spot_imgspot_img
Rabu 1 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 120

Besok, Ustadz Adi Hidayat Kajian di Masjid Ar Rohman Pangandaran

0
pangandaran@fokusjabar.id
Masjid Jami Ar Rohman yang di bangun Panglima TNI Jenderal Agus Subianto. Jadi ikon baru Kabupaten Pangandaran.(Nanang Yudi/fokusjabar.id)

PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Ustadz Adi Hidayat (UAH) akan mengisi kajian awal ramadan. Bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di Masjid Jami Ar Rohman, Jalan raya Cijulang Kabupaten Pangandaran, Kamis (19/2/2026) besok.

“Iya betul acaranya besok,” ungkap salah seorang pengurus Masjid Jami Ar Rohman, Engkos, Rabu (18/2/2026).

Sementara, aktivis Eksponen 96 pituin Cijulang, Dadi Abidarda menyampaikan apresiasi dengan kegiatan kajian awal ramadan. Oleh Ustadz Adi Hidayat bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di Masjid Jami Ar Rohman.

Baca Juga: Aktivis Pangandaran Kritik Lokasi Pemantauan Rukyatul Hilal

“Tentunya saya sangat bangga, ulama besar Ustadz Adi Hidayat bisa memberikan kajian di awal bulan suci ramadan. Di Masjid Ar Rohman yang di bangun oleh Bapak Panglima TNI,” ucapnya.

Sebagai pituin putera Cijulang, lanjut Dadi, dia sangat merasa bangga dengan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. Yang selalu memperhatikan tempat asal orangtuanya.

“Luar biasa perhatian dari Bapak Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto terhadap Cijulang. Membangun untuk kepentingan masyarakat,” tuturnya.

Baca Juga: Ribuan Pelajar di Pangandaran Serentak Tanam Jagung

Menyambut ramadan dengan gembira, tulus dan persiapan ilmu adalah kunci meraih berkah. Karena kegembiraan menyambutnya di haramkan dari api neraka.

Dan tingkatkan kualitas ibadah dengan mendekatkan diri pada Al-Qur’an, bertaubat, melatih jiwa. Serta menuntaskan hak sesama manusia, agar ramadan menjadi momentum peningkatan ketakwaan.

Kajian awal ramadan oleh Ustadz Adi Hidayat di Masjid Ar Rohman atau yang di kenal Masjid Baret Hijau. Jalan raya Cijulang Kabupaten Pangandaran rencananya akan di mulai pada pukul 10.00 WIB hingga selesai.

(Nanang Yudi)

Aktivis Pangandaran Kritik Lokasi Pemantauan Rukyatul Hilal

0
Rukyatul Hilal Pangandaran fokusjabar.id
Ilustrasi (foto: web)

PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Pantauan Rukyatul Hilal yang di laksanakan di Pantai Pasir Lasih Desa Kertamukti Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar) tidak pernah terlihat.

‎Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Namun sejak pertama di lakukan pemantauan di lokasi tersebut. Anehnya masih saja di lakukan di lokasi yang sama.

BACA JUGA:

Ribuan Pelajar di Pangandaran Serentak Tanam Jagung

‎Seorang aktivitas kepemudaan di Pangandaran, Padna menyayangkan kejadian tersebut terus berulang. Dia meminta lokasi pemantauan Rukyatul hilal agar di geser ke tempat lain.

‎”Hampir setiap tahun pemantauan hilal di Pasir Lasih tidak terlihat. Mungkin lokasinya tidak cocok. Untuk tahun depan coba pindah tempat,” kata Padna kepada FOKUSJabar, Rabu (18/2/2026).

‎Sebelumya, Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pangandaran, Yayan Herdiana menyebut, penyebab permasalahan tidak terlihat hilal oleh Rukyatul hilal yang tertutup awan. Meski cuaca di nilai sedang baik.

