TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Suasana Aula Universitas Islam Tasikmalaya (Unitas) berlangsung hangat, Sabtu (10/10/2026). Forum Silaturahmi Selasar Masjid Agung atau Forum Silaturahmi Solusi Masyarakat (FOSSMA) Tasikmalaya menggelar Musyawarah Kerja Ke-1 yang mengusung Diskusi Panel Nasional bertajuk “Dari Tasikmalaya untuk Indonesia” bersama moderator Asep M Tamam.
Pertemuan ini menghimpun suara akademisi, politisi, pengusaha, hingga ulama. Para tokoh menyampaikan harapan, keprihatinan, sekaligus solusi konkret demi mewujudkan masa depan Kota Santri yang sejahtera.
Baca Juga: Seleksi Perangkat Desa Cipatujah Tasikmalaya Diadukan ke DPMD
Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Global
Anggota DPR RI dua periode dari PPP, Hj Nurhayati Efendi, memaparkan potensi ekonomi Tasikmalaya yang mengakar kuat pada budaya lokal. Ia mendesak pemerintah agar mendampingi pelaku usaha lokal secara masif.
“Bagaimana produk Tasikmalaya bisa menjadi penggerak ekonomi nasional? Produknya harus memiliki kualitas yang baik dan pemerintah bisa membantu melakukan pemberdayaan agar potensi Tasikmalaya bisa bersistem di tingkat global. Modal sosial Tasikmalaya sangat luar biasa dengan adanya budaya pesantren, dan ini adalah modal sosial yang luar biasa,” tegas Hj Nurhayati Efendi.
Sementara itu, pengusaha Tasikmalaya H Yanto Oce menekankan bahwa kemajuan pembangunan fisik Kota Tasikmalaya harus berjalan seiring dengan kekuatan spiritual serta sinergi antarumat.
“Mandiri, maju, sejahtera bisa terwujud dengan sinergi antar umat yang ada di Kota Tasikmalaya. Ketika sudah bersinergi, maka semuanya, seperti hormon dalam tubuh, muncul untuk bersama-sama membangun Tasikmalaya,” ujar H Yanto Oce.
Refleksi Filosofi Payung Geulis dan Isu Anak
Rektor Unitas, Dr Ade Zaenul, mengajak jajaran pemimpin daerah merenungi kembali filosofi Payung Geulis pada logo Kota Tasikmalaya sebagai simbol pengayoman masyarakat. Ia prihatin melihat masih maraknya kasus sosial seperti geng motor, kemiskinan, hingga anak putus sekolah.
“Pada logo Kota Tasikmalaya itu ada payung geulis dan ini keunggulan Kota Tasikmalaya. Ini bukan hiasan tapi filosofis, bahwa pemerintah harus bisa menaungi semua golongan, dan Tasikmalaya jadi kota yang nyaman,” ungkap Dr Ade Zaenul.
Ia mendorong FOSSMA dan masyarakat untuk menjaga simbol tersebut.
“FOSSMA memiliki tugas untuk menambal kebocoran payung tersebut. Yang perlu dikhawatirkan adalah payung belah menjadi dua. Bagaimana masyarakat bisa ternaungi atau terayomi? Ini menjadi keprihatinan masyarakat apabila payung menjadi robek dan belah menjadi dua,” tutur Dr Ade Zaenul.
Di sisi lain, Ketua Forum KPAID Jawa Barat Ato Rinanto menyoroti minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap perlindungan anak dari bahaya perundungan, narkoba, eksploitasi, hingga stunting.
“Ketika berbicara potensi yang ada di Kota Tasikmalaya, maka yang harus disiapkan adalah bagaimana anak-anak bisa tumbuh dengan sehat, aman, nyaman, dan hebat untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Jika tidak disiapkan dari sekarang, maka kita akan menghadapi kebangkrutan karena atensi pemerintah terhadap anak masih minim,” cetus Ato Rinanto.
Ato juga mengimbau pentingnya peran keluarga.
“Hampir semua kasus kekerasan yang melibatkan anak-anak penyebab utamanya adalah pola asuh. Maka jadilah orang tua itu sebagai idola bagi anak-anaknya,” imbaunya.
Rajut Kebersamaan demi Kemajuan Daerah
Sebagai penutup, Ketua MUI Kota Tasikmalaya, KH Aminudin Bustomi, menyampaikan pandangan yang menyejukkan. Ia optimistis bahwa semangat kebersamaan sanggup menyelesaikan berbagai tantangan daerah.
“Dengan kebersamaan dan persatuan semua elemen, maka masalah yang ada bisa diselesaikan dan potensi yang ada juga bisa dikembangkan untuk kemajuan Tasikmalaya di masa depan,” pungkas KH Aminudin Bustomi.
(Abdul Latif)



