spot_imgspot_img
Senin 5 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 152

Perjuangan 16 Anak SDN Budiharja KBB Naik Rakit saat Sekolah

0
SDN Budharja naik rakit fokusjabar.id
Sejumlah anak menaiki sebuah rakit ketika jam pulang sekolah dari SDN Budiharja

KBB, FOKUSJabar.id: Pemandangan anak-anak berseragam sekolah menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit bambu terjadi setiap hari di Kampung Sadang Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.

Bagi 16 siswa SD Negeri Budiharja, rakit menjadi sarana yang mereka andalkan untuk pergi dan kembali dari sekolah.

BACA JUGA:

Dedi Mulyadi dan Raffi Ahmad Bahas Pemulihan Bencana Bandung Barat

Kondisi tersebut kembali menjadi perhatian setelah aktivitas para siswa menyeberangi waduk menggunakan rakit ramai di perbincangkan.

Talk adanya jembatan penghubung membuat jalur air tetap menjadi pilihan paling praktis bagi anak-anak yang tinggal di Kampung Sadang.

Para siswa biasanya mulai berangkat sekitar pukul 06.00 WIB. Dari permukiman, mereka menuju tepian waduk sebelum menaiki rakit bambu yang di kendalikan warga menggunakan tali.

Dengan cara tersebut, perjalanan menuju sekolah di Kampung Gombong, Desa Budiharja dapat di tempuh sekitar lima hingga 10 menit.

Kepala SD Negeri Budiharja, Taufik menyebut, akses darat dari Kampung Sadang menuju sekolah hampir mencapai empat kilometer.

Anak-anak harus berjalan kaki sekitar 30 menit jika tidak menggunakan jalur penyeberangan melalui Waduk Saguling.

Dari 16 siswa yang masih menggunakan rakit, tiga merupakan siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5, dan tiga siswa kelas 6.

Sejumlah warga ikut membantu memastikan anak-anak dapat menyeberang.

Ketua RT 05, Agus Sumpena merupakan salah satu warga yang turut mengemudikan rakit. Menurutnya, jumlah siswa yang menggunakan sarana tersebut saat ini sebenarnya sudah berkurang di bandingkan masa sebelumnya.

“Saya dan beberapa orang di sini, setiap hari mulai dari pagi dan siang hari mengantarkan anak-anak sekolah naik rakit. Saat ini, yang naik rakit ada 16 anak,” kata Agus Sumpena.

Kekhawatiran tetap di rasakan orang tua karena penyeberangan berlangsung di atas waduk.

Santi Nur Setiani, warga Kampung Sadang mengatakan, anaknya yang duduk di kelas 3 juga menggunakan rakit untuk pergi dan pulang sekolah.

Ia mengaku khawatir anak-anak terjatuh. Terutama ketika mereka bercanda atau bermain selama berada di atas rakit.

“Takutnya terpleset. Kalau musim hujan, dia suka main-main, bercanda sama teman-temannya kalau naik rakit,” kata Santi.

BACA JUGA:

Dukung Pemulihan Pascabencana, LG Electronics Salurkan Bantuan ‘Lebaran Sehat’ di Bandung Barat

Kondisi ini sebenarnya telah berlangsung selama puluhan tahun. Agus mengatakan, penyeberangan anak sekolah menggunakan rakit sudah di lakukan sejak sekitar 1990.

Pada awalnya, orang tua mengantar anak mereka secara masing-masing, sebelum kemudian sekolah menyediakan rakit yang di gunakan bersama untuk membantu siswa menyeberangi waduk.

Rakit yang di gunakan tidak dapat bertahan selamanya. Karena menggunakan bambu. Sarana tersebut harus di ganti secara berkala. Biasanya sekitar dua hingga tiga tahun sekali.

Warga melakukan pengadaan dan pembuatan rakit secara swadaya dengan membeli bambu kemudian merakitnya kembali. Selama di gunakan, sedikitnya enam kali rakit telah mengalami pergantian.

