spot_imgspot_img
Rabu 1 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 121

10 Persiapan Penting Menyambut Hari Pertama Puasa Ramadan

0
Puasa Ramadan fokusjabar.id
(foto: Freepik)

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Hari pertama puasa Ramadan menjadi momen awal yang penting bagi umat Islam dalam memasuki bulan ibadah.

Pada fase ini, banyak orang mulai menyesuaikan diri dengan perubahan rutinitas harian.

BACA JUGA:

Sidang Isbat: Awal Ramadan 1447 H, Kamis 19 Februari 2026

Menjelang Ramadan, masyarakat biasanya mulai menyiapkan diri. Baik dari sisi kesehatan maupun spiritual.

Perubahan jadwal makan dan tidur membuat persiapan awal menjadi bagian penting.

Hari pertama puasa sering di pandang sebagai tahap adaptasi. Karena tubuh dan pikiran perlu menyesuaikan ritme baru sejak sahur hingga berbuka.

Berikut beberapa persiapan yang umum untuk di lakukan menjelang hari pertama puasa.

  • Menjaga kecukupan cairan sebelum puasa di mulai dengan memperbanyak minum air dan mengurangi minuman berkafein agar tubuh tidak mudah dehidrasi.
  • Menyiapkan menu sahur bergizi seimbang. Seperti karbohidrat kompleks, protein dan serat dari sayur, buah, telur atau gandum utuh agar energi lebih tahan lama.
  • Membatasi konsumsi makanan olahan, terlalu manis atau berminyak karena dapat memicu rasa cepat lapar dan membuat tubuh mudah lemas di siang hari.
  • Merencanakan menu sahur dan berbuka sejak awal agar kebutuhan gizi terpenuhi dan tidak terburu-buru saat menyiapkan makanan.
  • Memulai berbuka dengan air dan kurma. Lalu di lanjutkan makanan utama yang seimbang untuk membantu tubuh beradaptasi setelah seharian berpuasa.
  • Mengontrol porsi makan saat berbuka agar tidak berlebihan. Karena makan terlalu banyak dapat menyebabkan kembung dan rasa tidak nyaman.
  • Menanamkan niat puasa sejak awal Ramadan sebagai fondasi utama agar ibadah di jalani dengan kesadaran dan tujuan spiritual yang kuat.
  • Menyusun jadwal ibadah seperti shalat, tadarus Al-Qur’an dan tarawih supaya aktivitas Ramadan lebih terarah dan bermakna.
  • Menyesuaikan pola tidur lebih awal agar tubuh siap menghadapi perubahan ritme sahur dan ibadah malam.
  • Mengatur aktivitas harian dengan bijak. Terutama pada hari pertama, agar energi tetap terjaga dan puasa dapat dijalani dengan nyaman.

Secara keseluruhan, hari pertama puasa menjadi awal penting untuk membangun ritme Ramadan.

Dengan persiapan fisik, pola makan yang tepat serta kesiapan spiritual, umat Islam di harapkan dapat menjalani ibadah puasa dengan lancar dan khusyuk.

(Jingga Sonjaya)

Mengapa Awal Ramadan Muhammadiyah dan NU Tidak Selalu Sama?

0
awal ramadan fokusjabar.id
Penentuan awal Ramadan 1447 H (foto: dok NU)

JAKARTA, FOKUSJabar.id: Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, penetapan awal puasa kembali menjadi perhatian masyarakat.

Perbedaan tanggal mulai berpuasa kerap muncul karena adanya variasi metode yang di gunakan oleh organisasi Islam di Indonesia.

BACA JUGA:

Sidang Isbat: Awal Ramadan 1447 H, Kamis 19 Februari 2026

Pada tahun ini, pemerintah telah menggelar Sidang Isbat pada Selasa, 17 Februari 2026 untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah.

Keputusan tersebut menjadi rujukan resmi negara dalam menetapkan kalender ibadah nasional.

Hasil Sidang Isbat menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. sehingga umat Islam di Indonesia yang mengikuti keputusan pemerintah akan memulai puasa pada tanggal tersebut.

Meski demikian, awal Ramadan tidak selalu di tetapkan secara seragam. Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama memiliki pendekatan berbeda dalam menentukan masuknya bulan baru dalam kalender hijriah.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki. yakni perhitungan astronomi yang menilai posisi hilal berdasarkan data matematis.

Melalui cara ini, penetapan awal puasa dapat di tentukan lebih awal tanpa menunggu hasil pengamatan langsung.

Sementara itu, Nahdlatul Ulama lebih mengutamakan rukyatul hilal. Yaitu pengamatan bulan sabit secara langsung di lapangan.

Metode ini menjadikan visibilitas hilal sebagai faktor utama dalam penentuan awal Ramadan.

Perbedaan pendekatan tersebut sudah lama di kenal dalam praktik keagamaan di Indonesia. Setiap tahun, kondisi astronomi tertentu dapat membuat hasil hisab dan rukyat tidak selalu sejalan.

Dalam Ramadhan 1447 H, Muhammadiyah menetapkan awal puasa berdasarkan kriteria hisabnya sendiri. Sedangkan pemerintah melalui Sidang Isbat dan pendekatan rukyat menetapkan awal puasa pada Kamis, 19 Februari 2026 yang juga sejalan dengan tradisi penetapan NU.

BACA JUGA:

Malam Sin Cia 17 Februari 2026, Momen Pergantian Tahun Baru Imlek

Pemerintah dan para tokoh agama mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan ini sebagai sumber perselisihan. Umat Islam di minta menyikapinya dengan dewasa dan tetap menjaga persaudaraan.

Perbedaan penetapan awal puasa di pandang sebagai bagian dari dinamika ilmu falak dan tradisi keagamaan. Bukan sesuatu yang perlu di pertentangkan secara berlebihan.

Di tengah masyarakat, perbedaan ini umumnya sudah di pahami. Sebagian keluarga mengikuti keputusan Muhammadiyah. Sementara yang lain mengikuti hasil Sidang Isbat atau NU sesuai keyakinan masing-masing.

(Jingga Sonjaya)

Sidang Isbat: Awal Ramadan 1447 H, Kamis 19 Februari 2026

0
Sidang Isbat Ramadan fokusjabar.id
Penetapan Awal Ramadan 2026 (foto: dok)

JAKARTA, FOKUSJabar.id: Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia kembali menyelenggarakan Sidang Isbat untuk menentukan awal bulan Ramadan.

Sidang tersebut di laksanakan pada Selasa (17/2/2026) sebagai bagian dari agenda rutin penetapan kalender hijriah nasional.

BACA JUGA:

Presiden Prabowo: Program MBG Jangkau 60 Juta Penerima

Sidang Isbat menjadi momen penting yang selalu di nantikan masyarakat. Karena hasilnya menjadi acuan resmi di mulainya ibadah puasa bagi umat Islam di Indonesia.

Pelaksanaan sidang berlangsung di Jakarta dan di pimpin langsung oleh Menteri Agama dengan melibatkan berbagai unsur terkait dalam proses penentuan awal bulan suci.

Keputusan yang di umumkan pada hari yang sama menetapkan bahwa awal Ramadan tidak di tentukan secara sepihak. Melainkan melalui rangkaian pembahasan berdasarkan data astronomi serta hasil pemantauan hilal.

Berdasarkan hasil Sidang Isbat, pemerintah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis 19 Februari 2026.

Seiring dengan penetapan itu, malam pertama pelaksanaan salat tarawih pada Rabu, 18 Februari 2026.

Sidang Isbat sendiri merupakan forum resmi yang melibatkan perwakilan organisasi masyarakat Islam, Majelis Ulama Indonesia, para ahli falak serta instansi pemerintah yang berkaitan dengan pengamatan hilal.

BACA JUGA:

Pembentukan Provinsi Priangan Timur Menggema di Rakorwil KAHMI Jabar

Rangkaian sidang di awali dengan pemaparan posisi hilal melalui metode hisab atau perhitungan astronomi. Kemudian di perkuat dengan laporan hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia.

Setelah seluruh informasi di himpun, pemerintah bersama peserta sidang melakukan musyawarah untuk mengambil keputusan yang di anggap paling tepat dan dapat di terima secara nasional.

Penetapan ini menjadi pedoman utama dalam penyusunan jadwal ibadah selama Ramadan. Termasuk penentuan tarawih, waktu imsak hingga agenda keagamaan lainnya.

Pemerintah juga mencatat bahwa dalam beberapa kesempatan, metode penentuan awal Ramadan dapat berbeda dengan sebagian organisasi Islam yang memiliki perhitungan tersendiri.

(Jingga Sonjaya)

Malam Sin Cia 17 Februari 2026, Momen Pergantian Tahun Baru Imlek

0
Malam Sin Cia fokusjabar.id
(foto: web)

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Selasa (17/2/2026) menjadi salah satu momen penting bagi masyarakat Tionghoa dalam menyambut pergantian tahun baru berdasarkan kalender lunar. Malam tersebut di kenal luas sebagai malam Sin Cia atau malam Sincia.

Tradisi ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang di rayakan tidak hanya sebagai pergantian angka tahun. Namun juga sebagai momentum spiritual dan kebersamaan keluarga.

BACA JUGA:

Pembentukan Provinsi Priangan Timur Menggema di Rakorwil KAHMI Jabar

Istilah Sin Cia sendiri berasal dari dialek Hokkien yang di gunakan oleh sebagian komunitas Tionghoa di Indonesia.

Dalam pemahaman umum, Sin Cia merujuk pada momen memasuki tahun baru. Terutama pada malam pergantian sebelum hari pertama di mulai.

Di berbagai daerah, malam Sin Cia di rayakan melalui kegiatan ibadah, tradisi keluarga serta berbagai bentuk persiapan menyambut tahun yang baru.

Suasana ini terlihat di kawasan-kawasan pecinan maupun lingkungan tempat tinggal warga.

Sejumlah klenteng mulai di padati umat sejak sore hari. Banyak masyarakat datang untuk berdoa, menyalakan dupa serta memanjatkan harapan baik bagi kesehatan dan kelancaran hidup di tahun yang akan di jalani.

Perayaan malam ini juga identik dengan dekorasi khas seperti lampion merah dan ornamen tahun baru yang menghiasi tempat ibadah maupun jalanan di sekitar pusat komunitas Tionghoa.

BACA JUGA:

Prabowo-Gibran 2029, IPO: 3 Parpol Bisa Angkat Kaki

Selain kegiatan keagamaan, malam Sin Cia juga menjadi waktu berkumpul bersama keluarga besar. Tradisi makan malam bersama sering di lakukan sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap orang tua maupun leluhur.

Bagi banyak keluarga, momen ini di manfaatkan untuk saling berbagi cerita, mempererat hubungan dan menyampaikan doa baik menjelang tahun baru.

Dalam konteks budaya, Sin Cia kerap di pahami berbeda dengan istilah Imlek. Sin Cia lebih merujuk pada momen pergantian tahun. Sedangkan Imlek mencakup keseluruhan rangkaian perayaan tahun baru yang berlangsung lebih panjang.

Selasa 17 Februari 2026 malam tadi menjadi salah satu titik penting dalam tradisi tersebut. Karena menandai di mulainya tahun baru lunar secara resmi.

Perayaan malam Sin Cia pun terus menjadi bagian dari kekayaan budaya di Indonesia. Sekaligus pengingat akan pentingnya kebersamaan, harapan baru dan semangat gotong royong dalam menyambut tahun yang akan datang.

(Jingga Sonjaya)

Halfmoon Alternation Part 2 Sukses Hadirkan Energi Musik Alternatif Bandung

0
Halfmoon Alternation Part 2 fokusjabar.id
Penamilan Band di Halfmoon alternation Part 2 (Foto Istimewa)

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Bandung kembali membuktikan diri sebagai rumah subur bagi musik alternatif. Gelaran Halfmoon Alternation Part 2 yang berlangsung Minggu (15/2/2026) lalu di Pablo Resto & Bar, Jl BKR No 186 Bandung sukses menghadirkan malam penuh energi, atmosfer intim dan perayaan karya dari band-band asal Kota Bandung.

Alternation sendiri merupakan inisiatif kolektif yang di gagas oleh Achill Is Dead (The All Inocent) bersama Ayu, Bintang, Detak, Rendi dan Imam Headan.

BACA JUGA:

Tendostars Lanjutkan Gagasan Melalui “Ahlan Wa Sahlan Ramadhan”

Berangkat dari minimnya ruang tampil bagi band-band karya di Bandung, Alternation hadir sebagai jembatan antara pelaku musik independen dan panggung pertunjukan yang layak dan apresiatif.

Mengusung tema “Halfmoon” untuk volume keduanya, acara ini menyajikan spektrum genre alternatif. Mulai dari grunge, britrock, noiserock, industrial hingga shoegaze.

Line up malam itu menghadirkan 3RD State, Melancholiz, House of Tea, Chucky Caplin, Malalone serta di tutup dengan set enerjik dari DJ Don Z.

