spot_imgspot_img
Jumat 21 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Gempa NTT M7,7, Kemlu: Masih Andalkan Penanganan Nasional

JAKARTA, FOKUSJabar.id: Pemerintah Indonesia masih memprioritaskan kemampuan dalam negeri untuk menangani dampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Di tengah penanganan yang masih berjalan, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan, bantuan dari negara lain belum di perlukan karena kebutuhan masyarakat terdampak masih dapat di upayakan melalui kapasitas dan sumber daya nasional.

BACA JUGA:

Gandeng Baznas Kota Bandung, Farhan Siapkan Skema Penyaluran Bantuan Bencana Gempa NTT

Pernyataan tersebut di sampaikan Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang dalam taklimat media di Jakarta. Menurutnya, pemerintah saat ini masih berfokus memastikan kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana dapat terpenuhi melalui berbagai sumber daya yang tersedia di dalam negeri.

Sikap tersebut bukan berarti pemerintah Indonesia menutup kemungkinan terhadap dukungan internasional.

Kemlu tetap menghargai perhatian dan solidaritas dari negara-negara sahabat. Termasuk tawaran bantuan yang di sampaikan setelah gempa melanda sejumlah wilayah di NTT.

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono juga telah menyampaikan apresiasi kepada sejumlah duta besar negara sahabat atas kepedulian mereka.

“ Saat ini fokus penanganan adalah untuk memastikan kebutuhan masyarakat yang terdampak dapat di penuhi melalui kapasitas dan sumber daya nasional yang di miliki,” kata Yvonne Mewengkang.

Di sisi lain, penanganan bencana masih menghadapi situasi yang cukup serius. Hingga Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, BNPB mencatat sebanyak 75 orang meninggal dunia, 907 orang mengalami luka-luka dan 92.735 orang mengungsi.

Aktivitas gempa susulan juga masih berlangsung dengan total 3.752 kejadian yang tercatat sejak gempa utama.

“Hingga Kamis 20 Agustus 2026, itu pada pukul 16.00 WIB, total jumlah gempa susulan sudah mencapai 3.752,” kata Berton Suar Pelita Panjaitan.

BNPB mengingatkan masyarakat agar tetap waspada karena gempa susulan masih terjadi. Termasuk dengan kekuatan yang cukup besar.

Warga juga di minta memastikan kondisi bangunan sebelum kembali memasukinya untuk menghindari risiko akibat bangunan yang mengalami kerusakan.

BACA JUGA:

BGN Minta SPPG Terdampak Gempa NTT Utamakan Keselamatan

“Dengan masih banyaknya gempa susulan dan tergolong besar, masyarakat di imbau untuk tetap waspada dan tetap siap siaga. Bagi warga di daerah terdampak, perlu di pastikan kondisi bangunan apabila akan memasuki bangunan tersebut,” jelas Berton.

Dampak gempa juga terlihat dari kerusakan bangunan di sejumlah wilayah. BPBD Provinsi NTT mencatat sebanyak 6.541 rumah di Kabupaten Manggarai Barat mengalami kerusakan hingga Kamis, 20 Agustus 2026.

Rinciannya terdiri atas 2.539 rumah rusak berat, 1.039 rumah rusak sedang dan 2.963 rumah rusak ringan.

Kerusakan juga terjadi pada 40 kantor pemerintahan, 250 satuan pendidikan, 19 fasilitas pelayanan kesehatan, 35 rumah ibadah dan dua hotel.

Di wilayah tersebut, dua orang meninggal dunia, 100 orang terluka, serta 695 jiwa mengungsi.

Sementara itu, bantuan dari dalam negeri terus di kirim untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

BNPB mencatat total bantuan yang telah di distribusikan sejak 15 hingga 20 Agustus 2026 mencapai 729 ton.

Bantuan tersebut berasal dari Dana Siap Pakai (DSP) BNPB dan donasi, kemudian di salurkan melalui sejumlah jalur menuju wilayah terdampak.

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, sebanyak 102 ton bantuan kembali di kirim. Terdiri dari 42 ton donasi dan 60 ton DSP.

“Jumlah total distribusi bantuan dari hari pertama, 15 sampai 20 Agustus 2026 sebanyak 729 ton. Sumbernya dari DSP dan donasi,” ujar Berton.

Berbagai kebutuhan dasar masuk dalam bantuan tersebut. Mulai dari sembako, makanan siap saji, obat-obatan, mie instan, tenda, matras, selimut, kasur, velbed, hygiene kit hingga genset.

Pemerintah terus melakukan distribusi sekaligus menyisir wilayah yang belum mendapatkan bantuan agar kebutuhan masyarakat terdampak dapat di penuhi secara merata.

Dukungan juga di berikan dari sisi ketahanan pangan

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa stok beras di NTT masih berada pada kondisi aman.

Stok beras di sebut sekitar 39 ribu ton. Sedangkan stok beras secara nasional berada di kisaran 5,2 juta ton.

Pemerintah menilai, jumlah tersebut masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak dalam jangka panjang.

“Insyaallah tidak akan ada kekurangan. Stok beras kita secara nasional 5,2 juta ton, stok kita di NTT 39 ribu ton. Jadi ini stok kita sangat banyak sampai satu tehun ke depan cukup,” kata Amran di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

BACA JUGA:

Gempa M7,7 Guncang Flores, 5 Orang Meninggal Dunia 

Pemerintah juga mencatat adanya tawaran bantuan dari negara sahabat. China menjadi salah satu negara yang menyatakan kesediaannya memberikan bantuan apabila Indonesia membutuhkan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian mengatakan, pemerintah China terus memantau perkembangan gempa di NTT dan siap menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan Indonesia.

“China bersedia memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” ucap Lin Jian.

Kemlu RI tetap menghargai berbagai bentuk perhatian tersebut. Yvonne menyebut, solidaritas negara-negara sahabat memiliki arti penting bagi Indonesia dalam situasi sulit akibat bencana.

“Kami menilai hal tersebut amat bermakna bagi kami pada masa yang sulit ini,” katanya.

Tawaran bantuan dari China juga berpotensi di bahas dalam pertemuan Menteri Luar Negeri RI Sugiono dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Dialog Komprehensif Strategis Indonesia-China yang di jadwalkan berlangsung Jumat, 21 Agustus 2026.

Namun untuk saat ini, pemerintah masih menilai penanganan bencana dapat di topang oleh kemampuan dan sumber daya nasional yang telah di kerahkan.

BACA JUGA:

Gempa M7,7 Guncang Flores NTT, Tsunami Sempat Terjadi dan Ribuan Warga Mengungsi

Dengan kondisi di lapangan yang masih terus di perbarui, pemerintah tetap melakukan pemantauan terhadap jumlah korban, pengungsi, kerusakan infrastruktur, kebutuhan logistik serta aktivitas gempa susulan.

Penyaluran bantuan dan pemenuhan kebutuhan dasar menjadi fokus utama dalam penanganan setelah gempa.

Posisi pemerintah hingga Kamis, 20 Agustus 2026 adalah belum membutuhkan bantuan asing, bukan menolak dukungan internasional secara keseluruhan.

Selama kapasitas nasional masih di nilai mampu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, pemerintah akan mengoptimalkan sumber daya dalam negeri.

Sementara itu, komunikasi dengan negara-negara yang menyampaikan tawaran bantuan tetap di jaga sebagai bagian dari hubungan diplomatik dan bentuk solidaritas internasional terhadap Indonesia.

(Jingga Sonjaya/berbagai sumber)

spot_img

Berita Terbaru