Bagi masyarakat Kampung Sadang, keberadaan rakit juga memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar mengantar anak sekolah.

Warga memanfaatkannya untuk menuju kebun, membawa barang serta melakukan aktivitas ekonomi di wilayah seberang waduk.

Karena itu, pembangunan jembatan di nilai dapat membantu kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.

“Ya harapannya, pemerintah atau pihak swasta bisa membuat jembatan, minimal jembatan apung. Jadi anak-anak kami enggak harus naik rakit lagi, warga juga bisa lebih leluasa aktivitasnya,” kata Agus.

Sekolah juga berharap, persoalan akses tersebut dapat memperoleh solusi permanen. Selain memperpendek perjalanan, jembatan di nilai dapat memberikan jalur penyeberangan yang lebih mudah bagi siswa maupun warga yang selama ini mengandalkan rakit.

“Iya, dari dulu. Dari mulai ada Saguling, karena anak-anaknya banyak yang sekolah ke sini maka di buat rakit oleh sekolah. Biayanya juga dari sekolah, bahkan sempat ada pelampungnya tapi sudah rusak. Jadi sekarang alakadarnya,” kata Taufik.

Para siswa sendiri telah terbiasa dengan perjalanan tersebut. Salah seorang siswa, Imam, mengaku sudah tidak merasa takut meski harus menggunakan rakit untuk mencapai sekolah setiap hari.

“Sudah biasa, kalau saya berangkatnya pagi-pagi, jam 6. Di antar rakit terus nanti pulangnya juga naik rakit lagi. Enggak takut, sudah biasa,” kata Imam.

Perhatian terhadap kondisi tersebut meningkat setelah video perjalanan siswa menggunakan rakit beredar dan mendapat perhatian publik.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat kemudian merespons dengan mengutus tim dari Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) untuk melihat langsung kondisi akses di wilayah Cililin.

Pengecekan lapangan tersebut menjadi perkembangan terbaru pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Pemerintah di harapkan dapat menilai kebutuhan pembangunan jembatan berdasarkan kondisi geografis serta kebutuhan warga yang tidak hanya menggunakan akses tersebut untuk sekolah, tetapi juga untuk aktivitas sehari-hari.

BACA JUGA:

Pemkot Bandung Turunkan Bantuan Tanggap Bencana ke Bandung Barat

Bagi 16 siswa SD Negeri Budiharja, rakit masih menjadi bagian dari rutinitas mereka setiap hari.

Selama belum tersedia jembatan atau akses penghubung lain, mereka tetap harus menyeberangi Waduk Saguling untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Warga pun berharap, kondisi yang telah berlangsung sejak sekitar tiga dekade tersebut dapat segera mendapatkan solusi yang lebih aman dan berkelanjutan.

(Jingga Sonjaya/berbagai sumber)

Mayat Wanita Bertato Ditemukan di Pantai Karang Hawu Sukabumi

0
Pantai Karang Hawu fokusjabar.id
Iustrasi (foto: web)

SUKABUMI, FOKUSJabar.id: Penemuan jasad seorang perempuan di kawasan Pantai Karang Hawu, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat bikin heboh warga pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Jasad tersebut di temukan di pesisir Pantai Kesik Lega, Desa/Kecmatan Cisolok dalam posisi terlentang di tepi pantai.

BACA JUGA:

Grandfinal Wanoja Jajaka Budaya Jawa Barat 2026, Falisha Zalfa Alya Dapat Dukungan Pemkot Sukabumi

Perempuan yang di temukan dalam kondisi meninggal dunia itu hingga kini belum di ketahui identitasnya.

Sejumlah ciri khusus pada tubuh dan barang yang di kenakannya telah di catat petugas untuk membantu proses pencarian keluarga. Korban di perkirakan berusia sekitar 30 tahun.

Temuan tersebut pertama kali di ketahui seorang pedagang bernama Atta yang tengah mencari barang bekas di kawasan pesisir.

Sekitar pukul 06.00 WIB, ia melihat tubuh perempuan tersebut dan kemudian melaporkan penemuan itu kepada pihak berwenang.

