spot_imgspot_img
Senin 13 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sudah Dibangun Rp600 Juta, IPAL di Pantai Barat Pangandaran Ternyata Belum Berfungsi

PANGANDARAN, FOKUSJabar.id: Fasilitas Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) komunal yang berada di depan Hotel Horison Pos 1 Pantai Barat Pangandaran diduga kuat belum beroperasi secara fungsional.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pangandaran, Irwansyah, membenarkan kabar mandeknya operasional infrastruktur tersebut melalui pesan singkat WhatsApp, Senin (13/7/2026).

Baca Juga: Limbah Berbau Menyengat di Pantai Barat Pangandaran, DLH Siapkan Tiga Langkah Penanganan

“Sepertinya IPAL masih finalisasi. Itu belum digunakan,” ungkap Irwansyah kepada wartawan.

Padahal, Bupati Pangandaran Citra Pitriyami sebelumnya sempat melayangkan pernyataan optimistis bahwa pembangunan IPAL tersebut bakal menjadi proyek percontohan (pilot project) pengelolaan limbah yang ideal di kawasan wisata.

Irwansyah memaparkan bahwa Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PUTRPRKP) Pangandaran bertindak sebagai pelaksana proyek IPAL komunal tersebut. Pembangunan fasilitas ini menelan anggaran kedinasan sekitar Rp600 juta dari pagu tahun anggaran 2025.

“Itu yang ngebangunnya oleh dinas PU,” tambah Irwansyah.

Ia menjabarkan, skema rancangan IPAL komunal ini sejatinya mampu menampung dan mengolah air limbah domestik secara kolektif, mulai dari cakupan zona Hotel Laut Biru hingga kawasan Cagar Alam.

“Itu juga IPAL komunal di zona sekitar itu,” jelasnya.

Limbah Hitam Berbau Busuk Mengancam Kawasan Wisata

Pantauan langsung di lokasi menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Bangunan IPAL komunal tampak tertanam di bawah permukaan tanah tanpa aktivitas operasional. Mirisnya, tidak jauh dari titik infrastruktur tersebut, terlihat aliran limbah cair berwarna hitam pekat yang mengeluarkan aroma tidak sedap mengalir bebas menuju bibir laut.

Pencemaran lingkungan tidak sekadar berpusat di titik depan Hotel Horison. Pemandangan serupa juga mewarnai wilayah Pos 4 Pantai Barat. Di area tersebut, terdapat dua saluran pembuangan air yang memuntahkan cairan limbah pekat langsung ke arah laut.

Berbagai jenis sampah mulai dari botol plastik, pecahan kaca, sisa kelapa muda, hingga koloni jentik nyamuk tampak mengapung di atas cairan hitam tersebut. Cairan pekat ini juga menyemburkan aroma busuk yang sangat menyengat hidung.

Kondisi buruk ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku wisata. Jika pembiaran terus berlangsung, limpahan zat pencemar tersebut berpotensi merusak ekosistem pantai. Serta merenggut kenyamanan para pelancong, mengingat Pantai Barat Pangandaran memegang predikat sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru