PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Catatan mencetak 400 penari selama kurun waktu sembilan tahun membuktikan keberhasilan Sanggar Putra Rengganis dalam menerapkan strategi pendidikan seni tradisional yang melawan arus. Sanggar ini memprioritaskan pemahaman akar budaya sebelum menciptakan kreasi baru, sekaligus menggembleng mental panggung siswa di atas mengejar popularitas semata.
Namun, pengelola sanggar saat ini menghadapi dua ganjalan struktural yang berat. Masalah tersebut meliputi ketiadaan pengakuan formal atas sertifikat kelulusan dari Dinas Pendidikan, serta tingginya tuntutan sistem pertunjukan dadakan khas daerah wisata yang akrab dengan istilah “Sistem Sangkuriang”.
Baca Juga: Polemik Investasi MBA Memanas, RPB Minta Ketua BK DPRD Pangandaran Dicopot Sementara
“Kami mewajibkan anak-anak memahami akar tari tradisional terlebih dahulu sebelum mereka mempelajari tarian kreasi modern. Sebagai contoh, tari Keser Bojong yang kami tampilkan dalam Evaluasi Tengah Semester ini mengemban nilai sejarah yang sangat tua,” jelas Ketua Sanggar Putra Rengganis, Iis Rahmini Juni Anita, Sabtu (27/6/2026).
Hadapi ‘Sistem Sangkuriang’ Wisata Pangandaran, Sertifikat Sanggar Justru Terganjal Birokrasi Pendidikan
Pendekatan disiplin ini membedakan Sanggar Putra Rengganis dari tren sanggar modern yang cenderung mengeksploitasi tarian viral demi popularitas instan. Iis secara konsisten membangun fondasi ketukan tempo, hitungan ritme, dan karakter gerak tubuh anak-anak sejak usia dini, mulai dari 3,5 tahun. Metode ini terbukti sukses mengantarkan sebagian alumni menembus jurusan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) hingga mendirikan sanggar mandiri.
Dalam agenda Evaluasi Tengah Semester, sebanyak 50 siswa dari jenjang pra-sekolah hingga remaja wajib naik panggung dengan mengenakan kostum pertunjukan, riasan wajah lengkap, serta sanggul tradisional. Iis sengaja menerapkan standar tinggi ini guna mengikis mental demam panggung sejak dini.
Kesiapan mental ini menjadi modal utama para penari untuk menghadapi dinamika pariwisata Pangandaran. Di mana menuntut penampilan insidental berskala besar dalam hitungan jam demi menyambut menteri maupun pejabat negara.
Meski sukses menorehkan prestasi mentereng seperti menembus babak grand final Mojang Jajaka Jaipong Jawa Barat dan memeriahkan pembukaan ajang catur internasional Pan Asia Chess sanggar ini masih terbentur masalah birokrasi administratif.
Dinas Pendidikan setempat belum mengakui legalitas sertifikat evaluasi sanggar. Sehingga para siswa kerap menemui jalan buntu saat memanfaatkan jalur prestasi untuk mendaftar ke SMA favorit.
Iis berharap pemerintah daerah segera menurunkan instrumen pengakuan formal. Serta sokongan dana alih-alih memposisikan pelaku seni sebagai pihak yang terus meminta bantuan.
(Sajidin)



