PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy mulai menggarap pengerukan Sungai Ciseel dan peninggian tanggul di perbatasan Desa Paledah dan Desa Maruyungsari, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran.
Satu unit alat berat ekskavator memfokuskan pekerjaan pada pengerukan alur sungai serta peninggian dan pelebaran tanggul. Langkah ini untuk memperlancar arus pembuangan air saat debit tinggi agar tidak meluap ke area persawahan warga.
Baca Juga: Hama Wereng dan Walang Sangit Serang Padi di Pangandaran, Petani Lakukan Pengendalian Mandiri
Kepala Desa Maruyungsari, Tusiman, menjelaskan bahwa BBWS Citanduy menjalankan proyek pengerukan ini secara bertahap. Hal itu lantaran sumber pembiayaan mengandalkan dana Operasi dan Pemeliharaan 2 (OP 2) serta Jaminan Pemeliharaan Saluran (JAMPERSAL), bukan anggaran kontraktual.
“Bertahap. Karena menurut informasi dari BBWS, ini anggarannya bukan anggaran dari kontraktual, tapi ini OP 2 dan JAMPERSAL. Jadi anggarannya ya tidak seberapa besar,” ujar Tusiman di kantornya, Rabu (22/7/2026).
Tusiman menyebut pekerjaan ini mengeksekusi hasil audiensi warga Maruyungsari ke kantor BBWS beberapa waktu lalu. Saat itu warga menyuarakan tiga tuntutan: normalisasi Sungai Apur lama, pembenahan pintu air, dan pengerukan Sungai Ciseel.
“Yang baru direalisasi sekarang Ciseel sebagian kecil di bagian ujung. Yang pengerukan Apur itu baru mulai,” jelasnya.
Pangkas Durasi Genangan Banjir Sawah
Sementara itu di Desa Paledah, petugas berfokus mempertinggi dan memperlebar struktur tanggul. Kepala Desa Paledah, Yanto, menyambut baik langkah tersebut guna mengantisipasi luapan air kiriman dari Desa Maruyungsari dan Desa Kertajaya.
“Ya, alhamdulillah Paledah termasuk desa tetangga Maruyungsari, tahun ini mendapatkan normalisasi, sejenis peninggian tanggul atau pelebaran tanggul. Jadi supaya nanti air kiriman dari Maruyungsari dan Kertajaya tidak meluber ke persawahan kami di Desa Paledah,” kata Yanto.
Yanto merinci, pengerjaan tahap anggaran murni tahun ini mencakup panjang 800 meter. Apabila pekerjaan berlanjut hingga ke Pintu Citanduy, total penanganan tanggul akan mencapai hampir 2 kilometer.
Ia optimistis penambahan jalur pembuangan ke Sungai Citanduy mampu memotong durasi genangan banjir yang selama ini mengandalkan Saluran Ciseel yang dangkal.
“Kalau kemarin kan belum ada pembuangan ke Citanduy, cuma ke Ciseel. Minimal kalau banjir yang biasa 10 hari, mungkin karena ada pembuangan dua jadi 5 hari,” tutur Yanto.
Data pemerintah desa mencatat sekitar 700 hektare sawah di kedua desa tersebut langganan terendam banjir tiap musim hujan—meliputi 200 hektare di Maruyungsari dan 500 hektare di Paledah.
Sebaliknya, pada musim kemarau tahun ini, para petani sukses menanami seluruh lahan tersebut dengan kondisi tanaman tumbuh subur. Warga berharap BBWS Citanduy menyelesaikan pengerukan ini secara tuntas demi mengakhiri ancaman banjir tahunan.
(Sajidin)



