JAKARTA,FOKUSJabar.id: Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto resmi memegang tongkat komando Kepolisian Negara Republik Indonesia. Ia langsung tancap gas menyiapkan agenda strategis pada 100 hari pertama masa jabatannya.
Dengan demikian, masyarakat bakal melihat perubahan nyata dalam penanganan perkara dan pelayanan publik.
Baca Juga: Jenderal Suyudi Ario Seto Tegaskan Polri Harus Tindak Lapor Warga Tanpa Tunggu Viral
Suyudi membagi eksekusi 100 hari kerja ke dalam tiga tahapan secara sistematis.
Ia ingin memastikan seluruh jajaran kepolisian memahami kondisi aktual di lapangan.
Pada 30 hari pertama, Suyudi memusatkan perhatian pada pemetaan kondisi internal.
“Hari pertama sampai 30 mengetahui keadaan sebenarnya, menetapkan komando perubahan, membangun baseline, memeriksa penerimaan laporan, respons 110, tunggakan atau perkembangan perkara, pengaduan, perlindungan kelompok rentan, kesiapan Polres-Polsek, serta memetakan kejahatan berdampak tinggi,” kata Suyudi.
Gencarkan Quick Win dan Sikat Judi Online
Selanjutnya, hari ke-31 hingga ke-60 menjadi fase pengujian berbagai langkah perbaikan.
“Begitu juga temuan dugaan tindak pidana. Kemudian hari ke-31 sampai ke-60, yaitu menguji perbaikan. Hari ke-61 ke-100 memperlihatkan hasil dan mengoreksi kegagalan,” ujar Suyudi.
Selain itu, Kapolri merancang program quick win untuk menciptakan ruang publik yang aman.
Agenda prioritas ini mencakup pemberantasan judi online, penipuan digital, jaringan narkoba, hingga percepatan respons layanan 110.
“Mulai dari ruang publik aman, pemberantasan dan pemulihan kawasan narkoba, bersih judi daring dan penipuan digital, 110 respons cepat dan SPKT ramah korban, perkara terlacak SP2HP pasti, bersih ke dalam, Polres kuat, Polsek tangguh,” tegas Suyudi.
Turun Langsung dan Usung Enam Agenda Transformasi
Di sisi lain, Suyudi menegaskan komitmennya untuk memimpin pembenahan dari tingkat atas.
Bahkan, ia berjanji turun langsung ke lapangan demi mendengar aspirasi masyarakat dan anggota.
“Perubahan Polri tidak mungkin terjadi apabila pimpinan hanya meminta anggota berubah. Perubahan harus dimulai dari pimpinan dan dibuktikan di lapangan,” kata Suyudi.
“Saya akan turun ke lapangan bukan untuk cari panggung, tetapi untuk melihat masalah, mendengarkan anggota dan masyarakat, mengambil keputusan, serta memastikan keputusan dilaksanakan,” tambahnya.
Sementara itu, Suyudi melengkapi program kerjanya melalui enam agenda transformasi kelembagaan, SDM, pelayanan publik, penegakan hukum, pengawasan, dan transparansi anggaran.
Sebab itu, ia tidak lagi menjadikan jumlah tersangka sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan penegakan hukum.
“Keberhasilan bukan sekadar jumlah tersangka dan berat barang bukti. Ukurannya jaringan terganggu, aset diproses sesuai hukum, korban dilindungi, hotspot tidak pulih, dan kemampuan jaringan untuk beroperasi kembali menurun. Humanis tidak berarti permisif terhadap kejahatan. Tegas tidak berarti sewenang-wenang,” pungkas Suyudi.
(Berbagai Sumber/Jingga Sonjaya)