‎”Selain tertutup awan, tadi hilalnya juga di prediksi beradanya di bawah. Makanya tidak biasa terlihat,” kata Yayan.

‎Menurut Yayan, selama pemantauan di Pasir Lasih, pihaknya tidak pernah melihat kemunculan Rukyatul hilal.

‎Bahkan di wilayah Provinsi Jawa Barat, Dia hanya baru menemukan satu kali kemunculannya. Yakni di daerah Subang. Tepatnya di Pondok Bangi ketika posisi hilal berada di tujuh derajat.

‎”D isini paling tiga atau dua derajat. Jadi memang kita agak sedikit kesulitan menemukan hilal,” ungkapnya.

‎BACA JUGA:

Banjir Rutin Hantui Anggaraksan Pangandaran, Warga Desak Normalisasi Sungai Ciseel

‎Menurut Yayan, semua lokasi bisa di gunakan untuk melakukan pemantauan hilal. Terpenting cuaca di lokasi pemantauan sedang dalam kondisi bagus.

‎”Kalau di sini memang cuacanya bagus. Insya Allah terlihat, apalagi tinggi hilalnya di angka lima hingga tujuh derajat, seperti yang terjadi di Subang,” katanya.

‎Ke depan, Pihaknya akan melakukan ikhtiar untuk menentukan titik lokasi yang bagus. Tidak menutup kemungkinan juga di laksanakan di lokasi yang sama.

‎”Kalau masalah cuaca kan tidak ada yang bisa memprediksi. Ya, mudah-mudahan ke depan bisa baik,” pungkasnya.

(Sajidin)

Ribuan Pelajar di Pangandaran Serentak Tanam Jagung

0
Pelajar Jagung Pangandaran fokusabar.id
Pelajar di Pangandaran sedang menanam jagung

PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Ribuan peserta didik dari 425 TK, 287 SD dan 56 SMP di Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar) serentak menanam jagung jenis hibrida.

Kegiatan tersebut dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional dan pendidikan karakter melesat yang di gagas Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami.

BACA JUGA:

Warga Tolak Penataan Parkir di Kawasan Pantai Pangandaran

‎Sejak usia dini, mereka belajar bagaimana cara menyiapkan media tanam, memilah dan memilih bibit jagung serta cara menanam di sekolahnya masing-masing.

‎Mereka menanam jagung di sekitar lahan pekarangan sekolah, polibag serta pemanfaatan potongan galon bekas dengan media tanam yang sudah di edukasi.

‎Kepala Disdikpora Kabupaten Pangandaran, Soleh Supriadi mengatakan, menanam jagung merupakan tindak lanjut dari pendidikan karakter melesat.

‎”Kita melaksanakan green school dengan implementasinya adalah penanaman jagung di seluruh satuan pendidikan,” kata Soleh, Rabu (18/2/2026).

‎Para peserta didik di edukasi terkait cara memilah bibit jagung, menanam, membesarkan dan memanen.

‎”Setelah memanen, tentu ada hasil yang di peroleh dari menanam Jagung. Nah, hasilnya nanti di edukasi oleh guru terkait pengelolaannya,” kata Dia.

‎Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami berharap, anak-anak memiliki karakter pekerja keras.

‎”Selain pekerja keras, mereka juga memiliki jiwa kewirausahaan, semangat kolaborasi dan memiliki kesadaran akan pentingnya kemandirian pangan,” ucap Citra.

BACA JUGA:

Munggahan di Pantai Karapyak Pangandaran, Warga Sambut Ramadhan dengan Suasana Tenang

‎Selain itu, mereka juga di harapkan memiliki keterampilan bertani seperti kakek atau kedua orangtuanya dulu.

‎”Bertani menjadi salah satu bekal mereka dan satu cara bertahan hidup di masa depan nanti,” ujarnya.

