spot_imgspot_img
Jumat 11 September 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Halte BRT di Tengah Jalan Picu Kemacetan, Farhan Angkat Bicara

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pembangunan halte on corridor Bus Rapid Transit (BRT) di sejumlah ruas jalan Kota Bandung memicu kemacetan. Kondisi itu terjadi karena halte dibangun di tengah ruas jalan dan membuat ruang lalu lintas menyempit.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, kemacetan akibat pembangunan halte tersebut sebenarnya sudah diprediksi sejak awal.

“Hal itu sudah diduga sebelumnya. Jadi, saya sedang berkoordinasi mengenai bagaimana cara meminimalkan kemacetan agar pengerjaannya tidak menimbulkan kemacetan,” kata Farhan di Taman Puter, Kelurahan Sadang Serang, Kota Bandung Jumat (11/9/2026).

Baca Juga: Mahasiswa KKN Universitas Nurtanio Edukasi Pencegahan Perundungan di Desa Ciluncat

Menurutnya, kemacetan tersebut hanya bersifat sementara. Proses pembangunan halte ditargetkan rampung maksimal dalam waktu dua minggu.

“Namun, ini hanya bersifat sementara dan pengerjaannya akan cepat. Menurut kabar, paling lama memakan waktu dua minggu. Setelah itu lalu lintas akan lancar, persis seperti yang di Jalan Jakarta,” katanya.

Salah satu halte yang menjadi sorotan berada di kawasan Cicadas, Jalan Ahmad Yani. Berbeda dengan halte di Jalan Jakarta yang dilengkapi jembatan penyeberangan orang (JPO), halte di Cicadas menggunakan pelintasan sebidang.

Lahan Terlalu Sempit

Farhan mengatakan penggunaan pelintasan sebidang disebabkan keterbatasan lahan untuk membangun JPO.

“Kenapa tidak dibuatkan JPO? Karena lahannya terlalu sempit untuk JPO. Maka dari itu, akhirnya dibuatlah perlintasan sebidang,” ucapnya.

Meski begitu, Farhan memastikan kondisi tersebut akan terus dipantau untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

“Kita akan amati terus karena saya tidak mau sampai terjadi kecelakaan,” ujarnya.

Selain keselamatan, Farhan juga menyoroti akses bagi penyandang disabilitas. Desain halte dengan lantai yang tinggi dinilai berpotensi menyulitkan kelompok tersebut.

“Itu sebabnya sekarang saya sedang bolak-balik ke Jakarta terus, ke Kementerian Perhubungan dan Bappenas, untuk memastikan bahwa secara teknis ini memungkinkan dan tidak mengganggu keseharian masyarakat secara berat,” jelasnya.

Opsi Pelebaran Jalan

Terkait opsi pelebaran jalan untuk mengakomodasi halte BRT, Farhan mengatakan hal itu tidak memungkinkan karena trotoar di kawasan tersebut sudah terbangun.

“Tidak bisa, soalnya trotoarnya sudah jadi,” katanya.

Selain Cicadas, pembangunan halte on corridor BRT juga berlangsung di kawasan Stasiun Hall dan Pasar Baru. Farhan menyebut terdapat 28 halte on corridor yang dibangun di sejumlah titik di Kota Bandung.

“Total semuanya ada 28,” ujarnya.

Farhan juga mengakui sosialisasi kepada masyarakat terkait pembangunan halte BRT masih perlu diperluas. Ia meminta pihak BRT lebih masif menyampaikan informasi kepada warga.

“Saya meminta pihak BRT untuk melakukan sosialisasi lebih masif ke seluruh warga. Karena yang tahu teknis pengerjaannya adalah BRT,” ungkapnya.

Menurut Farhan, sosialisasi juga harus menyasar pengelola parkir dan pedagang yang terdampak pembangunan.

Dorong BRT Berikan Informasi

Sebagai perwakilan warga, Farhan mengaku terus mendorong pihak BRT memberikan informasi mengenai tahapan pembangunan serta rekayasa lalu lintas yang diterapkan.

“Sebagai wakil warga, tentu kita akan protes terus. ‘Pak, ini bagaimana? Kenapa kita tidak diberi tahu? Kenapa kita tidak diberi jalur alternatif?’ Nah, ini yang terus kami lakukan untuk menekan BRT agar memberikan sosialisasi yang lebih luas,” ucapnya.

Sementara itu, untuk mengantisipasi kemacetan selama pembangunan, Dinas Perhubungan (Dishub) akan melakukan pengaturan lalu lintas di setiap titik pengerjaan.

Baca Juga: Penjualan Mobil BYD di Jabar Tembus 12 Ribu Unit

“Bagaimanapun juga kami akan mengatur sedemikian rupa. Kemacetan memang tidak terhindarkan ketika ada pengerjaan di pinggir atau tengah jalan, pasti macet,” katanya.

Farhan menambahkan, petugas akan disiapkan untuk mengatur lalu lintas sejak pagi hingga malam guna meminimalkan dampak pembangunan terhadap pengguna jalan.

“Harusnya nanti akan ada petugas di setiap titik, saya akan atur sedemikian rupa,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru