PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Sebanyak 1.400 porsi Pindang Gunung disiapkan untuk memeriahkan rangkaian Milangkala ke-14 Kabupaten Pangandaran.
Kegiatan Festival Ekonomi Kreatif Kuliner Pindang Gunung ini menjadi upaya pemerintah daerah bersama pelaku usaha untuk memperkenalkan kuliner khas Pangandaran kepada masyarakat dan wisatawan.
Festival melibatkan pelaku usaha dari sejumlah kawasan wisata, mulai dari Karapyak, Pangandaran, Batukaras, Green Canyon, Madasari hingga Batu Hiu.
Baca juga: Begini Cara Puskesmas Sindangwangi Pangandaran Putus Rantai TBC
Kepala Bidang Industri Pariwisata, Investasi dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Budaya dan Kebudayaan (Disparbud) Pangandaran, Rico Aprianto Purnama, mengatakan para pelaku usaha diminta berpartisipasi mengirimkan Pindang Gunung sesuai kemampuan masing-masing.
“Alhamdulillah mereka merespons baik dan mendukung kegiatan Milangkala ke-14 ini,” kata Rico.
Menurutnya, pemilihan Pindang Gunung sebagai menu utama bukan tanpa alasan. Kuliner tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2026 kemarin.
Penetapan itu menjadi momentum bagi pemda dan pelaku usaha untuk semakin mengenalkan Pindang Gunung sebagai makanan khas Pangandaran.
Adapun jumlah 1.400 porsi dipilih untuk menyelaraskan kegiatan dengan usia Kabupaten Pangandaran yang memasuki tahun ke-14. Setelah melalui penilaian dewan juri dan kunjungan Forkopimda, Pindang Gunung tersebut dibagikan kepada peserta yang hadir.
Dari Ikan Marlin
Salah satu peserta, dari Ideas Villas Pangandaran, turut menyajikan 20 porsi Pindang Gunung dengan konsep unik.
“Iya, ini kita dari Ideas Villas untuk konsepnya kita ngambil dari ikannya ikan Marlin. Untuk dagingnya kita ngambil dari ikan kakap. Jadi cuma rangkanya aja yang kita ambil identik ke ikan Marlinnya,” kata Pardodi dari ideas Villas Pangandaran.
Dari tampilan makanannya sengaja di buat menarik. Menurut Pardodi, Pindang gunung di sajikan di atas kelapa yang di belah menjadi dua.
Dari segi rasa, ia menyebut Pindang Gunung buatannya dominan gurih. Hanya saja tingkat kepedasannya masih kurang.
“Untuk segi rasa oke, lebih ke gurih. Cuma yang kurang pedas aja,” ujarnya.
Baca Juga: Alun-alun Pangbagea Kumuh, Begini Kata Camat Parigi
Pardodi mengaku memasak sekitar 2 kilogram ikan untuk 20 porsi tersebut. Porsinya pun ludes diserbu pengunjung.
“Untuk masak sekitar 2 kiloan. Kebetulan udah habis mangkok-mangkoknya,” katanya.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat digelar dengan skala lebih besar. Bahkan, muncul rencana untuk mengupayakan pencatatan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
(Sajidin)



