spot_imgspot_img
Minggu 4 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Beranda blog Halaman 111

Badan Geologi Ungkap Erupsi Menerus Gunung Anak Krakatau Berakhir

0
Gunung anak krakatau
Ilustrasi

JAKARTA,FOKUSJabar.id: Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung mengalami perubahan aktivitas setelah erupsi menerus yang berlangsung selama sekitar 25 jam akhirnya berakhir. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan episode erupsi tersebut telah selesai, tetapi aktivitas vulkanik gunung api masih terus dipantau.

Episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau dimulai pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut berlangsung hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Dengan rentang waktu tersebut, erupsi menerus tercatat berlangsung selama kurang lebih 25 jam.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, berakhirnya episode tersebut tidak serta-merta membuat aktivitas Gunung Anak Krakatau berhenti. Setelah erupsi menerus selesai, gunung api kembali memperlihatkan pola erupsi Strombolian yang merupakan salah satu karakteristik aktivitas Gunung Anak Krakatau.

BACA JUGA: Erupsi Gunung Anak Krakatau, Sekolah Daring di 6 Wilayah Jabar dan Penerbangan Terganggu

“Setelah episode erupsi menerus berakhir, teramati tiga kali erupsi strombolian dengan warna kolom erupsi hitam. Kembalinya erupsi strombolian yang merupakan karakteristik khas Gunung Anak Krakatau, untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut,” ujar Lana.

Aktivitas setelah berakhirnya erupsi menerus tersebut masih menunjukkan adanya dinamika pada tubuh gunung api. Berdasarkan hasil pemantauan instrumental selama periode 6 hingga 7 September 2026, tingkat kegempaan Gunung Anak Krakatau masih tergolong tinggi sehingga perkembangan aktivitasnya tetap menjadi perhatian Badan Geologi.

Dalam periode pengamatan tersebut, tercatat tiga kali gempa erupsi dan sembilan kali gempa hembusan. Selain itu, alat pemantauan merekam 93 kali gempa low frequency serta 98 kali gempa hybrid atau fase banyak. Aktivitas lainnya berupa empat kali gempa tremor menerus dan satu kali gempa vulkanik dangkal juga terdeteksi dalam periode yang sama.

Kondisi kegempaan tersebut menjadi salah satu alasan pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau tetap dilakukan secara berkelanjutan. Meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, Badan Geologi masih melihat adanya aktivitas vulkanik yang perlu dievaluasi untuk mengetahui perkembangan selanjutnya.

Berdasarkan kondisi terbaru itu, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi juga menilai kemungkinan terjadinya letusan pada beberapa periode berikutnya masih cukup tinggi. Artinya, berakhirnya erupsi menerus yang berlangsung selama 25 jam belum dapat diartikan sebagai berakhirnya potensi erupsi Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi juga masih menetapkan sejumlah potensi bahaya yang perlu diperhatikan selama aktivitas Gunung Anak Krakatau berlangsung. Potensi tersebut meliputi lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Selain itu, aliran lava juga masih dapat terjadi apabila erupsi menerus kembali muncul. Lana menjelaskan, Potensi bahaya utama berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi.

Sejalan dengan kondisi tersebut, Badan Geologi meminta masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pembatasan tersebut diberlakukan sebagai langkah keselamatan mengingat aktivitas vulkanik masih berlangsung dan potensi bahaya belum sepenuhnya berakhir.

BACA JUGA: Halau Abu Vulkanik, Armada Pemadam Kebakaran Basahi Jalan Utama dan Jalur Wisata Bandung

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan. Sementara itu, masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak berasal dari sumber resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan Gunung Anak Krakatau. Pemantauan dilakukan melalui Pos Pengamatan Pasauran di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, serta Pos Pengamatan Kalianda di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Dengan berakhirnya episode erupsi menerus, fokus pemantauan kini diarahkan pada perkembangan aktivitas vulkanik berikutnya dan kemungkinan terjadinya erupsi lanjutan.

(Jingga Sanjaya)

Yayasan Borosngora Tegaskan Makna Tradisi Nyangku, Bukan Menyembah Leluhur

0
CIAMIS, FOKUSjabar.id
Ketpot : Prosesi kirab benda pusaka peninggalan Prabu Borosngora

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Yayasan Borosngora terus mengemban misi menjaga dan merawat warisan leluhur, meliputi cagar budaya hingga nilai-nilai kearifan lokal yang tumbuh di Panjalu. Ketua Pelaksana Adat Nyangku mewakili Yayasan Borosngora, Djohan Rochanda Wiradinata, menyampaikan hal tersebut dalam pidato sambutannya pada Senin (7/9/2026).

Djohan menjelaskan bahwa berdiri sejak 9 Agustus 1983, Yayasan Borosngora kini genap menjalankan peran pelestarian budaya selama 43 tahun.

Baca Juga: Adat Nyangku Ciamis Meriah, Ribuan Warga Saksikan Arak-arakan Pusaka Prabu Borosngora

“Nyangku tidak bermaksud untuk menyembah leluhur,” tegas Djohan.

Nyangku Sebagai Penghormatan Raja Penyebar Islam

Djohan menuturkan bahwa masyarakat menggelar Tradisi Nyangku sebagai sarana mengenang serta menghormati jasa Prabu Borosngora. Rekam sejarah Panjalu mencatat sang raja sebagai sosok kunci yang mensyiarkan ajaran Islam kepada rakyat dan keturunannya.

“Acara Nyangku bermaksud untuk mengenang, kemudian menghormati, bukan menyembah jasa dan peninggalan Prabu Borosngora,” ucapnya.

Prosesi tahunan ini sekaligus menjadi wadah silaturahmi bagi seluruh keturunan Panjalu, baik warga lokal maupun para perantau dari luar daerah.

Falsafah Hidup Panjalu yang Selaras dengan Ajaran Islam

Masyarakat Panjalu memegang teguh papagon, ajaran, serta falsafah hidup yang diwariskan turun-temurun melalui tutur lisan dan tradisi.

Djohan membeberkan bahwa nilai-nilai tersebut tecermin dalam falsafah utama Panjalu:

  • Mangan Kerana Halal: Mengonsumsi makanan dari rezeki yang halal.
  • Pake Kerana Suci: Menggunakan pakaian dan barang dari sumber yang bersih serta suci.
  • Ucap Lampah Sabendrek: Menjaga keselarasan antara ucapan dan perbuatan melalui kejujuran, kesabaran, toleransi, serta sikap saling menghargai.

Djohan menegaskan bahwa seluruh prinsip hidup warisan leluhur ini sangat selaras dengan pedoman keagamaan.

“Falsafah ini sangat sejalan dan selaras sampai kapan pun dengan ajaran Islam yang bersumber dari Kitabullah dan sunnah rasul,” ungkapnya.

(Husen Maharaja)

220 Becak Listrik Bantuan Presiden Prabowo Tiba di Balai Kota Tasikmalaya, Besok Dibagikan

0
TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id
Ket foto : Ratusan Becis, bantuan Presiden Prabowo, terparkir di Halaman Balekota Tasikmalaya, untuk diserahkan secara simbolis oleh Wali Kota Tasikmalaya Selasa besok (fokusjabar/Seda)

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Sebanyak 220 unit becak listrik (Becis) bantuan Presiden RI Prabowo Subianto telah tiba dan berjejer rapi di halaman kantor Balai Kota Tasikmalaya, Jalan Letnan Harun Nomor 1 Bungursari, Senin (7/9/2026). Ratusan armada ramah lingkungan ini sebelumnya sempat mengendap sementara di Markas Brigif Raider 13/Galuh Kostrad.

Pemerintah Kota Tasikmalaya mengagendakan penyerahan bantuan armada Becis ini secara simbolis kepada para pengayuh becak lanjut usia, Selasa (8/9/2026) pagi.

Baca Juga: Mahasiswi Tasikmalaya Hilang Dibawa ke Lampung, Polisi Tangkap Pelaku dalam Waktu 24 Jam

Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan menyambut baik dukungan pemerintah pusat terhadap para pekerja sektor informal di wilayahnya.

