PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Destinasi penginapan bagi para pelancong di sekitar Pantai Pangandaran idealnya menyuguhkan suasana yang asri, sejuk, dan nyaman. Namun, pemandangan kontras dan rasa tidak nyaman justru membayang-bayangi para wisatawan saat menginjakkan kaki di Pondok Seni Pangandaran.
Akomodasi penginapan yang berdiri strategis di dekat bibir pantai ini gagal menghadirkan atmosfer liburan yang menyenangkan. Alih-alih melihat vegetasi hijau yang menyegarkan mata, para pengunjung justru harus menyaksikan deretan pohon penghijauan yang kering, meranggas, dan mati tanpa mendapatkan perawatan layak dari pihak manajemen.
Baca Juga: Aplikasi PCMB SMKN 1 Padaherang Pangandaran Sering Down, Kenapa?
Kondisi gersang tersebut memicu tanda tanya besar dari kalangan pelancong. Pasalnya, kompleks penginapan publik ini memiliki struktur manajemen resmi yang memegang mandat penuh untuk mengelola operasional harian kawasan.
Tak hanya merusak estetika lingkungan, pengelola juga mengabaikan aspek keselamatan infrastruktur pejalan kaki. Ubin tegel pada jalur utama yang menghubungkan antar-bangunan banyak yang terlepas, pecah, dan berlumut licin, sehingga berpotensi besar mencelakai para wisatawan yang kurang waspada saat melintas.
Kondisi fisik bangunan pun setali tiga uang. Beberapa unit penginapan tampak terbengkalai dengan struktur atap dan genting yang sudah melengkung hampir roboh. Kerusakan parah pada bagian atap ini menciptakan teror bahaya karena sewaktu-waktu dapat ambruk dan menimpa wisatawan yang berlalu-lalang di bawahnya.
Fasilitas Kamar Mandi Minim, Wisatawan Bongkar Status Kepemilikan Jaswita Jabar
Kecewa dengan area luar, wisatawan kembali mendapati kenyataan pahit saat mengecek bagian interior kamar. Pada unit pondok besar yang memiliki kapasitas tampung hingga sepuluh orang, manajemen hanya menyediakan dua lembar handuk. Pengelola juga alpa menyediakan fasilitas sanitasi mendasar seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, hingga sampo pembasuh rambut.
Seorang pengunjung asal luar daerah, Uus, secara terbuka meluapkan rasa kecewanya terhadap penurunan mutu pelayanan di lokasi tersebut.
“Kami merasakan langsung betapa kondisi di dalam Pondok Seni ini sangat kurang nyaman. Manajemen terkesan membiarkan banyak sekali kekurangan fasilitas di sana-sini,” keluh Uus, Minggu (14/6/2026).
Uus menilai, manajemen Pondok Seni Pangandaran seharusnya mampu menyajikan daya tarik visual dan pelayanan prima yang jauh lebih memikat agar memenangi persaingan bisnis perhotelan. Terlebih lagi, kompleks penginapan ini memegang status mentereng sebagai aset berharga milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.
“Saat saya melintasi gerbang masuk utama, saya membaca spanduk pengumuman yang menyatakan bahwa PT Jasa dan Kepariwisataan Jawa Barat atau Jaswita Jabar bertindak sebagai pihak pengelola resmi Pondok Seni ini,” jelas Uus.
Temuan fasilitas yang terbengkalai ini tentu mencoreng citra pariwisata Pangandaran yang tengah bersolek menuju destinasi kelas dunia. Publik kini mendesak jajaran direksi BUMD Jaswita Jabar bersama Pemprov Jabar untuk segera turun tangan melakukan audit operasional, merenovasi total infrastruktur yang rusak, serta mengevaluasi kinerja pengelola lapangan demi menyelamatkan aset daerah tersebut.
(Husen Maharaja)



