BANDUNG,FOKUSJabar.id: Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Ibnu Aqil Ibnu Sina, Kabupaten Bandung, berlangsung meriah sekaligus penuh makna. Acara ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali pendidikan yang menyatukan kecerdasan akademik, prestasi olahraga, dan pembentukan karakter santri.
Ketua Forum Pondok Pesantren Kabupaten Bandung, KH. Aang Syamsul Ulum, hadir memberikan tausiyah dalam acara tersebut. Ia menekankan bahwa pencapaian prestasi wajib berjalan seiring dengan pembentukan akhlakul karimah.
Baca Juga: Rayakan 10 Tahun Pizza Maker Junior, Pizza Hut Ajak Anak Belajar dari Kebun hingga Dapur
“Kemampuan seseorang akan bermakna luas bila dibangun di atas kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan sportivitas,” ujarnya, Selasa (22/9/2026)
Slogan “Sanajan Atlet, Kuring Gé Ngaji” Jadi Identitas Pesantren
Pondok Pesantren Ibnu Aqil Ibnu Sina menerapkan konsep unik dengan membina atlet muda tanpa mengesampingkan pendidikan agama. Slogan bahasa Sunda “Sanajan Atlet, Kuring Gé Ngaji” mengakar kuat sebagai identitas lembaga.
“Jadi meski santri menekuni olahraga, mereka tetap belajar agama dan hidup dalam kultur pesantren,” katanya.
Ketua Yayasan, Umi Venny Septiani Puspasari, mengarahkan proses pembelajaran agar para santri tidak hanya mengejar kemenangan di lapangan, melainkan juga membangun karakter unggul.
“Kami ingin melahirkan generasi yang disiplin, bertanggung jawab, dan berakhlak, bukan sekadar atlet kompetitif,” katanya.
Integrasi Sekolah, Latihan Olahraga, dan Pengajian
Pesantren Ibnu Aqil Ibnu Sina membangun ekosistem pendidikan yang memadukan tiga pilar utama: latihan fisik untuk menggembleng ketangguhan tubuh, sekolah formal untuk memperluas wawasan pengetahuan, serta pembinaan pesantren untuk memperkokoh akhlak dan spiritualitas.
Melalui pendekatan terpadu ini, orang tua tidak perlu ragu memilih antara masa depan anak sebagai atlet atau santri, sebab keduanya dapat berjalan secara beriringan.
Teladan Rasulullah Jadi Bekal Atlet Muda
Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memberikan inspirasi relevan bagi para santri-atlet. Nilai keteladanan Rasulullah seperti kedisiplinan, kesabaran, dan sportivitas menjadi bekal utama untuk mengarungi persaingan dunia olahraga. Sosok atlet hebat tidak hanya mengandalkan fisik yang kuat, tetapi juga wajib memiliki karakter yang kokoh.
Pesantren Ibnu Aqil Ibnu Sina membuktikan bahwa dunia olahraga dan nilai-nilai pesantren saling melengkapi satu sama lain. Proses pembelajaran bergerak dari sekolah menuju masa depan, dari latihan menuju prestasi, dan dari ngaji menuju perbaikan akhlak.
Semangat besar tersebut terangkum indah dalam satu kalimat sederhana: “Sanajan Atlet, Kuring Gé Ngaji.”
(Budiana Martin)



