PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Nasib kurang beruntung masih menggelayuti para petani kelapa di Kabupaten Pangandaran. Harga jual kelapa di tingkat produsen anjlok parah selama lebih dari lima bulan terakhir, sehingga memangkas pendapatan mereka secara drastis.
Kondisi pelik ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan petani terhadap keberlangsungan usaha perkebunan kelapa. Padahal, komoditas ini menjadi tumpuan utama penopang ekonomi keluarga mereka.
Baca Juga: Hari Ketiga, Wisatawan Asal Bandung yang Hilang di Pantai Pangandaran Belum Ditemukan
Saat ini, nilai jual kelapa di tingkat petani hanya menyentuh kisaran Rp 1.700 hingga Rp 2.000 per butir. Angka tersebut merosot jauh di bawah harga normal yang sebelumnya mampu menembus Rp 4.000 hingga Rp 6.000 per butir.
Seorang petani kelapa asal Kecamatan Kalipucang, Aan (55), mengaku hasil buminya kini tidak lagi menjanjikan keuntungan. Pendapatannya dari hasil panen raya yang bergulir setiap dua bulan sekali menyusut lebih dari separuh total omzet biasanya.
“Sudah sekitar lima bulan lebih harganya masih murah. Sekarang saya jual ke bakul paling Rp 1.700 per butir. Kalau dulu bisa mencapai Rp 4.000 sampai Rp 6.000 per butir,” keluh Aan di pekarangan rumahnya, Minggu (19/7/2026).
Jika sebelumnya Aan biasa mengantongi uang sekitar Rp 1,5 juta setiap musim panen, kini ia hanya membawa pulang paling banyak Rp 600 ribu. Keadaan ini memaksanya untuk memutar otak demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya berharap harga kelapa segera kembali normal karena ini sumber utama pendapatan keluarga,” harapnya.
Ketegangan Geopolitik Internasional Memicu Kenaikan Harga
Di sisi lain, seorang pengepul kelapa di Kecamatan Padaherang, Marsudin membeberkan pemicu utama di balik hancurnya harga komoditas ini. Menurutnya, ketegangan geopolitik internasional telah mengacaukan jalur logistik ke pasar Timur Tengah.
Sebelum konflik bersenjata di kawasan tersebut meletus, permintaan pasar internasional terhadap kelapa Pangandaran tergolong sangat tinggi. Hal itulah yang sempat membuat harga di tingkat petani lokal stabil bahkan merangkak naik.
“Kalau dulu sebelum ada perang Iran, harga kelapa masih normal bahkan naik karena bisa kirim barang ke pasar Timur Tengah. Tapi sekarang tidak bisa,” jelas Marsudin.
Marsudin sangat berharap situasi global segera membaik agar keran ekspor kembali terbuka lebar dan memulihkan harga kelapa nasional. Ia mengaku ikut prihatin melihat kondisi para petani yang terus merugi.
“Ya, mudah-mudahan mah harganya cepat normal lagi. Kasihan juga petani,” pungkas Marsudin.
Dengan harga yang masih tertahan di level terendah, ribuan petani kelapa di Pangandaran kini menggantungkan asa pada kebijakan pemerintah. Mereka menanti kepastian pasar baru agar komoditas andalan Tatar Galuh ini kembali memiliki nilai jual yang layak.
(Sajidin)