“Ya besok Selasa pagi, insyaallah becak listrik sebanyak 220 unit itu, akan kita diserahkan secara resmi kepada para pengayuh becak lansia, yang sudah terdaftar penerima,” ungkap Viman Alfarizi Ramadhan, Senin (7/9/2026) sore.

Viman berharap pengoperasian Becis ini memangkas beban fisik pengayuh lansia sekaligus menggenjot pendapatan harian mereka.

“Kami berharap bantuan ini dapat termanfaatkan dengan baik dan tepat sasaran, serta tidak ada penyalahgunaan. Ke depan, Pemerintah pun akan terus memantau penggunaan becak listrik ini, agar program pemberdayaan lansia ini berjalan secara berkelanjutan,” ujar Viman.

Tahapan Seleksi dan Syarat Penerima Becak Listrik

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tasikmalaya H. Rahman menjelaskan bahwa instansinya menerapkan tiga tahapan ketat sebelum menyerahkan unit Becis kepada para penerima manfaat:

  • Tahap Verifikasi Lapangan: Petugas melakukan pencocokan data calon penerima langsung di lokasi.
  • Tahap Pelatihan Teknis: Para calon penerima mengikuti pelatihan pengoperasian unit selama satu hari di Brigif Raider 13/Galuh Kostrad.
  • Tahap Verifikasi Akhir: Tim menyisir ulang kesesuaian data final calon penerima sebelum prosesi penyerahan resmi.

Rahman mengingatkan seluruh penerima agar tidak memindahtangankan unit bantuan ini dalam bentuk apa pun.

“Becak ini tidak boleh penerima jual atau gadaika. Karena ini merupakan hibah dari Bapak Presiden. Bukti kepemilikannya ada di nomor seri masing-masing unit,” tegas Rahman.

Setiap unit Becis memiliki fasilitas perangkat pengisi daya (charger) mandiri. Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) mengelola operasional penyaluran bantuan ini dengan pendampingan penuh dari Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Respons Pasrah dan Syukur Pengayuh Becak Lokal

Para pengayuh becak menyambut gembira kehadiran transportasi modern ini. Jajang (50), salah satu penarik becak penerima manfaat, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian pemerintah terhadap profesi mereka.

“Terima kasih kepada pemerintah atas bantuan becak, ini tentu kami sangat terbantu karena becak listrik ini lebih cepat, tidak mengeluarkan tenaga besar untuk mengayuh lagi, dan cocok untuk menarik minat para penumpang karena pengantarannya lebih cepat,” ucap Jajang.

(Seda)

Erupsi Gunung Anak Krakatau, Sekolah Daring di 6 Wilayah Jabar dan Penerbangan Terganggu

0
Gunung anak krakatau
Ilustrasi

FOKUSJabar.id: Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau mulai memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat di Jawa Barat pada Senin, 7 September 2026. Abu yang terbawa pergerakan angin mencapai sejumlah wilayah di bagian barat hingga selatan Jawa Barat. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah mengambil sejumlah langkah mitigasi, termasuk mengubah kegiatan belajar mengajar menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Dampak sebaran abu tersebut terlihat dari kebijakan pendidikan yang diberlakukan di sejumlah daerah. Kabupaten Bogor menetapkan PJJ pada Senin, 7 September 2026 hingga Selasa, 8 September 2026. Sementara itu, Kota Sukabumi juga mengalihkan pembelajaran sejumlah jenjang pendidikan ke sistem daring pada Senin, 7 September 2026 sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi udara yang terdampak abu vulkanik.

BMKG terus memantau pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin. Abu masih teridentifikasi hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki atau sekitar 4,57 kilometer. Berdasarkan pengamatan citra satelit Himawari-9 pada pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum membawa sebaran abu ke arah barat. Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan, berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat.

