spot_imgspot_img
Selasa 18 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sampah Organik Menumpuk hingga 3 Ton, Warga Pakemitan Bandung Minta Prosignal Kembali Beroperasi

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Penghentian sementara operasional CV Prosignal Karya Lestari sejak 1 Juli 2026 menyisakan persoalan serius. Kegiatan pengolahan sampah organik di Kelurahan Pakemitan, Kecamatan Cinambo, Kota Bandung kini mengalami kemacetan total.

Direktur Utama CV Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah, menegaskan komitmen pihaknya dalam menjalankan program hilirisasi sampah organik sejak akhir tahun lalu. Program ini menyasar kawasan RW 03 Kelurahan Pakemitan.

Baca Juga: Ada Apa Kerja Sama DLH Kota Bandung dan Prosignal Terhenti?

“Alhamdulillah, program hilirisasi yang kami sampaikan akhir tahun lalu telah dijalankan di Kelurahan Pakemitan, khususnya RW 3. Kompos hasil olahan sampah organik bermanfaat langsung bagi warga. Saya sangat salut dengan semangat swadaya warga RW 3 Pakemitan,” kata Aldi saat meninjau tumpukan sampah organik di RW 03 Pakemitan, Selasa (18/8/2026).

DLH Hentikan Operasional Akibat Penumpukan Residu

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung menerbitkan surat keputusan tertanggal 29 Juni 2026. Surat ini menghentikan operasional Prosignal secara penuh per 1 Juli 2026.

Aldi menjelaskan alasan penghentian tersebut. Pihak DLH memprotes keberadaan tumpukan sampah anorganik atau residu di fasilitas pengolahan. Padahal, Prosignal memegang kontrak kerja sama yang ketat dengan UPT Pengelolaan Sampah. Kontrak tersebut melarang masuknya sampah non-organik.

“Kegiatan kami dihentikan sementara oleh Kepala Dinas per 1 Juli berdasarkan surat 29 Juni. Penyebabnya adanya penumpukan sampah anorganik atau residu. Padahal dalam kontrak dengan UPT Pengelolaan Sampah, kami dilarang menerima sampah yang tidak dapat diolah. Residu itu ternyata mayoritas berasal dari sapuan jalan,” ungkapnya.

Aldi menuntut pengawasan ekstra dari petugas lapangan. Pasalnya, armada pengangkut sampah yang mengirim material ke lokasi sepenuhnya milik pemerintah.

“Seharusnya petugas pengawas dari Dinas atau UPT yang mengawasi kelayakan sampah yang masuk, karena kendaraan pengangkut pun milik Dinas,” katanya.

Ribuan Ton Sampah Menumpuk di Fasilitas Pengolahan

Sebelum penghentian operasional, volume sampah di lokasi pengolahan sempat menyentuh angka 1.500 ton. Prosignal berhasil mengolah sekitar 750 hingga 900 ton bahan organik menjadi kompos berkualitas.

Untuk mengatasi sisa residu, Prosignal telah mengajukan skema Pengangkutan Luar Biasa (Pelsus) kepada UPT. Langkah ini membutuhkan sedikitnya 14 armada truk untuk mengangkut hampir 300 ton sampah residu.

“Residu yang menumpuk sudah kami usulkan pengangkutan khusus (Pelsus) ke UPT sekitar 14 truk atau hampir 300 ton. Total penumpukan sempat mencapai 1.500 ton,” ucapnya.

Saat ini, sebanyak 100 ton residu masih tertahan sembari menunggu alokasi kuota pengangkutan. Tim Prosignal terus mengayak sisa sampah organik dan membagikannya secara terbatas.

“Sebagian besar, 750–900 ton bahan organik sudah diolah menjadi kompos. Sekitar 100 ton residu masih menunggu kuota pengangkutan. Sisa bahan organik terus kami ayak dan salurkan secara terbatas meski belum maksimal,” ujarnya.

Aldi mendesak DLH agar mengizinkan kembali Prosignal beroperasi. Pihaknya siap memfokuskan pengolahan pada sampah organik murni seperti limbah dapur dan pasar.

“Kami ingin segera kembali beroperasi sesuai kontrak, fokus mengolah sampah organik murni seperti sisa dapur dan pasar. Dengan begitu tidak akan ada penumpukan, dan manfaat kompos bisa dirasakan oleh masyarakat luas,” pungkasnya.

Warga Keluhkan Kelangkaan Pasokan Pupuk Kompos

Dampak penghentian kerja sama ini langsung menekan masyarakat RW 03 Kelurahan Pakemitan. Ketua RW 03, Rustamaji, mengeluhkan penumpukan sampah organik yang terus membesar. Padahal, permintaan masyarakat terhadap kompos sedang tinggi-tingginya.

“Permintaan kompos Alhamdulillah banyak. Sejak kerja sama dengan Prosignal Karya Lestari dihentikan, sampah organik menumpuk. Saya juga ketua forum kelurahan, jadi permintaan pupuk dari seluruh RW dikirim ke saya. Memang betul semuanya terhambat,” kata Rustamaji.

Rustamaji menyebut keterbatasan peralatan menjadi kendala utama warga dalam mengolah sampah secara mandiri.

“Di sini kami hanya punya cangkul dan bak. Terpaksa membuat lubang kompos sementara di dalam drum, itu satu-satunya cara,” ujarnya.

Kini, sekitar 2 hingga 3 ton sampah organik menggunung di wilayah RW 03. Rustamaji meminta DLH Kota Bandung segera meninjau lokasi dan memberikan jalan keluar yang nyata.

“Harapan saya Prosignal bisa kembali beroperasi. DLH juga sebaiknya turun ke lapangan, lihat kendala sebenarnya, lalu berikan solusi,” katanya.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru