NASIONAL,FOKUSJabar.id: Indonesia mengantongi kekayaan pangan lokal yang sangat beragam dan berpotensi menjadi kekuatan utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Potensi raksasa ini berasal dari ribuan jenis tumbuhan yang telah lama memberi manfaat serta beradaptasi dengan kondisi lingkungan di berbagai wilayah Nusantara.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Wawan Sujarwo, mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat 2.564 spesies tumbuhan bermanfaat yang berpotensi melengkapi kebutuhan pangan. Dari jumlah tersebut, lebih dari 77 spesies di antaranya menyimpan sumber karbohidrat lokal bernilai tinggi.
Baca Juga: Tour de Malasari 2026 Digelar, Pemkab Bogor Siapkan Pengembangan Rute Baru 2027
Selain sumber karbohidrat, kekayaan pangan ini mencakup ratusan jenis umbi-umbian, kacang-kacangan, buah, sayuran, rempah-rempah, hingga tanaman pangan tradisional. Sebagian besar tanaman telah beradaptasi dengan lingkungan setempat selama ratusan bahkan ribuan tahun dan membentuk pengetahuan serta praktik masyarakat secara turun-temurun.
Meski menyimpan keragaman besar, Wawan menyayangkan masyarakat belum memaksimalkan pemanfaatan potensi pangan lokal ini. Padahal, langkah diversifikasi pangan memberikan manfaat luas, tidak hanya memperbanyak opsi konsumsi harian tetapi juga memperkokoh ketahanan sistem pangan dalam menghadapi perubahan iklim, gangguan pasokan, serta gejolak harga pasar.
“Pengembangan pangan lokal sesungguhnya merupakan strategi ekologis, ekonomis, sekaligus sosial. Pangan lokal mampu memperkuat ekonomi masyarakat, melestarikan pengetahuan tradisional, mengurangi jejak karbon akibat distribusi pangan yang panjang, serta menjaga keberagaman genetik tanaman yang sangat penting untuk adaptasi di masa depan. Inilah esensi pembangunan berkelanjutan,” ungkapnya dalam Jamming Session #10 bertema “Pangan Lokal: Resolusi Ketahanan Pangan Berkeadilan dan Berkelanjutan”.
Pondasi Ekologi dalam Sistem Pangan Nasional
Menurut Wawan, tantangan ketahanan pangan nasional memerlukan cara pandang baru yang lebih luas. Kekayaan pangan lokal Indonesia yang lahir dari pengetahuan ekologi dan tradisi sebenarnya dapat menjadi modal utama, namun hingga kini pengambil kebijakan belum menempatkannya secara optimal dalam sistem pangan nasional.
Ia menerangkan bahwa pemangku kepentingan sering mengaitkan ketahanan pangan sekadar dengan kemampuan mendongkrak angka produksi. Namun dari kacamata ekologi, keberlanjutan produksi pangan sangat bergantung pada kesehatan ekosistem penopangnya.
“Ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan lingkungan. Tidak ada pangan tanpa tanah yang sehat, tidak ada pertanian tanpa air yang tersedia, tidak ada penyerbukan tanpa keanekaragaman hayati, dan tidak ada hasil panen yang stabil tanpa iklim yang mendukung. Dengan kata lain, fungsi ekologi merupakan pondasi utama seluruh sistem pangan,” ujarnya.
Guna melambungkan potensi pangan lokal secara optimal, Wawan menegaskan perlunya sinergi dari berbagai sumber pengetahuan. Data ilmiah, riset etnobotani, serta kearifan lokal warga menjadi pijakan kuat dalam mengidentifikasi dan memajukan potensi tanaman pangan lokal.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) turut menguatkan keterkaitan ekosistem dan keberlanjutan pangan ini. Data FAO mencatat lebih dari 95 persen produksi pangan dunia menggantungkan nasibnya pada kesuburan tanah. Di sisi lain, sekitar sepertiga lahan pertanian global mengalami kerusakan akibat erosi, kemerosotan nutrisi tanah, serta pola penggunaan lahan yang merusak.
Peran penyerbuk juga memegang posisi vital dalam produksi pangan. Sekitar 75 persen tanaman pangan dunia membutuhkan jasa penyerbukan dari serangga dan satwa liar. Kerusakan habitat yang memicu penurunan populasi penyerbuk otomatis mengancam produktivitas pertanian secara global.
Konservasi dan Ketahanan Pangan Berjalan Seiring
Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia memegang modal ekologis besar untuk merancang sistem pangan yang tangguh. Kekayaan plasma nutfah, keberagaman ekosistem, serta ribuan spesies tanaman pangan lokal merupakan aset strategis untuk melandasi diversifikasi pangan nasional.
Wawan juga meluruskan pandangan keliru yang menganggap upaya konservasi bakal menghambat peningkatan produksi pangan. Berbagai riset justru membuktikan bahwa ekosistem yang lestari menyokong produktivitas pertanian jangka panjang.
Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi, misalnya, menyimpan air dan unsur hara jauh lebih efektif. Hutan yang terjaga juga menopang siklus air sehingga memperkecil risiko kekeringan. Sementara itu, keanekaragaman hayati menyediakan musuh alami bagi hama sehingga petani dapat menekan penggunaan pestisida kimia.
Sejumlah pendekatan modern seperti agroekologi, agroforestri, pengelolaan bentang alam terpadu, hingga pertanian regeneratif terbukti meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Ketahanan pangan dan konservasi bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua sisi pembangunan berkelanjutan yang saling menguatkan. Kita perlu bergeser dari paradigma produksi maksimum menuju produktivitas yang berkelanjutan, yaitu sistem pangan yang tidak hanya menghasilkan panen hari ini, tetapi juga tetap produktif bagi generasi mendatang,” jelasnya.
Kolaborasi dan Inovasi Baru
Wawan turut mengajak para peserta forum untuk membangun kolaborasi dan inovasi baru. Pertukaran gagasan, integrasi data riset, serta penyusunan agenda penelitian bersama menjadi kunci utama dalam mengelola wilayah Indonesia secara adaptif dan berkelanjutan.
Forum Jamming Session #10 ini juga menghadirkan dua praktisi luar BRIN. Praktisi Pengembangan Masyarakat dan Ketahanan Pangan, Ir. Haryanti Koostanto, membawakan materi “Refleksi atas Kebijakan dan Praktik Pangan Nasional: Tantangan dan Peluang Pangan Lokal dalam Sistem Pangan yang Berkeadilan”. Haryanti mengulas kebijakan pangan nasional secara kritis serta mengusung peluang agar pangan lokal memperoleh kedudukan setara.
Sementara itu, Pegiat Ketahanan Pangan Mandiri sekaligus Pendiri Kebun Atqiya, Britania Sari, menyampaikan materi “Praktik Baik, Inovasi Sosial, dan Pemberdayaan Masyarakat dari Akar Rumput sebagai Alternatif Ketahanan Pangan Berkelanjutan”. Britania membagikan kisah sukses pemberdayaan masyarakat, mulai dari optimalisasi pekarangan rumah hingga penguatan program Posyandu untuk menciptakan ketahanan pangan berbasis komunitas.
Melalui forum ini, seluruh pihak berharap muncul gagasan segar yang dapat memperkuat sistem pangan Indonesia. Kekayaan 2.564 spesies tumbuhan pangan memberi bukti nyata bahwa Indonesia mengantongi modal besar untuk memimpin ketahanan pangan berkelanjutan.
(Jingga Sonjaya)



