spot_imgspot_img
Rabu 14 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Pangandaran Siapkan 90 Tandon Air untuk Atasi Kekeringan, Anggaran Capai Rp596 Juta

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menyiapkan 90 unit tandon air berkapasitas 2.000 liter demi mengakselerasi penanganan kekeringan yang melanda berbagai wilayah. Langkah pengadaan infrastruktur penampungan ini bertujuan memangkas durasi distribusi air bersih kepada warga terdampak.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran menilai keterbatasan tempat penampungan air milik warga menjadi hambatan utama dalam proses penyaluran air selama musim kemarau.

Baca Juga: Bupati Pangandaran Citra Pitriyami Naik Kuda Lumping, 100 Penari Meriahkan Milangkala ke-14

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, Dodo Kusnadi, membeberkan bahwa petugas membutuhkan waktu cukup panjang untuk menyuplai air. Selain menempuh perjalanan hingga dua jam menuju lokasi, proses pembongkaran air dari mobil tangki sering terhambat oleh wadah penampungan warga yang relatif kecil.

“Permasalahannya itu di tandon. Sekarang Bupati sedang pengadaan tandon,” kata Dodo Kusnadi, Rabu (14/10/2026).

Anggaran Kedaruratan Rp596 Juta dan Skema Penempatan Tandon

Pemerintah daerah merencanakan penempatan 90 unit tandon tersebut di titik-titik krusial tingkat desa dan dusun berdasarkan rekomendasi pemerintah desa setempat.

Setiap unit tandon mampu menampung hingga 2.000 liter air. BPBD menargetkan proses pengadaan ini terealisasi pada pekan ini atau paling lambat pekan depan.

Pengadaan fasilitas ini menyedot alokasi dana kedaruratan sebesar Rp596 juta lebih.

Di tengah kondisi krisis air, BPBD Pangandaran terus mengguyur bantuan air bersih ke desa-desa yang mengajukan permohonan. Dodo menjelaskan bahwa pihaknya mengandalkan tiga sumber pasokan air utama, yakni jaringan PDAM, kawasan Citumang, dan Cidamulih.

Kendala Lapangan: Petugas Salurkan Air Hingga Dini Hari

Dalam operasional harian, BPBD mengucurkan sekitar 20.000 liter air per hari atau setara empat armada tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter.

Proses pengisian air memerlukan waktu sekitar 30 menit. Sementara perjalanan armada menuju titik bagi memakan waktu antara 30 menit hingga dua jam, tergantung jarak tempuh.

“Lamanya proses distribusi juga dipengaruhi kondisi tempat penampungan air warga. Petugas terkadang harus menyalurkan air ke wadah berukuran kecil, seperti ember dan galon, sehingga proses pembongkaran air bisa berlangsung hingga dua jam,” ujar Dodo.

Kondisi ini menuntut para petugas bekerja ekstra hingga malam hari, bahkan tidak jarang penyaluran air berlanjut hingga menjelang subuh.

Sinergi Lintas Instansi dan Dukungan Operasional

Guna memperkuat jangkauan penanganan kekeringan, sejumlah lembaga turut menerjunkan armada bantu. Setelah berkoordinasi dengan DPRD dan pihak terkait, kini enam unit armada tangki beroperasi secara terpadu gabungan dari BPBD, PDAM, Palang Merah Indonesia (PMI), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), dan Taruna Siaga Bencana (Tagana).

Guna mendukung kelancaran pergerakan di lapangan, BPBD mengalokasikan anggaran operasional untuk kebutuhan bahan bakar armada dan transportasi petugas. BPBD bahkan menambah alokasi dana operasional yang sebelumnya berada di kisaran Rp100 juta melalui perubahan anggaran.

Di sisi lain, beberapa pemerintah desa seperti Desa Cintakarya turut mengambil inisiatif mandiri dengan mengangkut dan menyalurkan air bersih bagi warganya. Melalui kombinasi penambahan tandon dan pengerahan armada gabungan ini, Pemkab Pangandaran berharap penyaluran air bersih dapat berjalan lebih efektif dan menjangkau seluruh kawasan terdampak.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru