BANDUNG,FOKUSJabar.id: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung menemukan kotoran dan kecoa di dalam ruang penyimpanan bahan makanan basah milik salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sindang Jaya, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung.
Petugas menemukan indikasi kebersihan yang buruk tersebut saat melakukan pemeriksaan standar sanitasi fasilitas penyedia program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga: Bikin Kaget, 82 Rumah Liar Berdiri di Area TPU Pandu Bandung, 100 KK Jadi Penghuninya
Kepala Dinkes Kota Bandung, Sony Adam, menegaskan bahwa temuan kotoran dan kecoa menjadi catatan kritis yang membutuhkan perbaikan mendesak. Menurutnya, kondisi ini membuktikan pengelolaan fasilitas sanitasi SPPG belum berjalan optimal.
Fasilitas Ruang Cuci dan Atap Bangunan Belum Sesuai Standar Sanitation
Selain area penyimpanan bahan basah, petugas juga menemukan kekurangan pada area pencucian alat produksi. Dinding ruangan tersebut belum mengaplikasikan material kedap air sehingga memicu kelembapan berlebih.
“Ruang cuci juga dindingnya belum kedap air. Seharusnya dindingnya tahan air agar tidak lembap atau basah. Secara keseluruhan, fasilitas sanitasinya belum lengkap,” kata Sony, Rabu (16/9/2026).
Sony menyoroti penggunaan konstruksi atap baja ringan tanpa penutup plafon di sebagian area kerja. Padahal, standar fasilitas pengolahan pangan mewajibkan penutupan plafon penuh demi menjaga sterilitas ruangan.
“Ruangan beratap langsung dari baja ringan, seharusnya sudah terpasang plafon. Sebagian ruangan sudah berplafon, namun sebagian lainnya masih terbuka. Selain itu, alur masuk dan keluar makanan sudah terpisah sebagaimana mestinya,” katanya.
Penataan Bahan Pangan Kering Masalah Baru Sanitasi SPPG
Petugas turut mencatat kesalahan tata letak pada ruang penyimpanan bahan makanan kering. Pengelola menumpuk bahan makanan terlalu rapat dengan permukaan dinding, lantai, serta langit-langit.
Sony menjelaskan bahwa penataan bahan makanan wajib menyisakan jarak ruang yang cukup dari struktur bangunan. Jarak tersebut memudahkan proses pembersihan rutin sekaligus mencegah timbulnya kontaminasi silang.
“Untuk ruang penyimpanan bahan kering, penataannya perlu perbaikan, terutama jarak penyimpanan dari tembok, langit-langit, dan lantai harus mendapat jarak yang cukup. Namun saat ini masih terlalu rapat. Kondisi di Mandalajati juga demikian,” jelasnya.
Meski menemukan deretan pelanggaran sanitasi, Sony memastikan bahwa kondisi tersebut belum menimbulkan kasus gangguan kesehatan atau keracunan pada konsumen.
“Sejauh ini belum ada kasus. Hanya saja, kondisi sanitasi yang tadi memang perlu mendapat perhatian. Namun jika dibiarkan, tentu akan berpotensi menimbulkan risiko,” katanya.
Sony mengingatkan bahwa pembiaran terhadap lingkungan produksi yang kotor dapat memicu ledakan populasi bakteri serta mengancam keamanan pangan masyarakat.
“Betul, atau memicu pertumbuhan bakteri. Lingkungan seperti itu memang tidak memenuhi syarat kebersihan, sehingga bakteri mudah berkembang biak,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)



