spot_imgspot_img
Selasa 21 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Rektor UPI Sebut Probidik GemaJabar itu Panggilan Jiwa Mahasiswa Kependidikan

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., merespons keras gelombang protes mahasiswa terhadap Program Penguatan Profesional Bidang Kependidikan (Probidik) Gerakan Mahasiswa Mengajar di Jawa Barat (GemaJabar).

Prof. Didi menyampaikan tanggapannya usai memimpin acara Wisuda Gelombang III yang melantik 999 lulusan di Gedung Gymnasium UPI, Kota Bandung, Selasa (21/7/2026).

Baca Juga: Prof. Didi: Lulusan UPI Harus Punya Integritas dan Jadi Problem Solver

Rektor menilai aksi penolakan tersebut lahir dari kelompok mahasiswa yang tidak terlibat langsung atau memiliki pandangan kritis. Ia menegaskan bahwa kolaborasi UPI dan Pemprov Jabar ini murni menjadi jawaban darurat atas krisis tenaga pengajar.

“Yang menolak (Probidik GemaJabar) bisa saja mahasiswa yang tidak ikut serta atau mungkin yang memiliki pemikiran yang lebih kritis terhadap program tersebut. Tapi intinya, Probidik MegaJabar itu sebagai solusi sementara, solusi jangka pendek,” kata Prof. Didi.

Pemetaan internal UPI mengungkapkan fakta minimnya jumlah guru di berbagai SMA, SMK, hingga SLB se-Jawa Barat. Lewat skema ini, sebanyak 1.147 mahasiswa UPI akan mengabdi di 364 satuan pendidikan selama enam bulan.

Melatih Mental Calon Pendidik

Selain menyelamatkan hak belajar para siswa, program ini melatih mental calon pendidik sekaligus mengonversi pengalaman lapangan menjadi beban studi senilai 20 SKS.

“Jadi daripada ada kelas kosong dan tidak ada guru mengajar maka akan menimbulkan learning loss yang bisa berdampak pada generation loss. UPI sebagai perguruan tinggi yang berfokus pada pendidikan merasa terpanggil dan jika ada yang tidak terpanggil maka itu bukan mahasiswa UPI karena jiwanya bukan kependidikan,” Prof. Didi menegaskan.

Di sisi lain, kalangan mahasiswa menuntut transparansi kebijakan, kejelasan konversi akademik, kepastian insentif, hingga jaminan opsi P3K Reguler. Menjawab keluhan teknis dan penempatan lokasi yang jauh tersebut, Rektor meminta mahasiswa bersikap dewasa.

“Program ini merupakan panggilan jiwa sebagai mahasiswa kependidikan, saya harap jangan cengeng karena penempatan sekolahnya jauh atau kendala lain. Jangan selalu melihat dari sisi kekurangannya saja, tapi tujuan mulia menyelamatkan generasi kedepan. Kita sudah dialog dengan mereka dan 1.147 mahasiswa itu sudah ditempatkan serta merasa nyaman,” kata Prof. Didi.

Prof. Didi menepis anggapan bahwa program ini mengancam posisi guru honorer atau menutup kran pengangkatan tenaga kerja baru. Ia menyebut GemaJabar murni hadir untuk menambal keterbatasan anggaran daerah tanpa mengorbankan mutu pendidikan siswa.

“Jadi program ini bukan untuk menggantikan guru honorer. Bukan juga menghalangi pengangkatan guru, atau calon guru yang kurang. Tetapi lebih kepada solusi untuk mengatasi keterbatasan anggaran pemerintah dalam melakukan pengangkatan guru-guru baru dan hak belajar para siswa tetap terpenuhi,” kata Prof Didi.

(Ageng)

spot_img

Berita Terbaru