(Sajidin)

Disdukcapil Banjar Sesuaikan Jam Layanan Adminduk

0
Disdukcapil kota banjar fokusjabar.id
Kantor Pelayanan Disdukcapil Kota Banjar (foto: Ist)

BANJAR, FOKUSJabar.id: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Banjar Jawa Barat (Jabar) menyesuaikan jam operasional layanan Administrasi Kependudukan (Adminduk) selama bulan Ramadan 1447 H.

Kepala Disdukcapil Kota Banjar, Heri Safari menyampaikan, penyesuaian tersebut di lakukan sesuai Surat Edaran Wali Kota Banjar No000.8/582/SETDA/2026 tentang Penetapan Jam Kerja ASN pada Bulan Ramadan.

BACA JUGA:

Ikhtiar Petani Menjaga Lingkungan di Kota Banjar

Jam operasional layanan Adminduk selama Ramadan adalah sebagai berikut:

– Senin-Kamis: 07.00 WIB – 13.30 WIB

Istirahat: 12.00 WIB – 12.30 WIB

– Jumat: 07.00 WIB – 13.30 WIB

Istirahat: 11.30 WIB – 12.30 WIB

Heri menegaskan, penyesuaian jam layanan ini tidak mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Kami tetap berkomitmen memberikan layanan terbaik. Hanya saja waktunya di sesuaikan agar selaras dengan aktivitas ibadah di bulan Ramadan,” ujarnya.

BACA JUGA:

BCFN Pembuka Jalan, Wali Kota Banjar Dorong Event Bulanan

“Dengan adanya penyesuaian ini, masyarakat di imbau untuk memperhatikan jadwal layanan. Dengan begitu, pengurusan dokumen kependudukan dapat berjalan lancar,” pungkasnya.

(Budiana Martin)

Alasan Gorengan Jadi Menu Favorit Buka Puasa

0
Menu Gorengan fokusjabar.id
(Foto: Freepik)

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Setiap menjelang waktu berbuka puasa, banyak masyarakat Indonesia menantikan momen kuliner yang khas. Di tengah berbagai pilihan takjil, satu jenis makanan selalu menjadi primadona. Yakni, gorengan.

Dari bakwan hingga pisang goreng, camilan ini selalu ramai di buru di pasar-pasar Ramadan.

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan instan. Survei menunjukkan bahwa mayoritas orang Indonesia memilih gorengan sebagai menu favorit saat berbuka.

BACA JUGA:

10 Persiapan Penting Menyambut Hari Pertama Puasa Ramadan

Bahkan lebih tinggi di bandingkan pilihan makanan manis tradisional lainnya. Hal ini menjadikan gorengan sebagai simbol takjil yang sulit tergantikan.

Selain popularitasnya, gorengan juga menawarkan kemudahan. Ketersediaannya melimpah di hampir setiap pasar Ramadan dan gerobak takjil dengan harga relatif murah.

Faktor ini membuatnya bisa di nikmati berbagai kalangan. Mulai dari pelajar hingga pekerja tanpa harus memikirkan isi kantong.

Tekstur garing dan rasa gurih gorengan menjadi alasan lain mengapa banyak orang menyukainya. Setelah seharian berpuasa, kombinasi aroma dan rasa ini terasa pas sebagai pembuka sebelum hidangan utama.

Budaya gorengan sebenarnya sudah mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia sebagai camilan sore atau teman minum teh.

Kebiasaan ini kemudian terbawa saat berbuka puasa, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadan.

Aktivitas “war takjil” memperkuat posisi gorengan di pasar Ramadan. Dalam suasana ramai menjelang maghrib, pembeli berlomba mendapatkan gorengan favorit mereka, menciptakan momen seru yang khas di setiap kota.

Tidak hanya sekadar soal makanan, pasar Ramadan dan gorengan juga menjadi ruang sosial.

Warga dari berbagai latar belakang berkumpul, berbincang, dan berbagi pengalaman saat menunggu adzan maghrib, memperkaya interaksi sosial.

