daerah, organisasi olahraga, organisasi kepemudaan, serta seluruh pihak yang terlibat,”singkat Asep.

(Bambang Fouristian)