GARUT, FOKUSJabar.id: Setiap goresan canting adalah cerita. Setiap tetes malam adalah doa. Dari Cirebon hingga Pekalongan, dari Solo hingga Garut, batik bukan sekadar kain, tapi sebuah identitas daerah.
Dari Cirebon hingga Pekalongan, dari Solo hingga Garut, Batik adalah kita. Mari kita pakai, kita jaga, kita banggakan.
17 tahun lalu, tepat 2 Oktober 2009, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengakui batik sebagai Warisan Budaya Dunia.
BACA JUGA:
Pemkab-PLN UP3 Garut Kolaborasi Tingkatkan Pelayanan Listrik
Dan hari ini, kita tidak hanya memakainya, tetapi kita menjaga martabat bangsa. Selamat Hari Batik Nasional, Demikian di sampaikan Ketua Umum (Ketum) Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Holil Aksan Umarzen.
Menurutnya, Indonesia tidak hanya punya bahasa yang menyatukan, tetapi punya kain yang bercerita.
Di setiap tetes malam, di setiap tarikan canting, ada doa, ada filosofi, ada identitas bangsa.
“Hari ini, kita tidak sekadar memperingati Hari Batik Nasional. Kita merayakan warisan dunia yang di akui UNESCO yang lahir dari tangan-tangan terampil,” kata Holil, Jumat (2/10/2026).
“Batik bukan sekadar kain. Batik adalah doa, cerita dan jati diri bangsa yang di tulis dengan malam dan kesabaran. Mari lestarikan warisan dunia ini dengan bangga memakainya,” tambah Ketum PM Gatra.
Makna Hari Batik Nasional untuk CDOB Gatra
Senada di sampaikan Sekjen PM Gatra, DedeSalahudin. Dia menyebut, hari ini kita memperingati Hari Batik Nasional bukan hanya sebagai warisan kain, tapi sebagai warisan jati diri.
Apa hubungan Batik dengan Perjuangan PM Gatra? Batik adalah filosofi persatuan dalam perbedaan.
Batik Garutan memiliki motif Merak, Lereng dan Pucuk Rebung yang berbeda-beda tapi tetap dalam satu kain yang indah.
Begitu juga CDOB Garut Utara, 11 kecamatan berbeda kultur, namun satu cita-cita. Yakni, memisahkan diri untuk lebih sejahtera.
Selain itu, Batik di buat dengan kesabaran panjang seperti perjuangan CDOB Garut Utara.
“Membatik tidak sehari jadi, namun butuh proses mencanting, memberi malam dan mewarnai berulang-ulang. Begitupun perjuangan CDOB Garut Utara sampai hari ini butuh kesabaran yang sama. Tidak boleh putus asa,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Ini Pesan Bupati Garut di Acara Lawung Lingkung 2026
Hari Batik Nasional bukan sekadar perayaan fashion. Ini adalah perayaan jati diri. Batik adalah bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya, berfilosofi dan beradab.
Tugas kita bukan hanya memakai batik setahun sekali, tapi memastikan canting tetap menari di tangan pengrajin kita.
Stop bilang batik itu baju bapak-bapak buat kondangan. Batik itu streetwear paling keren.
Peringatan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober bukan sekadar seremonial memakai kain batik. Ini adalah momentum untuk menegaskan kembali bahwa batik telah di akui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia sejak 2009.
Batik bukan hanya pakaian, melainkan identitas, filosofi dan jati diri bangsa Indonesia.
Tugas kita bersama adalah tidak hanya memakai, tetapi juga melestarikan, memberdayakan pengrajin lokal dan mewariskannya kepada generasi muda agar batik tetap hidup dan mendunia.
(Bambang Fouristian)