Meskipun di gemari, aspek kesehatan tetap perlu di perhatikan. Konsumsi gorengan secara berlebihan bisa memengaruhi pencernaan dan keseimbangan gizi. Sehingga penting bagi masyarakat untuk menikmatinya secara bijak.

Namun bagi banyak orang, gorengan tetap menjadi bagian menyenangkan dari buka puasa. Karena menghadirkan rasa puas dan nostalgia kuliner yang kuat.

Dengan berbagai faktor itu, ketersediaan, harga, rasa dan nilai budaya gorengan terus mempertahankan statusnya sebagai takjil favorit masyarakat Indonesia setiap Ramadan.

Setiap tahunnya, tradisi berburu gorengan tidak hanya mengisi perut. Tetapi juga mempererat kebersamaan dan semangat komunitas yang selalu hadir di bulan suci.

(Jingga Sonjaya)

Tradisi Ngabuburit dan War Takjil yang Selalu Dinanti

0
Ngabuburit Ramadan fokusjabar.id
(foto: Pixabay)

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Bulan Ramadan di Indonesia selalu membawa nuansa khas yang tak hanya soal ibadah puasa. Salah satu fenomena yang selalu di nantikan adalah momen ngabuburit.

Ngabuburit adalah aktivitas menunggu adzan maghrib yang kerap di penuhi kegiatan santai sekaligus menyenangkan.

BACA JUGA:

Memahami Perbedaan Shalat Tarawih 11 dan 23 Rakaat

Ngabuburit kini lebih dari sekadar menunggu waktu berbuka. Aktivitas ini telah menjadi budaya sosial yang mempererat ikatan keluarga dan komunitas.

Orang-orang bisa mengisinya dengan berjalan-jalan di sekitar lingkungan, membaca Al-Qur’an, mengikuti pengajian atau sekadar berkumpul bersama teman.

Selain kegiatan santai, ngabuburit juga identik dengan berburu takjil. Di mana masyarakat beramai-ramai menuju pasar Ramadan untuk mencari hidangan pembuka puasa.

Tradisi ini lahir dari semangat kebersamaan yang kental dan menjadi salah satu daya tarik unik Ramadan di tanah air.

Pasar Ramadan sendiri selalu ramai menjelang sore. Berbagai pedagang menawarkan kuliner khas. Mulai dari kolak, es campur, cendol hingga kue tradisional yang hanya mudah di temukan selama bulan puasa.

Keberagaman makanan ini membuat suasana pasar semakin hidup dan semarak.

Fenomena “war takjil” muncul ketika pembeli saling berebut makanan favorit di tengah keramaian pasar.

Suasana ini penuh semangat dan antusiasme, membuat momen menjelang berbuka terasa lebih hidup dan menyenangkan.

Tidak sekadar tempat jual-beli, pasar Ramadan menjadi ruang sosial di mana warga dari berbagai usia dan latar belakang saling bertemu.

Percakapan hangat dan interaksi santai menambah pengalaman ngabuburit yang kental dengan nilai kebersamaan.

BACA JUGA:

10 Persiapan Penting Menyambut Hari Pertama Puasa Ramadan

Selain pasar tradisional, beberapa kota juga menggelar festival atau bazaar Ramadan berskala lebih besar.

Acara ini biasanya menghadirkan panggung seni, stan UMKM dan program komunitas. Sehingga suasana Ramadan terasa lebih meriah dan modern.

War takjil bukan hanya soal kecepatan atau strategi memburu makanan. Aktivitas ini mencerminkan semangat solidaritas, berbagi dan kebersamaan. Termasuk melalui pembagian takjil gratis yang kerap di lakukan di berbagai titik kota.

Tradisi ini menjadi pengingat bahwa Ramadan tidak hanya soal ibadah pribadi. Tapi juga tentang mempererat hubungan sosial dan menjaga semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Dengan kombinasi antara ibadah, kuliner dan interaksi sosial, bulan puasa di Indonesia menghadirkan pengalaman unik yang kaya makna.

War takjil menjadi simbol hidupnya tradisi dan budaya bersama di setiap sore Ramadan.

Setiap tahunnya, masyarakat menantikan momen ini dengan penuh antusiasme. Sehingga membuat ngabuburit dan pasar Ramadan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan bulan suci di Indonesia.

(Jingga Sonjaya)

Memahami Perbedaan Shalat Tarawih 11 dan 23 Rakaat

0
Rakaat Shalat Tarawih fokusjabar.id
(foto: web)

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Memasuki bulan Ramadan, shalat Tarawih menjadi salah satu ibadah yang paling di nantikan umat Islam.

Namun di berbagai masjid, pelaksanaannya sering kali berbeda dalam jumlah rakaat. Yakni, 11 dan 23 rakaat.

BACA JUGA:

10 Persiapan Penting Menyambut Hari Pertama Puasa Ramadan

Tarawih merupakan shalat sunnah yang di lakukan pada malam hari setelah Isya selama Ramadan.

Ibadah ini menjadi bagian penting dalam menghidupkan suasana bulan suci melalui shalat berjamaah dan amalan tambahan.

Perbedaan rakaat Tarawih kerap memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Meski begitu, variasi ini sebenarnya sudah di kenal sejak masa awal Islam dan memiliki dasar dalam praktik para ulama serta sahabat.

Tarawih dengan 11 rakaat umumnya terdiri dari 8 rakaat shalat Tarawih dan 3 rakaat witir.

Praktik ini merujuk pada riwayat yang menyebut Rasulullah SAW melaksanakan shalat malam tidak lebih dari 11 rakaat. Baik di Ramadan maupun di luar Ramadan.

Sementara itu, Tarawih 23 rakaat biasanya di kerjakan dalam 20 rakaat Tarawih di tambah 3 rakaat witir.

Jumlah ini sering di kaitkan dengan kebiasaan para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA ketika shalat Tarawih berjamaah mulai di laksanakan secara teratur.

Para ulama menjelaskan bahwa shalat Tarawih tidak memiliki ketentuan jumlah rakaat yang bersifat wajib. Karena itu, baik 11 maupun 23 rakaat tetap di anggap sah sebagai ibadah sunnah.

Beberapa pendapat juga menyebutkan bahwa jumlah rakaat Tarawih pada dasarnya fleksibel. Tidak hanya terbatas pada dua pilihan tersebut. Tetapi dapat bervariasi sesuai kemampuan dan kebiasaan umat.

Di Indonesia, perbedaan ini biasanya di pengaruhi oleh tradisi organisasi keagamaan maupun kebiasaan masjid setempat.

Sebagian jamaah memilih 11 rakaat karena durasinya lebih singkat. Sementara yang lain menjalankan 23 rakaat sebagai bentuk memperbanyak ibadah.

Meski berbeda dalam jumlah, inti dari Tarawih tetap sama. Yakni mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui shalat malam Ramadan.

Kekhusyukan dan ketenangan dalam menjalankan ibadah menjadi hal yang lebih utama.

Masjid-masjid umumnya mengumumkan jumlah rakaat sebelum shalat di mulai agar jamaah dapat menyesuaikan diri.

Langkah ini juga membantu menjaga keteraturan dalam pelaksanaan berjamaah.

Ulama menekankan bahwa perbedaan rakaat Tarawih seharusnya tidak di pertentangkan secara berlebihan. Kedua praktik tersebut sama-sama memiliki dasar kuat dalam tradisi Islam.

Dengan memahami bahwa Tarawih adalah ibadah sunnah yang fleksibel, umat Islam di harapkan dapat saling menghormati perbedaan, menjaga persatuan dan fokus pada semangat Ramadan sebagai bulan ibadah dan kebersamaan.

(Jingga Sonjaya)