CIAMIS,FOKUSJabar.id: Panitia seleksi telah merampungkan seluruh proses penyaringan Rektor Universitas Galuh (Unigal) Ciamis. Ketua Dewan Pembina Unigal, Agun Gunandjar Sudarsa, menjelaskan bahwa timnya menjalankan seleksi ini secara bertahap melalui penilaian objektif dari pengurus yayasan serta tim independen pimpinan Prof. Uman dan Prof. Syamsu.
Dari total 13 dosen yang memenuhi kriteria awal, tim penilai menyaring para pendaftar hingga mengerucut menjadi lima kandidat untuk menjalani tahapan uji publik. Proses kompetisi yang ketat tersebut kemudian menyisakan dua kandidat akhir, yaitu Dr. Tita dan Dr. Dewi.
Melalui rangkaian penilaian komprehensif ini, Dr. Tita akhirnya keluar sebagai Rektor Unigal terpilih yang baru. Kemenangan Dr. Tita juga mendapatkan dukungan penuh dari Dr. Dewi, yang secara berlapang dada mengakui keunggulan jam terbang serta pengalaman koleganya tersebut.
Rektorat Baru Wajib Bedah Masalah 850 Mahasiswa Mandek
Usai prosesi pelantikan, sederet tugas berat langsung menanti rektor baru. Agun menyebut bahwa Unigal saat ini sedang menghadapi tantangan serius berupa tren penurunan jumlah mahasiswa baru—sebuah fenomena yang menurutnya juga tengah melanda berbagai kampus lain di Indonesia.
Selain urusan penurunan pendaftar baru, pihak yayasan juga menyoroti nasib sekitar 850 mahasiswa lama yang studinya berjalan mandek (stagnant). Terkait dua persoalan krusial ini, Dewan Pembina menginstruksikan rektorat baru segera menggelar riset mendalam. Tujuannya untuk memetakan akar penyebab masalah secara akurat.
Agun juga menekankan pentingnya mengawal visi besar Unigal sebagai kampus konservasi budaya. Ia meluruskan pemahaman publik bahwa konservasi budaya di lingkungan Unigal tidak boleh hanya terjebak pada urusan pementasan seni tari atau sekadar ritual berkunjung ke situs-situs bersejarah. Visi ini harus mewujud nyata dalam implementasi nilai-nilai lokal, yaitu Budaya Galuh yang berlandaskan asas asah, asih, dan asuh.
“Contoh konkretnya adalah penegakan kawasan bebas rokok dan pembiasaan pola hidup bersih di lingkungan kampus. Hingga rencana penggunaan busana adat Galuh pada hari-hari tertentu,” ujar Agun.
Di akhir dialog, wartawan sempat meminta tanggapan Agun mengenai dinamika politik daerah terkait pengisian posisi Wakil Bupati Ciamis yang masih kosong. Namun, politisi senior ini enggan berkomentar jauh dan menegaskan bahwa persoalan tersebut sepenuhnya menjadi wewenang serta hak prerogatif Bupati Ciamis.
(IrfansyahRiza)