BACA JUGA: Masker Mulai Langka di Bandung Imbas Abu Vulkanik, Farhan Cek Stok dan Antisipasi Harga Melonjak

Hasil pemantauan tersebut menunjukkan bahwa wilayah terdampak tidak hanya berada di sekitar Gunung Anak Krakatau. Pada lapisan atmosfer hingga ketinggian 15.000 kaki, sebaran abu mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, Bengkulu, serta kawasan perairan di sekitarnya. Sementara itu, pada lapisan yang lebih tinggi hingga sekitar 50.000 kaki, pergerakan abu lebih mengarah ke Samudra Hindia dan menjauh dari wilayah Indonesia.

Kebijakan PJJ

Di Kabupaten Bogor, kebijakan PJJ diberlakukan untuk berbagai jenjang pendidikan. Aturan tersebut mencakup PAUD, TK, SD, SMP, serta satuan pendidikan nonformal seperti Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), baik sekolah negeri maupun swasta. Kebijakan yang berlaku pada 7-8 September 2026 itu akan ditinjau kembali berdasarkan perkembangan kondisi abu vulkanik di wilayah Kabupaten Bogor.

Bupati Bogor Rudy Susmanto menyampaikan bahwa keputusan tersebut merupakan langkah sementara untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik terhadap peserta didik. 

“Kami menerapkan sebuah kebijakan di hari Senin tanggal 7 September 2026 hingga tanggal 8 September 2026, yang akan kami evaluasi kembali melihat perkembangan ke depan,” kata dia.

 Meski pembelajaran dilakukan dari rumah, kepala sekolah dan guru tetap diminta datang ke sekolah untuk mendukung kegiatan pembersihan lingkungan dari abu vulkanik.

Rudy juga menekankan perlunya mengurangi aktivitas anak-anak di luar rumah selama kondisi tersebut berlangsung. 

“Anak-anak kita, aset terpenting Kabupaten Bogor, aset terpenting bangsa Indonesia, berada di rumahnya masing-masing dan meminimalisir terpapar atau terkena abu vulkanik,” ujarnya. 

BACA JUGA: Halau Abu Vulkanik, Armada Pemadam Kebakaran Basahi Jalan Utama dan Jalur Wisata Bandung

Selain penerapan PJJ, Pemkab Bogor melanjutkan kegiatan pembersihan abu di lingkungan sekolah dan sejumlah fasilitas umum.

Upaya mitigasi juga dilakukan Pemerintah Kota Sukabumi. Pada Senin, 7 September 2026, Pemkot Sukabumi memberlakukan pembelajaran daring bagi peserta didik PAUD, TK, SD, dan SMP. Kebijakan tersebut diambil karena kondisi udara di wilayah tersebut terdampak sebaran abu vulkanik. Pemerintah kota juga berkoordinasi dengan Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jawa Barat untuk membahas penerapan pembelajaran daring bagi jenjang SMA, SMK, dan SLB.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi Novian Restiadi menjelaskan alasan pemerintah daerah mengalihkan kegiatan belajar mengajar. 

“Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa saat ini telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau, hal tersebut berdampak pada pencemaran udara, Kota Sukabumi termasuk salah satu kota yang terdampak,” ujarnya.

 PJJ untuk jenjang PAUD hingga SMP tersebut diberlakukan sebagai langkah sementara sambil pemerintah memantau perkembangan kualitas udara dan sebaran abu.

Perlindungan terhadap masyarakat di Kota Sukabumi juga dilakukan melalui pembagian masker. Pada Senin, 7 September 2026, Dinas Kesehatan bersama Dinas Perhubungan membagikan masker kepada pengendara di sejumlah lokasi, di antaranya Jalan Suryakencana dan Jalan R. Syamsudin, SH. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pemantauan kondisi udara serta perkembangan sebaran abu vulkanik yang berpotensi berubah mengikuti pola angin.

Dampak erupsi Anak Krakatau di Jawa Barat tidak hanya dirasakan di Kabupaten Bogor dan Kota Sukabumi. Berdasarkan perkembangan pada Senin, 7 September 2026, terdapat enam wilayah Jawa Barat yang menerapkan PJJ akibat sebaran abu vulkanik, yakni Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kota Sukabumi, Kota Depok, dan Kabupaten Purwakarta. Penerapan PJJ di sejumlah daerah tersebut juga berpengaruh terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang operasionalnya disesuaikan sementara di wilayah yang kegiatan belajarnya dialihkan ke rumah.

