PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Di tengah rimbunnya pepohonan Dusun Purwasari Desa Parigi, Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran Jawa Barat (Jabar), berdiri sebuah bangunan kayu sederhana. Atapnya dari genteng tanah liat yang telah menua. Di depan, deretan stoples kaca tersusun rapi di atas rak kayu. Tempat ini bernama Leuit Munjul.
Leuit Munjul bukan museum, tapi rumah bagi berbagai benda dan bangunan lama yang di kumpulkan dan di rawat agar tidak punah di telan zaman.
BACA JUGA:
6 Tahun Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Pangandaran Patungan Bangun Sendiri
Pemilik koleksi adalah Rosid, seniman yang kini di kenal sebagai pelukis di Bandung.
Rumah Leuit Munjul dulunya adalah rumah orangtua Rosid. Sebagai mantan petani, Rosid punya kecintaan besar pada benda-benda kehidupan masyarakat dulu.
Awalnya barang-barang itu hanya menumpuk di gudang. Ada alat bajak yang di tarik kerbau, garu, lesung dari kayu gelondongan, cobek, cangkul hingga peralatan dapur tradisional.
Barulah kemudian di kembangkan menjadi sebuah kawasan. Sosok di balik konsep dan eksekusinya adalah Dede R. Saepudin.
Ketertarikan Dede berawal dari seni. Khususnya sosok Dewi Sri yang erat dengan kehidupan agraris masyarakat Sunda. Dari situlah ia ingin menghadirkan kembali suasana kehidupan Sunda masa lalu.
Leuit Munjul tidak sekadar menaruh benda lama. Dede menata kawasan ini dengan konsep perele atau tata letak khas Tatar Galuh.
”Konsep rumah di sana harus tersusun tungku atau dapur hawu, leuit, saung lisung. Istilahnya perele atau tata letak, khusus wilayah Tatar Galuh,” ujar Dede.
Tungku untuk mengolah makanan. Leuit untuk menyimpan padi. Saung lisung untuk menumbuk padi. Ketiganya di susun agar pengunjung bisa memahami hubungan dan fungsi benda-benda itu dalam satu kesatuan kehidupan.
BACA JUGA:
16.295 Orang Ikut Survei Reaktivasi KA Banjar-Cijulang, Harapan Besar untuk Ekonomi Pangandaran
Beberapa rumah leuit di sini adalah bangunan lama. Salah satunya di perkirakan sudah ada sejak 1965. Ada juga peralatan yang usianya lebih tua, seperti gergaji gongsrang.
Dede juga menceritakan kearifan lokal masyarakat dulu dalam membangun rumah.
“Orang dulu, sebelum punya rumah menabung kayu. Kayunya di taruh di dalam kolam lumpur. Itulah kenapa kayu-kayu itu kuat-kuat,” katanya.
Sebagai seniman ukir, Dede terbiasa memanfaatkan limbah dan material lama. Karena itu semua bangunan di Leuit Munjul adalah hasil rehab dari bahan-bahan lama. Tidak ada yang baru.
”Saya juga lebih tertarik mengaplikasikan bangunan-bangunan khas Sunda yang memang sudah jarang di pakai,” kata Dede.
Ia sengaja menghadirkan bentuk rumah dengan filosofi, seperti atap Julang Ngapak.
“Setiap bangunan itu sarat akan makna dan filosofi. Seperti Julang Ngapak itu kan filosofi dan definisinya jelas. Jadi, tidak asal membuat bangunan,” ujarnya.
Nama Leuit Munjul sendiri di ambil dari dominasi bentuk lumbung padi di kawasan ini.
Bagi Dede, menyimpan benda tradisional bukan sekadar mengoleksi barang antik. Alat pertanian, perabot dapur dan peralatan rumah tangga itu adalah catatan bagaimana masyarakat Sunda dulu bertahan hidup dengan apa yang ada di sekitarnya.
”Ketika sebuah benda lama hilang, yang hilang bukan hanya bentuk bendanya. Pengetahuan dan cerita mengenai kehidupan orang-orang yang pernah menggunakannya juga berisiko ikut terputus,” kata Dede.
Leuit Munjul kini menjadi ruang ingatan. Bagi generasi tua, tempat ini mengingatkan pada dapur, sawah dan rumah orangtua. Bagi generasi muda, ini jadi pintu untuk mengenal Sunda masa lalu.
Dede berharap yang di wariskan bukan hanya bendanya, tapi juga nilai, pengetahuan, kreativitas dan cerita di baliknya.
(Sajidin)



