spot_imgspot_img
Minggu 9 Agustus 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

9 Agustus Diperingati sebagai Hari Masyarakat Adat Sedunia, Ini Sejarahnya

NASIONAL,FOKUSJabar.id: Masyarakat dunia memperingati Hari Masyarakat Adat Sedunia atau International Day of the World’s Indigenous Peoples setiap tanggal 9 Agustus. Pada tahun 2026, peringatan ini jatuh, Minggu (9/8/2026) dengan memberi perhatian khusus terhadap peran pengetahuan tradisional dalam menjaga kesehatan serta kesejahteraan masyarakat adat.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memanfaatkan momentum tahunan ini untuk mendongkrak kesadaran publik mengenai hak, budaya, pengetahuan, serta berbagai tantangan yang masih mengimpit masyarakat adat. PBB juga mengarahkan peringatan ini guna memperkuat upaya perlindungan dan pemajuan hak-hak masyarakat adat di berbagai belahan negara.

Baca Juga: BRIN Ungkap 2.564 Spesies Tumbuhan Berpotensi Jadi Sumber Pangan Indonesia

PBB mengusung tema “Honouring Indigenous Midwives: Safeguarding Life and Well-being” atau “Menghormati Bidan/Mama Bersalin Masyarakat Adat: Melindungi Kehidupan dan Kesejahteraan” pada tahun 2026. Fokus utama ini menyoroti praktik kebidanan masyarakat adat sebagai bagian dari pengetahuan yang terus mengalir lintas generasi dan menyatu dengan kesehatan, budaya, identitas, komunitas, serta wilayah kelola mereka.

Pemilihan tema ini berakar kuat dari pandangan bahwa pengetahuan masyarakat adat memegang peran vital dalam menopang kehidupan komunitas. PBB menyebut sistem pengetahuan tradisional telah menopang dan menjaga keberlangsungan hidup selama beberapa generasi. “Indigenous knowledge systems have sustained the well-being of Indigenous Peoples for generations.”

Kebidanan masyarakat adat menjadi salah satu bentuk pengetahuan yang memetik perhatian khusus dalam peringatan tahun ini. Praktik tradisional ini tidak sekadar menangani proses persalinan, melainkan menjadi pilar sistem pengetahuan serta denyut nadi kehidupan masyarakat adat. PBB menegaskan, “Indigenous midwifery is a powerful expression of these knowledge systems.”

Secara global, PBB menaksir sekitar 476 juta masyarakat adat mendiami lebih dari 90 negara. Mereka merepresentasikan sekitar 5.000 budaya berbeda dan menuturkan sebagian besar dari sekitar 7.000 bahasa yang ada di dunia. Keragaman ini membuktikan betapa kaya budaya dan pengetahuan yang tersimpan di dalam masyarakat adat.

Ancaman Kepunahan Bahasa dan Peran Menjaga Alam

Namun, keberadaan berbagai bahasa dan tradisi lokal ini menghadapi tantangan yang sangat berat. PBB mencatat setidaknya 40 persen bahasa di dunia berada dalam kondisi terancam punah. Bahasa masyarakat adat tergolong paling rentan mengingat ruang publik dan lembaga pendidikan tidak lagi menggunakannya secara luas.

Kehidupan masyarakat adat juga menjalin ikatan yang sangat erat dengan kelestarian lingkungan dan kawasan tempat tinggal mereka. Wilayah kelola masyarakat adat mencakup sekitar 28 persen permukaan bumi serta 11 persen kawasan hutan dunia. PBB menilai masyarakat adat memberi kontribusi paling nyata dalam menjaga sebagian besar keanekaragaman hayati yang masih bertahan hingga hari ini.

Pembahasan mengenai kesehatan masyarakat adat turut mengisi agenda utama PBB sepanjang tahun 2026. United Nations Permanent Forum on Indigenous Issues (UNPFII) menggelar sesi ke-25 pada 20 April hingga 1 Mei 2026 di Markas Besar PBB, New York. Forum internasional ini mengusung tema “Ensuring Indigenous Peoples’ health, including in the context of conflict” yang mengupas kesehatan masyarakat adat dalam situasi konflik, isu hak asasi manusia, pendanaan, serta berbagai persoalan mendesak lainnya.

UNESCO turut memberikan perhatian besar terhadap keberadaan bidan masyarakat adat pada momentum tahun ini. Peran para bidan adat tidak hanya melayani proses persalinan, tetapi juga memancarkan pengetahuan yang mengakar pada budaya dan kehidupan komunitas. Keberadaan bidan adat menjadi semakin krusial di sejumlah wilayah terpencil yang menghadapi hambatan geografis, sosial, maupun budaya untuk mengakses layanan kesehatan modern.

Relevansi di Indonesia dan Suara dari Tanah Papua

Dalam konteks Indonesia, peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia memiliki hubungan erat dengan berbagai persoalan yang belum tuntas, mulai dari pengakuan wilayah adat, perlindungan pengetahuan tradisional, kelestarian lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, hingga akses terhadap layanan dasar. Momentum ini membuka ruang untuk meninjau kembali posisi masyarakat adat dalam konstelasi pembangunan nasional.

Pada Minggu (9/8/2026), Masyarakat Adat Independen Papua (MAI-P) turut menggunakan momentum ini untuk menyuarakan kondisi terkini masyarakat adat di Tanah Papua. Mereka menyoroti sejumlah isu krusial seperti konflik tanah adat, eksploitasi sumber daya alam, deforestasi, konflik agraria, hingga kebijakan pembangunan yang mengancam keberlangsungan masyarakat adat.

Berbagai persoalan tersebut membuktikan bahwa keberadaan masyarakat adat menyatu utuh dengan wilayah, lingkungan, budaya, serta pengetahuan warisan leluhur. Pengetahuan tradisional—termasuk praktik kesehatan dan kebidanan—menjadi identitas sekaligus benteng utama bagi komunitas untuk mempertahankan kehidupan mereka.

Oleh karena itu, upaya melindungi masyarakat adat tidak sekadar melestarikan budaya semata. Pengakuan atas pengetahuan tradisional, perlindungan wilayah adat, pemenuhan hak-hak dasar, serta perluasan akses layanan publik menjadi kunci penting untuk menciptakan kehidupan yang lebih layak bagi komunitas masyarakat adat.

Peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia pada Minggu (9/8/2026) menjadi pengingat penting bagi semua pihak. Tentunya untuk merawat pengetahuan antargenerasi sekaligus menjamin masyarakat adat memperoleh ruang hidup yang bermartabat. Penetapan peran bidan adat sebagai tema tahun ini membuktikan bahwa pengetahuan tradisional memiliki relevansi kuat dalam percakapan global mengenai kesehatan dan kesejahteraan manusia.

(Jingga Sonjaya)

spot_img

Berita Terbaru