GARUT, FOKUSJabar.id: Dewan Pembina Wanoja Gatra, Hj Ai Ratna Yuliani Holil menyebut, Raden Ayu Lasminingrat adalah pelopor kebangkitan intelektual perempuan Indonesia.
“Bangsa yang besar lahir dari perempuan yang berilmu, berakhlak dan berbudaya.” Kalimat tersebut sangat tepat menggambarkan sosok Raden Ayu Lasminingrat.
BACA JUGA:
Usai Musda, Golkar Garut Harus Fokus Gerakkan Ekonomi Rakyat
“Beliau adalah seorang perempuan Sunda yang mengabdikan hidupnya untuk membangun peradaban melalui pendidikan, literasi dan keteladanan,” kata Ai Ratna.
Raden Ayu Lasminingrat (1854–1948) merupakan putri dari Raden Haji Muhammad Musa, Hoofd Penghulu Limbangan, ulama sekaligus pujangga besar Sunda.
Dia tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi agama, ilmu pengetahuan, budaya dan akhlak.
Pada masa ketika kaum perempuan masih di pandang sebatas pelengkap kehidupan domestik, Raden Ayu Lasminingrat justru membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan berpikir, berkarya dan memimpin perubahan.
Dia menguasai bahasa Belanda, menerjemahkan berbagai buku pendidikan ke dalam bahasa Sunda, menulis karya-karya yang mudah di pahami masyarakat serta memperjuangkan agar perempuan memperoleh hak untuk belajar.
Puncak perjuangannya di wujudkan melalui berdirinya Sakola Kautamaan Istri di Garut Jawa Barat (Jabar) pada tahun 1907.
Sekolah tersebut bukan sekadar tempat belajar membaca dan menulis. Namun menjadi ruang pembentukan karakter perempuan yang berilmu, beradab, terampil serta mampu mengabdikan dirinya kepada keluarga, masyarakat dan bangsa.
Gagasan itu menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan perempuan di Indonesia.
Ai Ratna mengatakan, kebesaran Raden Ayu Lasminingrat tidak hanya terletak pada kecerdasannya. Yang lebih penting adalah keteladanan hidupnya.
Dia menunjukkan bahwa ilmu harus melahirkan kerendahan hati, akhlak mulia, kepedulian sosial dan pengabdian tanpa pamrih. Baginya, pendidikan bukan untuk mengejar kedudukan, melainkan untuk memuliakan manusia.
“Nilai-nilai itulah yang menjadi inspirasi Wanoja Gatra. Organisasi ini memandang Beliau sebagai Putri Luhur Tanah Limbangan yang mewariskan semangat membangun perempuan melalui iman, ilmu, adab dan budaya,” ungkapnya.
“Keteladanan beliau menjadi pedoman dalam membentuk perempuan Garut Utara yang tidak hanya cerdas secara intelektual. Tetapi juga kuat secara spiritual, kokoh dalam moral dan aktif membangun masyarakat,” Dia menambahkan.
BACA JUGA:
Masjid Jami Cijambe jadi Inspirasi Kebangkitan Peradaban Garut Utara
Bagi Wanoja Gatra, perempuan bukan sekadar pendamping, melainkan pilar utama peradaban.
Dari tangan seorang ibu lahir generasi. Dari didikan seorang perempuan tumbuh karakter bangsa dan dari keteladanan seorang wanoja lahir masa depan daerah.
Oleh karena itu, perjuangan Raden Ayu Lasminingrat harus terus di hidupkan sebagai ruh gerakan perempuan Garut Utara.
“Meneladani beliau berarti menjadikan ilmu sebagai cahaya, akhlak sebagai mahkota dan pengabdian sebagai jalan hidup. Inilah makna sejati Getih Limbangan: melahirkan perempuan yang solehah, berilmu, bermartabat, mencintai budaya serta siap mengabdi demi kemajuan Garut Utara, Tatar Sunda dan Indonesia.”
“Beliau bukan hanya milik sejarah. Tetapi cahaya yang terus menerangi langkah Wanoja Gatra dalam membangun perempuan yang beriman, berilmu, berbudaya dan berperadaban,” pungkasnya.
(Bambang Fouristian)



