spot_imgspot_img
Kamis 25 Juni 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Ruh Perjuangan Garut Utara Menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur

GARUT, FOKUSJabar.id: Perjuangan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Garut Utara bukan sekadar ikhtiar melahirkan sebuah daerah administratif baru.

Demikian di sampaikan Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Holil Aksan Umarzen. Menurutnya, perjuangan ini merupakan gerakan peradaban yang berangkat dari kesadaran sejarah, tanggung jawab moral dan amanat generasi untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat.

BACA JUGA:

Warga Sukaluyu Garut Siap Bergabung dengan DOB Gatra

Di tengah dinamika pembangunan dan persaingan global yang semakin kompetitif, setiap daerah di tuntut memiliki daya saing, kemandirian serta kemampuan mengelola potensi yang di milikinya.

Kata Holil, daerah yang tidak mampu beradaptasi akan tertinggal. Sedangkan daerah yang memiliki visi, persatuan dan kepemimpinan yang kuat akan tumbuh menjadi pusat kemajuan baru.

Dalam konteks itulah perjuangan Garut Utara menemukan relevansinya.

Pemekaran bukanlah tujuan akhir. Pemekaran hanyalah instrumen konstitusional untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan, mendekatkan pelayanan publik, mempercepat pemerataan pembangunan, meningkatkan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Namun perjuangan Garut Utara sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi persyaratan administratif dan politik.

Menurutnya, perjuangan tersebut mengandung cita-cita untuk mengembalikan peran strategis kawasan Limbangan dan Garut Utara sebagai salah satu pusat pertumbuhan, pendidikan, budaya, ekonomi rakyat serta pusat kemaslahatan masyarakat di wilayah timur Jawa Barat.

BACA JUGA:

Ade Husna: Politik dan Dunia Usaha Harus Ikut Memikul Perjuangan Garut Utara

Karena itu, perjuangan ini harus memiliki ruh, arah dan nilai yang menjadi pedoman bersama. Ruh perjuangan tersebut tercermin dalam filosofi luhur warisan para leluhur.

Limbangan Ngadaun Ngora: Wariskan Mata Air, Jangan Air Mata

Filosofi ini lahir dari kearifan masyarakat Sunda yang memahami bahwa keberhasilan suatu generasi tidak di tentukan oleh apa yang berhasil di nikmati. Melainkan oleh apa yang berhasil di wariskannya.

Ngadaun Ngora menggambarkan kehidupan yang terus tumbuh, berkembang dan melakukan regenerasi. Sebagaimana pohon yang sehat akan selalu melahirkan daun-daun muda. Demikian juga sebuah daerah harus mampu melahirkan generasi penerus yang lebih baik, cerdas, berakhlak dan lebih siap menghadapi tantangan zaman.

Filosofi tersebut mengajarkan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada satu generasi. Setiap generasi memiliki kewajiban menyiapkan generasi berikutnya agar memiliki kehidupan yang lebih baik.

“Wariskan Mata Air, Jangan Air Mata” mengandung pesan pembangunan yang sangat mendalam. Di mana Mata air adalah simbol kehidupan. Mata air memberi manfaat bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa yang panjang.

Dalam perspektif pembangunan daerah, mata air dapat di maknai sebagai segala sesuatu yang menjadi sumber kemajuan masyarakat.

Mata air pendidikan melahirkan SDM unggul. Mata air keagamaan melahirkan masyarakat berakhlak mulia. Mata air ekonomi  menciptakan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan.

Mata air pelayanan publik memberikan rasa keadilan. Mata air budaya menjaga identitas dan jati diri daerah. Mata air lingkungan menjamin keberlanjutan kehidupan serta Mata air persatuan yang memperkuat kohesi sosial masyarakat.

BACA JUGA:

Deden Sopian: Garut Utara Jangan jadi Penonton di Rumah Sendiri

Sebaliknya, air mata adalah simbol dari berbagai persoalan yang harus di cegah dan tidak boleh di wariskan kepada generasi mendatang.

“Air mata akibat kemiskinan. Air mata akibat pengangguran. Air mata akibat ketimpangan pembangunan. Air mata akibat rendahnya kualitas pendidikan. Air mata akibat rusaknya lingkungan hidup. Air mata akibat konflik sosial dan perpecahan serta Air mata akibat hilangnya identitas sejarah dan budaya daerah. Itu semua tidakboleh di wariskan,” tegasnya.

Karena itu, perjuangan DOB Kabupaten Garut Utara harus di maknai sebagai upaya mewariskan “mata air” dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Secara historis, kawasan Garut Utara memiliki modal sosial, budaya dan sejarah yang sangat kuat. Kawasan ini merupakan bagian penting dari perjalanan Kabupaten Limbangan yang pernah menjadi pusat pemerintahan dan peradaban di wilayah Priangan.

Jejak sejarah tersebut bukan untuk di kenang sebagai romantisme masa lalu. Tetapi menjadi inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Kita tidak sedang bernostalgia terhadap kejayaan masa lalu. Kita sedang membangun kejayaan baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Perjuangan Garut Utara harus di arahkan pada terwujudnya visi besar. Yakni, Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Baik tata kelola, kualitas manusia, ekonomi, lingkungan, kehidupan sosial, baik akhlak dan moral masyarakatnya serta mampu menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh warganya.

BACA JUGA:

Laskar Prabowo 08: Pelatihan Vokasi Langkah Hebat Wujudkan Asta Cita Presiden

“Dalam konteks Garut Utara, visi tersebut harus di wujudkan melalui pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kualitas SDM, penguatan ekonomi berbasis potensi lokal, pengembangan infrastruktur yang merata, penguatan pendidikan dan pesantren, pelestarian budaya dan sejarah, perlindungan lingkungan hidup, serta tata kelola pemerintahan yang profesional dan melayani,” imbuhnya.

Menurut Holil, perjuangan tersebut butuh persatuan, kesabaran, konsistensi dan pengorbanan. Karena tidak ada perjuangan besar yang lahir secara instan.

Seluruh capaian yang telah di raih selama ini merupakan hasil dari proses panjang yang di bangun oleh para tokoh, ulama, akademisi, pemuda, kepala desa, masyarakat dan seluruh pejuang Garut Utara yang terus menjaga cita-cita bersama.

BACA JUGA:

Oleh sebab itu, perjuangan DOB Kabupaten Garut Utara harus di tempatkan sebagai perjuangan lintas generasi. Bukan untuk kepentingan hari ini semata, tetapi untuk masa depan puluhan bahkan ratusan tahun yang akan datang.

“Mari kita satukan niat, kuatkan tekad dan luruskan tujuan untuk membangun daerah, menyiapkan generasi, menjaga warisan leluhur, mewujudkan kemajuan dan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi anak cucu,” pungkas Holil.

(Bambang Fouristian)

spot_img

Berita Terbaru