Pemprov Jawa Barat turut memperkuat langkah mitigasi di daerah-daerah yang mengalami paparan abu dengan intensitas tinggi. Selain kebijakan PJJ, pemerintah menyiapkan dukungan pelayanan kesehatan melalui puskesmas, rumah sakit, pos kesehatan, dan fasilitas kesehatan lainnya. Pemerintah juga menyiapkan posko serta lokasi pengungsian sebagai bagian dari langkah antisipasi apabila kondisi erupsi dan dampak sebaran abu mengalami perkembangan lebih lanjut.

Abu vulkanik juga berdampak terhadap sektor penerbangan di Jawa Barat. Bandara Husein Sastranegara di Bandung sempat ditutup sementara pada Senin, 7 September 2026, setelah terdeteksi adanya sebaran abu vulkanik yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan. Penutupan berlangsung mulai pukul 12.07 WIB hingga 16.00 WIB dan berdampak terhadap delapan penerbangan, yang terdiri dari empat penerbangan kedatangan dan empat penerbangan keberangkatan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, 

“Kertajati menjadi salah satu alternatif pilihan agar penerbangan tetap bisa berjalan dengan baik,” kata dia.

Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih perlu mendapatkan perhatian meskipun episode erupsi menerus telah berakhir. Badan Geologi mencatat erupsi menerus yang dimulai pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB berakhir pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB setelah berlangsung sekitar 25 jam. Setelah episode tersebut selesai, aktivitas vulkanik masih berlanjut dengan terjadinya tiga erupsi Strombolian. Pada Senin, 7 September 2026, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Badan Geologi menilai kemungkinan terjadinya letusan kembali dalam periode berikutnya masih tinggi. Ancaman yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar serta hujan abu dengan intensitas tinggi. Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak abu diminta memperhatikan perkembangan informasi resmi, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika paparan abu meningkat, serta menggunakan masker dan pelindung mata apabila harus melakukan kegiatan di luar rumah.

Pergerakan abu vulkanik juga menjadi perhatian khusus bagi sektor penerbangan karena keberadaannya di atmosfer dapat mempengaruhi jarak pandang dan keselamatan operasional pesawat. Kondisi angin menjadi salah satu faktor penting yang menentukan wilayah yang akan terdampak, sehingga cakupan sebaran abu dapat berubah seiring perkembangan cuaca. Pemerintah dan lembaga terkait terus melakukan pemantauan untuk menyesuaikan langkah mitigasi dengan kondisi terbaru.

Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau telah meluas sehingga memengaruhi berbagai aktivitas di Jawa Barat. Selain menyebabkan perubahan sistem pembelajaran di enam wilayah, abu vulkanik juga mendorong pembagian masker, penguatan layanan kesehatan, pembersihan fasilitas publik, hingga penyesuaian operasional penerbangan. Dengan status Gunung Anak Krakatau yang masih berada pada Level III atau Siaga, masyarakat diminta tetap mengikuti informasi dari lembaga resmi dan memperhatikan kondisi lingkungan di wilayah masing-masing.

(Jingga Sonjaya)

Mahasiswi Tasikmalaya Hilang Dibawa ke Lampung, Polisi Tangkap Pelaku dalam Waktu 24 Jam

0
Tasikmalaya, FOKUSjabar.id
Ket foto : Pria pembawa kabur Mahasiswi ke Lampung berinisial JCP (31), saat digelandang ke Mapolres Tasikmalaya (ist Polres)

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tasikmalaya, Polda Jawa Barat, berhasil membongkar kasus hilangnya seorang mahasiswi asal Kecamatan Taraju. Polisi menemukan korban sekaligus menangkap seorang pria yang membawanya lari hingga ke Provinsi Lampung.