Kapolsek Cisolok, AKP Bayu Saeful Bahari membenarkan adanya penemuan jasad di kawasan tersebut.

“Saksi sedang mencari barang bekas di pinggir pantai dan menemukan mayat di tepi pantai Kesik Lega,” kata Bayu.

Setelah menerima laporan warga, polisi mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal. Petugas kemudian berkoordinasi dengan Inafis Polres Sukabumi untuk proses identifikasi.

Karena lokasi penemuan berada di kawasan pantai, penanganan selanjutnya di serahkan kepada Sat Polair.

“Anggota Polsek Cisolok mendatangi TKP, melaporkan ke pimpinan dan menghubungi pihak Inafis Polres Sukabumi. Selanjutnya penanganan perkara di serahkan kepada Sat Polair sehubungan tempat kejadian di pantai,” jelas Bayu.

Jasad perempuan tersebut kemudian di bawa ke Instalasi Kamar Jenazah RSUD Palabuhanratu untuk menjalani pemeriksaan dan proses identifikasi.

Polisi mencatat sejumlah tanda yang dapat di gunakan sebagai petunjuk. Termasuk tato pada beberapa bagian tubuh korban.

Korban memiliki tato di tangan kanan, punggung dan kaki. Pada bagian punggung terdapat tato dengan motif harimau dan naga. Sementara tangan kanan korban memiliki tato bermotif batik. Selain ciri fisik tersebut, korban juga mengenakan sejumlah aksesori saat di temukan.

Aksesori yang di temukan pada tubuh korban antara lain jam tangan, gelang, kalung serta rantai yang melingkari bagian perut dengan bandul berupa batu akik.

Polisi mencatat seluruh ciri tersebut sebagai bagian dari proses penelusuran identitas korban.

Berdasarkan pemeriksaan sementara, korban di perkirakan telah meninggal dunia sekitar dua hingga tiga hari sebelum di temukan.

Polisi juga menemukan luka sobek pada bagian pelipis kanan dan kiri. Luka tersebut di duga muncul akibat tubuh korban terbentur karang setelah terbawa gelombang laut.

Hasil pemeriksaan sementara tidak menemukan indikasi kekerasan yang mengarah pada tindak kejahatan.

Kasat Reskrim Polres Sukabumi, Iptu Dudi Suharyana mengatakan, pihaknya masih berusaha menemukan keluarga korban.

“Tidak di temukan indikasi kekerasan atau tanda-tanda korban kejahatan. Saat ini kami masih berupaya menelusuri pihak keluarga, dan status jenazah sementara masih Mrs X,” tegas Dudi.

Pada Sabtu, 29 Agustus 2026, jasad tersebut akhirnya di makamkan tanpa identitas di TPU Batu Sapi, Palabuhanratu.

Pemakaman di lakukan setelah proses identifikasi selesai, sementara belum ada keluarga yang datang untuk mengenali atau mengambil jasad tersebut.

Keputusan pemakaman juga berkaitan dengan keterbatasan fasilitas penyimpanan jenazah di RSUD Palabuhanratu.

Petugas pemulasaraan rumah sakit, Heri mengatakan, jenazah tidak dapat di simpan terlalu lama karena rumah sakit belum memiliki fasilitas pendingin khusus untuk jenazah.

BACA JUGA:

Dorong Pelayanan Selatan Sukabumi, Bupati Asep Japar Resmikan Groundbreaking Kantor Surade dan Ciracap!

“Karena di RSUD Palabuhanratu belum ada lemari pendingin (freezer) jenazah, kami khawatir jika di simpan terlalu lama kondisinya akan mengalami pembusukan yang lebih ekstrem. Maka dari itu, setelah proses identifikasi selesai dan belum ada keluarga yang datang, jenazah langsung kami makamkan di pekuburan Batu Sapi,” ungkap Heri.

