CIAMIS,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kabupaten Ciamis mengandalkan kekuatan masyarakat untuk membangun pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Ciamis membagikan pengalaman sukses tersebut dalam forum regional ASEAN pada ajang ASEAN Regional Dialogue on Circular Economy (ARDCE) 2026 di Makati, Metro Manila, Filipina.
Baca Juga: Bakar Ilalang Berujung Petaka, Lahan Hutan di Pamarican Ciamis Ikut Terbakar
Staf Ahli Bupati Ciamis Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Dr. Giyatno, memaparkan materi tersebut saat menjadi narasumber forum yang berlangsung pada 22–23 September 2026 di New World Hotel Makati.
Giyatno membawakan materi bertema “Kepemimpinan sebagai Titik Awal Perubahan Sistemik: Memaksimalkan Sumber Daya yang Ada, Memberdayakan Masyarakat, Mempertahankan Perubahan.”
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak perlu menunggu ketersediaan anggaran besar untuk memulai langkah perubahan.
“Mulailah dengan apa yang tersedia. Perkuat apa yang membuatnya tetap berjalan,” kata Giyatno, Selasa (22/9/2026).
Inovasi Kelola Sampah: Selingkuh Mas hingga Mantan Terindah
Ciamis menerapkan strategi pemberdayaan warga untuk menjawab tantangan sampah dari 1,2 juta penduduk yang tersebar di 27 kecamatan serta 258 desa dan kelurahan.
Pemerintah daerah menggerakkan program bank sampah dan pengolahan sampah organik melalui program Selingkuh Mas yang mengandalkan budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF).
Di area tempat pemrosesan akhir, pemerintah meluncurkan inovasi Mantan Terindah (Manfaatkan Gas Metan Terolah Inovasi dari Sampah) guna mengolah air lindi dan memulihkan gas metana.
Pemkab Ciamis memperkuat seluruh gerakan ini melalui Peraturan Bupati Ciamis Nomor 2 Tahun 2018, panduan teknis tahun 2020, serta Peraturan Bupati Nomor 27 Tahun 2021 tentang pembatasan kantong plastik.
Menjaga Konsistensi dan Menorehkan Prestasi Internasional
Giyatno mengingatkan bahwa kunci keberhasilan lingkungan terletak pada konsistensi partisipasi warga, bukan sekadar penerbitan regulasi.
“Perubahan tidak cukup hanya dimulai, tetapi harus dipertahankan,” kata Giyatno.
Oleh karena itu, Ciamis terus memberikan pendampingan, mengasah kapasitas penggerak lingkungan, serta memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak.
Komitmen ini membuahkan berbagai penghargaan bergengsi, mulai dari Adipura, Adipura Kencana, Makuta Binokasih, peringkat ketiga nasional kinerja pengolahan sampah 2025, hingga ASEAN Certificate of Recognition 2025.
Kini Ciamis mengejar target baru, yakni mengunci angka pengurangan sampah sebesar 40 persen dan penanganan sebesar 42 persen.
Inspirasi Transisi Ekonomi Sirkular di Forum ASEAN
Dalam ARDCE 2026, peserta forum mengulas pengalaman Ciamis sebagai contoh nyata transisi dari ekonomi linear menuju ekonomi sirkular.
Giyatno menyebutkan bahwa model Ciamis bukan acuan kaku bagi daerah lain. Namun melainkan sebuah contoh fleksibel yang dapat menyesuaikan dengan potensi lokal tiap wilayah.
Melalui panggung internasional ini, Ciamis membuktikan bahwa pemerintah daerah mampu memimpin perubahan lingkungan berbekal sumber daya loka. Tentunya dengan semangat gotong royong warga.
(Mia)



