PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Sistem pelaporan data di tingkat pusat mencatat penurunan angka minat baca di Kabupaten Pangandaran. Padahal, fakta di lapangan justru menunjukkan lonjakan jumlah kunjungan masyarakat ke perpustakaan daerah secara signifikan.
Ketimpangan data tersebut memicu reaksi dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pangandaran, Heri Gustari. Pihaknya menjelaskan bahwa masalah ini bersumber dari perubahan teknis pelaporan dari pemerintah pusat yang belum dikuasai oleh para pengelola perpustakaan di daerah.
Baca Juga: Wisatawan Asal Bandung yang Terseret Ombak di Pantai Pangandaran Meninggal
“Dulu, pelaporan data perpustakaan desa, sekolah, hingga daerah dilakukan oleh satu orang PIC di tingkat kabupaten. Data kemudian diteruskan ke pusat,” kata Heri Gustari, Senin (20/7/2026).
Namun, pemerintah pusat merombak total mekanisme pelaporan tersebut sejak pertengahan tahun 2025. Sistem baru mengharuskan setiap pengelola perpustakaan desa maupun sekolah untuk menginput data kunjungan secara mandiri melalui aplikasi khusus.
“Nah, sekarang teknisnya berubah dari kebijakan pusat. Ada cara baru. Jadi, sekarang yang bersangkutan yang melaporkan. Misalkan ada perpusdes, itu desanya yang melaporkan ke pusat melalui aplikasi,” jelas Heri.
Heri membeberkan bahwa transisi sistem digital ini berdampak pada penurunan laporan data secara masif di hampir seluruh kabupaten dan kota. Banyak pengelola di tingkat bawah yang belum mahir mengoperasikan platform baru tersebut.
“Nah, jadi sekarang itu hampir semua kabupaten kota menurun dari sisi laporan. Tapi kalau dari sisi kenyataan kita ternyata naik,” ujarnya.
Data Pusat Anjlok Padahal Pengunjung Naik, Dispusip Pangandaran Ungkap Kendala Aplikasi Baru
Ia menilai kelemahan utama sistem baru ini terletak pada minimnya pemahaman teknologi para pengelola di lapangan. Guna mengatasi masalah tersebut, tim Pihaknya kini gencar turun ke wilayah-wilayah untuk mendampingi serta mensosialisasikan penggunaan aplikasi tersebut.
“Hampir di semua daerah itu, mereka belum melaporkan karena ini aplikasinya baru. Makanya sekarang kita lagi keliling untuk menyampaikan aplikasi itu,” tegas Heri.
Di balik kendala administratif tersebut, Dispusip Pangandaran mencatat grafik lonjakan pengunjung yang menggembirakan. Rata-rata kunjungan harian ke Perpustakaan Daerah Pangandaran kini menyentuh angka 95 orang per hari, atau mencapai sekitar 2.000 pemustaka setiap bulannya.
“Kalau sekarang 95 orang. Berbanding dengan 2025, angka ini mengalami kenaikan,” papar Heri.
Kelompok anak usia Sekolah Dasar (SD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) mendominasi deretan pengunjung perpustakaan. Guna memantik kegemaran membaca sejak dini, dinas secara rutin melayangkan surat ke sekolah-sekolah agar menjadwalkan agenda kunjungan belajar siswa.
“Kita kan mengirim surat ke sekolah. Nah, untuk berkunjung ke sini supaya si anak-anak itu mau membaca. Ada tambahan pelajaran untuk berkunjung ke perpustakaan,” urainya.
Saat ini, keanggotaan aktif Perpustakaan Daerah Pangandaran telah menembus angka 6.000 orang dengan integrasi pendaftaran berbasis NIK. Pihak perpustakaan menyediakan sekitar 22.700 eksemplar koleksi buku yang berfokus pada kategori ilmu terapan, keagamaan, serta fiksi.
“Buku yang paling banyak para pembaca pinjam adalah novel karya Tere Liye,” ungkapnya.
Melalui pendampingan aplikasi baru secara intensif, Pihaknya menargetkan pengelola di 93 desa se-Kabupaten Pangandaran dapat mengunggah data secara rutin. Langkah ini penting agar potret capaian minat baca daerah yang sebenarnya dapat terekam sempurna di pusat.
(Sajidin)



