PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Upaya penemuan kasus tuberkulosis (TBC) terus diperkuat di Kabupaten Pangandaran. UPTD Puskesmas Sindangwangi melakukan penjaringan melalui pemeriksaan rontgen paru untuk deteksi dini sekaligus memutus rantai penularan.
Kepala UPTD Puskesmas Sindangwangi, Suharto, mengatakan dari hasil penjaringan ditemukan sekitar 15 hingga 16 kasus positif TBC. Para penderita wajib menjalani pengobatan tuntas agar tidak menular.
Menurutnya, penanganan TBC tidak cukup hanya pada pasien positif. Pemeriksaan juga harus dilakukan terhadap kontak erat, mulai dari anggota keluarga hingga lingkungan sekitar.
Baca juga: Alun-alun Pangbagea Kumuh, Begini Kata Camat Parigi
“Kalau satu titik ditemukan positif, yang diperiksa juga orang-orang di sekelilingnya, seperti suami, istri, anak, dan orang yang tinggal dalam satu rumah. Penjaringan ini penting untuk menemukan kasus baru,” kata Suharto di ruang kerjanya Rabu, (21/10/2026).
Ia menjelaskan, pengobatan TBC berlangsung lama dan harus sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Kepatuhan minum obat penting untuk menekan risiko penularan dan resistansi obat.
Risiko lebih berat terjadi jika pasien mengalami TBC resistan obat atau multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB). Kondisi ini membuat pengobatan lebih kompleks dan membutuhkan penanganan khusus.
Upaya Deteksi Dini
Untuk mempercepat penemuan kasus, pemeriksaan rontgen paru menjadi salah satu upaya deteksi dini. Masyarakat berisiko diharapkan dapat diketahui kondisi kesehatannya lebih awal.
Suharto menuturkan, penanggulangan TBC menjadi bagian dari target pemerintah mengeliminasi penyakit tersebut pada 2030. Karena itu partisipasi masyarakat dalam pemeriksaan dan pengobatan sangat dibutuhkan.
“Kalau ditemukan kasus positif, harus diobati dengan baik dan benar. Tujuan pengobatan TBC adalah memutus mata rantai penularan,” ujarnya.
Baca Juga: Toko Kelontongan di Mangunjaya Pangandaran Kebakaran
Sementara itu, pemeriksaan rontgen paru gratis dijadwalkan di halaman Kantor Desa Karangsari, Kecamatan Padaherang.
Sasarannya meliputi kontak erat penderita TBC, masyarakat dengan batuk lebih dari tiga hari, orang dengan HIV (ODHIV), penderita diabetes melitus, serta anak dengan malnutrisi.
Melalui kegiatan itu, Puskesmas Sindangwangi berharap masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan paru dan tidak mengabaikan pemeriksaan, terutama bagi yang memiliki faktor risiko.
(Sajidin)



