spot_imgspot_img
Selasa 7 Juli 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kemarau di Pangandaran Paksa Petani Sewa Pompa Air demi Selamatkan Sawah

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Musim kemarau tahun ini mulai mengancam stabilitas produksi padi di Desa Sindangjaya, Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran. Menyusutnya debit air di saluran irigasi memaksa para petani menyewa mesin pompa secara swadaya guna menyedot air dari sungai demi menyelamatkan tanaman mereka.

Kondisi pelik ini memicu keluhan dari petani setempat, Kusmayadi (56). Menurut pengamatannya, bencana kekeringan tahun ini terasa jauh lebih ekstrem jika kita bandingkan dengan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Pangandaran Raup PAD dari Sektor Wisata Rp5,2 Miliar Selama 12 Hari Libur Sekolah

“Biasanya memasuki Mei sampai Juni mulai kering, tetapi air di saluran irigasi masih mengalir normal. Sekarang debitnya kecil sekali sehingga sawah tidak lagi mendapat pasokan air yang cukup,” kata Kusmayadi, Selasa (7/7/2026).

Keterbatasan pasokan air baku ini akhirnya memaksa para petani mengandalkan pompa air. Mereka harus menanggung sendiri seluruh biaya operasional, mulai dari sewa unit mesin hingga pembelian bahan bakar solar.

“Kalau sekarang sistemnya ada air, ada uang. Sebelum menyedot air, petani harus membayar dulu biaya solar,” ketusnya menggambarkan situasi di lapangan.

Di wilayah Sindangjaya, pengelola mematok tarif penyedotan air mencapai Rp100.000 untuk setiap 100 bata sawah. Untuk lahan miliknya sendiri yang seluas 400 bata atau sekitar tujuh petak, Kusmayadi sudah merogoh kocek hingga Rp350.000 hanya untuk satu kali proses penyedotan.

Beban pengeluaran tersebut tampaknya belum akan berhenti. Jika awan belum menurunkan hujan dan debit sungai terus merosot, Kusmayadi harus mengulang proses penyedotan air dalam kurun waktu 2 hingga 3 pekan ke depan.

Prediksi Hasil Panen Padi Bakal Merosot Tajam

Selain membengkakkan ongkos produksi, minimnya pasokan air ini juga berpotensi memangkas volume hasil panen secara drastis.

Dalam kondisi normal dengan kecukupan pasokan air, lahan seluas 400 bata milik Kusmayadi biasanya mampu menghasilkan sekitar 2 ton gabah kering. Namun, untuk musim tanam kali ini, ia memprediksi sawahnya hanya akan menghasilkan sekitar 5 kuintal saja.

“Kalau airnya normal bisa lebih dari dua ton. Sekarang paling sekitar lima kuintal saja,” keluhnya lirih.

Kusmayadi beruntung karena letak sawah miliknya masih berdekatan dengan sumber air sehingga masih bisa ia selamatkan. Sebaliknya, lahan pertanian yang berada jauh dari saluran irigasi kini kondisinya mulai mengering, tanahnya retak-retak, dan daun padi mulai menguning.

“Yang jauh dari saluran air sudah mulai mengering. Ada yang tanahnya retak dan tanamannya mulai menguning. Kalau tidak segera mendapat air, bisa gagal panen,” cetus Kusmayadi mengingatkan risiko terburuk.

Penerapan pompa air semacam ini sebenarnya bukan agenda tahunan bagi petani setempat. Sepanjang menggeluti dunia pertanian, Kusmayadi mengaku baru mengalami kondisi ekstrem ini sebanyak dua kali, yakni saat kemarau panjang tahun 2019 dan musim kemarau tahun ini.

Guna menghemat ketersediaan air yang kian menipis, para petani di wilayah irigasi Desa Sindangjaya kini memberlakukan sistem gilir sedot air. Setiap kelompok tani mendapatkan jatah pengairan selama beberapa hari agar seluruh petak lahan tetap mendapatkan pasokan air meski dalam jumlah terbatas.

Di samping menyedot air, petani juga mengupayakan penyemprotan nutrisi daun secara berkala. Namun, Kusmayadi menilai langkah alternatif tersebut tidak akan membuahkan hasil maksimal jika kebutuhan air utama tanaman tidak terpenuhi.

“Harapannya hujan segera turun agar tanaman padi bisa bertahan sampai panen. Kalau kemarau terus berlanjut, potensi penurunan produksi sampai gagal panen akan semakin besar, terutama di lahan yang tidak terjangkau pompa,” pungkas Kusmayadi.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru