spot_imgspot_img
Jumat 23 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Gempa Tibet: 16 Tewas dan 339 Rumah Porak Poranda

TIBET, FOKUSJabar.id: Gempa bumi magnitudo 7 mengguncang wilayah pegunungan Tibet, Tiongkok pada 22 Oktober 2026 pukul 22:33:39 waktu setempat.

Gempa bumi tersebut menewaskan 16 orang, puluhan warga terluka dan menyebabkan 339 rumah runtuh, memutus aliran listrik serta memicu longsoran batu yang menghambat akses tim penyelamat ke sejumlah wilayah terdampak.

BACA JUGA:

Gempa M 5,7 Guncang Selatan Jabar, BMKG Pantau Aktivitas Susulan

Kantor berita Xinhua melaporkan, pusat gempa berada di Baqen County, wilayah Nagqu, Tibet. Informasi tersebut mengutip biro penanganan darurat setempat.

Otoritas setempat telah menetapkan status darurat dan mengerahkan tim penyelamat untuk menangani dampak bencana.

Besarnya kerusakan dan kondisi geografis wilayah yang berada di dataran tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi proses evakuasi.

Sejumlah jalan di laporkan di tutup akibat guguran batu sehingga menyulitkan petugas menjangkau kawasan terdampak paling parah.

Pemadaman listrik juga terjadi di wilayah terdampak. Kondisi ini berpotensi memperumit upaya pencarian dan penyelamatan. Terutama di kawasan pegunungan dengan akses transportasi terbatas.

Getaran gempa turut di rasakan di sejumlah kota lain di Tibet. Termasuk Qamdo dan Nyingchi.

Guncangan yang meluas menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya di rasakan di sekitar pusatnya.

Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga berlarian keluar rumah ketika bangunan berguncang hebat pada malam hari.

Namun, keaslian dan lokasi rekaman tersebut belum dapat di verifikasi secara independen.

Wilayah Pegunungan Tibet Rawan Gempa

Mengutip JawaPos.com, Tibet merupakan salah satu kawasan yang rentan terhadap aktivitas seismik karena berada di wilayah pertemuan lempeng tektonik India dan Eurasia.

Tumbukan kedua lempeng tersebut turut membentuk Pegunungan Himalaya dan menghasilkan aktivitas geologi yang intens di kawasan sekitarnya.

Risiko gempa di kawasan ini di perbesar oleh kondisi geografisnya. Permukiman yang berada di dataran tinggi, medan pegunungan, serta jalan yang melintasi lereng curam dapat membuat penanganan bencana lebih sulit. Terutama ketika gempa memicu longsoran batu.

BACA JUGA:

118 Gempa Terjadi di Kabupaten Bandung, BMKG Ungkap Kaitannya dengan Sesar Aktif

Pada Desember 2023, gempa magnitudo 6,2 mengguncang wilayah Gansu, Tiongkok. Waktu itu, menewaskan lebih dari 120 orang. Bencana tersebut menjadi salah satu contoh dampak mematikan gempa di kawasan barat laut Tiongkok.

Tibet dan Nepal juga sebelumnya dilanda banjir besar serta tanah longsor yang dikaitkan dengan runtuhnya gletser.

Bencana yang terjadi kurang dari dua bulan sebelum laporan tersebut disebut menewaskan sedikitnya 1.400 orang. Sementara ratusan lainnya masih dilaporkan hilang.

Meski sama-sama berkaitan dengan kondisi alam di kawasan pegunungan, gempa bumi dan bencana akibat runtuhnya gletser memiliki mekanisme berbeda.

Keduanya memperlihatkan besarnya risiko bencana yang dihadapi masyarakat di wilayah Himalaya dan sekitarnya.

Selain menghadapi tantangan geografis, penyampaian informasi dari Tibet juga memiliki keterbatasan.

Wilayah tersebut berada di bawah kendali ketat pemerintah Tiongkok dan akses media asing dibatasi.

Karena itu, media pemerintah Tiongkok, termasuk Xinhua menjadi salah satu sumber utama informasi mengenai perkembangan bencana di kawasan tersebut.

Keterbatasan akses independen membuat verifikasi jumlah korban, tingkat kerusakan, dan kondisi di lapangan menjadi penting.

Hingga informasi dalam laporan awal tersebut disampaikan, otoritas setempat telah mengerahkan tim penyelamat dan menetapkan status darurat.

Perkembangan operasi pencarian, penanganan korban, serta pendataan kerusakan masih menjadi hal penting untuk memastikan skala dampak gempa di Tibet.

(Bambang Fouristian)

spot_img

Berita Terbaru