Sejak awal acara, suasana hangat dan solid sangat terasa. Penonton yang hadir bukan hanya datang sebagai penikmat. Namun juga sebagai ekosistem, saling mendukung, bernyanyi bersama hingga larut dalam distorsi gitar dan dentuman ritme yang intens.

Setiap band membawa karakter dan warna masing-masing, menciptakan dinamika pertunjukan yang tidak monoton.

House of Tea menghadirkan nuansa shoegaze melankolis yang atmosferik. Melancholiz dengan sentuhan emosional yang kuat, 3RD State dengan eksplorasi sound yang tegas.

Sementara Chucky Caplin dan Malalone memberi warna berbeda yang memperkaya keseluruhan pengalaman musikal malam itu.

DJ Don Z menutup malam dengan set yang membuat audiens tetap bertahan hingga penghujung acara.

BACA JUGA:

Ramadan sebagai Ruang Interaksi Sosial Lintas Agama di Masyarakat

Kesuksesan Halfmoon Alternation Part 2 menjadi bukti bahwa kebutuhan akan ruang ekspresi bagi band-band karya di Bandung sangat nyata.

Antusiasme penonton, kekompakan komunitas serta dukungan media partner dan berbagai pihak menunjukan bahwa Alternation bukan sekedar acara, melainkan gerakan kolektif.

Sebelumna, Alternation Volume 1 bertajuk “New Moon” telah membuka langkah awal dengan menghadirkan Morning Ego, Nnoskoww, Jiga, Monster Replika dan Mavenace.

Kini, di volume ke 2 skalanya semakin matang.  Baik dari sisi konsep, kurasi line up hingga respons audiens.

Dengan semangat kolaborasi yang terus tumbuh, Alternation ke depannya akan melangkah dengan konsep yang lebih besar, produksi yang lebih matang dan jangkauan yang lebih luas.

Jika Halfmoon adalah fase pertumbuhan. Maka volume selanjutnya berpotensi menjadi puncak yang lebih terang dan meriah.

Alternation bukan hanya panggung. Ia adalah ruang temu, ruang apresiasi dan ruang harapan bagi band-band karya untuk terus hidup dan berkembang di Bandung.

(Cita Amalia)

Kenangan Indah Garut Tempo Doeloe

0
Garut tempo doeloe fokusjabar.id
(Dok: Pemda Garut)

GARUT, FOKUSJabar.id: Garut tempo doeloe adalah sebuah kenangan indah yang tak terlupakan. Kota kecil ini di kelilingi gunung dan sawah yang hijau dengan udara yang sejuk dan bersih.

Di Garut tempo doeloe, kita bisa menemukan keindahan alam yang luar biasa. Seperti Kawah Kamojang dan Gunung Papandayan.

BACA JUGA:

Pemkab Garut Dukung Kegiatan Pagelaran Seni HJG ke-213

Pada malam hari, kita bisa menikmati suasana kota yang tenang dan damai yang di iringi suara jangkrik dan hembusan angin lembut.

Selamat datang di ruang waktu, tempat ingatan visual membawa kita kembali ke Garut pada dekade 1910–1920-an. Di mana sebuah masa ketika tanah Priangan di kenal luas sebagai “Swiss van Java.”

Melalui lensa kamera para fotografer masa kolonial, kita di ajak menelusuri wajah Garut tempo doeloe.

Bentang alamnya yang memesona, hotel-hotel megah yang menjadi persinggahan kaum elite serta bangunan-bangunan yang menandai transformasi kota di bawah administrasi Hindia Belanda.

Pada awal abad ke-20, kawasan Cipanas telah berkembang menjadi tujuan wisata unggulan. Pemandian air panas di kaki Gunung Guntur dan panorama pegunungan yang mengelilingi kota menghadirkan lanskap eksotis yang di promosikan secara luas oleh pemerintah kolonial.

Foto-foto yang di pamerkan memperlihatkan hamparan kebun, jalan-jalan tanah yang membelah perbukitan serta suasana pedesaan yang masih alami.

Salah satu ikon kejayaan pariwisata masa itu adalah Hotel Papandayan yang merupakan hotel termewah di Priangan pada masanya.

Bangunan bergaya arsitektur kolonial dengan sentuhan tropis ini berdiri megah, menjadi simbol eksklusivitas dan kemewahan.

Tidak jauh dari Hotel Papandayan, berdiri juga Hotel Ngamplang di kawasan dataran tinggi.

Hotel tersebut menawarkan pemandangan lapangan golf dan pegunungan yang memukau.