Korban bernama Citra Mutiara Putri (23), warga Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya. Sebelumnya, pihak keluarga melaporkan kehilangan Citra setelah ia berpamitan pamit mengerjakan skripsi di kampus namun tidak kunjung pulang.

Baca Juga: Fespin ke-13, Payung Geulis Kota Tasikmalaya Tampil Mempesona di Taman Balekambang Solo

Petugas mengamankan seorang tersangka berinisial JCP (31). Pria ini berstatus pegawai PPPK dan berdomisili di wilayah Rajabasa, Kota Bandar Lampung.

Awal Mula Asmara dari Game Online Mobile Legends

Kapolres Tasikmalaya AKBP Ade Papa Rihi membeberkan bahwa hubungan keduanya bermula dari permainan daring Mobile Legends. Keduanya lalu bertukar nomor WhatsApp dan menjalin hubungan asmara jarak jauh selama hampir satu tahun.

Tersangka mengaku masih lajang dan berjanji akan menikahi korban. JCP lantas membujuk korban untuk bertemu sekaligus berjanji mengenalkan korban kepada keluarga besarnya di Lampung.

“Ajakan tersebut kemudian membuat korban bersedia untuk bertemu dengan tersangka di Bandung, setelah itu keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju Lampung,” ungkap AKBP Ade Papa Rihi, Senin (7/9/2026).

Pelaku Ternyata Beristri dan Jerat Korban Pakai Pinjol

Janji manis tersangka rupanya hanya buaian belaka. Setibanya di Lampung, tersangka tidak kunjung membawa korban ke rumah keluarganya dengan alasan orang tuanya sedang bepergian.

“Pelaku ini tidak menepati janjinya, ia tidak mengenalkan korban kepada orang tuanya dengan alasan keluarganya sedang tidak berada di rumah. Korban dan tersangka justru berpindah-pindah tempat penginapan di wilayah Lampung,” ujar AKBP Ade Papa.

Tersangka bahkan membiayai sewa penginapan menggunakan pinjaman online (pinjol) atas nama identitas korban. Korban pun akhirnya sadar bahwa tersangka rupanya sudah memiliki istri sah.

Polisi Gerak Cepat Tangkap Pelaku dalam 24 Jam

Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya, AKP Heru Samsul Bahri, menjelaskan bahwa timnya langsung melacak keberadaan korban setelah menerima laporan resmi dari keluarga.

“Polisi langsung bergerak, dengan melakukan pencarian ke sejumlah lokasi, hingga akhirnya kita berhasil menemukan korban sekaligus mengamankan tersangka di wilayah Lampung, Sumatera,” ungkap AKP Heru.

Penyidik menjerat tersangka dengan Pasal 454 dan/atau Pasal 450 KUHP tentang tindak pidana membawa lari perempuan. JCP terancam hukuman penjara maksimal 12 tahun.

Keluarga korban mengapresiasi kinerja kepolisian yang bergerak cepat merespons laporan. Paman korban, Fajar (50), mengucap syukur lantaran keponakannya bisa pulang selamat.

“Alhamdulillah, dalam waktu selama 24 jam setelah melaporkan kehilangan, polisi berhasil mengungkap dan membawa korban serta menangkap pelakunya,” puji Fajar.

(Seda)

Masker Mulai Langka di Bandung Imbas Abu Vulkanik, Farhan Cek Stok dan Antisipasi Harga Melonjak

0
BANDUNG, FOKUSjabar.id
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan (FokusJabar.id/Yusuf Mugni)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bergerak cepat mengecek stok masker di pasaran menyusul lonjakan permintaan warga akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menurunkan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) untuk memantau langsung jaringan pasar modern hingga toko alat kesehatan. Langkah ini merespons laporan warga terkait mulai langkanya stok masker, terutama ukuran anak-anak.

Baca Juga: Siswa di Bandung Wajib Pakai Masker Imbas Abu Vulkanik, Farhan Pastikan Sekolah Tetap Tatap Muka

“Oh ya? Nanti saya cek ke toko-toko supaya distribusinya ada lagi. Jangan sampai ada overpriced,” kata Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (7/9/2026).

Antisipasi Lonjakan Harga dan Praktik Spekulasi

Farhan menegaskan pihak pemerintah memprioritaskan pemantauan rantai pasok agar tidak ada oknum yang memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga secara tidak wajar.

“Nanti saya pastikan ke Disdagin, terutama untuk modern market. Masker itu kan modern market sama alat kesehatan,” katanya.

Pertimbangan Opsi Opsi Pembagian Masker Gratis

Selain menjaga kestabilan pasokan di toko swalayan, Pemkot Bandung mengkaji opsi pembagian masker gratis kepada warga. Namun, Farhan memilih memeriksa kesiapan persediaan internal di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung terlebih dahulu.

“Saya akan tanyakan dulu kondisi stok di Dinkes,” ucapnya.

Farhan memperhitungkan dampak aksi aksi pemborongan masker oleh pemerintah. Langkah aksi borong secara massal justru berisiko memicu kelangkaan di tingkat pengecer dan mengerek harga jual.

“Saya juga enggak mau kita mengumpulkan dan membagikan gratis, tapi ternyata di pertokoan tidak ada, malah harganya jadi naik gila-gilaan,” jelasnya.

Pihak Pemkot Bandung terus menyusun skema terbaik agar masyarakat mendapatkan perlindungan pernapasan tanpa merusak stabilitas harga di pasar.

“Kalau membagikan itu, saya mesti beli ramai-ramai. Ketika saya borong, harga di toko pasti naik semua. Nanti saya akan upayakan supaya itu tidak terjadi,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

Siswa di Bandung Wajib Pakai Masker Imbas Abu Vulkanik, Farhan Pastikan Sekolah Tetap Tatap Muka

0
BANDUNG, FOKUSJabar.id
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mewajibkan seluruh siswa di Kota Bandung menggunakan masker saat beraktivitas di sekolah. Kebijakan ini diberlakukan sebagai langkah antisipasi terhadap paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. (FokusJabar.id/Yusuf Mugni)

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mewajibkan seluruh siswa di Kota Bandung mengenakan masker saat mengikuti kegiatan di sekolah. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menerbitkan instruksi ini sebagai langkah pencegahan dari bahaya paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Farhan menegaskan bahwa pemakaian masker menjadi langkah perlindungan utama bagi anak-anak sekolah dari ancaman abu vulkanik yang melayang di udara.

Baca Juga: Halau Abu Vulkanik, Armada Pemadam Kebakaran Basahi Jalan Utama dan Jalur Wisata Bandung

“Saya wajibkan, anak-anak ke sekolah harus pakai masker,” kata Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (7/9/2026).

Kegiatan Belajar Tatap Muka Tetap Berjalan Tanpa PJJ

Meski menerbitkan aturan wajib masker, Farhan memastikan Pemkot Bandung belum menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Kondisi kualitas udara dan lingkungan sekolah saat ini masih aman untuk proses belajar mengajar secara langsung. “Enggak, anak-anak masih bisa sekolah,” katanya.

Farhan memantau langsung pelaksanaan aturan ini ke sejumlah fasilitas sekolah. Ia melihat mayoritas siswa sudah tertib memakai masker. Selain itu, pihak pengelola sekolah mendapat instruksi khusus untuk membersihkan sisa endapan debu vulkanik di area kelas dan halaman sekolah.

Kondisi Kesehatan Warga Bandung Dipastikan Masih Aman

Farhan mengingatkan bahaya abu vulkanik yang tidak hanya mengancam organ pernapasan manusia, tetapi juga merusak mesin penerbangan.

“Abu vulkanik ini tidak hanya berbahaya untuk kesehatan, tetapi juga untuk mesin pesawat terbang karena sama-sama menghirup udara,” jelasnya.

Pihak Pemkot Bandung memastikan belum ada laporan warga maupun anak sekolah yang menderita sakit akibat dampak sebaran debu vulkanik ini.

“Sampai hari ini belum ada keluhan orang sakit karena abu vulkanik,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)