Selain menelusuri identitas melalui ciri fisik, polisi juga mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi di sekitar lokasi. Salah satu informasi yang di peroleh menyebut perempuan tersebut pernah terlihat berjalan kaki sambil membawa kantong plastik sebelum jasadnya di temukan.

“Membawa kresek, ada saksi yang melihat korban berjalan kaki. Namun belum kita pastikan bahwa korban ini ODGJ atau bukan, karena saksi hanya melihat begitu saja,” jelasnya.

Keterangan tersebut belum dapat di gunakan untuk memastikan kondisi maupun latar belakang korban sebelum meninggal.

Polisi juga belum menyatakan bahwa perempuan tersebut merupakan orang dengan gangguan jiwa karena informasi dari saksi masih terbatas.

Hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, identitas perempuan tersebut masih belum di ketahui dan statusnya tetap sebagai Mrs X.

Polisi masih berupaya menemukan pihak keluarga dengan mengandalkan berbagai ciri yang telah di catat selama proses pemeriksaan.

Masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dengan ciri-ciri serupa dapat berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk membantu proses identifikasi.

BACA JUGA:

Rampung Dievaluasi Gubernur, Raperda APBD Sukabumi 2025 Siap Sah Jadi Perda!

Sementara itu, berdasarkan pemeriksaan yang telah di lakukan, polisi menyatakan belum menemukan indikasi bahwa jasad perempuan tersebut merupakan korban tindak kejahatan.

(Jingga Sonjaya/berbagai sumber)

KPK Geledah Kantor Disdik Kabupaten Bogor

0
KPK disdik bogor fokusjabar.id
Foto: web

BOGOR, FOKUSJabar.id: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan pemeriksaan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kali ini, penyidik mendatangi kantor Dinas Pendidikan (Disdik) untuk melakukan penggeledahan terkait dugaan tindak pidana korupsi dalam proses pengadaan barang dan jasa.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penyidikan yang sedang di lakukan KPK di Kabupaten Bogor. Dalam prosesnya, penyidik membawa sejumlah dokumen yang berkaitan dengan kegiatan pengadaan di lingkungan Disdik.

BACA JUGA:

Sport Center Nasional di Bogor Buka Akses Jalan Baru Sepanjang 8 Km

KPK menjelaskan bahwa dokumen dan barang yang di temukan selama penggeledahan akan di gunakan untuk membantu penyidik memperjelas perkara.

Hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, penyidikan masih berjalan dan KPK belum mengungkap secara rinci pihak yang di duga terlibat maupun konstruksi lengkap perkara pengadaan tersebut.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo mengatakan, proses penyidikan saat ini masih di arahkan pada aktivitas pengadaan barang dan jasa di lingkungan Disdik.

“Sampai dengan saat ini, penyidik masih fokus untuk melakukan pendalaman terkait pengadaan barang dan jasa di lingkup Disdik Kabupaten Bogor,” kata Budi.

Menurut Budi, penggeledahan di lakukan bukan sekadar untuk memeriksa kantor Disdik. Melainkan untuk mencari bukti yang dapat memperkuat proses penyidikan.

“Penggeledahan tersebut dalam rangka untuk mencari dan menemukan alat bukti maupun petunjuk yang relevan terkait dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan barang dan jasa di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor,” katanya.

Dari kegiatan tersebut, penyidik mengamankan beberapa dokumen yang berhubungan dengan pengadaan.

“Dalam penggeledahan, penyidik menyita beberapa dokumen yang terkait dengan pengadaan-pengadaan di Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor,” kata Budi.

Dokumen tersebut selanjutnya akan di teliti dan di bandingkan dengan bukti lain yang telah di kantongi KPK.

KPK belum menjelaskan secara terbuka rincian seluruh barang yang di bawa dari kantor Disdik. Penyidik nantinya akan menelaah isi dokumen, menganalisis keterkaitannya dengan perkara, kemudian melakukan konfirmasi menggunakan alat bukti lain.

Langkah tersebut di perlukan agar rangkaian dugaan tindak pidana yang sedang di tangani dapat di ketahui secara lebih jelas.

BACA JUGA:

Siliwangi Center jadi Creative Hub Pertama di Bogor, Ditargetkan Beroperasi 2027

Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika membenarkan adanya penggeledahan di kantor Disdik pada Jumat, 28 Agustus 2026.

“Iya betul (penggeledahan kantor Disdik),” kata Ajat.

Penggeledahan di lakukan sehari setelah penyidik KPK mendatangi kantor Bappenda dan BKPSDM Kabupaten Bogor.

Meski berlangsung berdekatan, KPK meminta publik membedakan perkara yang di dalami di Disdik dengan dugaan korupsi yang berkaitan dengan Bappenda dan BKPSDM.

Pada dua instansi tersebut, penyidik sebelumnya mendalami dugaan pemotongan insentif pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah atau upah pungut.

Sementara penggeledahan Disdik berkaitan dengan dugaan korupsi dalam pengadaan barang dan jasa.

Rangkaian penanganan perkara di Kabupaten Bogor sebelumnya mencuat pada Kamis, 20 Agustus 2026. Saat itu beredar informasi mengenai adanya OTT KPK.

Namun, lembaga antirasuah kemudian menegaskan kegiatan tersebut bukan operasi tangkap tangan.

Pada Jumat, 21 Agustus 2026, KPK menyampaikan bahwa pihaknya telah mengamankan uang sekitar Rp1,5 miliar dalam penyelidikan dugaan korupsi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor dan kemudian meningkatkan penanganannya ke tahap penyidikan melalui surat perintah penyidikan (sprindik) umum.

Dalam perkembangan perkara yang berkaitan dengan dugaan pemotongan upah pungut tersebut, KPK hingga Sabtu, 29 Agustus 2026 belum menetapkan tersangka.

“Belum ada kecukupan alat bukti untuk penetapan tersangka ataupun pihak-pihak yang kemudian bertanggung jawab dalam dugaan tindak pidana korupsi tersebut,” kata Budi.

Untuk perkara pengadaan di Disdik, KPK juga belum mengumumkan tersangka atau pihak yang di duga bertanggung jawab.

Penggeledahan kantor Disdik Kabupaten Bogor menjadi salah satu langkah penyidik untuk mengumpulkan bukti dalam dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa.

BACA JUGA:

Atasi Kemacetan Puncak, Pemkab Bogor Kaji Pembangunan Kereta Gantung

Sejumlah dokumen pengadaan telah di amankan dan akan di analisis lebih lanjut. Sampai Sabtu, 29 Agustus 2026, KPK masih melakukan pendalaman dan belum menyampaikan konstruksi perkara secara lengkap maupun pihak yang akan di mintai pertanggungjawaban.

Proses hukum masih berjalan dan setiap temuan dari penggeledahan akan di kaitkan dengan alat bukti lain sebelum KPK menentukan langkah berikutnya.

(Jingga Sonjaya/berbagai sumber)

Lagu Legendaris Bikin Tasikmalaya Bernostalgia, Tiket Ludes dalam 3 Hari

0
Tasikmalaya, FOKUSJabar.id
Ket foto : Para penikmat lagu-lagu Jadul, bernostalgia bersama dalam acara Indonesia Legendary Song di Restoran Kampung Swasana Caffe Tasikmalaya (fokusjabar/Seda)

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Alunan musik legendaris menggema semalaman di Kampung Swasana Caffe, Jalan Yudanegara Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jumat (28/08/2026) malam. Sederet vokalis kebanggaan Tasikmalaya menghidupkan kembali tembang-tembang populer era 80-an hingga 2000-an dalam acara bertajuk “Indonesia Legendary Song-Capullet”.

Suasana mendadak riuh begitu musisi memetik nada pertama. Penonton lintas generasi kompak bernyanyi, berjingkrak, bahkan meneteskan air mata karena terbawa nostalgia masa lalu.

Baca Juga: Kemarau Panjang, Polres Tasikmalaya Salurkan 8.000 Liter Air Bersih ke Warga Sukaraja

Musisi lokal membawakan berbagai genre mulai dari pop, rock, hingga balada cinta. Ratusan penonton menyambut setiap lagu dengan teriakan dan tepuk tangan meriah dari awal hingga akhir acara.

“Kangen banget sama lagu-lagu ini. Dulu waktu SMA sering dengerin di kaset. Sekarang bisa nonton langsung, rasanya balik lagi ke masa muda,” ujar Sinta, salah satu penonton.

Pejabat Daerah Ikut Larut dalam Alunan Nostalgia

Kemeriahan panggung musik ini menarik perhatian para pejabat daerah. Wakil Wali Kota Tasikmalaya Dicky Candra Negara hadir langsung bersama Kepala Disporabudpar Kota Tasikmalaya Deddy Mulyana dan Kadis Pendidikan Rojab Riswan Taufik. Mereka berbaur menikmati suara merdu para penyanyi.

Kehadiran jajaran pimpinan ini menandai bentuk dukungan penuh pemerintah daerah terhadap kreativitas dunia seni dan musik lokal.

“Kami sangat mengapresiasi acara seperti ini, bukan hanya hiburan, tapi juga menghidupkan kembali kenangan dan kreativitas musisi Tasikmalaya,” ungkap Dicky Candra Negara.

Tiket Ludes dalam Tiga Hari dan Gerakkan Ekonomi UMKM

Ketua Panitia Andi Ibo mengaku kaget melihat antusiasme tinggi dari masyarakat Kota Tasikmalaya.

“Jujur saya sangat kaget, tiket habis terjual hanya dalam waktu 3 hari. Ini membuktikan bahwa lagu-lagu legendaris tidak pernah mati. Justru semakin dirindukan,” ungkap Andi.

Ia menegaskan bahwa panitia sengaja mengemas acara sederhana ini guna memuaskan kerinduan pencinta musik masa lalu. Pihaknya menghadirkan puluhan penyanyi berbakat yang tampil menggelegar bersama iringan Grup Band Capulete.

Musisi membawakan deretan lagu hits seperti Cinta, Isabela, Bintang Kehidupan, Rumah Kita, hingga Tua-Tua Keladi. Panggung musik tutup secara manis lewat tembang pamungkas Rindu karya Farid Harja.

Acara ini juga sukses menggerakkan roda ekonomi kreatif lokal. Pemilik kafe, pelaku UMKM kuliner, serta para pekerja seni di sekitar lokasi merasakan langsung dampak positif dari keramaian panggung nostalgia tersebut.

(Seda)

6 Kebakaran Terjadi di Pangandaran Selama Agustus 2026, BPBD Ingatkan Bahaya Bakar Rumput Kering

0
Pangandaran, FOKUSjabar.id
Poto: dokumen

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran mencatat sedikitnya 6 peristiwa kebakaran sepanjang Agustus 2026. Sebagian besar dari insiden tersebut menyasar kawasan lahan dan perkebunan warga.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran Dodo Kusnadi menyebut masyarakat setempat mampu menjinakkan kobaran api lahan selama musim kemarau ini.

Baca Juga: Wakil Bupati Kepincut Partai Demokrat, Begini Respon PSI Pangandaran

Petugas BPBD yang tiba di lokasi kejadian umumnya mendapati api sudah dalam kondisi padam berkat aksi gotong royong warga.

“Sampai saat ini, upaya kebakaran lahan itu bisa ditangani oleh masyarakat setempat,” ujar Dodo, Sabtu (29/8/2026).

Dodo memuji kesadaran tinggi warga sebagai faktor utama yang mencegah kebakaran meluas menjadi bencana besar.

“Walaupun kita turun, pada umumnya api sudah padam. Jadi, alhamdulillah kesadaran masyarakat sangat tinggi,” ucapnya.

Bahaya Bakar Rumput Kering Menjelang Musim Tanam

Kendati demikian, BPBD tetap mewanti-wanti masyarakat agar menghentikan kebiasaan membakar rumput atau sampah di area terbuka, terutama saat kondisi kemarau terik.

