TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Memasuki musim kemarau tahun ini, volume debit air di objek wisata Situ Gede mengalami perubahan yang sangat drastis. Danau legendaris sekaligus destinasi wisata kebanggaan masyarakat Kota Tasikmalaya tersebut kini mulai memperlihatkan tanda-tanda kekeringan yang nyata.
Penyusutan volume air ini terpantau sangat signifikan. Pada area sisi barat danau, daratan luas kini mulai menyembul ke permukaan secara jelas. Hamparan lumpur pekat dan tumbuhnya rumput liar berwarna hijau muda kini menggantikan genangan air jernih yang biasanya menjadi spot swafoto favorit para pelancong.
Baca Juga: Aksi Nyata HIMAGEO Unsil Tasikmalaya Sulap Pantai Ciheras
Kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan menimpa Sungai Cikunten, yang selama ini menjadi urat nadi pasokan air utama menuju Situ Gede. Aliran sungai yang biasanya mengalir deras tersebut kini nyaris tidak menyisakan air, melainkan hanya menyisakan parit kering yang dipenuhi batu. Alhasil, Situ Gede kehilangan pasokan air dari mata air utamanya.
Jajang (40), seorang warga lokal yang menggantungkan hidupnya sebagai penjala ikan di Situ Gede, menyatakan rasa prihatin dan kesedihannya yang mendalam. Ia kini terpaksa berhenti mencari ikan akibat air danau yang menyusut sangat tajam.
“Setiap kemarau memang airnya surut, tetapi dulu saat kemarau panjang sekalipun tidak pernah sampai kering kerontang seperti sekarang. Dulu airnya masih cukup untuk mengairi area persawahan warga di bagian hilir,” keluh Jajang, Minggu (7/6/2026).
Jajang menceritakan bahwa jala yang ia tebar di tengah danau kini tidak lagi menjaring ikan, melainkan hanya mengangkut lumpur pekat. Ia menduga musim kemarau memicu pendangkalan parah di sepanjang aliran Sungai Cikunten yang menyuplai air ke Situ Gede.
Proses sedimentasi yang mengendap selama bertahun-tahun membuat sungai tidak lagi mampu menampung dan mengalirkan pasokan air secara optimal. Selain itu, kerusakan lingkungan di bagian hulu turut mengikis kapasitas produksi mata air. Aktivitas alih fungsi lahan serta menyusutnya zona resapan air dituding menjadi pemicu utama yang memperparah krisis air di kawasan Situ Gede.
Munculnya Sabana Hijau: Berkah Dadakan bagi Wisatawan dan Peternak
Meski penurunan volume air merusak ekosistem danau, fenomena alam ini ternyata tidak sepenuhnya mematikan daya pikat pariwisata Situ Gede. Wilayah danau yang mengering kini menyajikan pemandangan unik berupa hamparan sabana hijau yang estetik, akibat rumput yang tumbuh subur di atas bekas dasar danau.
Pemandangan langka tersebut justru menjadi magnet baru yang memikat para pelancong serta pemburu konten media sosial untuk datang berburu foto dengan latar belakang padang rumput luas dan langit biru yang indah.
“Kondisi ini tidak hanya menarik perhatian wisatawan dan pemburu konten foto. Para peternak sapi dan kambing di sekitar sini juga memetik keuntungan, karena mereka bisa mengambil rumput liar di tengah danau untuk pakan ternak harian,” jelas Jajang.
Namun, di balik keindahan sabana dadakan tersebut, kawasan ini menyimpan ancaman krisis ekonomi dan ekologis yang sangat serius. Danau seluas 47 hektar ini memegang peranan vital yang melampaui fungsi objek wisata biasa, yakni sebagai waduk pengendali banjir sekaligus sumber irigasi utama bagi ratusan hektar sawah di wilayah Kecamatan Mangkubumi dan sekitarnya. Jika danau ini mengering total, para petani di sektor hilir dipastikan akan menghadapi kelangkaan air yang berujung pada ancaman gagal panen masal.
Kondisi kritis ini membuat warga mendesak pemerintah daerah dan dinas terkait untuk segera mengambil tindakan nyata di lapangan. Masyarakat menilai program normalisasi Sungai Cikunten serta pengerukan lumpur di Situ Gede sudah masuk dalam tahap sangat mendesak. Selain itu, pemerintah juga harus menggencarkan program konservasi di kawasan tangkapan air demi memulihkan kembali stabilitas sumber mata air purba mereka.
(Seda)