Melalui foto-foto hitam putih yang tersaji, kita dapat melihat bagaimana hotel-hotel tersebut bukan sekadar tempat menginap. Namun juga ruang sosial tempat bertemunya pejabat kolonial, pengusaha perkebunan dan wisatawan Eropa.

BACA JUGA:

SPPG Sindanggalih 10 Karangpawitan Garut Beroperasi

Bangunan-bangunan pemerintahan dan fasilitas umum yang muncul dalam dokumentasi visual ini mencerminkan tata kota yang mulai tertata rapi.

Jalan raya yang lebar, jembatan kokoh serta kantor-kantor administrasi menunjukkan hadirnya sistem kolonial yang terstruktur.

Garut tempo doeloe fokusjabar.id
(Dok: Pemda Garut)

Di balik kemegahan arsitektur itu, tersirat dinamika sosial. Yakni, kerja paksa, sistem perkebunan dan stratifikasi masyarakat yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah masa tersebut.

Pameran ini tidak semata menghadirkan romantisme visual. Namun mengajak kita untuk membaca ulang sejarah.

Foto-foto ini adalah arsip, jejak yang membekukan waktu. Mereka menjadi saksi bagaimana identitas Garut di bentuk oleh interaksi antara alam, kolonialisme dan masyarakat lokal.

Di antara lanskap indah dan bangunan megah, tersimpan kisah tentang daya tahan, adaptasi dan perubahan.

Melalui pameran ini, kami mengundang Anda untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan denyut zaman itu.

Membayangkan suara delman di jalanan kota, percakapan dalam bahasa Belanda di beranda hotel serta aktivitas masyarakat pribumi yang menjadi bagian penting dari denyut kehidupan Garut tempo doeloe.

Garut hari ini adalah hasil perjalanan panjang sejarahnya. Dengan menatap foto-foto dari era 1910–1920-an, kita tidak sekadar mengenang masa lalu. Namun juga merawat ingatan kolektif agar sejarah tetap hidup dan memberi makna bagi generasi kini dan mendatang.

(Bambang Fouristian)

Innalillahi wa Innailaihi Rojiun Ibunda Wali Kota Bandung Tutup Usia

0
Wali Kota Bandung fokusjabar.id
Duka menyelimuti keluarga Wali Kota Bandunh Muhammad Farhan. Ibunda tercinta, Nani Rubiyani menunggal dunia pada Selasa (17/2/2026) pukul 22.58 WIB di Kota Bogor (foto: Ist)

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Duka menyelimuti keluarga besar Wali Kota Bandung Jawa Barat (Jabar), Muhammad Farhan. Ibunda tercintanya, Nani Rubiyani meninggal dunia pada Selasa (17/2/2026) pukul 22.58 WIB di Kota Bogor.

Kepergian almarhumah turut menghadirkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar serta jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung.

BACA JUGA:

Pemprov Jabar Atur Jam Masuk ASN Saat Ramadan

Almarhumah di semayamkan di kediaman keluarga di Jalan Penggalang Nomor 1, Kompleks Pertanian Loji, Kota Bogor.

Rencananya, prosesi pemakaman akan di laksanakan pada Rabu, 18 Februari 2026 sekitar pukul 09.00 WIB di TPU Kompleks Pertanian Loji, Kota Bogor.

Atas nama Pemerintah dan seluruh masyarakat Kota Bandung, Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya ibunda Muhammad Farhan.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun. Kami keluarga besar Pemerintah Kota Bandung turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Ibu Nani Rubiyani, ibunda dari Bapak Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Semoga almarhumah husnul khatimah, di ampuni segala dosa-dosanya dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” kata Iskandar.

Ia juga mendoakan agar keluarga yang di tinggalkan. Khususnya Wali Kota Bandung di berikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi cobaan tersebut.

BACA JUGA:

Pemkot Bandung Soroti Penipuan Transfer Booking Hotel Lewat Kontak Palsu

“Kami mendoakan agar Bapak Wali Kota dan seluruh keluarga besar di berikan kesabaran, ketabahan serta kekuatan dalam menghadapi ujian ini. Semoga segala amal ibadah almarhumah di terima dan menjadi cahaya di alam kuburnya,” ucap Dia.

Pemkot Bandung turut mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendoakan almarhumah agar memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa serta keluarga yang di tinggalkan senantiasa di berikan ketabahan.

(Yusuf Mugni)