“Jadi jangan membakar rumput kering di lahan pertanian atau perkebunan. Karena sangat rentan terjadi kebakaran yang meluas,” kata Dodo.

Catatan BPBD menunjukkan bahwa ulah warga yang membakar rumput kering kerap memicu kebakaran lahan. Petani biasanya membakar rumput guna membersihkan lahan menjelang datangnya musim tanam.

“Kan biasanya musim hujan itu mulai tanam,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahaya tiupan angin yang sanggup menerbangkan percikan api ke vegetasi kering di sekitarnya dengan sangat cepat.

“Makanya, masyarakat jangan melakukan pembakaran selama musim kemarau untuk mencegah kebakaran lahan,” pungkas Dodo.

(Sajidin)

Dua Desa Wisata Bogor Masuk Top 15 Desa Wisata Terbaik Jawa Barat

0
Desa Wisata Gunung Malang.

BOGOR,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan (Disparekraf) terus memacu pengembangan desa wisata. Langkah ini bertujuan meningkatkan kualitas destinasi sekaligus memperkuat potensi ekonomi warga lokal.

Upaya ini berjalan atas arahan Bupati Bogor Rudy Susmanto. Pihaknya merangkul Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), kemudian pelaku UMKM, dan pemangku kepentingan guna membangun pariwisata yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Baca Juga: Karhutla Mengancam 6 Provinsi, BMKG Kerahkan Operasi Modifikasi Cuaca

Strategi kolaboratif ini membuahkan hasil manis di tingkat Jawa Barat. Desa Wisata Gunung Malang dan Desa Wisata Tugu Utara berhasil menembus Top 15 Desa/Kampung Wisata Terbaik dalam ajang Smiling West Java Integrated Tourism Destination Management Award (SWJ ITDMA) 2026.

Kedua desa tersebut sukses menyingkirkan 44 pesaing dari berbagai daerah setelah melewati seleksi portofolio digital yang ketat.

Daya Saing Tangguh dan Pengalaman Wisata Holistik

Kepala Disparekraf Kabupaten Bogor Ria Marlisa menyampaikan apresiasi tinggi atas pencapaian dua desa tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini membuktikan bahwa desa wisata Bogor sanggup bersaing di tingkat yang lebih luas.

“Prestasi di SWJ ITDMA 2026 ini membuktikan bahwa desa wisata kita memiliki daya saing tangguh di tingkat provinsi. Kami kemudian berkomitmen terus menjadikan pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi berkelanjutan,” ungkapnya.

Ria menekankan, kekuatan desa wisata tidak hanya mengandalkan panorama alam, melainkan peran aktif warga dalam mengolah potensi menjadi pengalaman autentik.

Keunggulan Gunung Malang dan Tugu Utara juga lahir dari penerapan standar pariwisata 5A (Administrasi, Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas, Advertising).

Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Disparekraf Kabupaten Bogor Yuliana Idrus menyebut pengelola memadukan standar tersebut dengan kearifan lokal Sunda 5K (Kadeuleu, Kaambeu, Kadangu, Karaba, Karasa).

“Perpaduan tersebut berhasil menghadirkan pengalaman wisata holistik. Mereka tidak hanya rapi secara tata kelola dan fasilitas. Namun juga sukses menyajikan pengalaman sensorik otentik yang berakar pada budaya Sunda,” jelas Yuliana.

Persiapan Menuju Ajang Nasional

Keberhasilan masuk jajaran Top 15 membawa Gunung Malang dan Tugu Utara ke tahap pembinaan coaching clinic dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Di tingkat daerah, Pemerintah melanjutkan pendampingan intensif untuk menggembleng kesiapan pengelola. Pihaknya membidik peluang agar kedua desa ini sanggup melangkah ke tingkat nasional melalui Wonderful Indonesia Tourism Award (WITA) 2026.

Prestasi dua desa ini harapannya memicu semangat desa-desa lain di Kabupaten Bogor. Tentunya untuk terus mengenali potensi lokal dan mengembangkannya menjadi sumber kesejahteraan warga.

(Jingga Sonjaya)

Harga Emas Antam 29 Agustus 2026 Anjlok Rp48 Ribu, Ini Rinciannya

0
NASIONAL, FOKUSJabar.id
Ilustrasi logam mulia.

NASIONAL,FOKUSJabar.id: Harga emas batangan Antam kembali bergerak merosot pada Sabtu, (29/8/2026). PT Aneka Tambang Tbk menetapkan harga jual emas ukuran 1 gram di angka Rp2.670.000 per gram. Angka ini terjun bebas Rp48.000 dari posisi sebelumnya yang berada di level Rp2.718.000.

Tren penurunan ini juga melanda harga pembelian kembali (buyback). Antam mematok nilai buyback sebesar Rp2.523.000 per gram pada Sabtu pagi. Nilai tersebut menyusut Rp55.000 jika membandingkan dengan posisi kemarin di angka Rp2.578.000.

Baca Juga: Karhutla Mengancam 6 Provinsi, BMKG Kerahkan Operasi Modifikasi Cuaca

Angka Rp2.670.000 merupakan harga dasar resmi yang merujuk pada situs Logam Mulia. Pembeli wajib memperhitungkan tambahan PPh sebesar 0,25 persen, sehingga nilai bersih pembelian 1 gram emas Antam mencapai Rp2.676.675.

Pelemahan hari Sabtu ini memperpanjang tren koreksi harga setelah emas Antam juga tergerus Rp5.000 pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Daftar Harga Emas Antam dari Pecahan Kecil Hingga 1 Kg

Situs resmi Logam Mulia mencantumkan variasi harga untuk berbagai ukuran berat emas batangan. Untuk pecahan terkecil 0,5 gram, Antam menjualnya seharga Rp1.385.000.

Sementara itu, emas ukuran 2 gram berada di angka Rp5.280.000 dan pecahan 3 gram mencapai Rp7.895.000. Bagi investor yang mengincar berat sedang, pecahan 5 gram menyentuh Rp13.125.000 dan ukuran 10 gram mencapai Rp26.195.000.

Ukuran yang lebih besar mencatatkan nilai transaksi yang terus meningkat:

  • Emas 25 gram: Rp65.362.000
  • Emas 50 gram: Rp130.645.000
  • Emas 100 gram: Rp261.212.000
  • Emas 250 gram: Rp652.765.000
  • Emas 500 gram: Rp1.305.320.000
  • Emas 1.000 gram (1 kg): Rp2.610.600.000

Seluruh nominal tersebut berstatus harga dasar sebelum hitungan pajak PPh 0,25 persen.

Bandingkan Harga Antam di Pegadaian, UBS, dan Galeri24

Masyarakat harus mengamati bahwa harga emas batangan dapat bervariasi bergantung pada kanal penjualan. Pegadaian memasarkan emas Antam 1 gram seharga Rp2.627.000 pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Pada tempat yang sama, emas cetakan UBS 1 gram menyentuh Rp2.654.000, sedangkan emas Galeri24 1 gram mematok harga Rp2.611.000. Calon pembeli wajib memastikan gerai transaksi karena tiap saluran memiliki acuan harga yang berbeda.

Selain itu, investor perlu memperhitungkan selisih (spread) antara harga beli dan buyback. Dengan harga jual Rp2.670.000 dan buyback Rp2.523.000, investor menghadapi selisih nilai sebesar Rp147.000 per gram.

Peraturan perpajakan juga mengikat transaksi buyback bernilai di atas Rp10 juta dengan potongan PPh Pasal 22 sebesar 1,5 persen.

Pengelola Logam Mulia memperbarui daftar harga secara berkala setiap hari pukul 08.30 WIB. Masyarakat sebaiknya memeriksa kembali pergerakan harga terkini sebelum mengeksekusi transaksi jual maupun beli.

(Jingga Sonjaya)