spot_imgspot_img
Selasa 7 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Dulu Produksi 5 Kuintal, Kini Perajin Pangandaran Sulit Dapat 1 Kuintal Ikan

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Para pelaku usaha olahan ikan di Kabupaten Pangandaran mulai merasakan dampak buruk dari kelangkaan ikan kadukang. Akibat kondisi tersebut, volume produksi jambal roti khas pesisir selatan mengalami penurunan yang cukup drastis dalam beberapa bulan terakhir.

Ikan kadukang sendiri memegang peran krusial sebagai bahan baku utama dalam pembuatan jambal roti. Namun, para perajin kuliner pesisir kini menghadapi kesulitan besar untuk mendapatkan komoditas tersebut jika membandingkannya dengan tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Kemarau di Pangandaran Paksa Petani Sewa Pompa Air demi Selamatkan Sawah

Pemilik usaha Jambal Roti Lizakha, Lita Fadilah, mengonfirmasi bahwa menipisnya pasokan ikan langsung memukul kapasitas produksinya hingga anjlok ke titik terendah.

“Kami ambil ikan dari supplier di Pangandaran dan Cilacap. Sebelumnya produksi bisa lebih dari 5 kuintal, sekarang untuk dapat 1 kuintal saja susah,” kata Lita, Selasa (7/7/2026).

Menurut analisis Lita, keterbatasan pasokan ini berakar dari hasil tangkapan nelayan lokal yang tidak sebanyak biasanya. Kondisi tersebut kian rumit karena sistem distribusi di tempat pelelangan ikan (TPI) kini berjalan semakin ketat dan kompetitif.

“Nelayan itu naik ke daratan kadang ikannya sudah ada yang nyarter,” keluh Lita menggambarkan ketatnya persaingan mendapatkan bahan baku.

Harga Garam Korosok Ikut Mencekik Ongkos Produksi

Minimnya ketersediaan barang di pasar otomatis mendongkrak harga jual bahan baku secara instan. Para pengepul kini melepas ikan kadukang dengan harga di atas Rp30.000 per kilogram, padahal sebelumnya pengusaha hanya perlu membayar Rp20.000 per kilogram.

Beban operasional para pengrajin makin membengkak menyusul kenaikan harga garam korosok di pasaran. Pemasok yang mendatangkan garam khusus tersebut dari Pati, Jawa Tengah, kini mematok harga Rp70.000 hingga Rp80.000 per karung, naik dari harga normal yang berada di angka Rp50.000.

“Garam itu penting untuk proses pengawetan dan fermentasi. Kalau garam mahal, otomatis biaya produksi naik,” tutur Lita.

Garam memang menjadi komponen paling vital dalam pembuatan jambal roti karena sangat memengaruhi kualitas rasa serta daya tahan simpan produk olahan tersebut.

Permintaan Pasar Digital Tetap Tinggi

Ironisnya, kelangkaan bahan baku ini terjadi di tengah tingginya arus permintaan pasar terhadap produk jambal roti, terutama lewat jalur penjualan online (e-commerce).

Saat pasokan ikan masih berada dalam kondisi normal, rumah produksi milik Lita mampu menelurkan lebih dari 1 ton jambal roti per bulan. Tim produksinya bahkan biasa mengolah ikan hingga 3 kali dalam sepekan.

“Kalau ikan banyak, dalam satu bulan penjualan online bisa sampai lebih dari satu ton,” ujarnya.

Namun kini, keterbatasan pasokan ikan kadukang memaksa mesin produksi berjalan tidak optimal. Pelaku usaha mengkhawatirkan kondisi ini bakal mengancam keberlangsungan bisnis olahan ikan tradisional di Pangandaran yang selama ini menggantungkan nasib pada hasil tangkapan nelayan lokal.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru