spot_imgspot_img
Kamis 27 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BRIN dan Disbudpora Teliti Situs Ciamis

CIAMIS, FOKUSJabar.id: Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Ciamis Jawa Barat (Jabar), Dian Budiyana mengatakan,  jejak sejarah tidak selalu berdiri dalam bentuk bangunan atau benda peninggalan. Namun ada juga yang berbentuk situs-situs keramat yang justru hidup berdampingan dengan pepohonan, hutan larangan, mata air, lembah hingga kawasan perbukitan.

Menurut Dian, di lokasi lokasi seperti itu, aturan adat yang di wariskan dari generasi ke generasi ternyata ikut menjaga keseimbangan alam.

BACA JUGA:

Suporter Rayakan 36 Tahun PSGC, Ketua Balad Galuh: Bermain dengan Hati

Pohon tidak sembarang di tebang, kawasan tertentu di anggap pamali (larangan) untuk di ganggu dan hutan di sekitar situs di biarkan tetap tumbuh sebagai bagian dari ekosistem.

“Sejak dulu ada hutan larangan. Secara tidak langsung, itu membentuk pengertian masyarakat bahwa kawasan itu  harus tetap lestari. Budaya dan kearifan lokal ikut menjaga ekosistem,” katanya.

Dian menuturkan, kondisi itu menjadi perhatian dari  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penelitian yang berlangsung sejak Minggu-Senin (24-25/8/2026) itu menyasar sejumlah situs budaya dan situs keramat di Ciamis.

“Penelitian itu berangkat dari upaya melihat situs budaya tidak hanya sebagai peninggalan sejarah. Tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem yang memiliki manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” ucapnya.

Menurut Dian, penelitian itu merupakan kolaborasi Disbudpora Ciamis dengan BRIN. Salah satu yang di lihat adalah kosmologi ekosistem situs keramat di Ciamis. Terutama bagaimana situs-situs tersebut berkaitan dengan lingkungan dan upaya mitigasi bencana.

“Kami memberikan data dan mengarahkan tim peneliti BRIN ke sejumlah lokasi. Termasuk situs yang sudah maupun belum di tetapkan sebagai cagar budaya. Di antaranya berada di kawasan hutan, memiliki hutan larangan, menjadi penyangga permukiman, sekaligus berfungsi menjaga sumber air dan mencegah erosi,” jelasnya.

Dian menjelaskan, keberhasilan menjaga situs dan alam pada akhirnya sangat bergantung pada kesadaran masyarakat. Ketika masyarakat memahami nilai penting kawasan itu upaya pelestarian akan memiliki fondasi yang kuat.

BACA JUGA:

8 Cara Hemat Air Ala Perumdam Tirta Galuh Ciamis

“Bagi Ciamis yang selama ini di kenal dengan sebutan Kota Seribu Situs, penelitian itu memiliki arti lebih luas. Situs tidak hanya di pandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan lingkungan yang masih memberikan manfaat sampai sekarang,” ungkapnya.

(Husen Maharaja)

spot_img

Berita Terbaru