spot_imgspot_img
Rabu 14 Oktober 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Festival Sastra Langgam 2026 Hadir di Tasikmalaya, Ada Perayaan 70 Tahun Godi Suwarna

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Kota Tasikmalaya kembali menegaskan posisinya sebagai ruang tumbuh yang hangat bagi dunia literasi dan kebudayaan tanah air. Komunitas Langgam Pustaka Indonesia menginisiasi perhelatan tahunan bertajuk Festival Sastra Langgam 2026 yang terpusat di Langgam Coffee and Book, PDK, Kota Tasikmalaya pada 19 hingga 21 Oktober 2026.

Festival ini bukan sekadar panggung pertunjukan karya tulis biasa. Panitia merancang acara ini sebagai ruang perjumpaan inklusif yang mempertemukan para penulis, pembaca, seniman, hingga masyarakat umum dalam lingkaran dialog budaya.

Baca Juga: Retribusi Lapak Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya Bakal Naik 25 Persen, Pedagang Ajukan Syarat Ini

Panitia Penyelenggara, Agus Salim, menyampaikan bahwa festival ini menjadi ruang perenungan sekaligus perayaan atas dinamika kesusastraan lokal maupun nasional.

“Festival ini merupakan bentuk apresiasi terhadap karya tulis dan perjalanan puitik. Serta rekam jejak tokoh-tokoh besar dalam kesusastraan Sunda dan nasional,” ungkap Agus Salim saat menyampaikan keterangannya pada Rabu (14/10/2026).

Hari Pertama: Membedah Kedalaman Makna ‘Batu yang Dililit Ari’

Rangkaian festival berhembus mulai Senin, 19 Oktober 2026, pada pukul 15.30–17.30 WIB. Sesi pembuka ini mengulas cetakan terbaru buku karya Mufidz At-thoriq yang berjudul Batu yang Dililit Ari.

Alexandreia Indri Wibawa dan Azis Fahrul Roji akan memandu diskusi untuk membawa pengunjung menyelami perspektif pembacaan yang segar dan reflektif.

“Festival mulai pada Senin, 19 Oktober 2026, pukul 15.30–17.30 WIB lewat sesi bincang buku karya Mufidz At-thoriq bertajuk Batu yang Dililit Ari (cetakan terbaru),” terang Agus Salim.

“Sesi pembuka ini untuk memantik dialog kritis mengenai bagaimana sebuah teks sastra merespons realitas dan pengalaman kemanusiaan,” tambahnya.

Hari Kedua: Menyelami Karya Puitis Acep Zam-Zam Noor

Atmosfer perenungan puitis berlanjut pada hari kedua, Selasa, 20 Oktober 2026, di jam yang sama (15.30–17.30 WIB). Festival Sastra Langgam mengajak publik menguliti karya penyair ternama Acep Zam-Zam Noor melalui kumpulan puisinya, Remang Jalan ke Surau.

Sastrawan Bode Riswandi hadir sebagai pemantik diskusi untuk mengurai proses kreatif di balik bait-bait puisi Acep.

“Hadir sebagai pemantik, Bode Riswandi yang akan mengurai proses kreatif dan pengendapan gagasan di balik bait-bait puitis Acep Zam-Zam Noor,” jelas Agus Salim.

Sesi ini memfasilitasi para penikmat sastra untuk memahami olahan perenungan personal dan pengamatan sosial. Serta pengalaman spiritual menjadi ungkapan bahasa yang bernilai estetika tinggi.

Puncak Perayaan: Dedikasi 70 Tahun Maestro Godi Suwarna

Puncak acara pada Rabu, 21 Oktober 2026, menghadirkan selebrasi emosional. Seluruh agenda hari ketiga menjadi bentuk penghormatan khusus atas perjalanan 70 tahun usia budayawan sekaligus maestro sastra Sunda, Godi Suwarna.

Panitia mengemas puncak perayaan ini ke dalam tiga segmen utama:

  • Parade Pembacaan Sajak (15.30–17.30 WIB): Belasan penyair dan perupa lintas generasi asal Tasikmalaya dan Ciamis menggemakan puisi-puisi karya sang maestro. “Para penyair yang ambil bagian antara lain Toni Lesmana, Wida, Devi, Jessica Purboyo, Orok Kapas, Pongkir Wijaya, Dede Iya, Fitri Najayanti, Rika Johara, Inggri Dwi Rahesi, Yana S. Atmawiharja, Tatang Pahat, Bode Riswandi, Ashmansyah Timutiah, serta sang maestro sendiri, Godi Suwarna,” tutur Agus Salim.
  • Harmoni Musikalisasi Puisi: Pada malam hari, Kelompok 7K oleh Topan dan Dani Ebell menyuguhkan pertunjukan musikalisasi puisi yang intim dan merdu.
  • Bincang Buku Memorial: Sesi pamungkas membedah buku memorial Ringkang Sang Pangarang yang merangkum 20 memoar serta kesaksian para seniman Sunda tentang sosok Godi Suwarna. Nunu Nazarudin Azhar bertindak sebagai pemantik diskusi. “Sesi ini memotret rekam jejak, humanitas, dan dedikasi Godi Suwarna dalam merawat ingatan kolektif kebudayaan Sunda,” pungkas Agus Salim.

Terbuka dan Gratis untuk Seluruh Masyarakat

Langgam Pustaka Indonesia menegaskan komitmennya dalam merawat ekosistem kebudayaan lokal agar terus dekat dengan generasi muda. Oleh karena itu, panitia membuka seluruh rangkaian Festival Sastra Langgam 2026 secara gratis untuk umum.

Masyarakat, pelajar, mahasiswa, hingga pegiat komunitas dapat langsung mendaftarkan diri dengan mengisi formulir registrasi di lokasi acara pada setiap sesi.

(Abdul Latif)

spot_img

Berita Terbaru